Tuesday, December 17, 2013

Malam Kudus



Malam Kudus adalah satu lagu Natal paling populer. Lagunya digubah oleh Franz Joseph Gruber, syairnya digubah dalam bahasa Jerman oleh Pastor Joseph Mohr. Lagu ini pertama kali dinyanyikan pada malam Natal, 24 Desember 1818 di gereja Santo Nikolas di Oberndorf, Austria. Lagu ini sudah diterjemahkan ke dalam ribuan bahasa termasuk beberapa versi bahasa Indonesia, dan beberapa bahasa daerah. Rupanya belum ada terjemahannya dalam bahasa Bugis, maka warga Kristen dari etnis Bugis perlu mengupayakan secepatnya. Berikut beberapa terjemahan:

(Bahasa Makassar)

Bangngi lebang, sino sino
Linoa tinromi
Rua mami tena natinro
Mangge amma' sannang nyawana
Ana' tinro sannang
Ana' tinro sannang.


(Bahasa Toraja)

Makarorrong, bongi maindan
Parrangmo, bintoen
Jurus’lama’na to lino,
Dadi lan kapadangan-Na
Kristus anak Daud
Kristus anak Daud


(Bahasa Indonesia)

Malam kudus sunyi senyap siapa yang b'lum lelap
ayah bunda yang tinggallah t'rus, jaga Anak yang Maha Kudus
Anak dalam malaf, Anak di dalam malaf.

Hai, lihatlah! di Efrata t'rang besar turunlah
waktu tentra surgawi megah puji Allah sebab nikmatnya
ingat dunia yang g'lap, ingatlah dunia yang g'lap.

Karna salam amat besar patutlah bergema
bagi dunia yang t'lah tercerai dari Allah di b'ri Almasih
jadi pohon khalas, jadi k'lak pohon khalas.


(Bahasa Inggeris)

Silent night, Holy night
All is calm, all is bright
Round yon virgin Mother and Child
Holy infant so tender and mild
Sleep in heavenly peace
Sleep in heavenly peace

Silent night, holy night
Shepherds quake at the sight
Glories stream from Heaven afar
Heavenly hosts sing Hallelujah
Christ the Saviour is born
Christ the Saviour is born

Silent night, holy night
Son of God, love's pure light
Radiant beams from Thy holy face
With the dawn of redeeming grace
Jesus, Lord at Thy birth
Jesus, Lord at Thy birth


(Disarikan dari berbagai sumber oleh Zakaria Ngelow)

Saturday, October 19, 2013

Empat Agenda Kristen Bugis Soppeng



Beberapa sesepuh keluarga Kristen Soppeng di Makassar



Pada abad ke 16 sejumlah bangsawan dan rakyat Bugis dan Makassar menerima agama Kristen yang disebarkan kalangan Katolik Portugis di kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar. Namun tidak berkembang dan lenyap karena beberapa alasan. Ada usaha-usaha serius pada abad ke-19 melalui B. F. Matthes, namun ahli bahasa dari Lembaga Alkitab Belanda ini lebih berjasa mempetkenalkan dan melestarikan warisan budaya Bugis daripada membawa orang Bugis kepada Kristus. Baru pada tahun 1930-an dan awal 1940-an beberapa bangsawan Bugis di daerah Barru dan Soppeng tertarik pada Injil terkait dengan ramalan-ramalan mesianis Petta Barang, seorang tokoh religius setempat. Mereka bersama kelaurga dan banyak pengikutnya dibaptis. Gereja terbentuk namun tantangan penghambatan sejak zaman Jepang sampai revolusi kemerdekaan dan khususnya pada masa gangguan gerombolan DI/TII tahun 1950-an membuat banyak orang Kristen murtad. Beberapa terbunuh sebagai martir Kristus. 

Dewasa ini orang Kristen Bugis asal Soppeng terpisah-pisah menjadi anggota beberpa denominasi gereja yang berbeda, namun di Makassar mereka membentuk Kerukunan Keluarga Kristen Soppeng di makassar (K3SM).  Dalam suatu diskusi yang menghadirkan para sesepuh Kristen Soppeng mengemuka kebutuhan untuk menulis suatu buku sejarah Kekristenan di kalangan orang Bugis Soppeng, yang secara khusus memperlihatkan bagaimana mereka menerima Injil dan bagaimana mereka survive menghadapi gempuran penghambatan. 

Selain itu beberapa agenda dapat diusulkan untuk menjadi perhatian para pemuka Kristen Bugis, khususnya wadah seperti K3SM untuk memberi kontribusi sekaligus bagi gereja dan bagi, masyarakat Bugis -- yang tentu juga berlaku bagi komunitas Kristen Bugis lainnya, seperti dari Makassar dan dari Selayar:


1. Umat Kristen asal Bugis perlu mengembangkan kekristenan yang sekaligus afirmatif dan kritis terhadap budaya Bugis. Orang Bugis Kristen tetap hidup sebagai orang Bugis, namun berusaha menyoroti tradisi dan nilai-nilai budaya Bugis dalam terang Injil Kristus. Prinsip "siri' na pesse", misalnya, disambut positif namun dengan kritis menolak aspek-aspek budaya kekerasan di dalamnya dengan mengembangkan pola-pola budaya resolusi konflik secara damai. 

2. Umat Kristen asal Bugis perlu menghidupkan nilai-nilai ideal normatif budaya Bugis yang ditengarai dewasa ini terus digerus budaya kapitalistik-materialistik, yang al. terwujud dalam apa yang disebut "budaya pojiale", budaya menyombongkan diri. Budaya luhur seperti etos kerja tinggi yang diajarkan melalui ungkapan tellabu' essoe ri tengngana bitarae (jangan/tak terbenam matahari di tengah langit) dan aja’ muakkamporo’ (jangan ibarat telur dierami tak menetas).  Atau yang populer melalui semboyan pelaut, pura ba'bara' somppekku, pura tangkisi' gulikku, ulebbirengi tellenge na toalie (telah kupasang layarku, kuarahkan kemudiku, lebih baik tenggelam daripada pulang). 

3. Umat Kristen asal Bugis harus menebus sejarah konflik internal masa lalu dengan terus mengembangkan persaudaraan Kristen Bugis lintas denominasi, sehingga umat Kristen asal Bugis dalam berbagai gereja yang berbeda-beda saling mengasihi dan bersama-sama menjalankan panggilan pelayanan dan kesaksian gereja di tengah-tengah masyarakat, khususnya masyarakat Bugis. Pada gilirannya persaudaraan dapat diperluas secara lintas iman dengan semua orang Bugis, bahkan semua orang, sesuai perintah Krisus untuk mengasihi semua orang. Ini sesuai dengan falsafah “hukum kasih Bugis” dalam  apa yang disebut "mattulu tellue": malilu sipakainge, mali siparappe, rebba sipatokkong (tali berjalin tiga: khilaf saling mengingatkan, terdampar saling mendaratkan, rebah saling menegakkan).

4. Sebagai komunitas di rantau, pentinglah umat Kristen asal Bugis mengembangkan kecintaan, pengetahuan dan kebanggaan serta pengabdian bagi masyarakat dan tanah Bugis. Banyak orang Bugis di rantau yang tidak lagi mengenal (sehingga tidak mencintai dan membanggakan) identitasnya sebagai anak Bugis. Sebab itu perlu mengenal budaya Bugis, baik sejarah, bahasa maupun adat istiadat dan semua tradisi lainnya, dengan penekanan pada makna dan nilai-nilai luhur. 

Duami kuala sappo unganna panasae na belo-belona kanukue.

Makassar 19 Oktober 2013
Zakaria J. Ngelow

Monday, April 22, 2013

Kursus Dasar Pelayanan Gereja (KDPG)

Salam Sejahtera.
Di tengah sukacita kebangkitan Kristus, kami informasikan penyelenggaraan Kursus Dasar Pelayanan Gereja (KDPG). Kursus ini merupakan program kerjasama empat lembaga, yakni GKSS, POUK Dirgantara, Yayasan Oase Intim dan Yayasan Pelayanan Holistik Allamahaba (YPHA). Kursus ini lahir dari adanya pergumulan dan kebutuhan dalam beberapa jemaat mengenai pelayanan gereja. Di beberapa jemaat masih banyak anggota majelis jemaat yang masih perlu meningkatkan pemahaman dan keterampilan mengenai tugas dan tanggung jawab sebagai pelayan gereja. 


Tujuan:
Kursus Dasar Pelayanan Gereja bertujuan untuk memberikan dasar-dasar pemahaman dan keterampilan pelayanan jemaat, khususnya dalam pelayanan firman, pelayanan pastoral, organisasi dan administrasi gereja.

Peserta:
Sekalipun materinya menyangkut tugas-tugas pelayanan gereja, kursus ini terbuka juga bagi warga gereja yang bukan penatua atau diaken/syamas. Dan terkait lokasi pelaksanaan, maka kursus ini ditawarkan kepada pelayan dan warga jemaat di sekitar bandara Mandai dan Maros, yakni jemaat-jemaat POUK Dirgantara (Rio-riita, Lahairoi, Kanaan), GKSS Klasis Bulusaraung, Gereja Toraja Mamasa, dan gereja-gereja lainnya, anggota PGIW Sulselbara.

Pelaksanaan:
KDPG akan diselenggarakan pada bulan Mei - Juli 2013) dua kali seminggu:
Jumat (17.00 – 20.30) dan Sabtu (08.00 – 12.30).
Tempat penyelenggaraan: Pendopo YPHA, Jln. Arung Sanrego No 04 KM 19 Mandai. Kegiatan akan dimulai pada Jumat, 10 Mei 2013.

Pendaftaran:
Silahkan mendaftarkan diri langsung atau melalui telepon/sms kepada kepada tim kerja; Pdt. Armin Sukri (Hp 081343597494) atau Jenifer Ladja (Hp 085242166405).

Kontribusi:
Bagian besar pembiayaan ditanggung oleh penyelenggara. Peserta hanya membayar kontribusi sebesar Rp. 250.000.- untuk fotocopy bahan pelajaran, snack dan makan siang pada hari Sabtu. Bagi peserta yang membutuhkan penginapan pada hari Jumat malam disediakan penginapan di kompleks YPHA.

Demikian informasi dan sekaligus undangan kami. Atas perhatian dan partispasi Ibu/Bapak/Sdr(i) kami ucapkan terima kasih. Tuhan Memberkati.

Teriring Salam dan Doa,

Tim Kerja


Pdt. Armin Sukri, M.Min., M.Th
/Ketua,



Jenifer Astin S. Ladja, A.Md., S.Th
/Sekretaris,

Wednesday, March 27, 2013

Tidak Ada Gagang Pada Salib (Kosuke Koyama)



Tidak ada Gagang pada Salib
Gagang berarti alat yang efisien untuk menguasai sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Sarana teknologi yang terus berkembang memberi kepada kita kuasa dan pengendalian, dan dalam beberapa hal teknologi tidak berbahaya. Teologia tidak punya gagang. Teologia yang punya gagang untuk menangani Allah bukan lagi teologia, melainkan suatu ideologi-teologia yang demonik. Teologia mungkin mencoba berbicara tentang masalah itu, yakni kuasa Allah yang menyelamatkan, tetapi tidak menanganinya, terlebih-lebih menerapkannya. Dengan adanya daya khayal yang begitu hidup ini, yang menunjuk pada "Teologia Kerbau"-nya (Waterbuffalo Theology) sejauh itu nampak dalam garis pemikirannya yang khas, Dr. Koyama, salah seorang teolog Asia paling menarik, mengusahakan suatu meditasi tentang kekristenan di Asia Tenggara yang lebih cenderung pada formulasi-formulasi dari gereja-gereja di Barat. [Kosuke Koyama: Tidak Ada Ganggang Pada Salib: Meditasi Mengenai Pikiran yang Disalibkan di Asia, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1986. http://www.belbuk.com/tidak-ada-gagang-pada-salib-p-12757.html]

Salib dan Rantang Makanan
Yesus tidak memikul salib-Nya seperti seorang pengusaha menenteng tasnya. Koyama mendasari pemikiran teologisnya tersebut dari teks Mat. 16:24,
Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
Di sini Koyama membuat suatu perbandingan yang sangat bertolak belakang antara salib dan rantang makanan. Salib sebagai simbol penyangkalan diri. Sementara rantang makanan merupakan sikap yang penuh inisiatip, kekuatan spiritual dan mental kita, teologia yang berbobot dan dinamis, pikiran yang baik dan jujur, rencana yang masak dan teliti, serta tanggung jawab yang suci terhadap iman.
Koyama mengontraskan antara Salib dan rantang makanan. Salib merupakan suatu yang sangat tidak menyenangkan untuk dipikul (tanpa gagang) sementara rantang makanan adalah seuatu yang sangat menyenangkan untuk dijinjing (punya gagang); suatu benda yang tidak menarik untuk dipikul dan suatu benda yang menarik untuk ditenteng; bergerak lambat dan bergerak cepat; tidak efisien dan efisien; tidak terjamin dan terjamin; berjalan tersaruk-saruk dan berjalan melenggang kangkung; menyangkal diri dan menonjolkan diri. “Gagang” dalam hal ini oleh Koyama diartikan sebagai alat yang efisien untuk menguasai sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Penggunaan “gagang” disejajarkan dengan teknologi. Hasil dari sebuah teknologi adalah mesin (tenaga, kuat-kuasa) dan “gagang” (kendali). Sehingga, teknologi adalah tenaga yang dikendalikan. Disinilah kemudian dimunculkan perbedaan pokok antara teknologi dan teologia. Teknologi memberi kita “mesin” dan “gagang”, sementara teologia hanya punya “mesin” tanpa “gagang”. Teologi yang memasang gagang pada kuasa Allah bukan lagi teologi melainkan sudah menjadi idiologi teologis ysng bersifat demonis.
Dengan kata lain, pikiran teknologis adalah “gagang minded”, sedangkan pikiran teologis “tanpa-gagang-minded”. Teknologi bertujuan mengendalikan (menguasai) tenaga alamiah. Teologi tidak bertujuan untuk mengendalikan (menguasai) tenaga (kuasa) Allah. Sehingga teologi tidak boleh didekati dari titik tolak “gagang minded” teknologi. Pikiran yang terlatih memikul beban salib “tanpa gagang” dinamakan pikiran yang disalibkan. Pikiran yang terlatih menentang sikap “banyak inisiatip” “dengan gagang” dinamakan pikiran yang berjuang dengan semangat perang salib. Koyama terinspirasi dengan doa orang Farisi dan doa seorang pemungut cukai (Luk.18:13b). Pikiran dengan semangat perang salib ini tidak boleh bekerja sendirian, melainkan harus dibimbing dan diterangi oleh pikiran yang disalibkan Mat.5:20)
Lihat ringkasan Dinuk Valupi Widayati dalam "Teologi Konteks Asia" http://bronzing2012simplebisnis.files.wordpress.com/2012/04/teologi-konteks-asia1.doc

Sunday, March 24, 2013

Peneguhan Sidi


Pada Hari Minggu Palmarum, 24 Maret 2013, sejumlah 6 orang pemuda diteguhkan dalam sidi (salah seorang dibaptis dewasa) di GKSS Jemaat Mattiro Baji. Mereka telah mengikuti pelajaran katekisasi selama beberapa bulan. Seorang penulis menjelaskan sidi dalam sebuah tulisan sbb:
Pengertian Sidi
Lasimnya, gereja-gereja di Indonesia yang berlatar belakang Belanda, menggunakan istilah peneguhan sidi atau naik sidi. Tetapi bagi gereja-gereja yang berlatar belakang Jerman menggunakan istilah konfirmasi yang berasal dari kata Latin Corfirmatio (Ingg: confirmation, Jerman: Konfirmation) yang berarti peneguhan atau penguatan.
Banyak orang memahami sidi sebagai suatu upacara pengampunan dosa, atau pengakuan dosa. Yang sebenarnya sidi merupakan upacara pengakuan iman secara pribadi dan sekaligus diteguhkan menjadi anggota gereja. Pertanyaannya, bukankankah sakramen Baptisan yang telah dilewati merupakan upacara pengakuan iman? Ini benar, tetapi perlu diingat bahwa pada saat kita dibaptis, iman kita diwakilkan oleh orang tua dan orang tua baptis. Berdasarkan pengakuan itulah secara terbuka seseorang telah menjadi anggota gereja dan menaklukan diri kepada disiplin gereja. Dengan kata lain, sidi merupakan upacara penerimaan sebagai anggota jemaat secara penuh, memiliki hak memilih dan dipilih. Sejak seseorang mengalami peneguhan sidi, ia bertanggunggungjawab sendiri atas imannya, boleh mengikuti perjamuan kudus, ikut serta dalam pengambilan keputusan dalam jemaat.
Praktek Sidi dalam Gereja
Sidi seperti telah dijelaskan diatas, dilakukan mengawali perjamuan pertama, dan karena itu prinsip mendasar yang harus diingat, bahwa yang boleh ikut upacara sidi, adalah seseorang yang dianggap dewasa yang dapat mengerti tentang imannya sendiri. Menjadi sangat penting juga, untuk ada dalam upacara sidi itu sendiri, seseorang perlu untuk diajarkan tentang pokok-pokok ajaran dan iman Kristen sehingga ia tidak sekedar mengimani tetapi sekaligus ia memahami apa yang ia imani. Proses-proses pengajaran itu yang disebut katekhetsasi, sebagai media pendidikan yang disediakan oleh gereja sebagai lembaga pendidikan formal yang mendidik para warganya untuk memahami ajaran-ajaran gereja itu sendiri.

(Selengkapnya lihat "Kedudukan Sidi Gereja Diantara Sakramen Baptisan Kudus Dan Perjamuan Kudus ", http://giafidrisa.blogspot.com/2011/07/kedudukan-sidi-gereja-diantara-sakramen.html)

Thursday, March 14, 2013

Pesan Paskah PGI 2013



Christ of St. John of the Cross (Salvador Dali, 1951)
PESAN PASKAH
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA
TAHUN  2013
“Kristus, Yang sulung dari segala yang diciptakan”
(bdk. Kolose 1:18)


Umat Kristiani Indonesia yang dikasihi oleh Yesus Kristus,
Salam Sejahtera,

1.   Ketika bangsa kita masih tetap bergumul dengan berbagai persoalan, baik bencana alam maupun bencana-bencana sosial, berita Paskah kembali datang menyapa kita. Paskah adalah, ketika Allah memberikan pengharapan di tengah keputusasaan, optimisme di tengah pesimisme, pembebasan di tengah perbudakan dosa, kehidupan di tengah kematian. “Allah telah mendamaikan diri-Nya dengan manusia, dan dengan seluruh ciptaan-Nya”, adalah berita Paskah paling kuat, ketika budaya konflik dan peperangan di antara sesama, dan pencemaran terhadap alam masih tetap dianut dan dipraktekkan secara luas oleh masyarakat kita. Bahwa Allah membangkitkan Yesus dari kematian adalah pengesyahan Allah terhadap kehidupan, yaitu betapa berharganya kehidupan, dan  karena itu tidak boleh disia-siakan.

2.  Kebangkitan Kristus menciptakan hubungan baru antara Allah dengan manusia dan dengan seluruh ciptaan-Nya. Kristus adalah Pusat hubungan baru itu. Ia bahkan disebut sebagai Yang sulung dari seluruh ciptaan, sebagaimana dikatakan dalam Kolose 1:18: “Ialah kepala Tubuh, yaitu Jemaat. Ialah Yang sulung, Yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.” Itu tidak berarti, Kristus Yang bangkit itu identik dengan seluruh makhluk ciptaan, kendati di dalam kebebasan dan kedaulatan-Nya Ia bisa saja menyamakan diri dengan makhluk ciptaan tersebut. Justru itulah makna mendalam dari inkarnasi, ketika Allah memilih menjadi manusia. “Sulung” (Yn.: prototokos) adalah penegasan bahwa Kristus adalah “Yang Sulung Itu Sendiri”. Sebagai demikian, “di dalam Dia-lah telah diciptakan segala sesuatu”(ay.16), yang juga berarti, Ia berkuasa atas segenap ciptaan. Bahwa Ia “Yang pertama bangkit dari antara orang mati”, semakin menegaskan keutamaan Kristus, sekaligus menjadi dasar pemahaman dan keyakinan akan kebangkitan orang mati. Kalau Kristus adalah Yang sulung dari segala ciptaan, maka “jemaat” adalah tipe awal (prototype) dari kemanusiaan baru yang sudah diperbaharui oleh Kebangkitan. Sebagai demikian, jemaat berkewajiban meneruskan amanat kehidupan ini kepada segala makhluk. Ini melahirkan pengharapan akan makna hidup baik di masa kini, maupun nanti.

3.      Dalam Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI), 25-28 Januari 2013 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, gereja-gereja kembali menyatakan keprihatinan mendalam terhadap makin terganggunya keutuhan ciptaan di bumi Indonesia. Hal itu terlihat misalnya dalam hal makin masifnya perusakan dan kerusakan lingkungan yang di dalamnya kita tinggal. Pertikaian seputar kepemilikan tanah dan akses terhadap sumber daya alam yang makin kritis memperlihatkan bahwa kita memang sedang terancam oleh berbagai kekuatan global (global force): persoalan demografi, sumber daya alam,   globalisasi dan perubahan iklim.

4. Dalam keadaan seperti ini, gereja sebagai tipe awal kemanusiaan baru dipanggil untuk memahami secara baru makna pemberian mandat, “Berkuasalah, penuhilah… taklukkanlah” (Kej.1:28), bukan sebagai akta eksploitasi terhadap alam ciptaan-Nya, tetapi justru sebagai jurukunci yang setia memelihara dan mengelolanya secara bertanggungjawab. Peristiwa Paskah itulah justru yang memberikan harapan dan semangat baru melalui pendamaian dan rekonsiliasi sejati yang diprakarsai Allah ke atas manusia dan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Alhasil, penebusan, tidak saja mendamaikan manusia dengan pencipta-Nya, tetapi juga mendamaikan manusia dengan seluruh ciptaan Allah.

Atas dasar keyakinan ini, dalam rangka menyambut dan menghayati Paskah 2013, dengan rasa sukacita dan ucapan syukur, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia mengajak semua umat Kristiani untuk semakin mengejawantahkan harapan dan semangat baru itu, bahwa  “penebusan Kristus mendamaikan manusia dengan Allah dan seluruh Ciptaan-Nya”,  melalui hal-hal berikut ini:

a.    Perayaan Paskah hendaknya mendorong gereja mengkaji dan mendalami ulang segi-segi teologi dari mandat pemeliharaan dan pengelolaan ciptaan Allah serta mengimplementasikannya dalam berbagai aspek pelayanan gerejawi: liturgi, pengajaran dan pemberitaan firman Tuhan. 
b.   Perayaan Paskah hendaknya menjadi momentum bagi gereja-gereja untuk semakin mempererat persekutuan dalam arak-arakan gerakan oikoumenis lintas-denominasi agar fungsi gereja sebagai garam dan terang dapat diimpelentasikan secara optimal di tengah-tengah situasi yang ada. Khususnya, kiranya Semangat Paskah mendorong gereja berkontribusi aktif dan semakin giat dalam upaya-upaya pelestarian lingkungan,  menjadikan gereja sebagai gereja yang ramah dan sahabat bagi alam, serta membina warganya untuk peka dan peduli terhadap lingkungan hidup.
c. Perayaan Paskah hendaknya mampu mendorong gereja untuk lebih mewujudkan keberpihakan kepada perjuangan penegakkan hak-hak masyarakat khususnya di tengah-tengah konflik Agrararia dan Sumber Daya Alam. Perjuangan ini merupakan pondasi spirit gerakan oikoumenis, yang di dalamnya kita secara bersama terus berjuang untuk mengusahakan bumi sebagai rumah (oikos) yang semakin layak untuk dihuni (menein).

Pesan Paskah ini, kami akhiri dengan menggarisbawahi firman Allah melalui Kidung Pemazmur yang menyatakan kemuliaan Allah dalam segenap pekerjaan tangan-Nya. Ini mengingatkan kepada kita, bahwa kitalah tangan-tangan Allah untuk mewujudkan kemuliaan-Nya di tengah seluruh ciptaan:

“Langit menceritakan kemuliaan Allah,
dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” 
(Mazmur 19:2)


Jakarta, Akhir Februari 2013
Atas nama,
MAJELIS PEKERJA HARIAN
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA



                                                                      
Pdt. Dr. A.A. Yewangoe                                                               Pdt. Gomar Gultom
Ketua Umum                                                                                  Sekretaris Umum