Wednesday, March 27, 2013

Tidak Ada Gagang Pada Salib (Kosuke Koyama)



Tidak ada Gagang pada Salib
Gagang berarti alat yang efisien untuk menguasai sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Sarana teknologi yang terus berkembang memberi kepada kita kuasa dan pengendalian, dan dalam beberapa hal teknologi tidak berbahaya. Teologia tidak punya gagang. Teologia yang punya gagang untuk menangani Allah bukan lagi teologia, melainkan suatu ideologi-teologia yang demonik. Teologia mungkin mencoba berbicara tentang masalah itu, yakni kuasa Allah yang menyelamatkan, tetapi tidak menanganinya, terlebih-lebih menerapkannya. Dengan adanya daya khayal yang begitu hidup ini, yang menunjuk pada "Teologia Kerbau"-nya (Waterbuffalo Theology) sejauh itu nampak dalam garis pemikirannya yang khas, Dr. Koyama, salah seorang teolog Asia paling menarik, mengusahakan suatu meditasi tentang kekristenan di Asia Tenggara yang lebih cenderung pada formulasi-formulasi dari gereja-gereja di Barat. [Kosuke Koyama: Tidak Ada Ganggang Pada Salib: Meditasi Mengenai Pikiran yang Disalibkan di Asia, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1986. http://www.belbuk.com/tidak-ada-gagang-pada-salib-p-12757.html]

Salib dan Rantang Makanan
Yesus tidak memikul salib-Nya seperti seorang pengusaha menenteng tasnya. Koyama mendasari pemikiran teologisnya tersebut dari teks Mat. 16:24,
Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
Di sini Koyama membuat suatu perbandingan yang sangat bertolak belakang antara salib dan rantang makanan. Salib sebagai simbol penyangkalan diri. Sementara rantang makanan merupakan sikap yang penuh inisiatip, kekuatan spiritual dan mental kita, teologia yang berbobot dan dinamis, pikiran yang baik dan jujur, rencana yang masak dan teliti, serta tanggung jawab yang suci terhadap iman.
Koyama mengontraskan antara Salib dan rantang makanan. Salib merupakan suatu yang sangat tidak menyenangkan untuk dipikul (tanpa gagang) sementara rantang makanan adalah seuatu yang sangat menyenangkan untuk dijinjing (punya gagang); suatu benda yang tidak menarik untuk dipikul dan suatu benda yang menarik untuk ditenteng; bergerak lambat dan bergerak cepat; tidak efisien dan efisien; tidak terjamin dan terjamin; berjalan tersaruk-saruk dan berjalan melenggang kangkung; menyangkal diri dan menonjolkan diri. “Gagang” dalam hal ini oleh Koyama diartikan sebagai alat yang efisien untuk menguasai sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Penggunaan “gagang” disejajarkan dengan teknologi. Hasil dari sebuah teknologi adalah mesin (tenaga, kuat-kuasa) dan “gagang” (kendali). Sehingga, teknologi adalah tenaga yang dikendalikan. Disinilah kemudian dimunculkan perbedaan pokok antara teknologi dan teologia. Teknologi memberi kita “mesin” dan “gagang”, sementara teologia hanya punya “mesin” tanpa “gagang”. Teologi yang memasang gagang pada kuasa Allah bukan lagi teologi melainkan sudah menjadi idiologi teologis ysng bersifat demonis.
Dengan kata lain, pikiran teknologis adalah “gagang minded”, sedangkan pikiran teologis “tanpa-gagang-minded”. Teknologi bertujuan mengendalikan (menguasai) tenaga alamiah. Teologi tidak bertujuan untuk mengendalikan (menguasai) tenaga (kuasa) Allah. Sehingga teologi tidak boleh didekati dari titik tolak “gagang minded” teknologi. Pikiran yang terlatih memikul beban salib “tanpa gagang” dinamakan pikiran yang disalibkan. Pikiran yang terlatih menentang sikap “banyak inisiatip” “dengan gagang” dinamakan pikiran yang berjuang dengan semangat perang salib. Koyama terinspirasi dengan doa orang Farisi dan doa seorang pemungut cukai (Luk.18:13b). Pikiran dengan semangat perang salib ini tidak boleh bekerja sendirian, melainkan harus dibimbing dan diterangi oleh pikiran yang disalibkan Mat.5:20)
Lihat ringkasan Dinuk Valupi Widayati dalam "Teologi Konteks Asia" http://bronzing2012simplebisnis.files.wordpress.com/2012/04/teologi-konteks-asia1.doc

Sunday, March 24, 2013

Peneguhan Sidi


Pada Hari Minggu Palmarum, 24 Maret 2013, sejumlah 6 orang pemuda diteguhkan dalam sidi (salah seorang dibaptis dewasa) di GKSS Jemaat Mattiro Baji. Mereka telah mengikuti pelajaran katekisasi selama beberapa bulan. Seorang penulis menjelaskan sidi dalam sebuah tulisan sbb:
Pengertian Sidi
Lasimnya, gereja-gereja di Indonesia yang berlatar belakang Belanda, menggunakan istilah peneguhan sidi atau naik sidi. Tetapi bagi gereja-gereja yang berlatar belakang Jerman menggunakan istilah konfirmasi yang berasal dari kata Latin Corfirmatio (Ingg: confirmation, Jerman: Konfirmation) yang berarti peneguhan atau penguatan.
Banyak orang memahami sidi sebagai suatu upacara pengampunan dosa, atau pengakuan dosa. Yang sebenarnya sidi merupakan upacara pengakuan iman secara pribadi dan sekaligus diteguhkan menjadi anggota gereja. Pertanyaannya, bukankankah sakramen Baptisan yang telah dilewati merupakan upacara pengakuan iman? Ini benar, tetapi perlu diingat bahwa pada saat kita dibaptis, iman kita diwakilkan oleh orang tua dan orang tua baptis. Berdasarkan pengakuan itulah secara terbuka seseorang telah menjadi anggota gereja dan menaklukan diri kepada disiplin gereja. Dengan kata lain, sidi merupakan upacara penerimaan sebagai anggota jemaat secara penuh, memiliki hak memilih dan dipilih. Sejak seseorang mengalami peneguhan sidi, ia bertanggunggungjawab sendiri atas imannya, boleh mengikuti perjamuan kudus, ikut serta dalam pengambilan keputusan dalam jemaat.
Praktek Sidi dalam Gereja
Sidi seperti telah dijelaskan diatas, dilakukan mengawali perjamuan pertama, dan karena itu prinsip mendasar yang harus diingat, bahwa yang boleh ikut upacara sidi, adalah seseorang yang dianggap dewasa yang dapat mengerti tentang imannya sendiri. Menjadi sangat penting juga, untuk ada dalam upacara sidi itu sendiri, seseorang perlu untuk diajarkan tentang pokok-pokok ajaran dan iman Kristen sehingga ia tidak sekedar mengimani tetapi sekaligus ia memahami apa yang ia imani. Proses-proses pengajaran itu yang disebut katekhetsasi, sebagai media pendidikan yang disediakan oleh gereja sebagai lembaga pendidikan formal yang mendidik para warganya untuk memahami ajaran-ajaran gereja itu sendiri.

(Selengkapnya lihat "Kedudukan Sidi Gereja Diantara Sakramen Baptisan Kudus Dan Perjamuan Kudus ", http://giafidrisa.blogspot.com/2011/07/kedudukan-sidi-gereja-diantara-sakramen.html)

Thursday, March 14, 2013

Pesan Paskah PGI 2013



Christ of St. John of the Cross (Salvador Dali, 1951)
PESAN PASKAH
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA
TAHUN  2013
“Kristus, Yang sulung dari segala yang diciptakan”
(bdk. Kolose 1:18)


Umat Kristiani Indonesia yang dikasihi oleh Yesus Kristus,
Salam Sejahtera,

1.   Ketika bangsa kita masih tetap bergumul dengan berbagai persoalan, baik bencana alam maupun bencana-bencana sosial, berita Paskah kembali datang menyapa kita. Paskah adalah, ketika Allah memberikan pengharapan di tengah keputusasaan, optimisme di tengah pesimisme, pembebasan di tengah perbudakan dosa, kehidupan di tengah kematian. “Allah telah mendamaikan diri-Nya dengan manusia, dan dengan seluruh ciptaan-Nya”, adalah berita Paskah paling kuat, ketika budaya konflik dan peperangan di antara sesama, dan pencemaran terhadap alam masih tetap dianut dan dipraktekkan secara luas oleh masyarakat kita. Bahwa Allah membangkitkan Yesus dari kematian adalah pengesyahan Allah terhadap kehidupan, yaitu betapa berharganya kehidupan, dan  karena itu tidak boleh disia-siakan.

2.  Kebangkitan Kristus menciptakan hubungan baru antara Allah dengan manusia dan dengan seluruh ciptaan-Nya. Kristus adalah Pusat hubungan baru itu. Ia bahkan disebut sebagai Yang sulung dari seluruh ciptaan, sebagaimana dikatakan dalam Kolose 1:18: “Ialah kepala Tubuh, yaitu Jemaat. Ialah Yang sulung, Yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.” Itu tidak berarti, Kristus Yang bangkit itu identik dengan seluruh makhluk ciptaan, kendati di dalam kebebasan dan kedaulatan-Nya Ia bisa saja menyamakan diri dengan makhluk ciptaan tersebut. Justru itulah makna mendalam dari inkarnasi, ketika Allah memilih menjadi manusia. “Sulung” (Yn.: prototokos) adalah penegasan bahwa Kristus adalah “Yang Sulung Itu Sendiri”. Sebagai demikian, “di dalam Dia-lah telah diciptakan segala sesuatu”(ay.16), yang juga berarti, Ia berkuasa atas segenap ciptaan. Bahwa Ia “Yang pertama bangkit dari antara orang mati”, semakin menegaskan keutamaan Kristus, sekaligus menjadi dasar pemahaman dan keyakinan akan kebangkitan orang mati. Kalau Kristus adalah Yang sulung dari segala ciptaan, maka “jemaat” adalah tipe awal (prototype) dari kemanusiaan baru yang sudah diperbaharui oleh Kebangkitan. Sebagai demikian, jemaat berkewajiban meneruskan amanat kehidupan ini kepada segala makhluk. Ini melahirkan pengharapan akan makna hidup baik di masa kini, maupun nanti.

3.      Dalam Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI), 25-28 Januari 2013 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, gereja-gereja kembali menyatakan keprihatinan mendalam terhadap makin terganggunya keutuhan ciptaan di bumi Indonesia. Hal itu terlihat misalnya dalam hal makin masifnya perusakan dan kerusakan lingkungan yang di dalamnya kita tinggal. Pertikaian seputar kepemilikan tanah dan akses terhadap sumber daya alam yang makin kritis memperlihatkan bahwa kita memang sedang terancam oleh berbagai kekuatan global (global force): persoalan demografi, sumber daya alam,   globalisasi dan perubahan iklim.

4. Dalam keadaan seperti ini, gereja sebagai tipe awal kemanusiaan baru dipanggil untuk memahami secara baru makna pemberian mandat, “Berkuasalah, penuhilah… taklukkanlah” (Kej.1:28), bukan sebagai akta eksploitasi terhadap alam ciptaan-Nya, tetapi justru sebagai jurukunci yang setia memelihara dan mengelolanya secara bertanggungjawab. Peristiwa Paskah itulah justru yang memberikan harapan dan semangat baru melalui pendamaian dan rekonsiliasi sejati yang diprakarsai Allah ke atas manusia dan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Alhasil, penebusan, tidak saja mendamaikan manusia dengan pencipta-Nya, tetapi juga mendamaikan manusia dengan seluruh ciptaan Allah.

Atas dasar keyakinan ini, dalam rangka menyambut dan menghayati Paskah 2013, dengan rasa sukacita dan ucapan syukur, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia mengajak semua umat Kristiani untuk semakin mengejawantahkan harapan dan semangat baru itu, bahwa  “penebusan Kristus mendamaikan manusia dengan Allah dan seluruh Ciptaan-Nya”,  melalui hal-hal berikut ini:

a.    Perayaan Paskah hendaknya mendorong gereja mengkaji dan mendalami ulang segi-segi teologi dari mandat pemeliharaan dan pengelolaan ciptaan Allah serta mengimplementasikannya dalam berbagai aspek pelayanan gerejawi: liturgi, pengajaran dan pemberitaan firman Tuhan. 
b.   Perayaan Paskah hendaknya menjadi momentum bagi gereja-gereja untuk semakin mempererat persekutuan dalam arak-arakan gerakan oikoumenis lintas-denominasi agar fungsi gereja sebagai garam dan terang dapat diimpelentasikan secara optimal di tengah-tengah situasi yang ada. Khususnya, kiranya Semangat Paskah mendorong gereja berkontribusi aktif dan semakin giat dalam upaya-upaya pelestarian lingkungan,  menjadikan gereja sebagai gereja yang ramah dan sahabat bagi alam, serta membina warganya untuk peka dan peduli terhadap lingkungan hidup.
c. Perayaan Paskah hendaknya mampu mendorong gereja untuk lebih mewujudkan keberpihakan kepada perjuangan penegakkan hak-hak masyarakat khususnya di tengah-tengah konflik Agrararia dan Sumber Daya Alam. Perjuangan ini merupakan pondasi spirit gerakan oikoumenis, yang di dalamnya kita secara bersama terus berjuang untuk mengusahakan bumi sebagai rumah (oikos) yang semakin layak untuk dihuni (menein).

Pesan Paskah ini, kami akhiri dengan menggarisbawahi firman Allah melalui Kidung Pemazmur yang menyatakan kemuliaan Allah dalam segenap pekerjaan tangan-Nya. Ini mengingatkan kepada kita, bahwa kitalah tangan-tangan Allah untuk mewujudkan kemuliaan-Nya di tengah seluruh ciptaan:

“Langit menceritakan kemuliaan Allah,
dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” 
(Mazmur 19:2)


Jakarta, Akhir Februari 2013
Atas nama,
MAJELIS PEKERJA HARIAN
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA



                                                                      
Pdt. Dr. A.A. Yewangoe                                                               Pdt. Gomar Gultom
Ketua Umum                                                                                  Sekretaris Umum
         


Wednesday, March 13, 2013

Paus Baru, Paus Franciscus

Cardinal Jorge Mario Bergolio, SJ terpilih menjadi Paus Franciscus


Telah terpilih pemimpin umat Roma Katolik sedunia, Paus Franciscus, tadi subuh, 14 Maret 2013. Dalam sistim papalisme pemerintahan Gereja Roma Katolik, uskup Roma adalah penerus Rasul Petrus, yang menjadi pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia, wakil Kristus di bumi. Berikut catatan seorang pastor terkemuka Indonesia mengenai Sri Puas yang baru:


Habemus Papam

Pagi ini jam 01.6 WIB atau jam 19.06 waktu Roma telah terpilih Cardinal Jorge Mario Bergolio, SJ. Kardinal dari Buenos Aires. Umur 76 tahun, paus ke 266.
Keturunan imigran itali dari Piemontese. Paus pertama seorang yesuit. Dia adalah kardinal yang berseberangn dengan kardinal Ratzinger.
Apa yang dia katakan sewaktu dia diperkenalkan kepada publik: “Saudara saudariku selamat sore, tahukah anda bahwa tugas dari konklaf adalah memilih uskup Roma kelihatannya bahwa saudara saudarku para kardinal harus pergi jauh mengambil seseorang dari ujung dunia... apaboleh buat saya sekarang berada disini”.
Dari penampilan pertamanya yang tidak hanya memberi berkat tetapi juga meminta supaya kita semua berdoa dan meminta berkat dari Tuhan baginya merupakan ungkapan mudah mudahan paus ini adalah paus yang merakyat. Di buenosaires dia adalah terkenal sebagai kardinal yang cukup sederhana. Dia memilih tinggal disebuah rumah yang sedrhana daripada istana keuskupan yang megah. Dia selalu menyetir mobilnya sendiri dan juga memasak makanannya sendiri. Orang yang cukup dekat dengan komunitas teologi pembebeasan.
Ungkapan kesederhanaannya nampak dari nama yang dia pilih franciscus. Kita semua tahu siapa st. Franciscus Asisi tetapi juga bisa diinterpretasikan sebagai kependekan dari Franciscus Xaverius. Dengan demikian dua hal bisa dikatakan bahwa dia adalah orang yang membawa Gereja agar lebih sederhana seperti Fransiskus Asisi tetapi dilain pihak missioner seperti Fransiskus Xaverius.
Kesederhaannya juga nampak sewaktu dia meminta doa doa dari seluruh dunia dimana dia tidak hanya menundukkan kepala tetapi juga membungkukan badannya. Memakai stolanya sendiri sewaktu mau memberi berkat dan memegang microphone sendiri. Ini semua menjadi ungkapanungkapan kecil dari kesederhaannya. Pasti tidak mudah bagimya untuk hidup di belakang tembok vatikan yang penuh dengan formalitas. Memang benar bahwa kita harus mendoakannya agar dia bisa bertahan. Disamping itu dia adalah anggota Serikat Jesus, kiranya juga tidak mudah bagi SJ. Serikat menjadi sorotan seluruh dunia juga. Namun demikian ini adalah kesempatan bagi SJ untuk membantu Gereja dengan lebih sehingga dunia ini menjadi lebih damai dan lebih mendekati apa yang dicita citakan Tuhan.
bsm