Showing posts with label Alkitab. Show all posts
Showing posts with label Alkitab. Show all posts

Sunday, February 3, 2013

Alkitab Bahasa Selayar



Pada hari Minggu, 3 Februari 2013, Majelis Jemaat GKSS Mattirobaji membagikan Alkitab Perjanjian Baru dalam Bahasa Selayar, Kitta' Passitallikang Bau, Kareba Baji, yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, mengikuti Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS).



Bahasa Selayar merupakan salah satu rumpun bahasa Bugis Makassar. Injil mulai masuk di pulau ini pada tahun 1930-an, dan jemaat-jemaat di pulau ini merupakan satu klasis dalam GKSS. 


Semoga Alkitab ini menjadi berkat bagi jemaat dan masyarakat Selayar, Sulawesi Selatan.



Terjemahan Hukum Kasih (Matius 22: 37-39) sebagai berikut: 

Passukku'i pangamaseammu mange ri Karaeng Allataalamu, risiganna'na atimu surang nyahamu na harasiamu. Ia mo onjo poong parenta na makase're. Parena makarua, nuassimpole injo, iamo intu: Kamaseangi parammu rupatau assimpole mukamaseanna kalemmu. 

Indonesia (TB) 37 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.


Indonesia (BIS): 37 Cintailah Tuhan Allahmu dengan sepenuh hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan seluruh akalmu.
38 Itulah perintah yang terutama dan terpenting!
39 Perintah kedua sama dengan yang pertama itu: Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri.



Dari Efesus 1: 3-5:

Selayar: La'biri Allataala surang Amma karaengta Isa Almase nulalang ri Almase maeng lapassareang ngase'nu nugele injo kajanjangang lala ri suruga. Saba' lalang ri Ia Allataala maeng mile ri ditte rigelenapa ripaa'jari lino, solanna titte tangkasa na tide' daata ri a'rakanNa. Lalang pangamaseang Ia maeng lapattantuki battu ripakaramulanna patteteang ri Isa Almase laa'jari ana'-ana'Na, assitur' ria'ra'na.

Indonesia (TB)  3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.
4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.
5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,


Indonesia (BIS)  3 Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus! Ia memberkati kita dengan segala berkat rohani di dalam surga, karena kita bersatu dengan Kristus.
4 Sebelum dunia ini diciptakan, Allah telah memilih kita melalui Kristus dengan maksud supaya kita menjadi milik-Nya yang khusus dan tidak bercacat di hadapan-Nya. Karena kasih Allah,
5 maka Ia sudah menentukan terlebih dahulu bahwa melalui Yesus Kristus, Ia akan mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya sendiri. Dan memang itulah yang ingin dilakukan-Nya.



Tuesday, January 15, 2013

Perayaan 24 tahun Mattiro Baji

Perjamuan Kasih peringatan 24 tahun jemaat GKSS Mattiro Baji


Pada tanggal 15 Januari 2013 mulai jam 17.30 berlangsung kebaktian syukur peringatan 24 tahun berdirinya jemaat GKSS Mattiro Baji (1988-2012) di gedung gerejanya di kompleks TC GKSS Jl Arung Sanrego, Mandai.

Kebaktian syukur diselenggarakan dalam bentuk refleksi dan perjamuan kasih. Ditegakkan di tengah ruangan gereja sebatang pohon pisang, dihiasi bermacam buah. Sebelum hadirin mengambil buah untuk diserahkan kepada warga lain sebagai pelayanan, sejumlah tokoh jemaat memberikan refleksi atas 24 tahun jemaat ini. Ada penilaian terhadap perkembangannya dari jemaat kecil yang terbentuk sebagai cabang kebaktian jemaat Baji Pa'mai' Maros, yang kemudian mandiri dan bahkan sudah sempat melahirkan jemaat baru, jemaat Oikoumene Sudiang. Termasuk perkembangannya adalah kemampuan finansil dalam mendirikan gedung gereja dan dalam membantu jemaat-jemaat lain melalui kemitraan pembiayaan gaji pendeta. Berbagai pelayanan ke jemaat-jemaat di pedalaman juga diungkapkan. Tetapi juga diungkapkan kritik terhadap melemahnya persekutuan bersama pemuda, perempuan dan anak-anak; masing-masing seolah berjalan sendiri. Setelah ibadah syukur dan perjamuan kasih, acara dilanjutkan dengan makan bersama makanan yang disediakan oleh masing-masing warga jemaat.

Entah mengapa untuk jemaat ini dipilih nama Mattiro Baji  -- bahasa Makassar yang bermakna melihat kebaikan, atau bisa juga menampakkan kebaikan. Rujukan alkitabiah ungkapan ini terdapat dalam Mazmur 34: 9, sebagaimana tercantum di bawah judul blog ini. 

Terjemahaman ayat ini dalam bahasa Bugis dan bahasa Makassar mengikuti terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), tanpa kata-kata "dan lihatlah":

Bugis: Pérasai kalému pékkugi kessinna PUWANGNGE, masennangngi tau iya mallinrungngé ri Aléna.
Makassar: Kasia'mi kalennu antekamma baji'Na Batara,mate'nei tau ma'la'langa mae ri Ia.
BIS: Rasakanlah sendiri betapa baiknya TUHAN, berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya.
 Sedangkan Bahasa Toraja dan Terjemahan Baru mengikuti teks Ibrani:
Toraja: Perasaimi sia tiromi, kumua iatu PUANG masokan; maupa' tu to umpentirerung
TB: Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!
RSV: O taste and see that the LORD is good!Happy is the man who takes refuge in him!  (Psa 34:8 RSV)

Pohon Pisang?
Mungkin pilihan menegakkan pohon pisang hanya pilihan praktis. Namun dalam berbagai tradisi religius Indonesia pisang tergolong sangat penting; buah pisang selalu disertakan dalam upacara sakral. Pohon pisang juga mengandung falsafah kehidupan.

Selamat ulang tahun Mattiro Baji.

Sunday, October 14, 2012

Unta dapat masuk lobang jarum?



Sebuah diskusi menarik di facebook mengenai unta dan lobang jarum

Johannes Silentio: Bagaimana mungkin unta dapat masuk lubang jarum? Maka para ekseget berandai, mungkin penulis Markus 10:17 - 30 salah dengar, antara "kamilos" (Yunani: tali) menjadi "kamelos" (unta). Tapi metafora sama ditemukan dalam Qur'an (surah al-Araf QS 7:40). Apa ini juga akibat salah dengar dari "jumal" (Arab: tali) menjadi "jamal" (unta)? Atau keduanya mau menandaskan prinsip yang sama: hanya Allah Sang Pelantan yang tahu apakah kita sekadar beragama atau sungguh-sungguh menjalani hidup rohani. (Membaca Injil Minggu Biasa XXVIII B bersama Rm. Agustinus Gianto, SJ)
Bramantyo Prijosusilo Keduanya bersumber sama
Martin L Sinaga Betul, Saya bertemu dengan Abdel Haleem, penerjemah Quran, dan menurt beliau terjemahan persisnya ialah tali...
Martin L Sinaga persisnya kata Haleem dalam Quran edisi Oxford thn 2004, "thick rope", bagaimanakah tali tebal masuk lobang jarum...lebih indah dari unta, bukan?
Made Supriatma Trims, Mas Tris. Saya baru tahu kalok Jamal itu artinya Onta.
Johannes Silentio Martin L Sinaga mungkin lebih elok, tapi mengurangi kesan shock therapy metafora itu...
Bramantyo Prijosusilo Metafora yang sama dikulak rungonkan lewat gurun dan padang, disinari matahari dan bintang, jadi berbayang berupa-rupa ... tapi sama
Martin L Sinaga Kayaknya Yesus memang tidak bicara seperti koan Zen -sebab nalar Jahudinya yang materialistis tak bisa ia buang...
Johannes Silentio Martin L Sinaga atau kita, orang modern ini, tak mampu menyelami metafora kuno yang suka menjungkirbalikkan rasionalitas?
Bramantyo Prijosusilo Keqnya Yesus bukan Yahudi deh, dia orang Jawa. Keq Muhammad, juga orang Jawa mangkanya nggak boleh digambar ...
Alexander Surya Agung kalau singa masuk lubang kecil bisa mas, di film MADAGASCAR 3 he..he..
Bramantyo Prijosusilo Werkudara mangsuk kupingnya Dewa Ruci juga bisa padahal dia segede gunung Dewa Ruci bisa berdiri di telapak tangannya.
Arya Darmaputra Kalau Jamaluddin artinya untanya Uddin?
Johannes Silentio Bramantyo Prijosusilo wong Jawa emang topppp smile *colek Martin L Sinaga yang Batak smile
Ekaputra Tupamahu Dalam Babylonian Talmud, ada pernyataan yg sejajar: "... seekor gajah masuk lewat lubang jarum." Metafora hewan melewati lubang jarum kelihatannya adalah sesuatu yg umum dalam budaya Yahudi. Satu lagi, bacaan kamelon (unta) punya dukungan manuskrip lebih kuat daripada kamilon (tali).
Johannes Silentio Ekaputra Tupamahu terima kasih untuk infonya. Kita mungkin perlu belajar mendengar metafora klasik apa adanya, dan merasa kejutannya, tanpa harus bersusah payah mengeditnya sesuai rasionalitas kita...
Ekaputra Tupamahu Oh iya, kebingungan antara unta/tali sebenarnya bisa juga dijelaskan dengan akar bahasa Aramnya. Dalam bahasa Aram, kata "gamla" bisa berarti tali atau unta. Kata ini sama mungkin karena tali pada waktu itu dibuat dari rambutnya unta.
Manda Andrian lalu yang sungguh2 menjalani hidup beragama yang seperti apa cheri wink ?
Johannes Silentio Manda Andrian yang untanya bisa masuk lubang jarum... smile
Manda Andrian hahahaha grin
Zakaria Ngelow Bung Johannes Silentio, selama ini penjelasan standar kepada warga jemaat adalah: yang dimaksud dengan "lubang jarum" dalam percakapan Yesus dengan si orang kaya itu adalah pintu gerbang (belakang?) kota Yerusalem yang kecil/sempit, sehingga para musafir yang membawa unta memang sulit sekali menarik untanya masuk ke pintu yang kecil/sempit itu -- yang tetap dibuka malam hari, ketika pintu gerbang besar ditutup.
Johannes Silentio Bung Zakaria Ngelow, semoga lain kali penjelasannya lebih kreatif :))
Malja Abrar Yg "kamelos" pakai logika Dionisian. Yg "kamilos" pakai logika Apollonian. smile
Bramantyo Prijosusilo Yang jelas, metapora dari jaman ora enak, wektu menungsha mingsih gumun dengan jarum.
Halomoan Manro Siburian yang sekadar beragama maksudnya bagaimana ya?
Johannes Silentio Halomoan Manro Siburian orang yang sekadar beragama adalah orang yang, walau sudah dibilang tak mungkin, masih tetap memaksa untanya masuk lubang jarum... smile
Dina Ackermann Bung Zakaria Ngelow, saya pernah mendengar seorang pastor juga berkata hal yang sama. Unta hanya akan bisa melewati ''lubang jarum'' itu, bila Si Unta meninggalkan seluruh barang/harta bawaannya (kiri dan kanan). Artinya Orang kaya akan sulit sekali masuk Syurga bila hatinya terikat dengan harga dunia. Hanya bisa bersama Tuhan di syurga, jika tidak menjadikan harta sebagai Prioritas (tamak akan harta).
Theodora Magdalena Lubang jarum ("eye of the needle") memang spt yg dibilang Zakaria Ngelow. QUoted from Wiki: "eye of a needle" has been claimed to be a gate in Jerusalem, which opened after the main gate was closed at night. A camel could only pass through this smaller gate if it was stooped and had its baggage removed."
Ekaputra Tupamahu Ide bahwa ada gerbang kecil di Yerusalem yg bernama lubang jarum itu kemungkinan besar datang dari Anselmus yg hidup sekitar tahun 1033-1109. Tidak ada bukti arkeologis maupun teks2 kuno yg mendukung pandangan ini.
Zakaria Ngelow Terima kasih kawan-kawan: Bung JS meminta penjelasan yang lebih kreatif? Bukan, melainkan penjelasan yang benar atau mendekati kebenaran maksud teks itu. Kita perlu penjelasan, misalnya mengapa ungkapan seperti itu muncul dalam suatu kebudayaan -- yang untuk kasus ini tidak hanya di kalangan Yahudi, tetapi juga (kemudian?) Arab dan sebelumnya di Babilonia (gajah, bukan unta). Kalau benar, seperti yang ET katakan, bahwa penjelasan Lobang Jarum adalah nama suatu gerbang di Yerusalem dari St. Anselmus (tq ET), seribu tahun kemudian, tak apa asal memberi penjelasan yang masuk akal, bukan sekadar yang creatif (dikreasi alias dibuat-buat supaya hebat!). Penjelasan "yang kurang kreatif" itu justru bunyi di telinga warga jemaat, bahwa orang kaya bukannya tak mungkin melalinkan sukar sekali (tq info tambahan DA dan ThM). Maka tugas para pakar terkait untuk menjelaskan ungkapan seperti ini. Yesus selalu memakai pengandaian dari kehidupan yang nyata, tidak absurd --sekiranya Lobang Jarum bukan nama atau sebutan untuk suatu pintu sempit itu. Have a nice day all.
Johannes Silentio Terima kasih untuk semua komentar dan info menarik yang diberikan, sehingga Zakaria Ngelow makin "kreatif" di dalam menjelaskan...hehehe. Kata "kreatif" di situ bukan berarti "dibuat-buat", tetapi berangkat dari teks yang ada (tanpa harus menyuntingnya sesuai rasionalitas modern ala ekseget yang saya kutip), membuka pemaknaan baru. Misalnya, Rm Gianto mengaitkan soal itu dengan soal bahwa hanya Allah Sang Pelantan (istilah bagus yang saya pelajari dari Djohan Effendi) yang tahu apakah seseorang (dalam cerita Yesus adalah orang kaya) memang sungguh-sungguh mau menghidupi jalan rohani, atau sekadar ikut aturan keagamaan. Saya kira, pesan Qur'an soal "lubang jarum" juga sama.

Pdt. Agus Santoso, ahli biblika, dosen di STT Cipanas, memberi catatan berikut:

Saya mau komentari pandangan yang selama ini beredar di masyarakat, yaitu tentang "lubang jarum" yang dipercayai sebagai pintu kecil di pintu gerbang Yerusalem. Menurut saya, pandangan ini sangat muda, karena baru muncul pada abad ke-10. Itu pun muncul tidak di Israel. Waktu saya penelitian arkeologi di Yerusalem beberapa kali, istilah "lubang jarum" bagi pintu itu sama sekali tidak dikenal di kalangan orang Yahudi, baik dulu (melalui artefak-artefak) maupun sampai saat ini. Pandangan ini hanya beredar di sekitar para "pilgrim" yang "naik haji" ke sana, sambil dibohongi oleh para pemandu wisata. Pandangan yang lebih realistis bisa didapatkan dari studi etimologi bahasa Aram Barat untuk kata "gamla" (karena kan Yesus berbicara dalam bahasa Aramik). Kata "gamla" memang dapat diartikan sebagai "onta" namun dapat juga diartikan "tali". Yang menjadi persoalan adalah penulis Injil menerjemahkan kata-kata Yesus ini dengan "kamelos" (onta) dan bukan "kamilos" (tali). Secara kritik teks, teks yang berbunyi "kamelos" memang asli, karena tidak ada teks-teks turunan yang lain maupun terjemahannya yang menulis "kamilos" atau "tali". Jadi menurut saya, teks yang berbunyi "kamelos" adalah asli. Sehingga jawaban atas persoalan itu begini:
1. Penulis Injil memang salah menerjemahkan kata "gamla" dari Yesus, karena yang dimaksud oleh Yesus adalah "tali".
2. Memang yang dimaksud Yesus dengan "gamla" adalah onta. karena ada juga peribahasa yang sama di wilayah bahasa semit seperti "gajah masuk lobang jarum".
Dari dua jawaban tadi saya lebih kepada yang pertama. Mungkin yang dimaksud "gamla" oleh Yesus adalah tali, karena peribahasa ini akan jalan kalau dipakai dengan "tali". Juga mengingat dalam akar bahasa semit yang menunjukkan kata onta dan tali memiliki akar kata yang sama, maka pantaslah kalau seringkali terjadi pergantian antara kedua kata tersebut.
Ini pak pendapat saya.

***



Friday, June 22, 2012

Pembacaan Alkitab Juli-September

Mengikuti BAKI PGI


Juli
Minggu, 1 Juli : 1 Samuel 10:1-16 Pagi: Mazmur 118 Petang: Mazmur 145 Roma 4:13-25 Matius 21:23-32
Minggu, 8 Juli : 1 Samuel 14:36-45 Pagi: Mazmur 146, 147 Petang: Mazmur 111, 112, 113 Roma 5:1-11 Matius 22:1-14
Minggu, 15 Juli : 1 Samuel 17:50-18:4 Pagi: Mazmur 148, 149, 150 Petang: Mazmur 114, 115 Roma 10:4-17 Matius 23:29-39
Minggu, 22 Juli : 1 Samuel 23:7-18 Pagi: Mazmur 63, 98 Petang: Mazmur 103 Roma 11:33-12:2 Matius 24:14-30
Minggu, 29 Juli : 2 Samuel 1:17-27 Pagi: Mazmur 24, 29 Petang: Mazmur 8, 84 Roma 12:9-21 Matius 25:31-46
Agustus
Minggu, 5 Agustus : 2 Samuel 6:12-23 Pagi: Mazmur 93, 96 Petang: Mazmur 34 Roma 14:7-12 Yohanes 1:43-51
Minggu, 12 Agustus : 2 Samuel 13:1-22 Pagi: Mazmur 66, 67 Petang: Mazmur 19, 46 Roma 15:1-13 Yohanes 3:22-36
Minggu, 19 Agustus : 2 Samuel 17:1-23 Pagi: Mazmur 118 Petang: Mazmur 145 Galatia 3:6-14 Yohanes 5:30-47 [Idul Fitri 1 Syawal 1433 H]
Minggu, 26 Agustus : 2 Samuel 24:1-2, 10-25 Pagi: Mazmur 146, 147 Petang: Mazmur 111, 112, 113 Galatia 3:23-4:7 Yohanes 8:12-20
September
Minggu, 2 September : 1 Raja-raja 8:22-40 Pagi: Mazmur 148, 149, 150 Petang: Mazmur 114, 115 1 Timotius 4:7b-16 Yohanes 8:47-59
Minggu, 9 September : 1 Raja-raja 12:21-33 Pagi: Mazmur 63, 98 Petang: Mazmur: 103 Kisah Para Rasul 4:18-31 Yohanes 10:31-42
Minggu, 16 September : 1 Raja-raja 19:8-21 Pagi: Mazmur 24, 29 Petang: Mazmur 8, 84 Kisah Para Rasul 5:34-42 Yohanes 11:45-57
Minggu, 23 September : 2 Raja-raja 4:8-37 Pagi: Mazmur 93, 96 Petang: Mazmur 34 Kisah Para Rasul 9:10-31 Lukas 3:7-18
Minggu, 30 September : 2 Raja-raja 17:1-18 Pagi: Mazmur 66, 67 Petang: Mazmur 19, 46 Kisah Para Rasul 9:36-43 Lukas 5:1-11

Tuesday, May 22, 2012

Persepuluhan = Wajib memberi 10%?


oleh Anwar Tjen

Berkali-kali saya mendapat pertanyaan dari warga gereja mengenai konsep persepuluhan. Apakah persepuluhan itu memang wajib? Dan kalau wajib, apakah memang persis 10% persen? Pertanyaan ini rupanya meresahkan sebagian warga gereja yang dibingungkan dengan maraknya ajaran mengenai persepuluhan yang mengartikannya secara harfiah. Di kalangan tertentu, bahkan terdengar nada “peringatan” bahwa mereka yang tidak menyerahkan 10% dari seluruh pendapatannya kepada gereja atau “hamba Tuhan” berarti mencuri uang Tuhan! Sebaliknya, mereka yang menyerahkan betul-betul 10% dari penghasilannya diberkati secara berlimpah-limpah. Tidak kalah pentingnya, ada yang mempertanyakan, kepada siapa dan untuk apa saja sesungguhnya persepuluhan itu: untuk kegiatan gereja saja atau malah kepada pendeta (atau “hamba Tuhan”) tanpa harus mempersoalkan penggunaannya untuk tujuan yang spesifik. Bagaimana kalau persembahan itu ditujukan langsung untuk menolong mereka yang membutuhkan pertolongan (bencana, sakit, anak yatim piatu)?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mendorong saya untuk mengedarkan secara lebih luas makalah yang semula merupakan bahan pembinaan di beberapa jemaat di Jakarta, antara lain, di Gereja Kristen Protestan Indonesia, Rawamangun, Jakarta Timur (Maret 2006) dan Huria Kristen Batak Protestan, Tomang, Jakarta Barat (2007). Sebagai seorang konsultan penerjemahan Alkitab yang sehari-hari bergelut dengan pemahaman teks-teks firman Tuhan, bagi saya yang terpenting adalah bahwa teks-teks itu dipahami secara utuh, tidak hanya secara harfiah atau sepotong-potong tanpa mempertimbangkan konteksnya yang berbeda dan berubah dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Apa perlunya persembahan kepada Tuhan?
Pertanyaan awal yang sangat mendasar bagi kita adalah: Apakah Pencipta langit dan bumi kekurangan apa-apa sehingga perlu dilayani dengan pemberian dari manusia ciptaannya? Jawabnya: Sama sekali tidak! Baca Mzm 50.9-14; bnd. ucapan rasul Paulus dalam Kis 17.24-25. Nas-nas ini sangat penting untuk memahami apa hakikat persembahan itu. Kita memberi bukan karena Allah kekurangan sesuatu. Persembahan umat Tuhan adalah ungkapan syukur terhadap karya Allah yang membebaskan, memelihara dan memberkati umat-Nya, bukan upaya untuk memenuhi kebutuhan Tuhan akan pujian apalagi materi.

Lagi pula, perlu kita garisbawahi, terkadang Tuhan menolak apa yang dipersembahkan manusia jika pemberian itu hanya untuk menutup-nutupi berbagai sikap dan tindakan munafik yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Dalam pemberitaan para nabi, persembahan umat tidak jarang dikecam keras dan dipandang memuakkan bagi-Nya (baca Yes 1.11-13; Am 4.4-5; 5.21-22). Ini dapat terjadi jika persembahan yang disampaikan tidak merupakan persembahan yang sungguh, yang mencerminkan hubungan yang benar antara si pemberi dengan Pencipta dan sesamanya. Pada masa Amos, misalnya, umat begitu rajin beribadah dan sekaligus rajin menjarah rakyat jelata yang tak berdaya.

Secara positif, tentu saja benar, kita juga membaca ratusan ayat Kitab Suci yang menganjurkan dan memerintahkan umat Tuhan mempersembahkan kurban kepada-Nya. Kita banyak menemukan perintah demikian dalam kitab Taurat, khususnya kitab Imamat. Tuhan rupanya senang menerima persembahan syukur umat -Nya (mis. Kel 22.29; Mzm 50.14; juga sebagian besar kitab Imamat). Sesudah air bah, Nuh mempersembahkan kurban yang berkenan kepada Allah (Kej 8.20). Begitu pula, ketika umat Israel dimerdekakan dari Mesir, salah satu alasan pokoknya adalah agar mereka dapat mempersembahkan kurban kepada Tuhan (Kel 3.17-18; 8.27). .

Persepuluhan: Apa dan untuk apa?
Dalam konteks demikian, banyak orang Kristen kini menyoroti tentang “perpuluhan” atau “persepuluhan” yang rupanya tidak diberlakukan lagi di sebagian gereja. Konsep ini pertama kali disebutkan dalam Kej 14.17-20, yakni ketika Abraham bertemu Melkisedek dan menyerahkan sepersepuluh (ma‘aser) dari semua jarahannya (bnd. Ibr 7.1-10). Dalam Kej 28.22 kita juga membaca, Yakub menazarkan persembahan sebesar sepersepuluh dari semua yang diberikan Tuhan.
Konsep persepuluhan seperti ini tidak dapat dikatakan unik, hanya berlaku di Israel. Dalam teks-teks yang ditemukan di dunia Timur Tengah kuno, kita dapat membaca bagaimana kuil-kuil mendapat jatah sepersepuluh dari hasil tanah dan ternak yang memungkinkan aktivitas ibadatnya terus berlangsung. Konsep inilah yang telah diadopsi dan di”kudus”kan sebagai praktek umat Tuhan dalam PL, seperti persembahan hasil tanah dan ternak yang kerap kali muncul dalam kitab Imamat (mis. 27.30-33) dan Ulangan (mis. 14.22-23; juga 12, 14, 26).

Dalam kaitan ini, patut dicatat, ada perbedaan pemahaman mengenai sasaran pemanfaatannya. Menurut Bil 18.20-32 persepuluhan diperuntukkan bagi orang Lewi saja setiap tahun (bnd. Neh 14.44-45). Namun, menurut Ul 14.23 hasil persepuluhan dari tanah dan ternak yang diberikan dalam dua tahun dimaksudkan untuk dinikmati secara bersama oleh umat yang menyerahkannya. Orang Lewi turut diundang ke jamuan bersama itu, karena suku ini tidak memperoleh milik pusaka. Pada akhir tahun ketiga, (Ul 14.28-29; 26.12), hasil persepuluhan tidak hanya diberikan kepada kaum Lewi, tetapi juga anak yatim, janda dan orang asing.

Persepuluhan sebagai “norma” hidup berkelimpahan?
Barangkali ayat yang paling terkenal dan paling sering dijadikan alasan untuk memberi persepuluhan adalah Mal 3.6-11. Pada satu sisi, ayat ini memberi ultimatum mengenai kelalaian dalam memberi persepuluhan untuk rumah Tuhan: Semua yang tidak menyerahkan persepuluhan adalah orang yang menipu Allah! (qaba, bisa juga berarti “merampok”). Di sisi lain, dengan nada yang luar biasa optimis, kepada semua pemberi persepuluhan dijanjikan berkat berkelimpahan: “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ... dan ujilah Aku ... apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan?” Di kalangan gereja tertentu, nas ini sangat mendukung teologi kemakmuran yang digembar-gemborkan. Memang ada kesaksian mengenai hidup yang berkelimpahan oleh sebagian orang yang konsisten memberi persepuluhan, tetapi patut dipertanyakan apakah kekurangan material merupakan akibat kelalaian memberi persepuluhan yang merupakan hak Tuhan! Di sini teks seperti Mal 3 harus dilihat bersama-sama teks lain dalam Alkitab.

Jika kemiskinan merupakan akibat ketidakadilan, seperti yang terjadi pada zaman Amos, masalahnya jelaslah bukan terletak dalam soal memberi persepuluhan. Tidak mengherankan, dalam kitab Amos, kita bahkan mendengar suara kritis mengenai persepuluhan yang diberikan umat Tuhan: “Datanglah ke Betel dan lakukanlah perbuatan jahat ... bawalah kurban persembahanmu pada waktu pagi, dan persembahan persepuluhanmu pada hari yang ketiga! ... Bukankah yang demikian kamu sukai hai orang Israel?” Persembahan sepersepuluh pun menjadi praktek yang dikecam Tuhan jika hidup umat-Nya tidak sesuai dengan kasih setia (khesed) Tuhan yang harus pula terwujud dalam hubungan horizontal dengan sesama. Analoginya, boleh-boleh saja, orang memberi sepersepuluh hasil korupsi dan eksploitasi yang menyengsarakan rakyat kepada gereja yang membutuhkan dana, tetapi dalam semangat pemberitaan Amos, praktek demikian sama memuakkan bagi Tuhan seperti ibadah-ibadah megah yang digelar tak habis-habisnya pada masa itu.

Mengapa persepuluhan “menghilang” dari ajaran PB?
Jika kita beralih ke Perjanjian Baru, harus diakui, tidak banyak ditemukan referensi tentang persembahan persepuluhan kecuali dalam dua konteks: (i) kecaman Yesus terhadap orang Farisi yang rajin memberi persepuluhan tetapi mengabaikan “keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan” (Mat 23.23; Luk 11.42); (ii) keimaman Melkisedek yang menerima dari Abraham “sepersepuluh dari segala rampasan”. Yang menjadi fokus adalah keunggulan jabatan imam Melkisedek yang merupakan gambaran Kristus, imam yang sempurna.

Dapat disimpulkan, persepuluhan sebagai kewajiban kepada orang yang berkekurangan dan kaum Lewi yang tidak punya tanah dan pekerjaan lain kecuali mengajar dan menyelenggarakan ibadah tidak lagi menjadi norma baku dalam ajaran PB. Malah, seperti kritik para nabi, Yesus juga menegaskan, yang dikehendaki Tuhan bukan persembahan tetapi belas kasihan (Mat 9.13; 12.7). Itu diucapkan dalam konteks pelanggaran ajaran Taurat yang dipegang ketat oleh orang Farisi. Lagi pula, dalam konteks pemberian persembahan dalam bentuk uang di Bait Suci, komentar Yesus tentang persembahan kecil seorang janda melampaui sekedar pemberian sepersepuluh hasil bumi atau ternak: “janda ini memberi dari kekurangannya” (Mrk 12.41-44; Luk 21.1-4).

Kalau bukan persepuluhan, apa yang harus dipersembahkan?
Pertanyaan yang relevan untuk umat percaya masa kini adalah: Bagaimana kita memahami tentang persembahan jika konsep persepuluhan tidak lagi menjadi norma baku bagi jemaat Kristen mula-mula? Di satu sisi, kita melihat perluasan makna persembahan dalam dimensi etisnya. Dalam Rm 12.1 Paulus menyerukan agar umat Kristen di Roma mempersembahkan tubuh mereka sebagai “persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah”. Demikian pula, dalam 1 Ptr 2.5 kita temukan ajaran mengenai “imamat am” orang percaya yang sebagai imam “mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah”. Kedua nas ini pada dasarnya mengacu kepada kehidupan konkret sebagai wujud ibadah yang benar.

Di sisi lain, makna persembahan juga diberi terjemahan konkret dalam arti memberi secara material dari kemurahan hati. Kita membaca ajaran Yesus yang tidak terdapat dalam kitab-kitab Injil tetapi dicatat dalam Kis 20.35 bahwa lebih berbahagia memberi daripada menerima. Paulus dalam konteks ini sedang berbicara mengenai pelayanan sendiri yang dibiayai dengan tangan sendiri, walaupun sebagai pekerja Kristus, ia berhak menerima hasil pelayanannya secara material sebagaimana ditetapkan Tuhan sendiri (bnd. 1 Kor 9.14).
Dalam kaitan ini, kita harus menyebut pengumpulan uang untuk keperluan “orang-orang kudus” yang sering disebutkan dalam surat-surat Paulus (Rm 15.25-32; 2 Kor 8-9). Paulus menyebut jemaat Makedonia sebagai teladan: “sangat miskin namun mereka kaya dalam kemurahan” (2 Kor 8.2). Apa yang mereka upayakan mirip dengan yang telah dilakukan janda miskin di Bait Suci: “mereka telah memberi menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka” (8.3).

Penutup: Dari anugerah kepada anugerah!
Asas terpenting dalam pemberian yang murah hati itu adalah pengenalan akan kasih karunia (kharis) Tuhan Yesus Kristus yang “oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Kor 8.9). Itulah sebabnya pengumpulan uang sebagai wujud kesadaran akan anugerah Kristus itu dinamakan kharis “karya anugerah”![1] Hasil yang diharapkan dilihat sebagai upaya untuk mencapai keseimbangan (isotetos) antara yang berlimpah dan yang berkekurangan. Untuk itu Paulus mengutip nas PL dari pencurahan manna kepada umat Israel di padang gurun (2 Kor 8.15; Kel 16.18).

Walaupun semangatnya berbeda dengan Mal 3 yang berisi ancaman Tuhan, kita membaca pesan yang serupa bahwa apa yang ditabur dengan kerelaan sebanding dengan apa yang dituai dengan sukacita. Dasarnya adalah kasih dan berkat Allah: “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita dan Allah sanggup melimpahkan sebaga kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berlebihan di dalam pelbagai kebajikan” (2 Kor 9.6-9). Yang harus dihindarkan, seperti ditegaskan Paulus, adalah keterpaksaan! (9.5, 7; Fil 1.14).

Pengumpulan uang (kolekte dll.) yang sekarang dilakukan di dalam konteks kehidupan gereja (bnd. 1 Kor 16.2) mestinya dimengerti sebagai hasil yang wajar dari penerimaan anugerah Tuhan. Kalau kita sudah dibenarkan dengan cuma-cuma, maka ucapan syukur yang spontan akan terungkap lewat pemberian. Itulah yang disebut Paulus sebagai “hasil-hasil pembenaranmu” (ta genemata tes dikaiosunes humon).[2] Karya anugerah itu memang ditujukan kepada manusia tetapi juga “melimpahkan ucapan syukur kepada Allah” (9.12)!
Dalam kaitan ini, patut dicatat, walaupun Paulus menyatakan tidak ingin membebani siapa pun untuk mengabarkan Injil, toh dia mengakui menerima bantuan jemaat-jemaat yang pernah dilayaninya. Yang paling penting lagi, lebih daripada sekedar pemberian material itu, Paulus melihatnya sebagai “persembahan yang harum, suatu kurban yang disukai dan berkenan kepada Allah” (Flp 4.18). Ini sekaligus merupakan dasar teologis bagi pemberian jemaat kita dalam rangka menafkahi para pelayannya.

Bagaimana kita mengerti persembahan dalam konteks jemaat kita? Jelaslah, tidak dalam semangat legalistis sebagai Taurat baru! Konsep seperti “persepuluhan” tidak perlu diterapkan norma yang mengikat, walaupun sebenarnya dapat dipakai sebagai model untuk menolong jemaat dalam menentukan bagian yang akan diberikan. Dari sudut praktisnya, tentu saja konsep demikian – yang tidak harus diartikan secara harfiah 10% – dapat menolong kita mengatasi kelemahan manusiawi kita seperti yang disebutkan Kristus: “di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6.21). Dengan meng”aman”kan bagian tertentu, sesuai dengan kerelaan hati kita, pemberian dapat dilakukan tanpa bersungut-sungut dan dengan penuh ucapan syukur. Sebab, “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita!”[2]

--- Kamis, 29 Mei 2008


Dr. Anwar Tjen melayani sebagai pendeta di Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI, berpusat di Pematangsiantar) dan konsultan ahli di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Studi lanjut dalam filologi dan tafsir Kitab Suci di Union Theological Seminary in Virginia, USA (Th.M./1995), Pontificium Institutum Biblicum, Roma (1997-98), Ecole Biblique, Yerusalem, Universitas Tesalonika, Yunani (2000). Menyelesaikan studi doktoral di Fakultas Studi Oriental, Cambridge University, UK (PhD/2003), dengan disertasi mengenai Septuaginta, yakni Kitab Suci Ibrani yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Studi komplementer dalam bidang linguistik di Australian National University, Canberra (GradDipl/2007).










Monday, May 21, 2012

Matius 23:34-36


Apa itu Kekerasan?
Kisah ini bermula dari dua anak manusia pertama yaitu Kain dan Habel. Kain, sang petani. Habel, sang penggembala domba. Mereka sama-sama mempersembahkan hasil kerja mereka kepada Tuhan. Kain mempersembahkan sebagian hasil tanahnya sebagai korban persembahan sedangkan Habel mempersembahkan anak sulung kambing dombanya. Tuhan mengindahkan korban persembahan Habel, tetapi menolak korban persembahan Kain. Karena hal tersebut, Kain membunuh Habel. Tuhan marah dan mengutuk Kain. Kain menjadi pengembara dan pelarian di Bumi. Namun Kain khawatir, barangsiapa yang akan bertemu dengan dia, mereka akan membunuhnya. Tuhan berjanji, hal itu tidak akan terjadi. Sabda Tuhan, “Barangsiapa yang akan membunuh Kain akan dibalaskannya tujuh kali lipat”. Kain diberi tanda oleh Tuhan supaya ia tidak dibunuh oleh siapapun yang bertemu dengannya (Kej 4:1-16).

Menggugat Mekanisme Kekerasan di Indonesia: Pemahaman Alkitab mengenai Mateus 23:34-36

Tuesday, March 13, 2012

Pembacaan Alkitab Minggu: April-Juni


Dikutip dari BAKI PGI 2012

April

Minggu, 1 April : Yeremia 23:16-32 Pagi: Mazmur 118 Petang: Mazmur 145 1 Korintus 9:19-27 Markus 8:31-9:1

Minggu, 8 April : Yesaya 50:4-9a Pagi: Mazmur 118, 1-2, 19-29 Petang: Mazmur: 31:9-16 Filipi 4:5-11 Pagi: Matius 26:14-27:66 Petang: Matius 27:11-54 Paska

Minggu, 15 April : Pagi: Keluaran 12:1-14 Mazmur 148, 149, 150 Yohanes 1:1-18 Petang: Yesaya 51:9-11 Mazmur 113, 114 Yohanes 20:19-23

Minggu, 22 April : Yesaya 43:8-13 Pagi: Mazmur 146, 147 Petang: Mazmur 111, 112, 113 1 Petrus 2:2-10 Yohanes 14:1-7

Minggu, 29 April : Daniel 4:1-18 Pagi: Mazmur 148, 149, 150 Petang: Mazmur 114, 115 1 Petrus 4:7-11 Yohanes 21:15-25

Mei

Minggu, 6 Mei : Yosua 4:19-24, 5:1-9 Pagi: Mazmur 63, 98 Petang: Mazmur 103 1 Petrus 5:1-11 Matius 7:15-29 Hari Raya Waisak Tahun 2554

Minggu, 13 Mei : Yosua 17:14-18 Pagi: Mazmur 24, 29 Petang: Mazmur: 8, 84 2 Tesalonika 2:13-17 Matius 7:7-14

Minggu, 20 Mei : Yosua 24:1-28 Pagi: Mazmur 93, 96 Petang: Mazmur 34 1 Timotius 3:14-4:5 Matius 13:24-34a

Minggu, 27 Mei : Yehezkiel 3:16-27 Pagi: Mazmur 66, 67 Petang: Mazmur 19, 46 Efesus 2:1-10 Matius 10:24-33, 40-42 Pentakosta

Juni

Minggu, 3 Juni : Yesaya 11:1-9 Pagi: Mazmur 118 Petang: Mazmur 145 1 Korintus 2:1-13 Yohanes 14:21-29

Minggu, 10 Juni : Ulangan 11:1-12 Pagi: Mazmur 146, 147 Petang: Mazmur 111, 112, 113 Efesus 4:1-16 Yohanes 1:1-18

Minggu, 17 Juni : 2 Tawarikh 32:1-23 Pagi: Mazmur 93, 96 Petang: Mazmur 34 Wahyu 15:1-8 Matius 18:1-4 [Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW ]

Minggu, 24 Juni : 1 Samuel 4:12-22 Pagi: Mazmur 66, 67 Petang: Mazmur 19, 46 Yakobuses 1:1-18 Matius 19:23-30

Monday, February 27, 2012

Pembacaan Alkitab: Januari-Maret 2012


Bacaan Alkitab (BAKI PGI 2012)


Januari
Minggu, 1 Januari : Kejadian 17:1-12a, 15-16 Pagi: Mazmur 103 Petang: Mazmur petang: 148 Kolose 2:6-12 Yohanes 16:23b-30 Tahun Baru Masehi

Minggu, 8 Januari : Kejadian 17:1-12a, 15-16 Pagi: Mazmur 103 Petang: Mazmur petang: 148 Kolose 2:6-12 Yohanes 16:23b-30

Minggu, 15 Januari : Yesaya 44:6-8, 21-23 Pagi: Mazmur 25 Petang: Mazmur 9, 15 Efesus 4:1-16 Markus 3:7-19a

Minggu, 22 Januari : Yesaya 48:1-11 Pagi: Mazmur 41, 52 Petang: Mazmur 44 Galatia 1:1-17 Markus 5:21-43

Minggu, 29 Januari : Yesaya 51:17-23 Pagi: Mazmur 56, 57, 58 Petang: Mazmur 64, 65 Galatia 4:1-11 Markus 7:24-37

Februari
Minggu, 5 Februari : Yesaya 58:1-12 Pagi: Mazmur 80 Petang: Mazmur 77, 79 Galatia 6:11-18 Markus 9:30-41

Minggu, 12 Februari : Yesaya 63:1-6 Pagi: Mazmur 89:1-18 Petang: Mazmur 89:19-52 1 Timotius 1:1-17 Markus 11:1-11

Minggu, 19 Februari : Rut 1:1-14 Pagi: Mazmur 106:1-18 Petang: Mazmur 106:19-48 2 Korintus 1:1-11 Matius 5:1-12

Minggu, 26 Februari : Ulangan 6:10-15 Pagi: Mazmur 25 Petang: Mazmur 9, 15 Ibrani 1:1-14 Yohanes 1:1-18

Maret
Minggu, 4 Maret : Ulangan 8:1-10 Pagi: Mazmur 63, 98 Petang: Mazmur 103 1 Korintus 1:17-31 Markus 2:18-22 Hari Doa Anak-anak Sedunia

Minggu, 11 Maret : Yeremia 1:1-10 Pagi: Mazmur 24, 29 Petang: Mazmur 8, 84 1 Korintus 3:11-23 Markus 3:31-4:9

Minggu, 18 Maret : Yeremia 6:9-15 Pagi: Mazmur 93, 96 Petang: Mazmur: 34 1 Korintus 6:12-20 Markus 5:1-20

Minggu, 25 Maret : Yeremia 14:1-9, 17-22 Pagi: Mazmur 66, 67 Petang: Mazmur 19, 46 Galatia 4:21-5:1 Markus 8:11-21


Friday, February 10, 2012

Perkosaan Tamar

Bacaan: 2Samuel 13:1-39
Di GKSS Jemaat Mattiro Baji terdapat kelompok diskusi Alkitab internasional TEA, Through the Eyes of Another, Intercultural Reading of The Bible (Melalui Mata Orang Lain: Membaca Alkitab Secara Lintas Budaya). Kelompok disebut TEA Mattiro Baji. Hasil diskusi dikirim ke suatu mitra kelompok pembaca di luar negeri; kelompok itu juga mengirim hasil diskusinya kepada kelompok Mattiro Baji.
TEA Kelompok Mattiro Baji:
Armin Sukri (Ketua), Jenifer Ladja (Sekretaris), Anggota: Christovina Lebang, Jufri, Kurnaini Alwi, Makis Wata, Martinus Zainuddin, Zakaria Ngelow
Berikut hasil diskusi TEA Mattiro Baji mengenai Perkosaan Tamar (2 Sam 13)

A. Di balik Teks -- Apakah Teks ini merujuk pada konflik tertentu?

Menurut kelompok; Teks 2Samuel 13:1-39 merujuk pada konflik. Baik konflik perorangan maupun konflik batin. Adapun beberapa konflik yang dikemukakan oleh kelompok adalah:
1. Konfliknya terang-terangan: Konflik antara dua orang saudara tiri (Absalom dan Amnon, setelah Amnon memperkosa Tamar).
2. Konflik tersirat (terselubung): Konflik antara Amnon dan Absalom karena perebutan kekuasaan. Absalom kemudian membangun sebuah kekuatan untuk menggulingkan Ayahnya.
3. Selain konflik antar keluarga yang ada, juga ada konflik batin para tokoh dalam teks. Misalnya konflik batin yang dialami Tamar, sebagai seorang korban yang telah diperkosa, ia merasa pasti merasa sangat sedih, setelah ia diperkosa, saudaranya lalu membuangnya begitu saja, tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Hal yang bisa dilakukannya hanyalah menaruh abu di atas kepalanya dan mengoyakkan baju kurung yang maha indah lalu menangis. Konflik batin, juga dialami oleh Daud; ketika mengetahui Amnon telah memperkosa Tamar, lalu Absalom telah membunuh Amnon. Pada satu sisi ia merasa sangat marah tapi pada sisi lain ia tidak dapat berbuat apa-apa. Daud tidak bisa menegakkan keadilan; karena dia sendiri telah dibunuh oleh keadilan. Pengadilan Nathan kepada Daud telah membuat Daud kehilangan kepercayaan diri. Sehingga setelah Daud mau mati, dia meminta Salomo menegakkan keadilan.
4. Konflik dengan kebudayaan/kebiasaan, dalam hal apa yang dilakukan Amnon yaitu memperkosa Tamar menimbulkan konflik dengan budaya.
5. Dosa Daud yang pernah mengambil istri Uria (Batsyeba) kini dituai oleh anak-anaknya. Dalam hal ini berlaku hukum tabur-tuai. Tabur-tuai yang dimaksud ada dalam dua hal;
a. Karma: Karma dalam pengertian; pemerkosaan yang dialami Tamar merupakan hukuman atas apa yang pernah dilakukan Ayahnya. Dan pembunuhan yang dialami oleh Amnon juga merupakan karma atas apa yang pernah dilakukannya.
b. “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” : Ini merupakan pepatah di Indonesia untuk menggambarkan bahwa sikap/perilaku orang tua menurun pada anaknya. Daud menjadi contoh yang tidak baik bagi anak-anaknya, karena itu apa yang dilakukan oleh Amnon merupakan bentuk dari contoh buruk yang diberikan Daud.

B. Di dalam Teks --- Jejak-jejak Kebudayaan apa yang anda temukan dalam teks?

Beberapa jejak-jejak kebudayaan yang ditemukan dalam teks ini adalah:
• Ada budaya bagaimana seseorang harus bersikap terhadap kejadian/peristiwa tertentu. Misalnya mengoyakkan pakaian sebagai simbol duka/sedih.
• Budaya balas dendam: Absalom membalas dendam kepada Amnon karena telah memperkosa Tamar. Mungkinkah juga ada masalah persaingan sebagai putra mahkota?
• Dalam kebudayan Bugis-Makassar, ada budaya membalas dendam dalam rangka menenggakan siri’ (harga diri). Dalam budaya siri’ ini, apa yang dilakukan oleh Absalom adalah hal yang mulia dan termormat. Pemerkosaan yang dilakukan oleh Amnon telah menjatuhkan harkat dan martabat Tamar (dan keluarga besar) sehingga untuk menegakkan siri’ tersebut maka pemerkosa itu harus mati.
• Budaya patriarkhi: Tamar sebagai perempuan ditampilkan sebagai properti/hak milik atas laki-laki yang bisa diminta dan jika tidak dibutuhkan dapat dibuang. [Bersambung]

Saturday, October 22, 2011

Latar dan Tafsir Kitab Wahyu

sumber: Kitab Wahyu: Pendahuluan, Argumen dan Garisbesar, oleh Daniel B. Wallace
[http://bible.org/article/kitab-wahyu-pendahuluan-argumen-dan-garisbesar]


D. Latarbelakang dan Tujuan
1. Latarbelakang

Latarbelakan tulisan ini sangat mungkin terjadi saat penganiayaan gencar terjadi pada orang-orang Kristen (1:9). Jika ini berkaitan dengan penganiayaan yang dilakukan oleh Domitianic, maka Penilik Patmos ini akan berpikir sampaikapan eskaton itu akan terjadi. Kemungkinan besar ia menyakini bahwa penganiayaan yang ia alami menunjukkan bahwa akhir zaman itu telah sangat dekat. Saat itu berakhir, ada satu gelombang penggenapan (sama seperti saat Hadrian meratakan Yerusalem pada 135 CE akan menjadi gelombang ketiga, dst.). Namun harapan eskatologis selalu ada dalam tulisan-tulisan PB—khususnya dalam masa-masa sulit, sama seperti pentingnya kesabaran yang selalu diperlukan.
2. Tujuan

Kitab Wahyu ditujukan untuk mendorong orang percaya dalam penganiayaan di zaman Romawi, dengan mengungkapkan bahwa Mesias mereka masih memegang kendali dan pada akhirnya akan menjadi pemenang. Dikaitkan dengan keadaan di zaman sekarang, meski saya meyakini posisi futuris ada banyak kebenaran dalam posisi preteris. Paling tidak Yohanes menggunakan keadaan di zamannya sebagai referensi awal dalam interpretasi teksnya, dan lebih dari itu, ia sendiri mungkin menulis tulisannya dengan cara seperti itu karena ia berpikir akhir zaman telah sangat dekat. Sejalan dengan tujuan ini, maka orang yang menafsirkan Wahyu dengan satu aliran saja akan kehilangan banyak yang disiratkan dalam kitab ini.18
E. Aliran-aliran Interpretasi19

Ada empat aliran interpretasi (dalam hal skema kronologi kitab Wahyu, bukan dalam hal aliran eskatologi semata): preteris, historis, futuris, dan idealis.

(1) Pendekatan preteris percaya bahwa “Wahyu hanyalah satu gambaran keadaan kekaisaran abad pertama.”20 Meski, seperti yang telah kami jelaskan, kita tidak bisa memisahkan interpretasi kitab ini dari latarbelakangnya (dengan demikian ada kebenaran dalam pendekataan ini), namun pandangan seperti ini tidak bisa dengan memadai menjelaskan semua data dalam kitab Wahyu, karena pengarangnya menyatakan dengan gamblang bahwa kitab ini adalah tulisan yang menjelaskan masa depan (cf. 4:1).

(2) Pendekatan historis (atau historikis-berlanjut) “melihat kitab Wahyu sebagai satu presntasi simbolis keseluruhan sejarah gereja sejak awal abad pertama hingga akhir zaman.”21 Namun ada beberapa persoalan dengan pandangan ini. “Pertama, identifikasi yang pasti atas kejadian-kejadian sejarah dengan simbol-simbolnya tidak pernah bisa lengkap dibuat, bahkan setelah kejadian-kejadian tersebut terjadi…. Kedua, para penafsir aliran historikal tidak pernah bisa dengan memuaskan menjelaskan mengapa satu nubuatan umum harus dibuat menguntungkan kekaisaran Roma bagian barat…. Ketiga, kalau memang pendekatan historis-berlanjut benar, maka prediskinya akan cukup mudah agar para pembacanya [yang mula-mula] bisa memahami apa maksudnya [cf. 22:10].”22

(3) Pendekatan futuris berpendapat bahwa “semua versi dari Wahyu 4:1 hingga bagian akhir kitab ini akan nanti digenapi pada periode segerea sebelum dan mengikuti kedatangan Kristus yang kedua.”23 Pendekatan ini adalah yang paling memuaskan karena (1) kemungkinan bahwa 1:19 dimaksudkan untuk menjadi garisbesar kitab ini; (2) terminus ad quem atas kedatangan Kristus yang kedua sebenarnya mendukung hal in, karena “saat kejadian-kejadian ini mengarah pada terminus ini dalam suksesi yang dekat, orang akan mengingat apa yang terjadi sebelumnya dan berkata bahwa banyak dari kejadian ini masih harus terjadi di mas depan karena penggenapannya belum terjadi dan karena simbol-simbolnya nampaknya merupakan pergantian kejadian-kejadian yang terjadi dengan cepat dan bukan merupakan satu proses yang lama”;24 dan (3) “semakin seseorang menggunakan interpretasi literal, maka semakin ia akan menjadi seorang futuris.”25

(4) Pendekatan idealis beanggapan, “Wahyu mewakili konflik abadi antara kebaikan dan kejahatan yang berlangsung di sepanjang masa, meski dalam hal ini hal itu memiliki aplikasi tertentu bagi zaman gereja.”26 Namun sama seperti pandangan aliran preteris, pendekatan ini mengabaikan elemen prediktif dalam kitab ini. Singkatnya, “pandangan idealist memang memiliki banyak kebenaran. Kesalahannya tidak terdapat dalam apa yang ditegaskannya melainkan banyak dalam apa yang dibantahnya.”27

Pendakatan kita terhadap kitab Wahyu pada dasarnya adalah dari perspektif futuris, meski aliran preteris dan idealis tidak bisa sepenuhnya dikesampingkan karena nampaknya juga ini merupakan bagian dari tujuan pengarangnya.

Catatan:
18 Sebenarnya, ada kebenaran dalam pandangan idealist, karena pada eskaton yang terakhir, pergumulan antara kebaikan dan kejahatan akan sirna, sebagai satu contoh nyata, atas apa yang selalu dikaitkan dalam perjuangan seperti itu pada prinsipnya.

19 Dalam menghadapi hal ini, lihat M. C. Tenney, Interpreting Revelation, 136-46. Komentar kami disini perlu lebih ringkas.

20 Tenney, ibid., 136.; 21 Ibid., 137.; 22 Ibid., 138-39.; 23 Ibid., 139.; 24 Ibid., 142.; 25 Ibid.; 26 Ibid., 143.; 27 Ibid.

Friday, August 19, 2011

Contoh Posting dari Email

Kanon Alkitab
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Kanon Alkitab adalah kumpulan kitab yang diyakini memiliki otoritas sebagai Firman Allah dan layak menjadi tolak ukur bagi iman umat.[1] Kata "kanon" sendiri adalah kata Yunani yang secara harafiah berarti "tongkat pengukur," yaitu tongkat yang dijadikan sebagai standar pengukuran. Dalam konteks Alkitab, "kanon" secara umum dipahami sebagai "daftar" kitab-kitab yang menjadi "standar" atau "aturan" yang bersifat normatif bagi umat.[1]
Proses penganonan Alkitab atau yang biasa dikenal dengan istilah "kanonisasi" adalah sebuah proses yang berlangsung selama berabad-abad. Proses ini melibatkan diskusi yang rumit mengenai kitab mana yang dianggap berwibawa dan kitab mana yang tidak.[2] Kitab-kitab yang dianggap berwibawa ini kemudian dikenal dengan istilah "kanonisitas."
Daftar isi

" 1 Sejarah
" 2 Kanonisasi
o 2.1 Kanonisasi Perjanjian Lama
o 2.2 Kanonisasi Perjanjian Baru
" 2.2.1 Kanonisitas Perjanjian Baru
" 3 Lihat pula
" 4 Referensi

Sejarah
Orang-orang Yahudi telah membakukan bahwa kitab-kitab yang kita sebut Perjanjian Lama diilhami Allah, sedangkan yang lain tidak. Ketika orang-orang Kristen berhadapan dengan berbagai ajaran sesat, mereka mulai merasakan pentingnya membedakan tulisan-tulisan yang sesungguhnya diilhami Allah dan yang tidak.
Dua kriteria penting yang dipakai gereja untuk mengenal kanon (istilah Yunani yang artinya "standar") adalah yang berasal dari para rasul dan tulisan-tulisan yang dipakai di gereja-gereja.
Dalam mempertimbangkan tulisan rasuli, gereja menganggap Paulus sebagai salah seorang rasul. Meskipun Paulus tidak berjalan bersama-sama dengan Kristus, Paulus bertemu dengan Kristus dalam perjalanannya ke Damaskus. Aktivitas penginjilannya yang tersebar luas - yang dibenarkan dalam Kisah Para Rasul - menjadikannya model seorang rasul.
Setiap Injil harus dihubungkan dengan seorang rasul. Dengan demikian, Injil Markus yang dihubungkan dengan Petrus dan Injil Lukas yang dihubungkan dengan Paulus, mendapat tempat dalam kanon. Setelah para rasul wafat, orang-orang Kristen sangat menghargai kesaksian yang ada dalam Injil tersebut, meskipun Injil tersebut tidak mengungkapkan nama rasul yang terkait.
Tentang penggunaan tulisan-tulisan yang dipakai di gereja-gereja, petunjuknya ialah, "Jika banyak gereja memakai tulisan tersebut dan jika tulisan tersebut dapat terus-menerus meningkatkan moral mereka, maka tulisan tersebut diilhami". Meskipun standar ini menunjukkan pendekatan yang agak pragmatis, namun ada juga logikanya di balik itu. Sesuatu yang diilhami Allah akan mengilhami juga para penyembah-Nya; tulisan yang tidak diilhami pada akhirnya akan lenyap juga.
Namun, standar-standar tersebut saja tidak cukup untuk menentukan sebuah kitab sebagai kanon. Banyak tulisan ajaran sesat membawa-bawa nama rasul. Di samping itu, ada gereja-gereja yang memakai tulisan tersebut sedangkan yang lainnya tidak.
Menjelang akhir abad kedua, keempat Injil, Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus sangat dihargai hampir di semua pelosok. Meskipun tidak pernah ada daftar "resmi", gereja-gereja cenderung berpaling pada tulisan-tulisan ini karena dianggap memiliki otoritas spiritual. Para uskup yang berpengaruh seperti Ignasius, Clemens dari Roma dan Polikarpus telah menjadikan tulisan-tulisan ini mendapat pengakuan yang luas. Namun perdebatan masih berlangsung terhadap Ibrani, Yakobus, 2 Petrus, 2 dan 3 Yohanes, Yudas serta Wahyu.
Daftar ortodoks mula-mula, yang disusun sekitar tahun 200, adalah Kanon Muratori Gereja Roma. Daftar ini meliputi sebagian besar Perjanjian Baru seperti yang kita ketahui masa kini, dan menambahkan Wahyu Petrus dan Kebijaksanaan Salomo. Kumpulan yang muncul di kemudian hari telah menghapuskan satu buku dan membiarkan yang lain, namun semuanya itu tetap mirip. Karya-karya seperti Gembala Hermas, Didache dan Surat Barnabas sangat disanjung, meskipun banyak orang enggan mengakui buku itu sebagai tulisan yang diiihami.
Pada tahun 367, Athanasius, uskup Alexandria yang ortodoks dan berpengaruh itu, menulis "Surat Paskah" yang beredar cukup luas. Di dalamnya ia menyebut kedua puluh tujuh buku yang sekarang kita kenal dengan nama Perjanjian Baru. Dengan harapan mencegah jemaatnya dari kesalahan, Athanasius menyatakan bahwa tiada buku lain dapat dianggap sebagai Injil Kristen, meskipun ia longgarkan beberapa, seperti Didache, yang menurutnya, akan berguna bagi ibadah pribadi.
Kanon yang dibuat Athanasius tidak menyelesaikan masalah. Pada tahun 397, Konsili Kartago mensahkan daftar kanon tersebut, tetapi gereja-gereja wilayah Barat agak lamban menyelesaikan kanon. Pergumulan berlanjut atas kitab-kitab yang dipertanyakan, meskipun pada akhirnya semua pihak menerima Kitab Wahyu.
Pada akhirnya, daftar kanon yang dibuat Athanasius mendapat pengakuan umum, dan sejak itu gereja-gereja di seluruh dunia tidak pernah menyimpang dari kebijakannya.
Kanonisasi
Kata 'Kanon' merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa Ibrani q?neh, yang secara harfiah dapat diterjemahkan dengan "ukuran" atau "tali pengukur" dan kemudian dalam bahasa yunani berubah menjadi kan?n dan mendapat makna yang lebih penting: Pada abad ke-2 M kata kanones (bentuk jamak) dipakai sebagai istilah untuk Aturan atau Tata Gereja.Sejak abad ke-4 kata kan?n berarti 'ukuran' bagi iman Kristen. Jika istilah ini dipakai bagi Alkitab, maka Alkitab dipercayai sebagai 'ukuran' bagi Iman dan Hidup orang Kristen.
Kanonisasi Perjanjian Lama
Secara pasti tidak ada kriteria yang dipakai untuk kanonisitas Perjanjian Lama.[1] Konsensus di kalangan para ahli menyebut empat hal yang dapat dijadikan sebagai dasar kanonisitas Perjanjian lama, yaitu:[1]
" Kanonisitas dikaitkan dengan nubuat
" Kanonisitas dikaitkan dengan perjanjian (covenant)
" Kananositas Perjanjian Lama diteguhkan melalui rujukan-rujukan Perjanjian Baru terhadapnya
" Kanonisitas Perjajian Lama diteguhkan oleh pemakaiannya dalam ibadah yang dilakukan oleh imat Israel.

Bagian ini membutuhkan pengembangan.



Origen
Kanonisasi Perjanjian Baru
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kanonisasi Perjanjian Baru
Kanonisasi Perjanjian Baru dimulai sekitar tahun 200.[3] Pada saat itu mulai disusun daftar-daftar kitab suci yang kurang lebih resmi. Misalnya pada tahun 190 di Roma muncul sebuah daftar yang disebut Kanon Muratori. Kanon Muratori merupakan kanon tertua yang disimpan sebagai sebuah fragmen dalam sebuah naskah salinan dari abad VIII. Nama Muratori merupakan nama seorang pustakawan Milano,L.A. Moratori yang menemukan fragmen tersebut dan menerbitkannya pada tahun 1740.[4] Kanon ini berisi daftar kitab-kitab yang dipakai jemaat di Roma dan sejumlah karangan yang dianggap "palsu". Pada tahun 254, Origenes dari Alexandria juga menyusun sebuah daftar kitab. Tahun 303 Eusebius dari Kaisarea juga membuat daftar kitab. Tahun 367, Batrik Aleksandria Atanasius menyusun Alkitab Perjanjian Baru dengan jumlah 27 kitab. Daftar itu kemudian diterima oleh umat di bagian Timur. Sedangkan di bagian barat, umat menerima daftar yang disusun oleh Atanasius. Paus Inosentius I mengirim daftar itu ke Perancis pada tahun 419. Daftar ke 27 kitab itu kembali diperteguh dalam konsili Florence (1441), konsili Trente (1546) dan Konsili Vatikan I (1870).
Kanonisitas Perjanjian Baru
seperti yang telah disebutkan, penentuan mengenai kitab-kitab mana yang layak dan bisa dimasukkan ke dalam kanon Perjanjian Baru memakan waktu yang sangat lama.[1] Akan tetapi ada beberapa hal yang menjadi dasar kanonisitas Perjanjian Baru, yaitu:[1]
" Ddekat dengan tradisi kerasulan
" Diterima secara umum di kalangan jemaat (katolisitas)
" Bergantung pada ortodoksi

Referensi
1. ^ a b c d e f Yonky Karman. 2005. Bunga Rampai Perjanjian Lama. Jakrta: BPK Gunung Mulia. 5-13.>
2. ^ Van den End. 2009. Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas. Jakarta: BPK Gunungan Mulia. 40-42>
3. ^ (Indonesia)C. Groenen.2006. "Pengantar ke dalam Perjanjian Baru". Yogyakarta: Kanisius.
4. ^ (Indonesia)Willi Marxsen.2006. "Pengantar Perjanjian Baru". Jakarta: BPK Gunung Mulia.
" A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang & Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Immanuel, 1999. [1][2]





Tuesday, June 28, 2011

Alkitab Bahasa Bugis

Catatan dari Konferensi Regional LAI di Toraja, mengenai Alkitab Bahasa Bugis dan Bahasa Makassar:

1. Y. Lamarang: Alkitab bahasa daerah (Bugis dan Makassar) menumpuk di kantor Sinode dimakan rayap, tidak tahu mau diapakan lagi ...
2. Armin Sukri: Alkitab bahasa Bugis tidak dimengerti kaum muda; bahasanya dari generasi kakek saya ...
3. Z. Ngelow: warga Kristen orang Bugis apa jumlahnya sampai lima ribu orang (Armin Sukri: antara seribu - dua ribu orang saja). Sementara itu bahasa Selayar akan terbit. Jadi tumpukan baru?

4. Armin Sukri: terjemahan kata membaptis dalam bahasa Bugis tidak cocok?
Kis 1:5

(Bugis) Saba' Yohanés maccemméi sibawa uwai, iyakiya siyagangngaré essonapa ricemméko matu sibawa Rohna Allataala.
(Makassar) Nasaba' je'ne' napake Yohanes anje'nekko, mingka tasalloami anne nulanije'ne' siagang RohNa Allata'ala.
(Toraja) belanna iatu Yohanes undio' uai tau, apa iate kamu te tae'mora nasangapa mididio' Penaa Masallo'
(Indonesia) Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.


Catatan:

Alkitab ke dalam bahasa Bugis dan bahasa Makassar diterjemahkan oleh B.F. Matthes (mulai 1848, terbit 1900). Revisi dilakukan oleh alm Pdt. Y. Tahir Sompe (Bugis); alm Pdt. D. Dg. Pasare (Makassar).

Monday, June 13, 2011

Mengapa Kata “Allah” dan “TUHAN” dipakai dalam Alkitab Kita?

Pengantar

Kata “Allah” masih dipersoalkan oleh sebagian pengguna Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Persoalan ini mencuat ke permukaan, karena ada beberapa kelompok yang menolak penggunaan kata “Allah” dan ingin menghidupkan kembali penggunaan nama Yahweh atau Yahwe. Dalam teks Ibrani sebenarnya nama Yahweh atau Yahwe ditulis hanya dengan empat huruf konsonan (YOD-HE-WAW-HE, “YHWH”) tanpa huruf vokal. Tetapi, ada yang bersikeras, keempat huruf ini harus diucapkan. Terjemahan LAI dianggap telah menyimpang, bahkan menyesat­kan umat kristiani di tanah air. Apakah LAI yang dipercaya gereja-gereja untuk menerjemah­kan Alkitab telah melakukan kesalahan yang begitu mendasar? Di mana sebenarnya letak persoalannya? Penjelasan berikut bertujuan untuk memaparkan secara singkat pertimbangan-pertimbangan yang melandasi kebijakan LAI dalam persoalan ini.

Mengapa LAI menggunakan kata “Allah”?
Dalam Alkitab Terjemahan Baru (1974) yang digunakan secara luas di tanah air, baik oleh umat Katolik maupun Protestan, kata “Allah” merupakan padanan ’ELOHIM, ’ELOAH dan ’EL dalam Alkitab Ibrani:

  • Kej 1:1 “Pada mulanya Allah (’ELOHIM) menciptakan langit dan bumi”.
  • Ul 32:17 “Mereka mempersembahkan kurban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah (’ELOAH).
  • Mzm 22:2 “Allahku (EL), Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”

Dari segi bahasa, tidak dapat dipungkiri, kata ’ELOHIM, ’ELOAH dan ’EL berkaitan dengan akar kata ’L, dewa yang disembah dalam dunia Semit kuno. EL, ILU atau ILAH adalah bentuk-bentuk serumpun yang umum digunakan untuk dewa tertinggi. Umat Israel kuno ternyata memakai istilah yang digunakan oleh bangsa-bangsa sekitarnya. Apakah hal itu berarti bahwa mereka penganut politeisme? Tentu saja, tidak! Umat Israel kuno memahami kata-kata itu secara baru. Yang mereka sembah adalah satu-satunya Pencipta langit dan bumi. Proses seperti inilah yang masih terus bergulir ketika firman Tuhan mencapai berbagai bangsa dan budaya di seluruh dunia.

Beberapa kelompok yang menolak kata “Allah” memang ber­pendapat, kata itu tidak boleh hadir dalam Alkitab umat kristiani. Ada yang memberi alasan bahwa “Allah” adalah nama Tuhan yang disembah umat Muslim. Ada pula yang mengait­kannya dengan dewa-dewi bangsa Arab. Seandainya pendirian ini benar, tentu ’EL, ’ELOAH dan ’ELOHIM pun harus dicoret dari Alkitab Ibrani! Lagi pula, beberapa inskripsi yang ditemukan pada abad keenam menunjukkan bahwa kata “Allah” telah digunakan umat kristiani Ortodoks sebelum lahirnya Islam. Hingga kini, umat kristiani di negeri seperti Mesir, Irak, Aljazair, Yordania dan Libanon tetap memakai “Allah” dalam Alkitab mereka. Jadi, kata “Allah” tidak dapat diklaim sebagai milik satu agama saja.

Kebijakan LAI dalam menerjemahkan ’ELOHIM, ’ELOAH dan ’EL sama sekali bukan hal baru. Terjemahan Alkitab yang pertama ke dalam bahasa Yunani sekitar abad ketiga SM. merupakan contoh tertua yang kita miliki. Terjemahan yang dikenal dengan nama “Septuaginta” dikerjakan di Aleksandria, Mesir, dan ditujukan bagi umat Yahudi berbahasa Yunani. Dalam Kejadian 1:1, misalnya, Septuaginta meng­guna­kan istilah THEOS yang biasa dipakai untuk dewa-dewa Yunani. Nyatanya, Perjanjian Baru pun memakai kata yang sama, seperti contoh berikut: ”Terpujilah Allah (THEOS), Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (2 Kor 1:3). Tentu, THEOS dalam kutipan ini tidak dipahami sebagai sembahan politeis.

Kata “Allah” dalam sejarah penerjemahan Alkitab di nusantara

Sebelum Alkitab TB-LAI diterbitkan pada tahun 1974, telah ada beberapa Alkitab dalam bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia. Injil Matius terjemahan A. C. Ruyl (1629) adalah upaya pertama dalam penerjemahan Alkitab di nusantara. Menariknya, dalam terjemahan perdana ini, kata “Allah” telah digunakan, seperti contoh berikut: “maka angkou memerin’ja nama Emanuel artin’ja Allahu (THEOS) ſerta ſegala kita” (Mat 1:23). Terjemahan selanjutnya juga mempertahankan kata “Allah”, antara lain:

  • Terjemahan Kitab Kejadian oleh D. Brouwerius (1662): “Lagi trang itou Alla ſouda bernamma ſeang” (Kej 1:5).
  • Terjemahan M. Leijdecker (1733): “Pada mulanja dedjadikanlah Allah akan ſwarga dan dunja” (Kej 1:1).
  • Terjemahan H.C. Klinkert (1879): “Bahwa-sanja Allah djoega salamatkoe” (Yes 12:2).
  • Terjemahan W.A. Bode (1938): “Maka pada awal pertama adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah”.

Seperti tampak pada contoh-contoh di atas, kata “Allah” yang baru belakangan ini dipersoalkan oleh sebagian umat kristiani telah digunakan selama ratusan tahun dalam terjemahan-terjemahan Alkitab yang beredar di nusantara. Singkatnya, ketika meneruskan penggunaan kata “Allah”, tim penerjemah LAI mempertimbangkan bobot sejarah maupun proses penerjemahan lintas-budaya yang sudah terlihat dalam Alkitab sendiri.

Apa dasar kebijakan LAI dalam soal “YHWH”?

Harus diakui, asal-usul nama YHWH tidak mudah ditelusuri. Dari segi bahasa, YHWH sering dikaitkan dengan kata HAYAH ‘ada, menjadi’, seperti yang terungkap dalam Keluaran 3:14: “Firman Allah (’ELOHIM) kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU.’ (’EHYEH ’ASHER ’EHYEH). Lagi firman-Nya: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU (’EHYEH) telah mengutus aku kepadamu.’” Maknanya yang persis tidak diketahui lagi, namun ada yang menafsirkannya sebagai kehadiran Tuhan yang senantiasa ‘ADA’ menyertai sejarah umat-Nya.

Apa dasar LAI menggunakan kata “TUHAN” (seluruhnya huruf besar) sebagai padanan untuk YHWH? Untuk menjawab ini, kita perlu memperhatikan sejarah. Umat Yahudi sesudah masa pembuangan amat segan menye­but nama sakral YHWH secara langsung oleh karena rasa hormat yang mendalam. Lagi pula, pengucapan YHWH yang persis tidak diketahui lagi. Setiap kali bertemu kata YHWH dalam Alkitab Ibrani, mereka menyebut ’ADONAY yang berarti ‘Tuhan’. Tradisi pengucapan ini juga terlihat jelas dalam Septuaginta yang menggunakan kata KYRIOS (‘Tuhan’) untuk YHWH, seperti contoh berikut: ”KYRIOS menggembala­kan aku, dan aku tidak kekurangan apa pun” (Mzm 23:1).

Ternyata, Yesus dan para rasul mengikuti tradisi yang sama! Sebagai contoh, dalam pen­cobaan di gurun, Yesus menjawab godaan Iblis dengan kutipan dari Ulangan 6:16: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan (KYRIOS), Allahmu” (Mat 4:7). Dalam kutipan ini tidak ditemukan nama YHWH melainkan KYRIOS. Jika nama YHWH harus ditulis seperti dalam teks Ibrani, mengapa penulis Injil Matius tidak mempertahankannya? Begitu pula, dalam surat-surat rasul Paulus tidak pernah digunakan nama YHWH. Dalam Roma 10:13, misalnya, Paulus mengutip Yoel 2:32: “Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan (KYRIOS) akan diselamatkan”. Terbukti, kata yang digunakan adalah KYRIOS, bukan YHWH.

Mungkinkah Yesus dan para rasul telah mengikuti suatu tradisi yang “keliru”? Tentu saja, tidak! Para penulis Perjanjian Baru justru mengikuti tradisi umat Yahudi yang menyebut ’ADONAY (‘TUHAN’) setiap kali bertemu nama YHWH. Karena Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, kata KYRIOS dipakai sebagai padanan untuk ’ADONAY yang mencerminkan tradisi pengucapan YHWH.

Singkatnya, LAI mengikuti teladan Yesus dan umat kristiani per­dana menyangkut pengucapan YHWH. Dalam Alkitab TB-LAI, kata “TUHAN” ditulis dengan huruf besar semua sebagai padanan untuk ’ADONAY yang mengingat­kan tradisi pengucapan itu. Penulisan ini memang sengaja dibedakan ­dengan “Tuhan” (hanya huruf pertama besar), padanan untuk ’ADONAY yang tidak merepresentasi YHWH. Perhatikan contoh berikut: “Sion berkata: ‘TUHAN (YHWH) telah mening­gal­kan aku dan Tuhanku (’ADONAY) telah melupakan aku.’” (Yes 49:14). Pem­bedaan ini tentu tidak relevan untuk Perjanjian Baru yang tidak memper­tahankan penulisan YHWH.

Berbagai terjemahan modern juga mengikuti tradisi yang sama, misalnya, dalam bahasa Inggris: “the LORD” (New Jewish Publication Society Version; New Revised Standard Version, New International Version, New King James Version, Today’s English Version); Jerman: “der HERR” (Einheits­übersetzung; die Bibel nach der Übersetzung Martin Luthers); Belanda: “de HEER” (Nieuwe Bijbelvertaling); Perancis”: “le SEIGNEUR” (Traduction Oecumé­ni­que de la Bible).

Penutup

Kebijakan LAI mengenai padanan untuk nama-nama ilahi tidak diambil secara simplistis. Berbagai aspek harus dipertimbangkan dengan matang, antara lain:

  • Teks sumber (Ibrani dan Aram untuk Perjanjian Lama; Yunani untuk Perjan­jian Baru) dan tafsirannya.
  • Tradisi umat Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
  • Sejarah pemakaian nama-nama ilahi dalam penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa dan budaya dari zaman ke zaman.
  • Kebijakan yang diikuti tim-tim penerjemahan Alkitab di seluruh dunia, khususnya yang bergabung dalam Perserikatan Lembaga-lembaga Alkitab se-Dunia (United Bible Societies).

Kesepakatan yang diambil bersama dengan gereja-gereja, baik Katolik mau­pun Protestan, yang menggunakan Alkitab terbitan LAI hingga saat ini. Menjelang penyelesaian Alkitab TB-LAI, misalnya, pada tahun 1968 diadakan konsultasi di Cipayung dengan para pimpinan dan wakil gereja-gereja dari berbagai denominasi. Dalam konsultasi ini, antara lain, disepakati agar kata “Allah” tetap digunakan seperti dalam terjemahan-terjemahan sebelumnya.

LAI tidak pernah berpretensi seolah-olah terjemahannya sudah sempurna dan tidak perlu diperbaiki lagi. Akan tetapi, mengingat proses panjang dan berhati-hati yang ditempuh dalam menerbitkan Alkitab, tuntutan beberapa kelompok yang ingin menyingkirkan atau memulihkan nama tertentu, tidak dapat dituruti begitu saja. Dalam semua proses pengambilan keputusan menyangkut terjemahan Alkitab, berbagai faktor harus dipertimbangkan dengan saksama menyangkut teks-teks sumber, tafsirannya, tradisi penerjemahan sampai dampaknya bagi persekutuan dan kesaksian umat Tuhan bersama-sama, khususnya di tanah air kita.

Akhirnya, dengan penuh kesadaran akan terbatasnya kemampuan manusia di hadapan Allah, kita patut mempersembahkan puji syukur kepada Dia yang telah menyatakan firman yang diilhamkan-Nya untuk mendidik orang dalam kebenaran dan memperlengkapi umat-Nya untuk setiap perbuatan baik (2 Tim 3:16-17). Dialah yang telah mempersiapkan orang-orang untuk menjelmakan firman kebenaran-Nya dalam aneka bahasa dan budaya dari masa ke masa. Segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. [bfk]

Sumber: http://www.alkitab.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=69&Itemid=2