Showing posts with label Tafsir. Show all posts
Showing posts with label Tafsir. Show all posts

Tuesday, May 22, 2012

Persepuluhan = Wajib memberi 10%?


oleh Anwar Tjen

Berkali-kali saya mendapat pertanyaan dari warga gereja mengenai konsep persepuluhan. Apakah persepuluhan itu memang wajib? Dan kalau wajib, apakah memang persis 10% persen? Pertanyaan ini rupanya meresahkan sebagian warga gereja yang dibingungkan dengan maraknya ajaran mengenai persepuluhan yang mengartikannya secara harfiah. Di kalangan tertentu, bahkan terdengar nada “peringatan” bahwa mereka yang tidak menyerahkan 10% dari seluruh pendapatannya kepada gereja atau “hamba Tuhan” berarti mencuri uang Tuhan! Sebaliknya, mereka yang menyerahkan betul-betul 10% dari penghasilannya diberkati secara berlimpah-limpah. Tidak kalah pentingnya, ada yang mempertanyakan, kepada siapa dan untuk apa saja sesungguhnya persepuluhan itu: untuk kegiatan gereja saja atau malah kepada pendeta (atau “hamba Tuhan”) tanpa harus mempersoalkan penggunaannya untuk tujuan yang spesifik. Bagaimana kalau persembahan itu ditujukan langsung untuk menolong mereka yang membutuhkan pertolongan (bencana, sakit, anak yatim piatu)?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mendorong saya untuk mengedarkan secara lebih luas makalah yang semula merupakan bahan pembinaan di beberapa jemaat di Jakarta, antara lain, di Gereja Kristen Protestan Indonesia, Rawamangun, Jakarta Timur (Maret 2006) dan Huria Kristen Batak Protestan, Tomang, Jakarta Barat (2007). Sebagai seorang konsultan penerjemahan Alkitab yang sehari-hari bergelut dengan pemahaman teks-teks firman Tuhan, bagi saya yang terpenting adalah bahwa teks-teks itu dipahami secara utuh, tidak hanya secara harfiah atau sepotong-potong tanpa mempertimbangkan konteksnya yang berbeda dan berubah dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Apa perlunya persembahan kepada Tuhan?
Pertanyaan awal yang sangat mendasar bagi kita adalah: Apakah Pencipta langit dan bumi kekurangan apa-apa sehingga perlu dilayani dengan pemberian dari manusia ciptaannya? Jawabnya: Sama sekali tidak! Baca Mzm 50.9-14; bnd. ucapan rasul Paulus dalam Kis 17.24-25. Nas-nas ini sangat penting untuk memahami apa hakikat persembahan itu. Kita memberi bukan karena Allah kekurangan sesuatu. Persembahan umat Tuhan adalah ungkapan syukur terhadap karya Allah yang membebaskan, memelihara dan memberkati umat-Nya, bukan upaya untuk memenuhi kebutuhan Tuhan akan pujian apalagi materi.

Lagi pula, perlu kita garisbawahi, terkadang Tuhan menolak apa yang dipersembahkan manusia jika pemberian itu hanya untuk menutup-nutupi berbagai sikap dan tindakan munafik yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Dalam pemberitaan para nabi, persembahan umat tidak jarang dikecam keras dan dipandang memuakkan bagi-Nya (baca Yes 1.11-13; Am 4.4-5; 5.21-22). Ini dapat terjadi jika persembahan yang disampaikan tidak merupakan persembahan yang sungguh, yang mencerminkan hubungan yang benar antara si pemberi dengan Pencipta dan sesamanya. Pada masa Amos, misalnya, umat begitu rajin beribadah dan sekaligus rajin menjarah rakyat jelata yang tak berdaya.

Secara positif, tentu saja benar, kita juga membaca ratusan ayat Kitab Suci yang menganjurkan dan memerintahkan umat Tuhan mempersembahkan kurban kepada-Nya. Kita banyak menemukan perintah demikian dalam kitab Taurat, khususnya kitab Imamat. Tuhan rupanya senang menerima persembahan syukur umat -Nya (mis. Kel 22.29; Mzm 50.14; juga sebagian besar kitab Imamat). Sesudah air bah, Nuh mempersembahkan kurban yang berkenan kepada Allah (Kej 8.20). Begitu pula, ketika umat Israel dimerdekakan dari Mesir, salah satu alasan pokoknya adalah agar mereka dapat mempersembahkan kurban kepada Tuhan (Kel 3.17-18; 8.27). .

Persepuluhan: Apa dan untuk apa?
Dalam konteks demikian, banyak orang Kristen kini menyoroti tentang “perpuluhan” atau “persepuluhan” yang rupanya tidak diberlakukan lagi di sebagian gereja. Konsep ini pertama kali disebutkan dalam Kej 14.17-20, yakni ketika Abraham bertemu Melkisedek dan menyerahkan sepersepuluh (ma‘aser) dari semua jarahannya (bnd. Ibr 7.1-10). Dalam Kej 28.22 kita juga membaca, Yakub menazarkan persembahan sebesar sepersepuluh dari semua yang diberikan Tuhan.
Konsep persepuluhan seperti ini tidak dapat dikatakan unik, hanya berlaku di Israel. Dalam teks-teks yang ditemukan di dunia Timur Tengah kuno, kita dapat membaca bagaimana kuil-kuil mendapat jatah sepersepuluh dari hasil tanah dan ternak yang memungkinkan aktivitas ibadatnya terus berlangsung. Konsep inilah yang telah diadopsi dan di”kudus”kan sebagai praktek umat Tuhan dalam PL, seperti persembahan hasil tanah dan ternak yang kerap kali muncul dalam kitab Imamat (mis. 27.30-33) dan Ulangan (mis. 14.22-23; juga 12, 14, 26).

Dalam kaitan ini, patut dicatat, ada perbedaan pemahaman mengenai sasaran pemanfaatannya. Menurut Bil 18.20-32 persepuluhan diperuntukkan bagi orang Lewi saja setiap tahun (bnd. Neh 14.44-45). Namun, menurut Ul 14.23 hasil persepuluhan dari tanah dan ternak yang diberikan dalam dua tahun dimaksudkan untuk dinikmati secara bersama oleh umat yang menyerahkannya. Orang Lewi turut diundang ke jamuan bersama itu, karena suku ini tidak memperoleh milik pusaka. Pada akhir tahun ketiga, (Ul 14.28-29; 26.12), hasil persepuluhan tidak hanya diberikan kepada kaum Lewi, tetapi juga anak yatim, janda dan orang asing.

Persepuluhan sebagai “norma” hidup berkelimpahan?
Barangkali ayat yang paling terkenal dan paling sering dijadikan alasan untuk memberi persepuluhan adalah Mal 3.6-11. Pada satu sisi, ayat ini memberi ultimatum mengenai kelalaian dalam memberi persepuluhan untuk rumah Tuhan: Semua yang tidak menyerahkan persepuluhan adalah orang yang menipu Allah! (qaba, bisa juga berarti “merampok”). Di sisi lain, dengan nada yang luar biasa optimis, kepada semua pemberi persepuluhan dijanjikan berkat berkelimpahan: “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ... dan ujilah Aku ... apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan?” Di kalangan gereja tertentu, nas ini sangat mendukung teologi kemakmuran yang digembar-gemborkan. Memang ada kesaksian mengenai hidup yang berkelimpahan oleh sebagian orang yang konsisten memberi persepuluhan, tetapi patut dipertanyakan apakah kekurangan material merupakan akibat kelalaian memberi persepuluhan yang merupakan hak Tuhan! Di sini teks seperti Mal 3 harus dilihat bersama-sama teks lain dalam Alkitab.

Jika kemiskinan merupakan akibat ketidakadilan, seperti yang terjadi pada zaman Amos, masalahnya jelaslah bukan terletak dalam soal memberi persepuluhan. Tidak mengherankan, dalam kitab Amos, kita bahkan mendengar suara kritis mengenai persepuluhan yang diberikan umat Tuhan: “Datanglah ke Betel dan lakukanlah perbuatan jahat ... bawalah kurban persembahanmu pada waktu pagi, dan persembahan persepuluhanmu pada hari yang ketiga! ... Bukankah yang demikian kamu sukai hai orang Israel?” Persembahan sepersepuluh pun menjadi praktek yang dikecam Tuhan jika hidup umat-Nya tidak sesuai dengan kasih setia (khesed) Tuhan yang harus pula terwujud dalam hubungan horizontal dengan sesama. Analoginya, boleh-boleh saja, orang memberi sepersepuluh hasil korupsi dan eksploitasi yang menyengsarakan rakyat kepada gereja yang membutuhkan dana, tetapi dalam semangat pemberitaan Amos, praktek demikian sama memuakkan bagi Tuhan seperti ibadah-ibadah megah yang digelar tak habis-habisnya pada masa itu.

Mengapa persepuluhan “menghilang” dari ajaran PB?
Jika kita beralih ke Perjanjian Baru, harus diakui, tidak banyak ditemukan referensi tentang persembahan persepuluhan kecuali dalam dua konteks: (i) kecaman Yesus terhadap orang Farisi yang rajin memberi persepuluhan tetapi mengabaikan “keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan” (Mat 23.23; Luk 11.42); (ii) keimaman Melkisedek yang menerima dari Abraham “sepersepuluh dari segala rampasan”. Yang menjadi fokus adalah keunggulan jabatan imam Melkisedek yang merupakan gambaran Kristus, imam yang sempurna.

Dapat disimpulkan, persepuluhan sebagai kewajiban kepada orang yang berkekurangan dan kaum Lewi yang tidak punya tanah dan pekerjaan lain kecuali mengajar dan menyelenggarakan ibadah tidak lagi menjadi norma baku dalam ajaran PB. Malah, seperti kritik para nabi, Yesus juga menegaskan, yang dikehendaki Tuhan bukan persembahan tetapi belas kasihan (Mat 9.13; 12.7). Itu diucapkan dalam konteks pelanggaran ajaran Taurat yang dipegang ketat oleh orang Farisi. Lagi pula, dalam konteks pemberian persembahan dalam bentuk uang di Bait Suci, komentar Yesus tentang persembahan kecil seorang janda melampaui sekedar pemberian sepersepuluh hasil bumi atau ternak: “janda ini memberi dari kekurangannya” (Mrk 12.41-44; Luk 21.1-4).

Kalau bukan persepuluhan, apa yang harus dipersembahkan?
Pertanyaan yang relevan untuk umat percaya masa kini adalah: Bagaimana kita memahami tentang persembahan jika konsep persepuluhan tidak lagi menjadi norma baku bagi jemaat Kristen mula-mula? Di satu sisi, kita melihat perluasan makna persembahan dalam dimensi etisnya. Dalam Rm 12.1 Paulus menyerukan agar umat Kristen di Roma mempersembahkan tubuh mereka sebagai “persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah”. Demikian pula, dalam 1 Ptr 2.5 kita temukan ajaran mengenai “imamat am” orang percaya yang sebagai imam “mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah”. Kedua nas ini pada dasarnya mengacu kepada kehidupan konkret sebagai wujud ibadah yang benar.

Di sisi lain, makna persembahan juga diberi terjemahan konkret dalam arti memberi secara material dari kemurahan hati. Kita membaca ajaran Yesus yang tidak terdapat dalam kitab-kitab Injil tetapi dicatat dalam Kis 20.35 bahwa lebih berbahagia memberi daripada menerima. Paulus dalam konteks ini sedang berbicara mengenai pelayanan sendiri yang dibiayai dengan tangan sendiri, walaupun sebagai pekerja Kristus, ia berhak menerima hasil pelayanannya secara material sebagaimana ditetapkan Tuhan sendiri (bnd. 1 Kor 9.14).
Dalam kaitan ini, kita harus menyebut pengumpulan uang untuk keperluan “orang-orang kudus” yang sering disebutkan dalam surat-surat Paulus (Rm 15.25-32; 2 Kor 8-9). Paulus menyebut jemaat Makedonia sebagai teladan: “sangat miskin namun mereka kaya dalam kemurahan” (2 Kor 8.2). Apa yang mereka upayakan mirip dengan yang telah dilakukan janda miskin di Bait Suci: “mereka telah memberi menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka” (8.3).

Penutup: Dari anugerah kepada anugerah!
Asas terpenting dalam pemberian yang murah hati itu adalah pengenalan akan kasih karunia (kharis) Tuhan Yesus Kristus yang “oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Kor 8.9). Itulah sebabnya pengumpulan uang sebagai wujud kesadaran akan anugerah Kristus itu dinamakan kharis “karya anugerah”![1] Hasil yang diharapkan dilihat sebagai upaya untuk mencapai keseimbangan (isotetos) antara yang berlimpah dan yang berkekurangan. Untuk itu Paulus mengutip nas PL dari pencurahan manna kepada umat Israel di padang gurun (2 Kor 8.15; Kel 16.18).

Walaupun semangatnya berbeda dengan Mal 3 yang berisi ancaman Tuhan, kita membaca pesan yang serupa bahwa apa yang ditabur dengan kerelaan sebanding dengan apa yang dituai dengan sukacita. Dasarnya adalah kasih dan berkat Allah: “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita dan Allah sanggup melimpahkan sebaga kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berlebihan di dalam pelbagai kebajikan” (2 Kor 9.6-9). Yang harus dihindarkan, seperti ditegaskan Paulus, adalah keterpaksaan! (9.5, 7; Fil 1.14).

Pengumpulan uang (kolekte dll.) yang sekarang dilakukan di dalam konteks kehidupan gereja (bnd. 1 Kor 16.2) mestinya dimengerti sebagai hasil yang wajar dari penerimaan anugerah Tuhan. Kalau kita sudah dibenarkan dengan cuma-cuma, maka ucapan syukur yang spontan akan terungkap lewat pemberian. Itulah yang disebut Paulus sebagai “hasil-hasil pembenaranmu” (ta genemata tes dikaiosunes humon).[2] Karya anugerah itu memang ditujukan kepada manusia tetapi juga “melimpahkan ucapan syukur kepada Allah” (9.12)!
Dalam kaitan ini, patut dicatat, walaupun Paulus menyatakan tidak ingin membebani siapa pun untuk mengabarkan Injil, toh dia mengakui menerima bantuan jemaat-jemaat yang pernah dilayaninya. Yang paling penting lagi, lebih daripada sekedar pemberian material itu, Paulus melihatnya sebagai “persembahan yang harum, suatu kurban yang disukai dan berkenan kepada Allah” (Flp 4.18). Ini sekaligus merupakan dasar teologis bagi pemberian jemaat kita dalam rangka menafkahi para pelayannya.

Bagaimana kita mengerti persembahan dalam konteks jemaat kita? Jelaslah, tidak dalam semangat legalistis sebagai Taurat baru! Konsep seperti “persepuluhan” tidak perlu diterapkan norma yang mengikat, walaupun sebenarnya dapat dipakai sebagai model untuk menolong jemaat dalam menentukan bagian yang akan diberikan. Dari sudut praktisnya, tentu saja konsep demikian – yang tidak harus diartikan secara harfiah 10% – dapat menolong kita mengatasi kelemahan manusiawi kita seperti yang disebutkan Kristus: “di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6.21). Dengan meng”aman”kan bagian tertentu, sesuai dengan kerelaan hati kita, pemberian dapat dilakukan tanpa bersungut-sungut dan dengan penuh ucapan syukur. Sebab, “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita!”[2]

--- Kamis, 29 Mei 2008


Dr. Anwar Tjen melayani sebagai pendeta di Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI, berpusat di Pematangsiantar) dan konsultan ahli di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Studi lanjut dalam filologi dan tafsir Kitab Suci di Union Theological Seminary in Virginia, USA (Th.M./1995), Pontificium Institutum Biblicum, Roma (1997-98), Ecole Biblique, Yerusalem, Universitas Tesalonika, Yunani (2000). Menyelesaikan studi doktoral di Fakultas Studi Oriental, Cambridge University, UK (PhD/2003), dengan disertasi mengenai Septuaginta, yakni Kitab Suci Ibrani yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Studi komplementer dalam bidang linguistik di Australian National University, Canberra (GradDipl/2007).










Monday, May 21, 2012

Matius 23:34-36


Apa itu Kekerasan?
Kisah ini bermula dari dua anak manusia pertama yaitu Kain dan Habel. Kain, sang petani. Habel, sang penggembala domba. Mereka sama-sama mempersembahkan hasil kerja mereka kepada Tuhan. Kain mempersembahkan sebagian hasil tanahnya sebagai korban persembahan sedangkan Habel mempersembahkan anak sulung kambing dombanya. Tuhan mengindahkan korban persembahan Habel, tetapi menolak korban persembahan Kain. Karena hal tersebut, Kain membunuh Habel. Tuhan marah dan mengutuk Kain. Kain menjadi pengembara dan pelarian di Bumi. Namun Kain khawatir, barangsiapa yang akan bertemu dengan dia, mereka akan membunuhnya. Tuhan berjanji, hal itu tidak akan terjadi. Sabda Tuhan, “Barangsiapa yang akan membunuh Kain akan dibalaskannya tujuh kali lipat”. Kain diberi tanda oleh Tuhan supaya ia tidak dibunuh oleh siapapun yang bertemu dengannya (Kej 4:1-16).

Menggugat Mekanisme Kekerasan di Indonesia: Pemahaman Alkitab mengenai Mateus 23:34-36

Friday, February 10, 2012

Perkosaan Tamar

Bacaan: 2Samuel 13:1-39
Di GKSS Jemaat Mattiro Baji terdapat kelompok diskusi Alkitab internasional TEA, Through the Eyes of Another, Intercultural Reading of The Bible (Melalui Mata Orang Lain: Membaca Alkitab Secara Lintas Budaya). Kelompok disebut TEA Mattiro Baji. Hasil diskusi dikirim ke suatu mitra kelompok pembaca di luar negeri; kelompok itu juga mengirim hasil diskusinya kepada kelompok Mattiro Baji.
TEA Kelompok Mattiro Baji:
Armin Sukri (Ketua), Jenifer Ladja (Sekretaris), Anggota: Christovina Lebang, Jufri, Kurnaini Alwi, Makis Wata, Martinus Zainuddin, Zakaria Ngelow
Berikut hasil diskusi TEA Mattiro Baji mengenai Perkosaan Tamar (2 Sam 13)

A. Di balik Teks -- Apakah Teks ini merujuk pada konflik tertentu?

Menurut kelompok; Teks 2Samuel 13:1-39 merujuk pada konflik. Baik konflik perorangan maupun konflik batin. Adapun beberapa konflik yang dikemukakan oleh kelompok adalah:
1. Konfliknya terang-terangan: Konflik antara dua orang saudara tiri (Absalom dan Amnon, setelah Amnon memperkosa Tamar).
2. Konflik tersirat (terselubung): Konflik antara Amnon dan Absalom karena perebutan kekuasaan. Absalom kemudian membangun sebuah kekuatan untuk menggulingkan Ayahnya.
3. Selain konflik antar keluarga yang ada, juga ada konflik batin para tokoh dalam teks. Misalnya konflik batin yang dialami Tamar, sebagai seorang korban yang telah diperkosa, ia merasa pasti merasa sangat sedih, setelah ia diperkosa, saudaranya lalu membuangnya begitu saja, tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Hal yang bisa dilakukannya hanyalah menaruh abu di atas kepalanya dan mengoyakkan baju kurung yang maha indah lalu menangis. Konflik batin, juga dialami oleh Daud; ketika mengetahui Amnon telah memperkosa Tamar, lalu Absalom telah membunuh Amnon. Pada satu sisi ia merasa sangat marah tapi pada sisi lain ia tidak dapat berbuat apa-apa. Daud tidak bisa menegakkan keadilan; karena dia sendiri telah dibunuh oleh keadilan. Pengadilan Nathan kepada Daud telah membuat Daud kehilangan kepercayaan diri. Sehingga setelah Daud mau mati, dia meminta Salomo menegakkan keadilan.
4. Konflik dengan kebudayaan/kebiasaan, dalam hal apa yang dilakukan Amnon yaitu memperkosa Tamar menimbulkan konflik dengan budaya.
5. Dosa Daud yang pernah mengambil istri Uria (Batsyeba) kini dituai oleh anak-anaknya. Dalam hal ini berlaku hukum tabur-tuai. Tabur-tuai yang dimaksud ada dalam dua hal;
a. Karma: Karma dalam pengertian; pemerkosaan yang dialami Tamar merupakan hukuman atas apa yang pernah dilakukan Ayahnya. Dan pembunuhan yang dialami oleh Amnon juga merupakan karma atas apa yang pernah dilakukannya.
b. “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” : Ini merupakan pepatah di Indonesia untuk menggambarkan bahwa sikap/perilaku orang tua menurun pada anaknya. Daud menjadi contoh yang tidak baik bagi anak-anaknya, karena itu apa yang dilakukan oleh Amnon merupakan bentuk dari contoh buruk yang diberikan Daud.

B. Di dalam Teks --- Jejak-jejak Kebudayaan apa yang anda temukan dalam teks?

Beberapa jejak-jejak kebudayaan yang ditemukan dalam teks ini adalah:
• Ada budaya bagaimana seseorang harus bersikap terhadap kejadian/peristiwa tertentu. Misalnya mengoyakkan pakaian sebagai simbol duka/sedih.
• Budaya balas dendam: Absalom membalas dendam kepada Amnon karena telah memperkosa Tamar. Mungkinkah juga ada masalah persaingan sebagai putra mahkota?
• Dalam kebudayan Bugis-Makassar, ada budaya membalas dendam dalam rangka menenggakan siri’ (harga diri). Dalam budaya siri’ ini, apa yang dilakukan oleh Absalom adalah hal yang mulia dan termormat. Pemerkosaan yang dilakukan oleh Amnon telah menjatuhkan harkat dan martabat Tamar (dan keluarga besar) sehingga untuk menegakkan siri’ tersebut maka pemerkosa itu harus mati.
• Budaya patriarkhi: Tamar sebagai perempuan ditampilkan sebagai properti/hak milik atas laki-laki yang bisa diminta dan jika tidak dibutuhkan dapat dibuang. [Bersambung]

Sunday, January 8, 2012

Sifat Gereja dalam Tujuh Jemaat di Kitab Wahyu

[Khotbah Pdt John Palondongan, 8 Jan 2012]
1. Jemaat di Efesus (Wahyu 2 : 1 - 7): Gereja yang telah meninggalkan kasih yang semula (2 : 4) 2. Jemaat di Smirna (Wahyu 2 : 8 - 11): Gereja miskin dan mengalami penganiayaan (2 : 9) 3. Jemaat di Pergamus (Wahyu 2 : 12 - 17): Gereja yang perlu bertobat (2 : 13 - 15) 4. Jemaat di Tiatira (Wahyu 2 : 18 - 29): Gereja yang mengalami penyesatan (2 : 20) 5. Jemaat di Sardis (Wahyu 3 : 1 - 6): Gereja yang tmati (3 : 1) 6. Jemaat di Filadelfia (Wahyu 3 : 7 - 13): Gereja yang setia (3 : 8) 7. Jemaat di Laodikia (Wahyu 3 : 14 - 22): Gereja yang imannya suam - suam kuku (3 : 15 - 16)
Gereja yang ideal adalah setia seperti Jemaat Filadelfia: "Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku." (Why 3:8.
Peta: 7 jemaat ini terletak di bagian Barat negara Turki sekarang.

Untuk suatu uraian sederhana yang informatif lihat: 7 jemaat di kitab Wahyu & perkembangan sejarah Gereja I/II dalam http://ayumarleen.blogspot.com/2010/02/7-jemaat-di-kitab-wahyu-perkembangan.html
Salah satu tafsiran online yang memberi latar belakang jemaat-jemat Wahyu, lihat: David Guzik's Commentary on Revelation (http://www.enduringword.com/commentaries/6602.htm; http://www.enduringword.com/commentaries/6603.htm)

Saturday, October 22, 2011

Latar dan Tafsir Kitab Wahyu

sumber: Kitab Wahyu: Pendahuluan, Argumen dan Garisbesar, oleh Daniel B. Wallace
[http://bible.org/article/kitab-wahyu-pendahuluan-argumen-dan-garisbesar]


D. Latarbelakang dan Tujuan
1. Latarbelakang

Latarbelakan tulisan ini sangat mungkin terjadi saat penganiayaan gencar terjadi pada orang-orang Kristen (1:9). Jika ini berkaitan dengan penganiayaan yang dilakukan oleh Domitianic, maka Penilik Patmos ini akan berpikir sampaikapan eskaton itu akan terjadi. Kemungkinan besar ia menyakini bahwa penganiayaan yang ia alami menunjukkan bahwa akhir zaman itu telah sangat dekat. Saat itu berakhir, ada satu gelombang penggenapan (sama seperti saat Hadrian meratakan Yerusalem pada 135 CE akan menjadi gelombang ketiga, dst.). Namun harapan eskatologis selalu ada dalam tulisan-tulisan PB—khususnya dalam masa-masa sulit, sama seperti pentingnya kesabaran yang selalu diperlukan.
2. Tujuan

Kitab Wahyu ditujukan untuk mendorong orang percaya dalam penganiayaan di zaman Romawi, dengan mengungkapkan bahwa Mesias mereka masih memegang kendali dan pada akhirnya akan menjadi pemenang. Dikaitkan dengan keadaan di zaman sekarang, meski saya meyakini posisi futuris ada banyak kebenaran dalam posisi preteris. Paling tidak Yohanes menggunakan keadaan di zamannya sebagai referensi awal dalam interpretasi teksnya, dan lebih dari itu, ia sendiri mungkin menulis tulisannya dengan cara seperti itu karena ia berpikir akhir zaman telah sangat dekat. Sejalan dengan tujuan ini, maka orang yang menafsirkan Wahyu dengan satu aliran saja akan kehilangan banyak yang disiratkan dalam kitab ini.18
E. Aliran-aliran Interpretasi19

Ada empat aliran interpretasi (dalam hal skema kronologi kitab Wahyu, bukan dalam hal aliran eskatologi semata): preteris, historis, futuris, dan idealis.

(1) Pendekatan preteris percaya bahwa “Wahyu hanyalah satu gambaran keadaan kekaisaran abad pertama.”20 Meski, seperti yang telah kami jelaskan, kita tidak bisa memisahkan interpretasi kitab ini dari latarbelakangnya (dengan demikian ada kebenaran dalam pendekataan ini), namun pandangan seperti ini tidak bisa dengan memadai menjelaskan semua data dalam kitab Wahyu, karena pengarangnya menyatakan dengan gamblang bahwa kitab ini adalah tulisan yang menjelaskan masa depan (cf. 4:1).

(2) Pendekatan historis (atau historikis-berlanjut) “melihat kitab Wahyu sebagai satu presntasi simbolis keseluruhan sejarah gereja sejak awal abad pertama hingga akhir zaman.”21 Namun ada beberapa persoalan dengan pandangan ini. “Pertama, identifikasi yang pasti atas kejadian-kejadian sejarah dengan simbol-simbolnya tidak pernah bisa lengkap dibuat, bahkan setelah kejadian-kejadian tersebut terjadi…. Kedua, para penafsir aliran historikal tidak pernah bisa dengan memuaskan menjelaskan mengapa satu nubuatan umum harus dibuat menguntungkan kekaisaran Roma bagian barat…. Ketiga, kalau memang pendekatan historis-berlanjut benar, maka prediskinya akan cukup mudah agar para pembacanya [yang mula-mula] bisa memahami apa maksudnya [cf. 22:10].”22

(3) Pendekatan futuris berpendapat bahwa “semua versi dari Wahyu 4:1 hingga bagian akhir kitab ini akan nanti digenapi pada periode segerea sebelum dan mengikuti kedatangan Kristus yang kedua.”23 Pendekatan ini adalah yang paling memuaskan karena (1) kemungkinan bahwa 1:19 dimaksudkan untuk menjadi garisbesar kitab ini; (2) terminus ad quem atas kedatangan Kristus yang kedua sebenarnya mendukung hal in, karena “saat kejadian-kejadian ini mengarah pada terminus ini dalam suksesi yang dekat, orang akan mengingat apa yang terjadi sebelumnya dan berkata bahwa banyak dari kejadian ini masih harus terjadi di mas depan karena penggenapannya belum terjadi dan karena simbol-simbolnya nampaknya merupakan pergantian kejadian-kejadian yang terjadi dengan cepat dan bukan merupakan satu proses yang lama”;24 dan (3) “semakin seseorang menggunakan interpretasi literal, maka semakin ia akan menjadi seorang futuris.”25

(4) Pendekatan idealis beanggapan, “Wahyu mewakili konflik abadi antara kebaikan dan kejahatan yang berlangsung di sepanjang masa, meski dalam hal ini hal itu memiliki aplikasi tertentu bagi zaman gereja.”26 Namun sama seperti pandangan aliran preteris, pendekatan ini mengabaikan elemen prediktif dalam kitab ini. Singkatnya, “pandangan idealist memang memiliki banyak kebenaran. Kesalahannya tidak terdapat dalam apa yang ditegaskannya melainkan banyak dalam apa yang dibantahnya.”27

Pendakatan kita terhadap kitab Wahyu pada dasarnya adalah dari perspektif futuris, meski aliran preteris dan idealis tidak bisa sepenuhnya dikesampingkan karena nampaknya juga ini merupakan bagian dari tujuan pengarangnya.

Catatan:
18 Sebenarnya, ada kebenaran dalam pandangan idealist, karena pada eskaton yang terakhir, pergumulan antara kebaikan dan kejahatan akan sirna, sebagai satu contoh nyata, atas apa yang selalu dikaitkan dalam perjuangan seperti itu pada prinsipnya.

19 Dalam menghadapi hal ini, lihat M. C. Tenney, Interpreting Revelation, 136-46. Komentar kami disini perlu lebih ringkas.

20 Tenney, ibid., 136.; 21 Ibid., 137.; 22 Ibid., 138-39.; 23 Ibid., 139.; 24 Ibid., 142.; 25 Ibid.; 26 Ibid., 143.; 27 Ibid.