Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! (Mazmur 34:9)
Showing posts with label selayar. Show all posts
Showing posts with label selayar. Show all posts
Sunday, February 3, 2013
Alkitab Bahasa Selayar
Pada hari Minggu, 3 Februari 2013, Majelis Jemaat GKSS Mattirobaji membagikan Alkitab Perjanjian Baru dalam Bahasa Selayar, Kitta' Passitallikang Bau, Kareba Baji, yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, mengikuti Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS).
Bahasa Selayar merupakan salah satu rumpun bahasa Bugis Makassar. Injil mulai masuk di pulau ini pada tahun 1930-an, dan jemaat-jemaat di pulau ini merupakan satu klasis dalam GKSS.
Semoga Alkitab ini menjadi berkat bagi jemaat dan masyarakat Selayar, Sulawesi Selatan.
Terjemahan Hukum Kasih (Matius 22: 37-39) sebagai berikut:
Passukku'i pangamaseammu mange ri Karaeng Allataalamu, risiganna'na atimu surang nyahamu na harasiamu. Ia mo onjo poong parenta na makase're. Parena makarua, nuassimpole injo, iamo intu: Kamaseangi parammu rupatau assimpole mukamaseanna kalemmu.
Indonesia (TB) 37 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Indonesia (BIS): 37 Cintailah Tuhan Allahmu dengan sepenuh hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan seluruh akalmu.
38 Itulah perintah yang terutama dan terpenting!
39 Perintah kedua sama dengan yang pertama itu: Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri.
Dari Efesus 1: 3-5:
Selayar: La'biri Allataala surang Amma karaengta Isa Almase nulalang ri Almase maeng lapassareang ngase'nu nugele injo kajanjangang lala ri suruga. Saba' lalang ri Ia Allataala maeng mile ri ditte rigelenapa ripaa'jari lino, solanna titte tangkasa na tide' daata ri a'rakanNa. Lalang pangamaseang Ia maeng lapattantuki battu ripakaramulanna patteteang ri Isa Almase laa'jari ana'-ana'Na, assitur' ria'ra'na.
Indonesia (TB) 3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.
4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.
5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,
Indonesia (BIS) 3 Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus! Ia memberkati kita dengan segala berkat rohani di dalam surga, karena kita bersatu dengan Kristus.
4 Sebelum dunia ini diciptakan, Allah telah memilih kita melalui Kristus dengan maksud supaya kita menjadi milik-Nya yang khusus dan tidak bercacat di hadapan-Nya. Karena kasih Allah,
5 maka Ia sudah menentukan terlebih dahulu bahwa melalui Yesus Kristus, Ia akan mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya sendiri. Dan memang itulah yang ingin dilakukan-Nya.
Monday, June 18, 2012
Refleksi Sejarah GKSS dan Pekabaran Injil di tanah Bugis-Makassar-Selayar
Masih sebagai rangkaian pekan
HUT GKSS (46) dan Hari PI (79) di klasis Bulusaraung, diadakan seminar PI untuk
memberikan informasi dari para saksi sejarah dan pelaku PI di tanah Bugis
(Melle’) Makassar (Poona) dan Selayar (Dg. Taung). Seminar yang dilakukan pada senin, 18 Juni
2012 ini didampingi oleh ketua Klasis Blusaraung, Pdt. Armin Sukri, selaku
moderator dan juga penerjemah dari bapak Melle yang tidak begitu paham bahasa
Indonesia. Selain itu juga dihadirikan
seorang ahli sejarah gereja, Pdt. Zakaria Ngelow yang memberi beberapa catatan.
Seminar yang diadakan di
Aula TC GKSS ini berlangsung cukup menarik hingga memakan waktu selama tiga jam. Sayang sekali bahwa seminar yang memberi
banyak rekomendasi bagi keberlangsungan GKSS di masa depan tidak dihadiri oleh
para undangan dari pihak MPS GKSS komisi-komisinya.
Berikut beberapa refleksi
sejarah GKSS oleh Zakaria Ngelow:
1. Kesaksian dari Selayar
GKSS gagal mempertahankan warga yang dibaptis masal dari aliran Muhdi Akbar pada awal tahun 1970-an karena tidak berlangsung pembinaan yang didasarkan pada pemahaman yang mendasar mengenai ajaran Muhdi Akbar. Hal ini terkait juga dengan tiadanya putra-putri Selayar sendiri yang seperti Rasul Paulus – mampu memahami secara mendalam sekaligus ajaran Muhdi Akbar dan budaya Selayar pada umumnya dan Injil Yesus Kristus, untuk selanjutnya melakukan transformasi. Apakah aspek keturunan akan juga menentukan, bahwa tokoh yang bisa bicara kepada masyarakat Selayar haruslah turunan pemuka masyarakatnya? Mungkin begitu, namun Injil harus kritis terhadap struktur sosial yang menindas, termasuk paternalisme dan feodalisme.
2. Kesaksian dari Soppeng
Orang Soppeng masuk Kristen dalam rangka mencari kebenaran Injil, mengikuti tradisi messianik Petta Barang. Itu suatu kebanggaan, yang juga dapat ditambahkan bahwa Kekristenan di kalangan orang Soppeng telah teruji melalui taruhan nyawa pada zaman gerombolan DI/TII tahun 1950-an.
Kekristenan Bugis Soppeng sejak awal terkait dengan jaringan keluarga. Hubungan keluarga dapat memajukan gereja, tetapi sebaliknya juga dapat merusaknya. Setiap pelayanan dalam komunitas masyarakat Bugis Soppeng ini harus memberi perhatian pada aspek hubungan-hubungan kekeluargaan itu. Dapat disimpulkan bahwa Kekristenan di kalangan orang Soppeng berakar kuat, namun terpencar dalam berbagai gereja. Dukungan wadah sosial seperti kerukunan warga Kristen Soppeng dapat menjadi jembatan untuk persaudaraan ganda sebagai sesaudara dalam identitas Soppeng dan dalam persaudaraan iman kepada Kristus.
3. Kesaksian dari Bawakaraeng
Kekristenan di kalangan orang Makassar/Gowa dihidupkan melalui pelayanan sosial, ekonomi dan pendidikan. Melemahnya gereja dalam pelayanan sosial melemahkan juga daya saingnya dalam masyarakat. Apakah masyarakat Kristen asal Makassar/Gowa seperti saudara-saudarinya dari Soppeng yang menghilang dari GKSS tetapi tetap eksis di gereja-gereja lain? Atau memang makin punah?
4. Masih gereja Bugis?
GKSS dimaksudkan oleh kalangan zending pada awalnya sebagai gereja dari dan untuk masyarakat Bugis-Makassar-Selayar. Tetapi pada kenyataannya telah berkembang menjadi gereja multi-etnis yang bhinneka tunggal ika. Jadi apa identitasnya? Kita menerima fakta sejarah sebagai jalan yang Tuhan kehendaki: gereja ini adalah gereja dari semua untuk semua, namun yang tetap sadar akan sejarah dan konteksnya sebagai gereja di tengah-tengah masyarakat Bugis-Makassar-Selayar. Dengan kata lain, perlu upaya-upaya pada satu fihak untuk mengembangkan pelayanan yang bersifat ekumenis, sesuai latar belakang warga, dan pada fihak lain mengakarkan mereka ke dalam visi dan komitmen bersama terhadap konteks sosial-kultural Sulawesi Selatan (dan Barat?)
5. Peringatan Peristiwa apa?
Peristiwa yang diperingati GKSS sebagai ulang tahun: 12 Juni tanggal pembentukan Sinode pada tahun 1966 di Makkio Baji, Makassar. Pada hal sebelumnya, pada tahun 1965 Bakal Gereja Bugis telah ditetapkan menjadi Gereja Kristen di Sulawesi Selatan dalam persidangan wakil-wakil jemaat di Watansoppeng tanggal 23-25 April 1965. Persidangan dihadiri wakil-wakil dari 6 jemaat dari daerah Soppeng; 8 jemaat dari daerah Malino; 2 jemaat dari Makassar, dan 3 jemaat dari Selayar dan sepakat membentuk gereja dengan pengurus dan tata gerejanya. Terpilih Pdt. N. Dg. Massikki sebagai Ketua Sinode.
Tanggal 19 Juni yang diperingati sebagai hari Pekabaran Injil adalah peristiwa berlabuhnya di pelabuhan Makassar kapal yang membawa tenaga zending, Ds. H. van den Brink, dari Gereformeerde Kerk untuk penginjilan di Sulawesi Selatan. Tetapi yang sebenarnya jauh lebih bermakna adalah peristiwa penerimaan Injil oleh orang Bugis sendiri. Tahun 1935 seorang bangsawan Bugis, Petta Lolo Marhabang, dibaptiskan di Soppengriaja; tgl 8 Februari 1938 Andi Kamba dibaptis di Barru oleh Ds. H. van den Brink. Atau yang lebih langsung terkait dengan Kekristenan Bugis adalah pembaptisan ke-3 “pencari kebenaran Injil”, La Galiti, La Mappe’, La Tasakka’, di gereja Indische Kerk (sekarang GPIB) Immanuel Makassar, pada tanggal 17 Februari 1940.
Bukan maksudnya supaya perayaan-perayaan yang sudah dibakukan itu diganti atau direvisi, melainkan supaya peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah GKSS diberi makna dan turut diperingati.
6. Pekabaran Injil?
Pekabaran Injil dalam GKSS tidak tepat lagi dilakukan dalam format masa lalu, melainkan meberdayakan setiap warga jemaat untuk bersikap misioner, yakni selalu terpanggil untuk menyatakan kebenaran Injil kepada orang lain dalam hidup masing-masing, melalui tutur kata mau pun perbuatan. Bagaimana pembinaan dilakukan untuk mencapai kualitas Kristen handal, seperti warga Muhdi Akbar dari Selayar, yang sekalipun berpindah-pindah agama tetap memegang “kebenaran” Muhdi Akbar? Bisakah pembinaan seperti ini dimulai di jemaat-jemaat tanpa “menunggu komando” dari pimpinan sinode?
7. 500 tahun Injil di Sulawesi Selatan.
Sejarah Kekristenan di kalangan orang Bugis sudah berlangsung sejak abad ke-16. Sejumlah-raja-raja Bugis di pesisir selamat Makassar, dari Parepare sampai Makassar (Bacukiki, Gowa, Siang, Suppa, Tallo) pernah mengenal agama Kristen, bahkan ada raja dan pangeran yang dibaptis oleh para paderi Katolik zaman Portugis. Kekristenan Katolik yang berlangsung lebih 100 tahun (1530-an – 1668) berakhir oleh peristiwa silariang seorang putri raja Suppa dengan kapiten kapal Portugis, dan kemudian juga oleh pilihan raja Gowa menerima Islam dan memaksakan pengislaman kerajaan-kerejaan lainnya (awal abad ke-17). Fihak VOC dan pemerintah kolonial Belanda mempertahankan Kerkistenan Protestan di Makassar, dan kemudian juga di Bonthain, Bulukumba dan Selayar. Yang patut dicatat adalah utusan Lembaga Alkitab Belanda, B.F. Matthes, yang berhasil menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bugis dan Makassar, dan “menyelamatkan” banyak lontara sastra Bugis/Makassar, termasuk I Lagaligo. [Selengkapnya, cari “sejarah” atau "matthes" di blog ini.]
Sebelum masyarakat Bugis-Makassar dan Selayar pada abad ke-20 sudah berlangsung pekabaran Injil di kalangan suku-suku Toraja, mula-mula oleh Indische Kerk, lalu kemudian pada tahun 1913 Tana Toraja, Luwu, Rongkong dan Seko dilayani oleh badan zending Gereformeerde Zendingsbond (GZB). Dan sejak tahun 1928 Toraja Mamasa, Pitu Ulunna Salu, dan Kalumpang oleh Zending der Christelijke Gereformeerdekerken (ZCGK). Masing-masing berhasil membentuk GerejaToraja dan Gereja Toraja Mamasa pada tahun 1947. Gereja Toraja dan GTM akan memperingati 100 tahun masuknya Injil ke masing-masing wilayah, dengan puncak perayaan tahun 2013.
Saturday, June 18, 2011
Perkunjungan Pembinaan ke Klasis Selayar.
Catatan Harian oleh Pdt. Ike Ngelow
Jumat, 20 Mei 2011
Jam 03.00 dini hari saya dijemput mobil APV pa sekum & pa Libert . Dari NTI kami masuk kota jemput Ibu Lucy dan dua orang teman dari Hok Im Thong. Nanti ditengah jalan baru berkenalan dan tau nama mereka adalah : 1. Ev Pier, tugas di Makassar. Dan Pdt. Sambon tugas di Bandung. Mobil kami meluncur ke Tanjung Bira dan tiba jam 10.00. tapi kapal ferry yang mau kami tumpangi belum ada. Setelah istirahat sebentar urus tiket dan nomor antrean mobil, kami keluar lagi cari makan di restoran dekat pelabuhan. Kami ber-6 pesan nasi, ikan bakar, dan sayur ca kangkung ditamba es kelapa muda pake gula merah. Sementara kami makan kapal ferrynya uda sandar di dermaga. Selesai makan kami segera naik mobil dan meluncur ke dermaga, mobil kami kena nomor antrean 11 dan merupakan mobil paling terakhir masuk di ferry. Syukur mobil kami tidak ditolak atau digeser ke ferry putaran ke-2, yang sore baru brangkat. Selama 2 jam kami berlayar, diantar sedikit angin dan ombak ferry yang kami tumpangi dengan selamat tiba dan sandar di pelabuhan Pamatata Selayar. Dari situ kami masih 2 jam lagi dengan mobil ke kota Benteng, di tengah jalan sudah ada telepon dari pendeta jemaat Masese Baji, mengundang kami untuk makan siang di pastori jemaat. Makan siang yang enak nasi santan ditemani ikan bakar dan udang goreng dengan sambel terasi eennaakk. Pdt Lucy tidak turut makan karena dia langsung pulang ke rumahnya. Dia mengambil waktu untuk siarah ke makam orang tuanya dan sekalian ketemu lepas rindu dengan keluarga dan saudara2nya di kota benteng selayar. Selesai makan saya permisi mandi, sesudah itu kami pamit dan jemput ibu Lucy. Dua teman dari Hok Im Thong tinggal di kota Benteng, kami ber-4 cabut ke jemaat binanga benteng untuk bermalam dan mempersiapkan acara untuk pembinaan besok. Sampe di Binanga Benteng makan lagi. Sesudah itu baru kami berpencar dibagi kerumah-rumah jemaat. Sehari sebelum kami datang sudah ada rombongan yayasan mattepe, rupanya ada kunjungan kerja di selayar, jadi kami ketemu dan bergabung dengan rombongan mereka. Sambil menunggu juga rombongan ibu-ibu 9 orang yang menumpang bus dengan kapal penyebrangan ferry yang ke-2 jam 17.00 Mereka tiba malam di benteng. Dan bermalam di Benteng di rumah pendeta Andareas Ngaseng. Kami tinggal di rumah kosong, rumah ibu Kumalla mertuanya bapak Abidin Ato. Hari pertama saya berdua dengan ibu Lucy. Malam kedua tambah teman Pdt. Kamaneng dan Ibu Mety Simatupang. Kami berempat kuasai rumah kosong, dan hebatnya rumah masyarakat tidak dikunci, seharian dibiarkan terbuka tapi terjamin aman.
Sabtu, 21 Mei 2011.
Pagi sesudah Sarapan di gereja, datang rombongan ibu-ibu dari lima jemaat terdekat, yaitu dari : Jemaat Barang-barang, jemaat Tongke-tongke, jemaat Turungan, jemaat bahorea + Pariangan dan jemaat tuang rumah Binanga. Pada saat yang bersamaan tiba juga rombongan Ibu-ibu komisi wanita dan PW Mattiro Baji.
Setalah semua sudah kumpul di gedung gereja Binanga, maka acarapun dimulai oleh MC ibu Mety sekretaris komisi wanita GKSS menjelaskan seluruh rangkaian susunan acara pembinaan Setengah hari. Tersusun sebagai berikut :
1.Ibadah Pembukaan singkat oleh Pdt Ike Ngelow.
Menyanyi bahasa selayar (hari ini harinya Tuhan)
Baca firman dari Mazmur 18 : 47 – 49. renungan pendek tentang Tuhan hidup.
Nyanyi satu lagu dari KJ 397 Terpuji Engkau Allah maha kuasa. Dan berdoa. Ibadah selesai. Dilanjutkan dengan sambutan tunggal oleh MPS-GKSS, yang disampaikan oleh Pdt. Lucy sekaligus membuka dengan resmi acara pembinaan.
2. Ceramah HIV & AIDS fasilitator dari yayasan Mattepe : Ibu Mintje dan Bpk Fredy Pinontoan. Presentase materi lewat penjelasan dan tayangan gambar pada in focus. Jelas dan menarik tapi tidak ada yang bertanya.
3. penjelasan penggunaan Alkitab dengan metode membaca Alkitab secara baru. Fasilitator ibu Mety Simatupang, akan dilanjutkan oleh pendeta Klasis dengan metode paket A. Secara bertahap dan bersambung. Karena itu kepada peserta dititip atau ditinggalkan bahan copy sebagai bahan ajar.
4. Sharing pengalaman dengan ibu2 PW tentang bagaimana kegiatan ibu-ibu dalam jemaat masing-masing. Dari hasil diskusi kami mendapat kesan bahwa :
A. kelompok atau wadah PW kurang aktif. Ada kegiatan ibadah PW dari rumah ke rumah tapi tidak berjalan setiap minggu, tergantung permintaan.
B. Perayaan hari raya gerejawi seperti Paskah atau Natal tidak mereka rayakan di tiap-tiap PW jemaat, tetapi perayaan dipusatkan di pusat Klasis.
C. Bila musim panen atau musim menanam susah untuk mengumpulkan anggota untuk beribadah.
D. Masalah yang serius adalah tentang anak-anak mereka yang melanjutkan ke sekolah madrasah, terpaksa harus ikut belajar agama Islam, dan berpengaruh pada nilai agama mereka, anak-anak diberikan nilai agama Islam. Sekolah menolak tidak menerima nilai agama yang diberikan dari pihak gereja. Dan ini sangat berpengaruh dan memprihatinkan karena biasanya anak-anak itu dikemudian hari beralih keyakinan ke agama islam. Itu merupakan masalah di klasis selayar.
5. Praktek membuat kue, fasilitator Pdt. Ike Ngelow. Peserta diajar membuat kue agar-agar dari sirup lemon ABC. Dengan bahan yang sederhana dan muda didapat di pulau Selayar.
6. Anak-anak kecil kelompok Sekolah Minggu dikumpul sendiri dan yang menjadi tenaga pengajar adalah Pdt. Kamaneng, ibu Ace Nibaeli dan ibu Nes Paulus.
7. Acara pembagian bingkisan [buku tulis dan alat tulis] dari PW Jemaat Mattiro Baji, didahului dengan ucapan salam dari ibu ketua PW Ibu Makhis Zainudin. Dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan VCD dan beberapa kepingan CD FILM agama kepada klasis Selayar, yang diserahkan oleh Pdt Libert Simatupang dan diterima oleh Ketua Klasis Bpk. Pdt Des [Pendeta jemaat Binanga].
8. Doa Penutupan acara oleh Pdt. Kamaneng. Peserta berfoto bersama. Sesudah itu sebelum bubar peserta menikmati es kelapa muda dan kue sebagai suguhan penutup
Karena acara selesai sore jam 16.00 kami masih punya banyak waktu untuk jalan-jalan dan berenang di laut. Maka 2 mobil segera meluncur ke ujung selatan jemaat barang-barang, kami ke pelabuhan penyebrangan Ferry jurusan Timor – Kupang hanya menegok sebentar lalu kami kembali ke pantai Tongke-tongke. Disitu kami berenang menikmati indahnya pantai pasir putih. Kami mandi sampai matahari terbenam, sempat kami menyaksikan indahnya sunset baru kami pulang. Semua pulang tanpa spul, dengan baju basah naik mobil ke binanga. Setelah selesai bersih-bersih kami kumpul lagi untuk makan malam, sesudah itu kembali ke rumah masing-masing untuk istirahat capee de.
Minggu, 22 Mei 2011.
Pagi sesudah sarapan lima pendeta berpencar ke 5 jemaat untuk melayani ibadah minggu.
1. Pdt Yulianus Lamarang, STh [sekum GKSS] melayani di jemaat Barang-barang.
2. Pdt. Libert Simatupang, MTh [komisi ajaran] melayani di jemaat Tongke-tongke
3. Pdt. Ike Ngelow, STh [Komisi Pembinaan] melayani di jemaat Turungan
4. Pdt. Kamaneng, STh [Komisi Wanita ] melayani di jemaat Bahorea
5. Pdt Lusiana Sulle, MTh [Wakil Ketua GKSS] melayani jemaat Binanga benteng.
6. Ibu Ace & ibu Nes Paulus [komisi wanita] mengajar Sekolah Minggu di binanga.
Ibu-ibu yang lain membagi diri ikut kelompok yang ada. Sedangkan Kelompok Yayasan Matepe kembali ke kota benteng pagi-pagi. Waktu ke jemaat Turungan, saya dibonceng motor gadis bisu, Jaedah namany. Anak dari pnt Patang. Bpk Pdt. Des ngajar SM sesudah itu baru saya pimpin ibadah, gereja kecil tapi penuh jemaat, saya hitung yang hadir 16 orang. 12 orang tua dan 4 anak muda. Pembacaan dari kitab Yesaya 49:8-16. Selesai Ibadah saya ngomong dengan jemaat, ada seorang pemuda yang sudah kerja di mall Maricaya namanya Arman dia pegawai di Restoran KFC dia tinggal di Ratulangi dengan temannya, setiap minggu ikut gereja di GT. Si Arman bertanya dan berdiskusi dengan saya tentang buku yang dia baca. Buku itu berjudul ”Doktrin Tritunggal” dia sempat menunjukkan bukunya pada saya, dari percakapan kita, kemudian baru saya tau bahwa buku itu adalah bukunya aliran saksi yehova. Saya hanya bisa menasehati dan peringati Arman, supaya hati-hati dalam memili buku bacaan agama. Saya anjurkan agar arman ikut gereja GKSS di jemaat Makkio baji atau di jemaat syaloom. Ya karena kami hanya sebentar ketemu, jadi saya tidak bisa berbuat banyak dengan jemaat turungan teristimewa dengan nak arman. Pulang saya dibonceng Pnt. Samuel kembali ke binanga benteng yang merupakan sentra pos tempat semua kelompok kumpul. Sambil menunggu teman-teman dari jemaat sekitar kembali dari ibadah untuk makan siang bersama jemaat, kami benahi barang-barang untuk siap kembali ke benteng. Sesudah makan rombongan ke-2 pamit, mohon diri untuk pulang; dengan menumpang mobil APV meluncur kembali ke kota bentang. Rombongan ke-3 ibu-ibu komisi wanita masih menunggu mobil jemputan untuk membawa mereka ke kota benteng. Tiba di Benteng kami masuk wisma Pemda PKK disitu kami nginap semalam. Saya sekamar lagi dengan Ibu Pdt. Lucy. Rombongan yang lain nginap di wismanya Pendeta Andareas. Sore jam 17.00 semua rombongan kumpul lagi di gereja Masese Baji kota benteng untuk ikuti acara Ibadah Peneguhan Pdt. Yunus Zagoto dari gereja Hok Im Tong. Nats khotbah sulungnya Roma 10: 14-15, menekankan pentingnya kesaksian dalam pelayanan gereja. Turut menumpangkan tangan 8 orang pendeta GKSS 3 wanita dan 5 laki, serta 1 Pendeta dari Hok Im Tong Bandung, yang sekaligus mewakili gerejanya untuk menyampaikan sambutan, sedangkan dari GKSS diwakilkan oleh Bpk F.E Pinontoan. Sesudah ibadah acara dilanjutkan dengan ramah tamah makan bersama jemaat benteng. Setelaha seluruh acara selesai, MPS-GKSS masih mengambil waktu untuk rapat dengan pendeta klasis selayar. Saya dan ibu Etha pulang duluan ke penginapan, kami mampir bli ole-ole emping selayar untuk teman-teman di makassar. Bu Etha temani saya ceritra di kamar sambil tunggu Pendeta.Lucy. Supaya tidak buang waktu saya juga bereskan kopor untuk berangkat besok subu. Datang teman-teman kami ke lobi cerita sambil minum milo panas dan makan kue, teman lain {bapa2} main domino sambil tunggu-tunggu jam untuk jalan dengan mobil ke pelabuhan ferry pamatata. Masih dini hari jam 3.30 rombongan ferry sudah cabut meluncur ke dermaga untuk buruan nomor antean, karena hari senin katanya hanya 1 ferry yang jalan. Jadi mereka harus buruan supaya tidak ketinggalan ferry.
Senin, 23 Mei 2011.
Pagi sekali saya telepon cucu kami yang pertama Cordelia di Tangerang. Hari ini dia memperingati HUT ke-5 th. Katanya mau rayakan di sekolah dengan teman-teman. Tuhan sayang. Masih pagi jam 7.30 kami 3 ibu Etha, Pdt. Lucy dan saya Cek out dari penginapan tanpa sarapan pagi, jemput 2 teman Hok Im Tong lalu ber5 ke bandara selayar Aroeppala, kami diantar oleh keluarga bapak Oei Ten Soei. Tiba di bandara pesawat yang kami mau tumpanggi belum datang. Setelah menunggu sekitar 25 menit muncul pesawat kecil berwarna putih. Itulah pesawat yang kami tunggu-tunggu. Jam 8.30 pesawat CN 212 dengan jumlah penumpang 14 orang take off meninggalkan selayar menuju kota makassar. Kami terbang dalam cuaca yang indah walaupun pesawatnya agak ribut/brisik selama hampir 45 menit, dan dengan tuntunan Tuhan kami tiba dan mendarat dengan selamat di bandara lama lanut hasanudin makassar.Kami tunggu dilandasan selama hampir 15 menit barulah datang bus angkasapura untuk menjemput kami dan membawa ke bandara baru. Disana sudah menunggu Adi dan penjemputnya ibu lucy. Setelah mengambil barang rombongan kami 5 orang bubar berpencar masing-masing pulang ke rumahnya ke tempatnya. Teman-teman lain masih berlayar menyebrang dengan ferry. Rombongan 2 mobil dan 5 orang yang naik bus penumpang, semuanya tiba dengan selamat di makassar pada hari yang sama, namun berbeda waktunya.
Demikianlah rangkaian kisah dan ceritera dari perjalanan pelayanan perkunjungan 3 hari di Klasis Selayar. Syukur dan Trima kasih kepada yang kuasa Tuhan yang empunya pekerjaan, yang sudah berkenan. Trima kasih untuk Jemaat dan keluarga, sehingga semua tugas bole dilaksanakan. Tuhan memberkati.
Jumat, 20 Mei 2011
Jam 03.00 dini hari saya dijemput mobil APV pa sekum & pa Libert . Dari NTI kami masuk kota jemput Ibu Lucy dan dua orang teman dari Hok Im Thong. Nanti ditengah jalan baru berkenalan dan tau nama mereka adalah : 1. Ev Pier, tugas di Makassar. Dan Pdt. Sambon tugas di Bandung. Mobil kami meluncur ke Tanjung Bira dan tiba jam 10.00. tapi kapal ferry yang mau kami tumpangi belum ada. Setelah istirahat sebentar urus tiket dan nomor antrean mobil, kami keluar lagi cari makan di restoran dekat pelabuhan. Kami ber-6 pesan nasi, ikan bakar, dan sayur ca kangkung ditamba es kelapa muda pake gula merah. Sementara kami makan kapal ferrynya uda sandar di dermaga. Selesai makan kami segera naik mobil dan meluncur ke dermaga, mobil kami kena nomor antrean 11 dan merupakan mobil paling terakhir masuk di ferry. Syukur mobil kami tidak ditolak atau digeser ke ferry putaran ke-2, yang sore baru brangkat. Selama 2 jam kami berlayar, diantar sedikit angin dan ombak ferry yang kami tumpangi dengan selamat tiba dan sandar di pelabuhan Pamatata Selayar. Dari situ kami masih 2 jam lagi dengan mobil ke kota Benteng, di tengah jalan sudah ada telepon dari pendeta jemaat Masese Baji, mengundang kami untuk makan siang di pastori jemaat. Makan siang yang enak nasi santan ditemani ikan bakar dan udang goreng dengan sambel terasi eennaakk. Pdt Lucy tidak turut makan karena dia langsung pulang ke rumahnya. Dia mengambil waktu untuk siarah ke makam orang tuanya dan sekalian ketemu lepas rindu dengan keluarga dan saudara2nya di kota benteng selayar. Selesai makan saya permisi mandi, sesudah itu kami pamit dan jemput ibu Lucy. Dua teman dari Hok Im Thong tinggal di kota Benteng, kami ber-4 cabut ke jemaat binanga benteng untuk bermalam dan mempersiapkan acara untuk pembinaan besok. Sampe di Binanga Benteng makan lagi. Sesudah itu baru kami berpencar dibagi kerumah-rumah jemaat. Sehari sebelum kami datang sudah ada rombongan yayasan mattepe, rupanya ada kunjungan kerja di selayar, jadi kami ketemu dan bergabung dengan rombongan mereka. Sambil menunggu juga rombongan ibu-ibu 9 orang yang menumpang bus dengan kapal penyebrangan ferry yang ke-2 jam 17.00 Mereka tiba malam di benteng. Dan bermalam di Benteng di rumah pendeta Andareas Ngaseng. Kami tinggal di rumah kosong, rumah ibu Kumalla mertuanya bapak Abidin Ato. Hari pertama saya berdua dengan ibu Lucy. Malam kedua tambah teman Pdt. Kamaneng dan Ibu Mety Simatupang. Kami berempat kuasai rumah kosong, dan hebatnya rumah masyarakat tidak dikunci, seharian dibiarkan terbuka tapi terjamin aman.
Sabtu, 21 Mei 2011.
Pagi sesudah Sarapan di gereja, datang rombongan ibu-ibu dari lima jemaat terdekat, yaitu dari : Jemaat Barang-barang, jemaat Tongke-tongke, jemaat Turungan, jemaat bahorea + Pariangan dan jemaat tuang rumah Binanga. Pada saat yang bersamaan tiba juga rombongan Ibu-ibu komisi wanita dan PW Mattiro Baji.
Setalah semua sudah kumpul di gedung gereja Binanga, maka acarapun dimulai oleh MC ibu Mety sekretaris komisi wanita GKSS menjelaskan seluruh rangkaian susunan acara pembinaan Setengah hari. Tersusun sebagai berikut :
1.Ibadah Pembukaan singkat oleh Pdt Ike Ngelow.
Menyanyi bahasa selayar (hari ini harinya Tuhan)
Alo ini [2X] Alo na Karaeng [2X], Mae ngase [2X] a te’ne te’ne [2X]
Alo ini, Alo na Karaeng, Mae ngase a te’ne te’ne
Alo ini alo ini alo na Karaeng.
Baca firman dari Mazmur 18 : 47 – 49. renungan pendek tentang Tuhan hidup.
Nyanyi satu lagu dari KJ 397 Terpuji Engkau Allah maha kuasa. Dan berdoa. Ibadah selesai. Dilanjutkan dengan sambutan tunggal oleh MPS-GKSS, yang disampaikan oleh Pdt. Lucy sekaligus membuka dengan resmi acara pembinaan.
2. Ceramah HIV & AIDS fasilitator dari yayasan Mattepe : Ibu Mintje dan Bpk Fredy Pinontoan. Presentase materi lewat penjelasan dan tayangan gambar pada in focus. Jelas dan menarik tapi tidak ada yang bertanya.
3. penjelasan penggunaan Alkitab dengan metode membaca Alkitab secara baru. Fasilitator ibu Mety Simatupang, akan dilanjutkan oleh pendeta Klasis dengan metode paket A. Secara bertahap dan bersambung. Karena itu kepada peserta dititip atau ditinggalkan bahan copy sebagai bahan ajar.
4. Sharing pengalaman dengan ibu2 PW tentang bagaimana kegiatan ibu-ibu dalam jemaat masing-masing. Dari hasil diskusi kami mendapat kesan bahwa :
A. kelompok atau wadah PW kurang aktif. Ada kegiatan ibadah PW dari rumah ke rumah tapi tidak berjalan setiap minggu, tergantung permintaan.
B. Perayaan hari raya gerejawi seperti Paskah atau Natal tidak mereka rayakan di tiap-tiap PW jemaat, tetapi perayaan dipusatkan di pusat Klasis.
C. Bila musim panen atau musim menanam susah untuk mengumpulkan anggota untuk beribadah.
D. Masalah yang serius adalah tentang anak-anak mereka yang melanjutkan ke sekolah madrasah, terpaksa harus ikut belajar agama Islam, dan berpengaruh pada nilai agama mereka, anak-anak diberikan nilai agama Islam. Sekolah menolak tidak menerima nilai agama yang diberikan dari pihak gereja. Dan ini sangat berpengaruh dan memprihatinkan karena biasanya anak-anak itu dikemudian hari beralih keyakinan ke agama islam. Itu merupakan masalah di klasis selayar.
5. Praktek membuat kue, fasilitator Pdt. Ike Ngelow. Peserta diajar membuat kue agar-agar dari sirup lemon ABC. Dengan bahan yang sederhana dan muda didapat di pulau Selayar.
6. Anak-anak kecil kelompok Sekolah Minggu dikumpul sendiri dan yang menjadi tenaga pengajar adalah Pdt. Kamaneng, ibu Ace Nibaeli dan ibu Nes Paulus.
7. Acara pembagian bingkisan [buku tulis dan alat tulis] dari PW Jemaat Mattiro Baji, didahului dengan ucapan salam dari ibu ketua PW Ibu Makhis Zainudin. Dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan VCD dan beberapa kepingan CD FILM agama kepada klasis Selayar, yang diserahkan oleh Pdt Libert Simatupang dan diterima oleh Ketua Klasis Bpk. Pdt Des [Pendeta jemaat Binanga].
8. Doa Penutupan acara oleh Pdt. Kamaneng. Peserta berfoto bersama. Sesudah itu sebelum bubar peserta menikmati es kelapa muda dan kue sebagai suguhan penutup
Karena acara selesai sore jam 16.00 kami masih punya banyak waktu untuk jalan-jalan dan berenang di laut. Maka 2 mobil segera meluncur ke ujung selatan jemaat barang-barang, kami ke pelabuhan penyebrangan Ferry jurusan Timor – Kupang hanya menegok sebentar lalu kami kembali ke pantai Tongke-tongke. Disitu kami berenang menikmati indahnya pantai pasir putih. Kami mandi sampai matahari terbenam, sempat kami menyaksikan indahnya sunset baru kami pulang. Semua pulang tanpa spul, dengan baju basah naik mobil ke binanga. Setelah selesai bersih-bersih kami kumpul lagi untuk makan malam, sesudah itu kembali ke rumah masing-masing untuk istirahat capee de.
Minggu, 22 Mei 2011.
Pagi sesudah sarapan lima pendeta berpencar ke 5 jemaat untuk melayani ibadah minggu.
1. Pdt Yulianus Lamarang, STh [sekum GKSS] melayani di jemaat Barang-barang.
2. Pdt. Libert Simatupang, MTh [komisi ajaran] melayani di jemaat Tongke-tongke
3. Pdt. Ike Ngelow, STh [Komisi Pembinaan] melayani di jemaat Turungan
4. Pdt. Kamaneng, STh [Komisi Wanita ] melayani di jemaat Bahorea
5. Pdt Lusiana Sulle, MTh [Wakil Ketua GKSS] melayani jemaat Binanga benteng.
6. Ibu Ace & ibu Nes Paulus [komisi wanita] mengajar Sekolah Minggu di binanga.
Ibu-ibu yang lain membagi diri ikut kelompok yang ada. Sedangkan Kelompok Yayasan Matepe kembali ke kota benteng pagi-pagi. Waktu ke jemaat Turungan, saya dibonceng motor gadis bisu, Jaedah namany. Anak dari pnt Patang. Bpk Pdt. Des ngajar SM sesudah itu baru saya pimpin ibadah, gereja kecil tapi penuh jemaat, saya hitung yang hadir 16 orang. 12 orang tua dan 4 anak muda. Pembacaan dari kitab Yesaya 49:8-16. Selesai Ibadah saya ngomong dengan jemaat, ada seorang pemuda yang sudah kerja di mall Maricaya namanya Arman dia pegawai di Restoran KFC dia tinggal di Ratulangi dengan temannya, setiap minggu ikut gereja di GT. Si Arman bertanya dan berdiskusi dengan saya tentang buku yang dia baca. Buku itu berjudul ”Doktrin Tritunggal” dia sempat menunjukkan bukunya pada saya, dari percakapan kita, kemudian baru saya tau bahwa buku itu adalah bukunya aliran saksi yehova. Saya hanya bisa menasehati dan peringati Arman, supaya hati-hati dalam memili buku bacaan agama. Saya anjurkan agar arman ikut gereja GKSS di jemaat Makkio baji atau di jemaat syaloom. Ya karena kami hanya sebentar ketemu, jadi saya tidak bisa berbuat banyak dengan jemaat turungan teristimewa dengan nak arman. Pulang saya dibonceng Pnt. Samuel kembali ke binanga benteng yang merupakan sentra pos tempat semua kelompok kumpul. Sambil menunggu teman-teman dari jemaat sekitar kembali dari ibadah untuk makan siang bersama jemaat, kami benahi barang-barang untuk siap kembali ke benteng. Sesudah makan rombongan ke-2 pamit, mohon diri untuk pulang; dengan menumpang mobil APV meluncur kembali ke kota bentang. Rombongan ke-3 ibu-ibu komisi wanita masih menunggu mobil jemputan untuk membawa mereka ke kota benteng. Tiba di Benteng kami masuk wisma Pemda PKK disitu kami nginap semalam. Saya sekamar lagi dengan Ibu Pdt. Lucy. Rombongan yang lain nginap di wismanya Pendeta Andareas. Sore jam 17.00 semua rombongan kumpul lagi di gereja Masese Baji kota benteng untuk ikuti acara Ibadah Peneguhan Pdt. Yunus Zagoto dari gereja Hok Im Tong. Nats khotbah sulungnya Roma 10: 14-15, menekankan pentingnya kesaksian dalam pelayanan gereja. Turut menumpangkan tangan 8 orang pendeta GKSS 3 wanita dan 5 laki, serta 1 Pendeta dari Hok Im Tong Bandung, yang sekaligus mewakili gerejanya untuk menyampaikan sambutan, sedangkan dari GKSS diwakilkan oleh Bpk F.E Pinontoan. Sesudah ibadah acara dilanjutkan dengan ramah tamah makan bersama jemaat benteng. Setelaha seluruh acara selesai, MPS-GKSS masih mengambil waktu untuk rapat dengan pendeta klasis selayar. Saya dan ibu Etha pulang duluan ke penginapan, kami mampir bli ole-ole emping selayar untuk teman-teman di makassar. Bu Etha temani saya ceritra di kamar sambil tunggu Pendeta.Lucy. Supaya tidak buang waktu saya juga bereskan kopor untuk berangkat besok subu. Datang teman-teman kami ke lobi cerita sambil minum milo panas dan makan kue, teman lain {bapa2} main domino sambil tunggu-tunggu jam untuk jalan dengan mobil ke pelabuhan ferry pamatata. Masih dini hari jam 3.30 rombongan ferry sudah cabut meluncur ke dermaga untuk buruan nomor antean, karena hari senin katanya hanya 1 ferry yang jalan. Jadi mereka harus buruan supaya tidak ketinggalan ferry.
Senin, 23 Mei 2011.
Pagi sekali saya telepon cucu kami yang pertama Cordelia di Tangerang. Hari ini dia memperingati HUT ke-5 th. Katanya mau rayakan di sekolah dengan teman-teman. Tuhan sayang. Masih pagi jam 7.30 kami 3 ibu Etha, Pdt. Lucy dan saya Cek out dari penginapan tanpa sarapan pagi, jemput 2 teman Hok Im Tong lalu ber5 ke bandara selayar Aroeppala, kami diantar oleh keluarga bapak Oei Ten Soei. Tiba di bandara pesawat yang kami mau tumpanggi belum datang. Setelah menunggu sekitar 25 menit muncul pesawat kecil berwarna putih. Itulah pesawat yang kami tunggu-tunggu. Jam 8.30 pesawat CN 212 dengan jumlah penumpang 14 orang take off meninggalkan selayar menuju kota makassar. Kami terbang dalam cuaca yang indah walaupun pesawatnya agak ribut/brisik selama hampir 45 menit, dan dengan tuntunan Tuhan kami tiba dan mendarat dengan selamat di bandara lama lanut hasanudin makassar.Kami tunggu dilandasan selama hampir 15 menit barulah datang bus angkasapura untuk menjemput kami dan membawa ke bandara baru. Disana sudah menunggu Adi dan penjemputnya ibu lucy. Setelah mengambil barang rombongan kami 5 orang bubar berpencar masing-masing pulang ke rumahnya ke tempatnya. Teman-teman lain masih berlayar menyebrang dengan ferry. Rombongan 2 mobil dan 5 orang yang naik bus penumpang, semuanya tiba dengan selamat di makassar pada hari yang sama, namun berbeda waktunya.
Demikianlah rangkaian kisah dan ceritera dari perjalanan pelayanan perkunjungan 3 hari di Klasis Selayar. Syukur dan Trima kasih kepada yang kuasa Tuhan yang empunya pekerjaan, yang sudah berkenan. Trima kasih untuk Jemaat dan keluarga, sehingga semua tugas bole dilaksanakan. Tuhan memberkati.
Subscribe to:
Comments (Atom)
