Showing posts with label liturgi. Show all posts
Showing posts with label liturgi. Show all posts

Sunday, January 13, 2013

Jadwal Kebaktian Minggu 2013

JANUARI
Selasa, 01 Januari 2013 Pdt. Ike Ngelow, S.Th Liturgi khusus Tahun Baru
Minggu, 6 Januari 2013 Pdt. Djon S. Palondongan, S.Th KJ (Liturgi I)
Minggu, 13 Januari 2013 Pdt. Armin Sukri, M.Th PKJ (Liturgi II)
Selasa, 15 Januari 2013 Pdt. Ike Ngelow, S. Th (HUT J. Mattirobaji XXIV)
Minggu, 20 Januari 2013 Pnt. Kurnaini Alwi KJ (Liturgi I)
Minggu, 27 Januari 2013 Pdt. Ike Ngelow, S.Th PKJ (Liturgi II)


FEBRUARI
Minggu, 3 Februari 2013 Pdt. Maays E. Baura, S.Th KJ (Liturgi I)
Minggu, 10 Februari 2013 MPK Bulusaraung PKJ (Pertukaran Mimbar)
Minggu, 17 Februari 2013 Pdt. Ike Ngelow, S.Th KJ (Liturgi I)
Minggu, 24 Februari 2013 Pnt. Martinus Zainuddin PKJ (Liturgi II)
 

MARET
Minggu, 3 Maret 2013 Pdt. Ike Ngelow, S.Th KJ (Liturgi I)
Minggu, 10 Maret 2013 Pdt. Armin Sukri, M.Th PKJ (Liturgi II)
Minggu, 17 Maret 2013 Pdt. Ike Ngelow, S.Th KJ (Liturgi I)
Minggu, 24 Maret 2013 Pnt. Ruslan Djalang PKJ (Liturgi II)
Jumat, 29 Maret 2013 Pdt. Ike Ngelow, S.Th (Perjamuan Kudus)
Minggu, 31 Maret 2013 Pdt. Djon S. Palondongan, S.Th KJ (Liturgi I) PASKAH
 

APRIL
Minggu, 7 April 2013 Pdt. Maays E. Baura, S.Th KJ (Liturgi I)
Minggu, 14 April 2013 MPK Bulusaraung PKJ (Pertukaran Mimbar)
Minggu, 21 April 2013 Pdt. Djon S. Palondongan, S.Th KJ (Liturgi I)
Minggu, 28 April 2013 Pdt. Ike Ngelow, S.Th PKJ (Liturgi II)
 

MEI
Minggu, 5 Mei 2013 Pdt. Armin Sukri, M.Th KJ (Liturgi I)
Kamis, 9 Mei 2012 Pdt. Ike Ngelow, S.Th Hari Kenaikan Yesus Kristus
Minggu, 12 Mei 2013 Pdt. Yulianus Lamarang, S.Th PKJ (Liturgi II)
Minggu, 19 Mei 2013 Pdt. Ike Ngelow, S.Th KJ (Liturgi I)
Minggu, 26 Mei 2013 Pnt. Soleman Kalebu PKJ (Liturgi II)


JUNI
Minggu, 2 Juni 2013 Pdt. Ike Ngelow, S.Th KJ (Perjamuan kudus)
Minggu, 9 Juni 2013 MPK Bulusaraung PKJ (Pertukaran Mimbar)
Minggu, 16 Juni 2013 Pnt. Syamsuddin Haris, S.Th KJ (Liturgi I)
Minggu, 23 Juni 2013 Pdt. Ike Ngelow, S.Th PKJ (Liturgi II)
Minggu, 30 Juni 2013 Pdt. Djon S. Palondongan, S.Th KJ (Liturgi I)

Wednesday, May 30, 2012

Catatan dari SeminarTata Gereja GKSS,



Dalam Seminar Tata Gereja GKSS tgl 25 Mei 2012 di Makassar, mengemuka beberapa pokok dalam presentasi dan diskusi. Berikut beberapa catatan

1.    Sistem presbiterial-sinodal bertumpu pada beberapa prinsip:
a.    Jemaat (gereja setempat) adalah wujud yang utuh dan lengkap gereja Tuhan di dalam dunia.
b.    Jemaat dipimpin oleh Majelis Jemaat, yaitu para pejabat yang dipilih/ditempatkan dalam jemaat itu. Para pejabat gereja meliputi penatua, diaken dan pendeta. Rapat Majelis Jemaat adalah lembaga tertinggi dalam jemaat.
c.    Jemaat-jemaat bersepakat untuk bergabung dalam satu sinode, yang dipimpin bersama oleh Majelis Gereja yang diperluas (=Majelis Sinode), yang dipilih oleh persidangan para utusan Majelis Jemaat yang tergabung (=Persidangan Sinode). Wewenang dan kewajiban Majelis Sinode ditentukan oleh Persidangan Sinode. Demikian pula pembentukan suatu Klasis oleh kesepakatan jemaat-jemaat, dengan wewenang dan kewajiban yang ditetapkan dalam persidangannya.
d.    Jemaat, Klasis dan Sinode bukan satuan-satuan keorganisasian yang berjenjang, melainkan menyangkut kewenangan dan kewajiban pelayanan yang lebih luas. Karena sifatnya sebagai Jemaat yang diperluas, maka personalia Majelis Pengurus Klasis dan Majelis Pengurus Sinode haruslah dipilih pejabat gereja. Personalia yang kemudian tidak lagi menjadi pejabat di jemaatnya dapat ditetapkan sebagai pejabat gereja (penatua atau diaken) ex-officio. 
2.    Jabatan gereja berdasar pada prinsip imamat am orang percaya. Seluruh warga gereja adalah imam (pelaksana panggilan/pelayanan gereja; 1 Pet 2: 5, 9; Why 1:6, 5:10, 20:6; band. Yesus sebagai Imam Besar Agung dalam Surat Ibrani), sedangkan para pejabat berfusngsi untuk memperlengkapi (=membekali) warga gereja untuk menjalankan tugasnya.
3.    Sebagaimana sistem presbiterial-sinodal, jabatan pendeta, penatua dan diaken diperkembangkan oleh Calvin dan para pengikutnya pada masa Reformasi. Ketiga jabatan setara namun berbeda dalam fungsinya. Pendeta untuk pemberitaan Firman,  pelayanan sakramen, dan penggembalaan. Penatua untuk pelayanan Firman dan penggembalaan; sedangkan diaken khusus untuk pelayanan diakonia (di dalam dan di luar gereja).
4.    Jabatan gereja, termasuk jabatan pendeta, tidak terikat pada seseorang seumur hidup, melainkan sesuai mandat pelayanan gereja. Seseorang diteguhkan karena kesediaannya untuk menjalankan panggilan di dalam gereja. Seorang pendeta yang meninggalkan gereja – karena memilih pekerjaan lain di luar gereja, atau karena diberhentikan -- otomatis jabatannya gugur. Seorang pendeta yang melakukan tugasnya sampai pensiun mendapat hak untuk tetap memakai gelar dan menjalankan tugas jabatannya sebagai pendeta emeritus.
5.    Seorang pemimpin kebaktian jemaat, mendapat mandat dari Majelis Jemaat, yang dinyatakan melalui penyerahan Alkitab dan jabat tangan presbiterial pada awal kebaktian di depan jemaat. Berkat yang disampaikan oleh pendeta atau oleh penatua oleh pemimpin kebaktian itu adalah berkat yang sama, tidak kurang, tidak lebih. Berkat yang disampaikan pendeta sama dengan yang disampaikan penatua atau diaken. Karena itu tidak perlu membedakannya dalam liturgi, baik pengucapannya (kamu, kita) maupun boleh tidak bolehnya mengangkat tangan tanda memberkati. Gereja kita tidak menganut akta liturgis pemberkatan sebagai pemberian (=impartation) melainkan pernyataan (=maklumat) berkat, dalam hal ini pejabat gereja menyatakan bahwa sesuai janji-Nya, Tuhan hadir, menyertai, menguatkan warga jemaat dalam kehidupan mereka. Berkat itu bukan dari diri pendeta atau pejabat gereja melainkan dari Tuhan. Pejabat gereja menyampaikannya.
6.    Demikian juga mengenai pemberkatan nikah. Gereja atau pejabat gereja tidak “memberi” berkat atas perkawinan, melainkan menyatakan atau menyampaikan bahwa Tuhan hadir, menyertai, menguatkan pasangan pengantin itu dalam menjalani lika-liku perjalanan atau ombak-gelombang pelayaran bahtera rumah tangga mereka.
7.    Bagaimana dengan pemberkatan nikah warga jemaat yang bercerai (menceraikan atau diceraikan)? Pertama-tama harus jelas bagaimana sikap gereja terhadap pelayanan warga jemaat yang bercerai? Apakah dikucilkan? Atau mungkin beberapa lamanya digembalakan lalu diterima “normal” sama seperti warga jemaat lainnya? Apakah pernikahannya yang baru itu diakui sebagai pernikahan Kristen? Atau gereja sama sekali menolak? Kalau gereja menerima untuk memberkati nikah warganya yang bercerai itu maka pemberkatannya juga harus merupakan pemberkatan yang normal, sebagaimana pemberkatan pasangan yang baru. Sebaiknya gereja mengatur dengan baik bahwa walaupun gereja menolak perceraian, namun jika suatu perceraian telah melalui proses perceraian yang sah secara hukum, maka jika yang bersangkutan menikah maka gereja dapat melayaninya. Yang perlu diatur juga adalah jangan menikahkan pasangan yang hanya menumpang lewat, tanpa kelengkapan administrasi, baik administrasi gereja maupun pemerintah.

Demikian beberapa pokok pikiran. Semoga bermanfaat. 
Zakaria Ngelow

Tuesday, March 13, 2012

Pembacaan Alkitab Minggu: April-Juni


Dikutip dari BAKI PGI 2012

April

Minggu, 1 April : Yeremia 23:16-32 Pagi: Mazmur 118 Petang: Mazmur 145 1 Korintus 9:19-27 Markus 8:31-9:1

Minggu, 8 April : Yesaya 50:4-9a Pagi: Mazmur 118, 1-2, 19-29 Petang: Mazmur: 31:9-16 Filipi 4:5-11 Pagi: Matius 26:14-27:66 Petang: Matius 27:11-54 Paska

Minggu, 15 April : Pagi: Keluaran 12:1-14 Mazmur 148, 149, 150 Yohanes 1:1-18 Petang: Yesaya 51:9-11 Mazmur 113, 114 Yohanes 20:19-23

Minggu, 22 April : Yesaya 43:8-13 Pagi: Mazmur 146, 147 Petang: Mazmur 111, 112, 113 1 Petrus 2:2-10 Yohanes 14:1-7

Minggu, 29 April : Daniel 4:1-18 Pagi: Mazmur 148, 149, 150 Petang: Mazmur 114, 115 1 Petrus 4:7-11 Yohanes 21:15-25

Mei

Minggu, 6 Mei : Yosua 4:19-24, 5:1-9 Pagi: Mazmur 63, 98 Petang: Mazmur 103 1 Petrus 5:1-11 Matius 7:15-29 Hari Raya Waisak Tahun 2554

Minggu, 13 Mei : Yosua 17:14-18 Pagi: Mazmur 24, 29 Petang: Mazmur: 8, 84 2 Tesalonika 2:13-17 Matius 7:7-14

Minggu, 20 Mei : Yosua 24:1-28 Pagi: Mazmur 93, 96 Petang: Mazmur 34 1 Timotius 3:14-4:5 Matius 13:24-34a

Minggu, 27 Mei : Yehezkiel 3:16-27 Pagi: Mazmur 66, 67 Petang: Mazmur 19, 46 Efesus 2:1-10 Matius 10:24-33, 40-42 Pentakosta

Juni

Minggu, 3 Juni : Yesaya 11:1-9 Pagi: Mazmur 118 Petang: Mazmur 145 1 Korintus 2:1-13 Yohanes 14:21-29

Minggu, 10 Juni : Ulangan 11:1-12 Pagi: Mazmur 146, 147 Petang: Mazmur 111, 112, 113 Efesus 4:1-16 Yohanes 1:1-18

Minggu, 17 Juni : 2 Tawarikh 32:1-23 Pagi: Mazmur 93, 96 Petang: Mazmur 34 Wahyu 15:1-8 Matius 18:1-4 [Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW ]

Minggu, 24 Juni : 1 Samuel 4:12-22 Pagi: Mazmur 66, 67 Petang: Mazmur 19, 46 Yakobuses 1:1-18 Matius 19:23-30

Friday, March 2, 2012

Pra-Paskah



Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pra-Paskah (bahasa Inggris: Lent; bahasa Latin: Quadragesima, "ke-40"[1]) adalah masa yang mendahului hari raya Paskah dalam agama Kristen. Masa ini mencakup empat puluh hari mulai hari Rabu Abu sampai hari Minggu Paskah, dengan berbagai liturgi yang diakhiri sampai Kamis Putih, menjelang peringatan 3 peristiwa amat penting yaitu Kematian Yesus pada hari Jumat Agung, yang dilanjutkan dengan penguburannya dan masa tinggalnya di dalam kubur, serta kebangkitan-Nya dari kematian pada hari Minggu Paskah.

Kalau Paskah memperingati kebangkitan Yesus setelah kematiannya di atas kayu salib, masa Pra-Paskah berhubungan dengan persiapan Pekan Suci, yang memperingati kejadian yang menuju ke Pengadilan Yesus terakhir oleh Kekaisaran Romawi. Ini terjadi di antara tahun 29-33 Masehi.

Secara tradisional, Pra-Paskah ini merupakan persiapan penyesalan orang percaya, melalui doa, penyesalan, pertobatan, pemberian sedekah, dan mengingkari diri. Tujuan ini lebih ditekankan saat memasuki masa perayaan tahunan Pekan Suci, yaitu peristiwa Kematian dan Kebangkitan Yesus. Ada empat puluh hari dalam masa pra-paskah yang ditandai dengan berpantang dari makanan dan kenikmatan, dan sikap penyesalan lainnya. Hal ini merujuk pada peristiwa yang dicatat di kitab-kitab Injil Sinoptik (Injil Matius, Injil Markus dan Injil Lukas, bahwa Yesus Kristus berpuasa 40 hari 40 malam lamanya di padang gurun sebelum memulai pekerjaan-Nya, di mana Ia dicobai oleh Iblis.[2][3][4]
Acolyte mematikan lilin di atas altar yang dihiasi warna ungu untuk Pra-Paskah. Perhatikan bahwa salib dan patung sering dibungkus kain ungu, dan tidak ada bunga maupun persembahan yang diperlihatkan. Rabu Abu, dalam sebuah gereja Episkopal di Tennessee, Amerika Serikat.
Jemaat merayakan Pra-Paskah dengan barisan pawai selama Pekan Suci. Warna ungu sering dihubungkan dengan penyesalan dan pertobatan. Kebiasaan penyesalan yang serupa dijumpai di negara-negara lain, kadang termasuk penyiksaan tubuh. Granada, Nicaragua.

Di sejumlah gereja Kristen, enam hari Minggu di antara hari Selasa sebelum Rabu Abu (Shrove Tuesday) dan Minggu Paskah tidak dihitung dalam 40 hari Pra-Paskah, sehingga tanggal hari Selasa itu lebih dari 40 hari sebelum Paskah. Peristiwa ini, dengan kebiasaan-kebiasaan yang khusyuk, diperingati di gereja-gereja Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental, Katolik Roma, Lutheran, Methodist, Presbyterian, Anglikan dan sejumlah gereja Baptis.[5][5][6][6] Pra-Paskah ini sekarang juga diperingati di beberapa denominasi yang dulunya mengabaikannya, misalnya di sejumlah gereja Baptis dan Mennonit.[7]

Lamanya masa Pra-Paskah

Kebanyakan penganut agama Kristen memperingati Pra-Paskah sejak hari Rabu Abu dan berakhir pada hari Kamis Putih.[4][8] Enam hari Minggu di antaranya tidak dihitung, karena masing-masing merupakan "Paskah kecil", yaitu peringatan kemenangan Yesus atas dosa dan kematian.[3] Salah satu perkecualian yang terkenal adalah di Archdiocese of Milan, yang mengikuti "ritual Ambrosian" (Ambrosian Rite) di mana Pra-Paskah dimulai pada hari Minggu 6 minggu sebelum Paskah.[9]

Sejak Konsili Vatikan Kedua, gereja Katolik Roma menetapkan hari Jumat Agung sampai Sabtu Suci sebagai dua hari pertama "Easter Triduum" dan bukan lagi sebagai dua hari terakhir Pra-Paskah, meskipun peringatan Pra-Paskah tetap dilanjutkan sampai "Easter Vigil".

Di gereja-gereja yang mengikuti "Ritus Konstatinopel" (misalnya gereja Ortodoks Timur dan gereja Katolik Timur), 40 hari Pra-Paskah dihitung berbeda, sebagaimana perbedaan perhitungan tanggal untuk hari Paskah. Puasa dimulai pada hari Senin Murni ("Clean Monday"), dengan memasukkan setiap hari Minggu, sampai berakhir pada hari Jumat sebelum Minggu Palem. Hari-hari khusus Sabtu Lazarus ("Lazarus Saturday"), Minggu Palem dan Pekan Suci dianggap masa puasa yang terpisah. Seluruh masa Pra-Paskah ini disebut "Great Lent".

Dalam gereja Ortodoks Oriental, ada sejumlah tradisi setempat selama Pra-Paskah. Gereja Ortodoks Koptik, gereja Ortodoks Etiopia dan gereja Ortodoks Eritrea memperingati 8 minggu Pra-Paskah, di mana tanpa menyertakan hari Sabtu dan Minggu, merupakan 40 hari puasa.[9]
Asal nama

Dalam liturgi bahasa Latin dipakai istilah quadragesima, yaitu terjemahan dari bahasa Yunani "Τεσσαρακοστή" (Tessarakoste, "ke-40" hari sebelum Paskah). Istilah ini dipelihara dalam bahasa Romana (Romance), bahasa Slavik dan bahasa Keltik (Celtic), misalnya bahasa Spanyol cuaresma, bahasa Portugis quaresma, bahasa Perancis carême, bahasa Italia quaresima, bahasa Romania paresimi, bahasa Kroasia korizma, bahasa Irlandia Carghas, dan bahasa Wales C(a)rawys.

Di akhir Abad Pertengahan, ketika khotbah diberikan dalam bahasa rakyat, tidak lagi dalam bahasa Latin, istilah bahasa Inggris lent mulai dipakai. Kata ini mulanya berarti "musim semi", seperti dalam bahasa Jerman Lenz dan bahasa Belanda lente), yang berasal dari akar kata bahasa Jermanik long (=panjang), karena di musim semi, hari (siang hari) jelas terasa lebih panjang dari musim dingin sebelumnya.[10]

Perayaan sebelum Pra-Paskah

Perayaan karnaval tradisional yang mendahului masa Pra-Paskah diadakan sebelum memasuki masa puasa. Yang paling terkenal adalah di Rio de Janeiro; di samping karnaval di Trinidad & Tobago, Venice, Cologne, Mobile di Alabama dan New Orleans di Louisiana. Acara ini terkenal dengan nama Mardi Gras atau "Shrove Tuesday" atau "Fat Tuesday" (hari "Selasa Gemuk").
Puasa dan pantangan

Puasa di masa Pra-Paskah lebih berat di zaman dulu daripada zaman sekarang. Socrates Scholasticus mencatat bahwa di beberapa tempat, semua bahan makanan dari binatang dilarang, sementara di tempat lain ikan dan burung boleh dimakan, buah-buahan dan telur dilarang, dan di tempat lain hanya makan roti. Ada tempat dimana umat berpantang makan selama satu hari penuh; di tempat lain hanya makan sekali sehari, atau berpantang makan sampai jam 3 siang. Di banyak tempat, kebiasaan puasa ini diakhiri di waktu petang, di mana umat hanya makan makanan kecil tanpa sayur maupun alkohol.

Di awal Abad Pertengahan, bahan makanan mengandung daging, telur dan susu umumnya dilarang. Thomas Aquinas berpendapat bahwa "bahan-bahan itu memberi kesukaan lebih banyak (daripada ikan), dan banyak nutrisi bagi tubuh, sehingga dengan memakannya memberi lebih banyak kelebihan untuk proses seminal, yang jika berlebihan memberi dorongan kepada hawa nafsu."[11] Namun, dispensasi untuk bahan dari susu diberikan sebagai donasi untuk pembangunan sejumlah gereja, termasuk "Butter Tower" dari Rouen Cathedral. Di Spanyol, peraturan untuk "Holy Crusade" (diperbarui secara teratur setelah tahun 1492) mengijinkan makan bahan dari susu[12] dan telur selama Pra-Paskah sebagai ganti kontribusi kepada konflik. Giraldus Cambrensis dalam tulisannya Itinerary of Archbishop Baldwin through Wales melaporkan bahwa "di Jerman dan daerah arktik," "orang-orang saleh," makan ekor berang-berang (beaver) sebagai "ikan" karena bentuknya mirip dengan ikan dan mudah didapat.[13]

Di masyarakat barat kebiasaan ini sekarang lebih kendor, meskipun di gereja Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental dan Gereja Katolik Timur, masih berlaku pantangan untuk semua bahan binatang termasuk ikan, telur, burung dan susu yang dari binatang (kambing atau sapi, bukan dari kacang kedelai atau kelapa), sehingga hanya makanan dari tumbuhan (vegetarian/vegan) yang dimakan selama 44 hari Pra-Paskah mereka. Dalam gereja Katolik Roma ada kebiasaan untuk berpantang makan daging binatang mamalia dan burung pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat selama Pra-Paskah, meskipun ikan dan makanan dari susu diijinkan dimakan. Pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung juga ada kebiasaan untuk puasa sehari penuh, tanpa daging, makan hanya sekali sehari, atau jika perlu, dua kali makanan kecil.

Hari-hari Raya

Sejumlah hari penting selama Pra-Paskah:

Rabu Abu, hari pertama masa Pra-Paskah di gereja barat.
Clean Monday (atau "Senin Abu"), hari pertama Pra-Paskah di gereja timur.
Hari Minggu Pra-Paskah ke-4, yang menandai titik tengah antara Rabu Abu dan Paskah, kadang disebut Laetare Sunday, di gereja Katolik Roma, atau "Mothering Sunday", yang menjadi sama dengan "Mother's Day" di Inggris. Namun, mulanya adalah perayaan di abad ke-16 untuk "Mother Church" (gereja induk). Pada hari Laetare Sunday, pastor boleh memakai jubah berwarna merah muda, sebagai pengganti ungu.
Hari Minggu Pra-Paskah ke-5, juga disebut Passion Sunday (istilah ini juga dipakai untuk Minggu Palem), menandai permulaan Passiontide
Hari Minggu Pra-Paskah ke-6, umumnya disebut Minggu Palem, menandai permulaan Pekan Suci, minggu terakhir Pra-Paskah sebelum Minggu Paskah.
Hari Rabu dalam Pekan Suci disebut "Spy Wednesday" (Rabu Mata-mata atau Pengintai) untuk memperingati hari-hari Yudas Iskariot mengintai Yesus Kristus di taman Getsemani sebelum mengkhianati-Nya.
Hari Kamis dalam Pekan Suci disebut Kamis Putih (Maundy Thursday atau Holy Thursday), merupakan hari peringatan Perjamuan Terakhir yang dilakukan oleh Yesus Kristus dengan murid-murid-Nya.
Jumat Agung, hari peringatan Kematian Yesus dan penguburan-Nya

Dalam gereja Katolik Roma, Easter Triduum adalah peringatan tiga hari yang dimulai dengan nyanyian pembukaan Mass untuk Perjamuan Kudus. Setelah peringatan hari Kamis Putih sore, hosti kudus diambil dengan khusuk dari altar ke tempat penyimpanan dimana orang percaya diundang untuk menyembah "tubuh kudus Kristus". Di hari berikutnya, diadakan liturgi peringatan penderitaan Kristus pada pukul 3 sore. Ibadah ini terdiri dari pembacaan Alkitab terutama dari Injil Yohanes tentang penderitaan Yesus Kristus, diikuti dengan doa, pemujaan salib Yesus dan kemudian Perjamuan Kudus dimana hosti, yang dikuduskan pada sore sebelumnya, dibagikan. Easter Vigil di waktu malam antara Sabtu Suci petang dan Minggu Paskah subuh dimulai dengan pemberkatan api dan lilin khusus dengan pembacaan Alkitab yang berhubungan dengan baptisan, lalu menyanyikan Gloria in Excelsis Deo, pemberkatan air, dilakukan baptisan dan konfirmasi untuk orang dewasa, kemudian jemaat diundang untuk memperbarui janji baptisan mereka; akhirnya Mass dilakukan seperti biasa mulai dari "Preparation of the Gifts" dan selanjutnya.

Pekan Suci dan masa Pra-Paskah, tergantung dari denominasi Kristen dan kebiasaan setempat, diakhiri dengan Easter Vigil pada Sabtu Suci sore atau subuh pada hari Minggu Paskah. Ada kebiasaan di sejumlah gereja untuk mengadakan ibadah subuh di lapangan terbuka.

Dalam gereja Katolik Roma, Lutheran, dan banyak gereja Anglikan, para pendeta berpakaian ungu selama Pra-Paskah. Pada hari Minggu ke-4 Pra-Paskah, boleh memakai warna merah muda. Di beberapa gereja Anglikan sejenis kain lenan yang tidak diputihkan atau muslin yang disebut "Lenten array", dipakai selama 3 minggu pertama Pra-Paskah, kemudian warna merah selama Passiontide.

Referensi

1 http://www.newadvent.org/cathen/09152a.htm
2 Matius 4:1–2; Markus 1:12–13; Lukas 4:1–2
3 a b "What is Lent and why does it last forty days?". The United Methodist Church. Diakses pada 24 Agustus 2007.
4 a b "The Liturgical Year". The Anglican Catholic Church. Diakses pada 24 Agustus 2007.
5 a b Comparative Religion For Dummies. For Dummies. Diakses pada 8 Maret 2011.
6 a b William P. Lazarus, Mark Sullivan. Comparative Religion For Dummies. For Dummies. Diakses pada 8 Maret 2011.
7 http://www.thirdway.com/menno/glossary.asp?ID=121
8 Thurston, Herbert (1910). "Lent". The Catholic Encyclopedia. IX. New York: Robert Appleton Company. Diakses pada 15 Februari 2008
9 a b Catholic Encyclopedia – Lent See paragraph: Duration of the Fast
10 Lent Online Etymology Dictionary. Retrieved 8 March 2009.
11 "'''Summa Theologica''' Q147a8". Newadvent.org. Diakses pada 27 Agustus 2010.
12 "Millennium:Fear and Religion". Diarsipkan dari yang asli pada 18 Agustus 2002.
13 "Baldwin's Itinerary Through Wales No. 2 by Giraldus Cambrensis". Gutenberg.org. 31 Desember 2001. Diakses pada 27 Agustus 2010.



Monday, February 27, 2012

Jadwal Kebaktian Minggu/Raya, Januari-Juni 2012




JANUARI

Minggu, 1 Januari 2012 Pdt. Ike Ngelow, S.Th KJ (Liturgi I) Tahun Baru
Minggu, 8 Januari 2012 Pdt. Djon S. Palondongan, S.Th PKJ (Liturgi II)
Minggu, 15 Januari 2012 Pdt. Ike Ngelow, S.Th KJ (HUT J. Mattirobaji XXIII)
Minggu, 22 Januari 2012 Pdt. Armin Sukri, M.Th PKJ (Liturgi II)
Minggu, 29 Januari 2012 Adi Ribowo, S.Th KJ (Liturgi I)


FEBRUARI
Minggu, 5 Februari 2012 Pdt. Ike Ngelow, S.Th KJ (Liturgi I)
Minggu, 12 Februari 2012 MPK Bulusaraung PKJ (Pertukaran Mimbar)
Minggu, 19 Februari 2012 Pdt. Ike Ngelow, S.Th KJ (Liturgi I)
Minggu, 26 Februari 2012 Adi Ribowo, S.Th PKJ (Ming. sengsara) L II
MARET
Minggu, 4 Maret 2012 Pdt. Ike Ngelow, S.Th KJ (Minggu sengsara) L I
Minggu, 11 Maret 2012 Pdt. Maays E. Baura, S.Th PKJ (Minggu sengsara) L II
Minggu, 18 Maret 2012 Adi Ribowo, S.Th KJ (Minggu sengsara) L I
Minggu, 25 Maret 2012 Pdt. Ike Ngelow, S.Th PKJ (Minggu sengsara) L II
APRIL
Minggu, 1 April 2012 Pnt. Soleman Kalebu KJ (Minggu sengsara) L I
Jumat, 6 April 2012 Pdt. Ike Ngelow, S.Th PKJ (Perjamuan Kudus)
Minggu, 8 April 2012 MPK Bulusaraung PKJ (Paskah) Per. Mbr /LII
Minggu, 15 April 2012 Pdt. Djon S. Palondongan, S.Th KJ (Liturgi I)
Minggu, 22 April 2012 Pdt. Armin Sukri, M.Th PKJ (Liturgi II)
Minggu, 29 April 2012 Pdt. Ike Ngelow, S.Th KJ (Liturgi I)
MEI
Minggu, 6 Mei 2012 Pdt. Evi Sapasuruh, S.Th KJ (Liturgi I)
Minggu, 13 Mei 2012 Pnt. Ruslan Djalang PKJ (Liturgi II)
Kamis, 17 Mei 2012 Pdt. Ike Ngelow, S.Th Hari Kenaikan Yesus Kristus
Minggu, 20 Mei 2012 Pdt. Maays E. Baura, S.Th KJ (Liturgi I)
Minggu, 27 Mei 2012 Pdt. Yulianus Lamarang, S.Th PKJ (Liturgi II)
JUNI
Minggu, 3 Juni 2012 Pdt. Ike Ngelow, S.Th KJ (Perjamuan kudus)
Minggu, 10 Juni 2012 MPK Bulusaraung PKJ (Pertukaran Mimbar)
Minggu, 17 Juni 2012 Pnt. Syamsuddin Haris, S.Th KJ (Liturgi I)
Minggu, 24 Juni 2012 Pdt. Ike Ngelow, S.Th PKJ (Liturgi II)

Wednesday, August 10, 2011

Litani Syukur Proklamasi

Litani Pernyataan Syukur (mengikuti Mazmur 44)

P. Ya Allah, dengan telinga kami sendiri telah kami dengar,
J. Para pendahulu kami telah menceritakan kepada kami perbuatan yang telah Kaulakukan pada masa mereka,
P. Engkau sendiri, dengan tangan-Mu, telah menghalau bangsa-bangsa penjajah,
tetapi bangsa kami Engkau biarkan bertumbuh;
J. bangsa-bangsa asing telah Engkau usirdari negeri kami.
P. Sebab bukan dengan pedang dan sejata kami mencapai kemerdekaan,
J. bukan kekuatan kami sendiri yang memberi kami kemenangan,
P. melainkan tangan kanan-Mu dan lengan-Mu dan cahaya wajah-Mu,
J. sebab Engkau berkenan kepada bangsa kami.
P. Dengan Engkaulah kami menanduk para lawan kami,
J. dengan nama-Mulah kami mengusir bangsa-bangsa yang datang menyerang kami.
P. Sebab bukan kepada bedil dan bambu runcing kami percaya, dan pedangpun tidak memberi kami kemenangan,
J. tetapi Engkaulah yang memberi kami kemenangan terhadap para penjajah.
P+J. Karena itu ya Allah kami nyanyikan puji-pujian, dan bagi nama-Mu kami mengucapkan syukur selama-lamanya.