Showing posts with label Soppeng. Show all posts
Showing posts with label Soppeng. Show all posts

Saturday, October 19, 2013

Empat Agenda Kristen Bugis Soppeng



Beberapa sesepuh keluarga Kristen Soppeng di Makassar



Pada abad ke 16 sejumlah bangsawan dan rakyat Bugis dan Makassar menerima agama Kristen yang disebarkan kalangan Katolik Portugis di kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar. Namun tidak berkembang dan lenyap karena beberapa alasan. Ada usaha-usaha serius pada abad ke-19 melalui B. F. Matthes, namun ahli bahasa dari Lembaga Alkitab Belanda ini lebih berjasa mempetkenalkan dan melestarikan warisan budaya Bugis daripada membawa orang Bugis kepada Kristus. Baru pada tahun 1930-an dan awal 1940-an beberapa bangsawan Bugis di daerah Barru dan Soppeng tertarik pada Injil terkait dengan ramalan-ramalan mesianis Petta Barang, seorang tokoh religius setempat. Mereka bersama kelaurga dan banyak pengikutnya dibaptis. Gereja terbentuk namun tantangan penghambatan sejak zaman Jepang sampai revolusi kemerdekaan dan khususnya pada masa gangguan gerombolan DI/TII tahun 1950-an membuat banyak orang Kristen murtad. Beberapa terbunuh sebagai martir Kristus. 

Dewasa ini orang Kristen Bugis asal Soppeng terpisah-pisah menjadi anggota beberpa denominasi gereja yang berbeda, namun di Makassar mereka membentuk Kerukunan Keluarga Kristen Soppeng di makassar (K3SM).  Dalam suatu diskusi yang menghadirkan para sesepuh Kristen Soppeng mengemuka kebutuhan untuk menulis suatu buku sejarah Kekristenan di kalangan orang Bugis Soppeng, yang secara khusus memperlihatkan bagaimana mereka menerima Injil dan bagaimana mereka survive menghadapi gempuran penghambatan. 

Selain itu beberapa agenda dapat diusulkan untuk menjadi perhatian para pemuka Kristen Bugis, khususnya wadah seperti K3SM untuk memberi kontribusi sekaligus bagi gereja dan bagi, masyarakat Bugis -- yang tentu juga berlaku bagi komunitas Kristen Bugis lainnya, seperti dari Makassar dan dari Selayar:


1. Umat Kristen asal Bugis perlu mengembangkan kekristenan yang sekaligus afirmatif dan kritis terhadap budaya Bugis. Orang Bugis Kristen tetap hidup sebagai orang Bugis, namun berusaha menyoroti tradisi dan nilai-nilai budaya Bugis dalam terang Injil Kristus. Prinsip "siri' na pesse", misalnya, disambut positif namun dengan kritis menolak aspek-aspek budaya kekerasan di dalamnya dengan mengembangkan pola-pola budaya resolusi konflik secara damai. 

2. Umat Kristen asal Bugis perlu menghidupkan nilai-nilai ideal normatif budaya Bugis yang ditengarai dewasa ini terus digerus budaya kapitalistik-materialistik, yang al. terwujud dalam apa yang disebut "budaya pojiale", budaya menyombongkan diri. Budaya luhur seperti etos kerja tinggi yang diajarkan melalui ungkapan tellabu' essoe ri tengngana bitarae (jangan/tak terbenam matahari di tengah langit) dan aja’ muakkamporo’ (jangan ibarat telur dierami tak menetas).  Atau yang populer melalui semboyan pelaut, pura ba'bara' somppekku, pura tangkisi' gulikku, ulebbirengi tellenge na toalie (telah kupasang layarku, kuarahkan kemudiku, lebih baik tenggelam daripada pulang). 

3. Umat Kristen asal Bugis harus menebus sejarah konflik internal masa lalu dengan terus mengembangkan persaudaraan Kristen Bugis lintas denominasi, sehingga umat Kristen asal Bugis dalam berbagai gereja yang berbeda-beda saling mengasihi dan bersama-sama menjalankan panggilan pelayanan dan kesaksian gereja di tengah-tengah masyarakat, khususnya masyarakat Bugis. Pada gilirannya persaudaraan dapat diperluas secara lintas iman dengan semua orang Bugis, bahkan semua orang, sesuai perintah Krisus untuk mengasihi semua orang. Ini sesuai dengan falsafah “hukum kasih Bugis” dalam  apa yang disebut "mattulu tellue": malilu sipakainge, mali siparappe, rebba sipatokkong (tali berjalin tiga: khilaf saling mengingatkan, terdampar saling mendaratkan, rebah saling menegakkan).

4. Sebagai komunitas di rantau, pentinglah umat Kristen asal Bugis mengembangkan kecintaan, pengetahuan dan kebanggaan serta pengabdian bagi masyarakat dan tanah Bugis. Banyak orang Bugis di rantau yang tidak lagi mengenal (sehingga tidak mencintai dan membanggakan) identitasnya sebagai anak Bugis. Sebab itu perlu mengenal budaya Bugis, baik sejarah, bahasa maupun adat istiadat dan semua tradisi lainnya, dengan penekanan pada makna dan nilai-nilai luhur. 

Duami kuala sappo unganna panasae na belo-belona kanukue.

Makassar 19 Oktober 2013
Zakaria J. Ngelow

Monday, June 18, 2012

Refleksi Sejarah GKSS dan Pekabaran Injil di tanah Bugis-Makassar-Selayar

Masih sebagai rangkaian pekan HUT GKSS (46) dan Hari PI (79) di klasis Bulusaraung, diadakan seminar PI untuk memberikan informasi dari para saksi sejarah dan pelaku PI di tanah Bugis (Melle’) Makassar (Poona) dan Selayar (Dg. Taung).  Seminar yang dilakukan pada senin, 18 Juni 2012 ini didampingi oleh ketua Klasis Blusaraung, Pdt. Armin Sukri, selaku moderator dan juga penerjemah dari bapak Melle yang tidak begitu paham bahasa Indonesia.  Selain itu juga dihadirikan seorang ahli sejarah gereja, Pdt. Zakaria Ngelow yang memberi beberapa catatan. 

Seminar yang diadakan di Aula TC GKSS ini berlangsung cukup menarik hingga memakan waktu selama tiga jam.  Sayang sekali bahwa seminar yang memberi banyak rekomendasi bagi keberlangsungan GKSS di masa depan tidak dihadiri oleh para undangan dari pihak MPS GKSS komisi-komisinya.  

Berikut beberapa refleksi sejarah GKSS oleh Zakaria Ngelow:


1. Kesaksian dari Selayar

GKSS gagal mempertahankan warga yang dibaptis masal dari aliran Muhdi Akbar pada awal tahun 1970-an karena tidak berlangsung pembinaan yang didasarkan pada pemahaman yang mendasar mengenai ajaran Muhdi Akbar. Hal ini terkait juga dengan tiadanya putra-putri Selayar sendiri yang seperti Rasul Paulus – mampu memahami secara mendalam sekaligus ajaran Muhdi Akbar dan budaya Selayar pada umumnya dan Injil Yesus Kristus, untuk selanjutnya melakukan transformasi. Apakah aspek keturunan akan juga menentukan, bahwa tokoh yang bisa bicara kepada masyarakat Selayar haruslah turunan pemuka masyarakatnya? Mungkin begitu, namun Injil harus kritis terhadap struktur sosial yang menindas, termasuk paternalisme dan feodalisme.

2. Kesaksian dari Soppeng

Orang Soppeng masuk Kristen dalam rangka mencari kebenaran Injil, mengikuti tradisi messianik Petta Barang. Itu suatu kebanggaan, yang juga dapat ditambahkan bahwa Kekristenan di kalangan orang Soppeng telah teruji melalui taruhan nyawa pada zaman gerombolan DI/TII tahun 1950-an.

Kekristenan Bugis Soppeng sejak awal terkait dengan jaringan keluarga. Hubungan keluarga dapat memajukan gereja, tetapi sebaliknya juga dapat merusaknya. Setiap pelayanan dalam komunitas masyarakat Bugis Soppeng ini harus memberi perhatian pada aspek hubungan-hubungan kekeluargaan itu. Dapat disimpulkan bahwa Kekristenan di kalangan orang Soppeng berakar kuat, namun terpencar dalam berbagai gereja. Dukungan wadah sosial seperti kerukunan warga Kristen Soppeng dapat menjadi jembatan untuk persaudaraan ganda sebagai sesaudara dalam identitas Soppeng dan dalam persaudaraan iman kepada Kristus.

3. Kesaksian dari Bawakaraeng

Kekristenan di kalangan orang Makassar/Gowa dihidupkan melalui pelayanan sosial, ekonomi dan pendidikan. Melemahnya gereja dalam pelayanan sosial melemahkan juga daya saingnya dalam masyarakat. Apakah masyarakat Kristen asal Makassar/Gowa seperti saudara-saudarinya dari Soppeng yang menghilang dari GKSS tetapi tetap eksis di gereja-gereja lain? Atau memang makin punah?

4. Masih gereja Bugis?

GKSS dimaksudkan oleh kalangan zending pada awalnya sebagai gereja dari dan untuk masyarakat Bugis-Makassar-Selayar. Tetapi pada kenyataannya telah berkembang menjadi gereja multi-etnis yang bhinneka tunggal ika. Jadi apa identitasnya? Kita menerima fakta sejarah sebagai jalan yang Tuhan kehendaki: gereja ini adalah gereja dari semua untuk semua, namun yang tetap sadar akan sejarah dan konteksnya sebagai gereja di tengah-tengah masyarakat Bugis-Makassar-Selayar. Dengan kata lain, perlu upaya-upaya pada satu fihak untuk mengembangkan pelayanan yang bersifat ekumenis, sesuai latar belakang warga, dan pada fihak lain mengakarkan mereka ke dalam visi dan komitmen bersama terhadap konteks sosial-kultural Sulawesi Selatan (dan Barat?)

5. Peringatan Peristiwa apa?

Peristiwa yang diperingati GKSS sebagai ulang tahun: 12 Juni tanggal pembentukan Sinode pada tahun 1966 di Makkio Baji, Makassar. Pada hal sebelumnya, pada tahun 1965 Bakal Gereja Bugis telah ditetapkan menjadi Gereja Kristen di Sulawesi Selatan dalam persidangan wakil-wakil jemaat di Watansoppeng tanggal 23-25 April 1965. Persidangan dihadiri wakil-wakil dari 6 jemaat dari daerah Soppeng; 8 jemaat dari daerah Malino; 2 jemaat dari Makassar, dan 3 jemaat dari Selayar dan sepakat membentuk gereja dengan pengurus dan tata gerejanya. Terpilih Pdt. N. Dg. Massikki sebagai Ketua Sinode.
Tanggal 19 Juni yang diperingati sebagai hari Pekabaran Injil adalah peristiwa berlabuhnya di pelabuhan Makassar kapal yang membawa tenaga zending, Ds. H. van den Brink, dari Gereformeerde Kerk untuk penginjilan di Sulawesi Selatan. Tetapi yang sebenarnya jauh lebih bermakna adalah peristiwa penerimaan Injil oleh orang Bugis sendiri. Tahun 1935 seorang bangsawan Bugis, Petta Lolo Marhabang, dibaptiskan di Soppengriaja; tgl 8 Februari 1938 Andi Kamba dibaptis di Barru oleh Ds. H. van den Brink. Atau yang lebih langsung terkait dengan Kekristenan Bugis adalah pembaptisan ke-3 “pencari kebenaran Injil”, La Galiti, La Mappe’, La Tasakka’, di gereja Indische Kerk (sekarang GPIB) Immanuel Makassar, pada tanggal 17 Februari 1940.
Bukan maksudnya supaya perayaan-perayaan yang sudah dibakukan itu diganti atau direvisi, melainkan supaya peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah GKSS diberi makna dan turut diperingati.

6. Pekabaran Injil?

Pekabaran Injil dalam GKSS tidak tepat lagi dilakukan dalam format masa lalu, melainkan meberdayakan setiap warga jemaat untuk bersikap misioner, yakni selalu terpanggil untuk menyatakan kebenaran Injil kepada orang lain dalam hidup masing-masing, melalui tutur kata mau pun perbuatan. Bagaimana pembinaan dilakukan untuk mencapai kualitas Kristen handal, seperti warga Muhdi Akbar dari Selayar, yang sekalipun berpindah-pindah agama tetap memegang “kebenaran” Muhdi Akbar? Bisakah pembinaan seperti ini dimulai di jemaat-jemaat tanpa “menunggu komando” dari pimpinan sinode?

7. 500 tahun Injil di Sulawesi Selatan.

Sejarah Kekristenan di kalangan orang Bugis sudah berlangsung sejak abad ke-16. Sejumlah-raja-raja Bugis di pesisir selamat Makassar, dari Parepare sampai Makassar (Bacukiki, Gowa, Siang, Suppa, Tallo) pernah mengenal agama Kristen, bahkan ada raja dan pangeran yang dibaptis oleh para paderi Katolik zaman Portugis. Kekristenan Katolik yang berlangsung lebih 100 tahun (1530-an – 1668) berakhir oleh peristiwa silariang seorang putri raja Suppa dengan kapiten kapal Portugis, dan kemudian juga oleh pilihan raja Gowa menerima Islam dan memaksakan pengislaman kerajaan-kerejaan lainnya (awal abad ke-17). Fihak VOC dan pemerintah kolonial Belanda mempertahankan Kerkistenan Protestan di Makassar, dan kemudian juga di Bonthain, Bulukumba dan Selayar. Yang patut dicatat adalah utusan Lembaga Alkitab Belanda, B.F. Matthes, yang berhasil menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bugis dan Makassar, dan “menyelamatkan” banyak lontara sastra Bugis/Makassar, termasuk I Lagaligo. [Selengkapnya, cari “sejarah” atau "matthes" di blog ini.]

Sebelum masyarakat Bugis-Makassar dan Selayar pada abad ke-20 sudah berlangsung pekabaran Injil di kalangan suku-suku Toraja, mula-mula oleh Indische Kerk, lalu kemudian pada tahun 1913 Tana Toraja, Luwu, Rongkong dan Seko dilayani oleh badan zending Gereformeerde Zendingsbond (GZB). Dan sejak tahun 1928 Toraja Mamasa, Pitu Ulunna Salu, dan Kalumpang oleh Zending der Christelijke Gereformeerdekerken (ZCGK). Masing-masing berhasil membentuk GerejaToraja dan Gereja Toraja Mamasa pada tahun 1947. Gereja Toraja dan GTM akan memperingati 100 tahun masuknya Injil ke masing-masing wilayah, dengan puncak perayaan tahun 2013.

Tuesday, November 22, 2011

Sekolah Minggu GKSS

(Luk 18:15-17 ITB)15 Maka datanglah orang-orang membawa anak-anaknya yang kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka. Melihat itu murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
16 Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.
17 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."








Foto anak-anak Sekolah Minggu di Soppeng (Klasis Walanae)