Showing posts with label refleksi. Show all posts
Showing posts with label refleksi. Show all posts

Saturday, April 7, 2012

Dalam Jumat yang Agung



by Jenifer Astin S. Ladja on Saturday, April 7, 2012 at 11:43am ·

Dengan nafas terengah-engah dan jantung yang berdegup kencang aku mencoba terus berlari dan berlari menyusuri jalan-jalan kota.  Mengejar sebuah peristiwa yang tak asing dan sekaligus juga tak lazim.  Kota yang biasanya padat riuh karena minggu paskah, kini lengang. 

Aku terus mengejar kerumunan orang-orang yang sudah mulai nampak. Meski dengan kaki yang sudah terluka. Seseorang akan disalib! 

Ini memang bukan hal yang baru, tapi entah mengapa kali ini rasanya ada yang berbeda dari penyaliban yang biasanya.  Aku mengenalnya, memang tidak pernah bercakap secara langsung, tapi aku selalu melihatnya.
Aku berada di bukit ketika Ia mengajarkan orang-orang tentang Kerajaan Sorga. Bahkan, Aku menikmati roti dan ikan yang Ia bagikan bagi kami, juga saat ia melakukan mukjizat-mukjizat.
Di pasar, banyak orang Yahudi berbisik bahwa “Ia adalah Mesias” yang akan membawa orang Israel pada kemerdekaan.  Ia adalah Mesias yang telah dinantikan.

Tak lama berselang aku mendengar berita bahwa para tentara Romawi akan menangkapnya karena ia akan membahayakan posisi kaisar dan ia melakukan perlawanan kepada Kaisar dengan menyebut dirinya mesias.  Akhirnya, hari ini terjadi. 

Seluruh kota hening. Masih nampak telapak-telapak kaki kuda tentara romawi. Dan cucuran darah yang merah amis dan pilu.  Hampir pukul 12 siang, namun langit sama sekali tak secerah yang seharusnya.  Melainkan Gelap! Kelam!
.........
Itu dia! Aku telah melihatnya dari kejauhan dan mencoba semakin dekat melewati kerumunan orang-orang.  Aku melihat seorang perempuan tua menangis di sana.  Terluka! Di dekat kaki salibnya.  Merana, tak berdaya.  Ingin merontah, tapi tak mampu, hanya bisa menangis dan menangis tiada henti. 

Luka-luka pada sekujur tubuhnya dan tangan serta kaki yang terpaku sungguh memilukan! Aku mengenalnya sebagai orang yang baik.  Seorang di sampingku berbisik, muridnya menyerahkan dia kepada tentara Romawi dengan 30 keping perak.

Tapi... Mengapa orang ini? Mengapa ia nampak begitu pasrah? Mengapa ia membiarkan dirinya dicerca? Mengapa ia tak menunjukkan kekuatannya?  Kekuatan yang sama ketika ia menyembuhkan banyak orang dan ketika ia melakukan banyak mukjizat.
Di mana? Dimana keberaniannya ketika ia berdebat dengan orang farisi dan ahli taurat?  Di mana nyalinya ketika ia membela ketidakadilan yang terjadi di halaman bait Allah yang berubah jadi pasar? Di mana, di mana ketegasannya ketika harus berhadapan dengan orang-orang yang membawa perempuan yang berzinah kepadanya?

Mengapa salib itu membuat ia diam..tak berdaya.. dan memalukan?
Langit makin gelap! Golgota mencekam! Dan hati bergolak!  Apa sebenarnya salib itu baginya?
------
Pada salib itu, aku melihat; Diskriminasi, aku melihat Segala bentuk ketidakadilan, aku melihat Marjinalisasi, Kekerasan, Penindasan dan segala penderitaan manusia. 
Apakah ia membiarkan dirinya memikul semua itu? Ya, bersamanya ia menyalibkan segala bentuk kejahatan dan dosa.
Rupanya, ia tidak selemah seperti yang kukira pada awalnya.  Kekuatannya yang sesungguhnya ia nampakkan dalam perjuangan yang hening untuk mengangkat dan mengembalikan harkat dan martabat manusia. 

Salib itu merobohkan segala jarak; antara yang transenden dan imanen, antara yang ilahi dan manusiawi. Antara yang kaya dan yang miskin, antara yang lemah dan yang kuat, antara budak dan orang merdeka. 
Salib merobohkan segala jarak dan keangkuhan!!

Melalui salib, ia memberi dirinya demi martabat kemanusiaan.

Jenifer,
6/7 April 2012

Friday, April 6, 2012

Dia Pikul Salib Demi Kita



 Cathy Jo Moore

Ketika Dia bergumul di taman Getsemani
Kitalah yang Dia pertaruhkan
Dia sadar Dia harus mati
Supaya kita dibebaskan

Ketika Dia dihadapkan kepada umat
Mereka berteriak-teriak: Salibkan Dia! Salibkan Dia!
Dia dapat memanggil sepuluh ribu malaikat
Namun Dia sadar kita semua yang tidak berdaya

Ketika mereka telanjangi Dia
Dan mencambuk Dia berdarah-darah
Dia dapat memanggil sepuluh ribu malaikat
Namun demi kita Dia memilih diam saja.

Kasih Yesus sangat besar
Ya, karena besar kasih-Nya kepada kita manusia
Dia tetap bertahan disiksa
Dia sadar derita-sengsara itu harus Dia alami.

Ketika Dia terseok-seok mendaki jalan itu memikul salib-Nya
Di setiap langkah-Nya Dia dapat tunjukkan Kuasa-Nya
Tetapi kasih-Nya membuat Dia tegar mendaki ke bukit itu
Dia tahu harus menanggung dosa-dosa kita di tubuh-Nya.

Oh, betapa sangat Dia peduli
Paku tajam-panjang ditancap tembus tangan dan kaki-Nya
Menghunjam ke dalam balok kayu salib-Nya
Hanya itu caranya Dia genapi rencana besar Ilahi.

Di bukit Tengkorak itu, di antara dua penjahat
Mereka pancangkan salib-Nya.
Dan apakah yang dilihat-Nya?
Dia melihat betapa kita semua tersesat.

Sebenarnya Dia dapat memanggil para malaekat-Nya
Dan mereka pasti akan segera bertindak membebaskan Dia.
Namun dia sadar benar bahwa kitalah yang perlu diselamatkan.

Dosa-dosa kita amatlah banyak, kita buatdosa  sepanjang hidup kita
Namun semua telah dibayar-Nya lunas.

Dengan memilih menerima siksa-derita di kayu salib itu
Dia akhirnya menang perang melawan kuasa dosa
Di salib-Nya itu Dia menanggung dosa-dosa kita
Dosa semua orang dibasuh darah-Nya

Ya, Dia pikul salib-Nya dan Dia dipaku di salib itu demi kita
Karena Dia benar-benar mengasihi kita.

He Carried That Cross For Us
http://www.turnbacktogod.com/poem-he-carried-that-cross-for-us/
Terjemahan bebas oleh Pdt. Zakaria Ngelow (Jumat Agung 2012)

Tuesday, March 20, 2012

Sikap Gereja dalam melawan Korupsi






Keputusan Sidang MPL PGI, No. 12/MPL-PGI/XV/2012
tgl 26-30 Januari 2012 
di Melonguane, Kab. Kepulauan Talaud
Sulawesi Utara


A.     PENDAHULUAN
Indonesia adalah negeri yang kaya dan subur. Namun justru di negeri yang berlimpah sumber daya alam ini, sebagian besar rakyat Indonesia terpuruk dalam kemiskinan. Akar penyebabnya adalah korupsi berlangsung sistemik. Korupsi telah merampas hak anak-anak untuk menikmati akses pendidikan yang berkualitas dan mengambil dengan paksa hak jutaan masyarakat yang tidak dapat merasakan pelayanan kesehatan yang memadai. Di samping memotong hak masyarakat untuk merasakan hasil-hasil pembangunan, korupsi juga telah menyebabkan berkurangnya lingkup jangkauan dan mutu pembangunan sarana dan prasarana kesejahteraan rakyat banyak. Sungguh, korupsi adalah kejahatan yang luar biasa (extraordinary crime).
Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang menjadi salah satu issu utama Reformasi belum sepenuhnya dijalankan dengan baik. Dalam berbagai kasus malah terkesan, pemberantasan korupsi melukai rasa keadilan masyarakat. Sungguh sebuah paradoks, ketika para pejabat yang sudah menjadi tersangka kasus korupsi dengan mudah menerima vonis bebas pengadilan, sementara segelintir rakyat miskin yang mengambil tiga biji kakao atau setandan pisang karena terdesak kebutuhan untuk bertahan hidup, harus menerima hukuman yang lebih berat. Tingkat korupsi yang begitu tinggi juga sangat paradoks dengan ideologi Pancasila dan  Indonesia sebagai negara yang agamis.
Sementara itu, pemerintahan yang dikelola oleh warga gereja di basis-basis kristen pun tidak luput dari masalah korupsi. Beberapa pejabat yang berasal dari warga gereja juga ada yang terlibat tindak pidana korupsi.
Dalam perspektif kristen, perbuatan korupsi adalah penyangkalan terhadap hakekat manusia sebagai gambar Allah, Imago Dei (Kej 1:27). Alkitab mengajarkan kita untuk mengecam segala usaha yang mencari keuntungan bagi diri sendiri dan kelompok, melalui penyalahgunaan jabatan dan kekuasaan (Mat 23:25).  Gereja seharusnya menyaksikan pola hidup sederhana sebagaimana diajarkan Yesus, yang harus mengutamakan harta sorgawi daripada harta duniawi (Mat 6:19, bnd Mat 19:21).

B.   SIKAP GEREJA-GEREJA
Oleh karena itu Sidang MPL PGI di Melonguane yang berlangsung 26-30 Januari 2012, setelah membahas dan menganalisis kenyataan korupsi di Indonesia, mengambil kesimpulan bahwa korupsi telah menjadi suatu kejahatan sosial yang tidak dapat diterima. Korupsi merusak akhlak secara individu dan sosial. Korupsi juga telah memotong/menghilangkan  hak-hak masyarakat dalam memperoleh kesejahteraan. Korupsi adalah perbudakan manusia kepada Mammon, yang merupakan penyangkalan terhadap Allah yang setia memelihara kehidupan manusia.  Mega-korupsi di kalangan penyelenggara negara kita dewasa ini menista martabat manusia dan sekaligus melecehkan kekudusan Allah.  Atas dasar itu Sidang MPL PGI 2012 di Melonguane menyatakan sikap untuk melawan korupsi sampai ke akar-akarnya.

B.     PANDUAN BAGI GEREJA UNTUK MELAWAN KORUPSI
1.       Gereja konsisten menunjukkan pola hidup sederhana, kerja keras, saling berbagi, dan menjadi contoh yang baik dalam pengelolaan anggaran dan aset-aset gereja yang transparan dan akuntabel. Gereja harus bersih dari perilaku koruptif.
2.       Memastikan bahwa gereja berada di garda terdepan melawan segala bentuk korupsi.
3.       Mendorong gereja-gereja untuk melakukan pendidikan anti korupsi melalui kurikulum pengajaran sekolah minggu dan katekisasi, sehingga pemahaman korupsi sebagai kejahatan luar biasa ditanamkan sejak usia dini. Pendidikan anti korupsi juga dilakukan melalui bahan khotbah dan pembinaan warga jemaat.
4.       Gereja menempatkan diri sebagai partner kritis pemerintah yang saling memberdayakan. Gereja juga  harus berani menyatakan penolakan terhadap sumbangan/bantuan yang terindikasi korupsi agar terhindar dari praktek pencucian uang (money laundry) yang berkedok bantuan sosial.
5.       Gereja-gereja menjauhkan diri dari godaan untuk mendukung pasangan tertentu dalam perhelatan Pemilu dan Pemilukada dan memberi apresiasi kepada pemimpin yang takut akan Allah dan benci kepada pengejaran suap (Kel 18:21).

Saturday, February 25, 2012

Ash Wednesday Prayers

Doa Rabu Abu

Jesus, you place on my forehead
the sign of my sister Death:
“Remember you are dust,
and to dust you shall return.”

Tuhan Yesus, Engkau menaruh di dahiku
Tanda dari Sang Maut, saudariku:
"Ingatlah engkau abu,
dan akan kembali ke debu."

How not hear her wise advice?
One day my life on earth will end;
the limits on my years are set,
though I know not the day or hour.
Shall I be ready to go to meet you?
Let this holy season be a time of grace
for me and all this world.

Bagaimana tak kusimak petuah bijaknya?
Suatu hari hidupku di dunia akan berakhir;
batas umurku telah ditentukan,
meski tak kutahu hari dan saatnya.
Harukah aku bersiap menemui-Mu?
Biarlah masa kudus ini jadi suatu masa rahmat
bagiku dan semua orang. 

“Teach us to number our days aright,
that we may gain wisdom of heart.”

"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami dengan benar,
sehingga kami beroleh hikmat nurani"

O Jesus, you place on my forehead
the sign of your saving Cross:
“Turn from sin and be faithful
to the gospel.”

Ya Yesus,  Engkau menaruh abu di dahiku
tanda dari salib-Mu yang menyelamatkan:
"Bertobatlah dari dosa dan setialah
kepada Injil."

How can I turn from sin
unless I turn to you?

Bagaimanakah aku bertobat dari dosa
jika tidak berbalik kepada-Mu?

You speak, you raise your hand,
you touch my mind and call my name,
“Turn to the Lord your God again.”

Engkau bersabda, Engkau mengangkat tangan-Mu,
Engkau menyentuh pikiranku, dan memanggil namaku,
"Baliklah lagi kepada Tuhan Allahmu"

These days of your favor
leave a blessing as you pass
on me and all your people.
Turn to us, Lord God,
and we shall turn to you.

Di hari-hari perkenanmu ini
Engkau beri berkat ketika lewat
atasku dan atas semua umat-Mu.
Baliklah kepada kami, Tuhan Allah,
dan kami akan berbalik kepadamu.

Teks dari: http://www.cptryon.org/prayer/season/ash.html
terjemahan: Zakaria Ngelow.
Minggu Sengsara Pertama 2012

Catatan:
Rabu Abu
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
 http://id.wikipedia.org/wiki/Rabu_Abu
Dalam agama Kristen tradisi barat (termasuk Katolik Roma dan Protestanisme), Rabu Abu adalah hari pertama masa Pra-Paskah. Ini terjadi pada hari Rabu, 40 hari sebelum Paskah tanpa menghitung hari-hari Minggu atau 44 hari (termasuk Minggu) sebelum hari Jumat Agung. Pada hari ini umat yang datang ke Gereja dahinya diberi tanda salib dari abu sebagai simbol upacara ini. Simbol ini mengingatkan umat akan ritual Israel kuna di mana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan (misalnya seperti dalam Kitab Ester 4:1, 3). Dalam Mazmur 102:10 penyesalan juga digambarkan dengan "memakan abu": "Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan." Biasanya pemberian tanda tersebut disertai dengan ucapan, "Bertobatlah dan percayalah pada Injil."

Seringkali pada hari ini bacaan di Gereja diambil dari Alkitab, kitab II Samuel 11-12, perihal raja Daud yang berzinah dan bertobat.

Banyak orang Katolik menganggap hari Rabu Abu sebagai hari untuk mengingat kefanaan seseorang. Pada hari ini umat Katolik berusia 18–59 tahun diwajibkan berpuasa, dengan batasan makan kenyang paling banyak satu kali, dan berpantang.

Sunday, January 8, 2012

Membangun Jemaat-jemaat GKSS dalam Tujuh Tahun Kedepan

Catatan lama ini dimuat menyambut penetapan program GKSS Jemaat Mattirobaji thn 2012. Semoga bermanfaat.
Ma’minasa 2015: Membangun Jemaat-jemaat GKSS dalam Tujuh Tahun Kedepan [Berdasarkan presentasi pada peringatan HUT GKSS, 10 Juni 2008 di Pandangpandang]
Saudara-saudara pimpinan dan warga GKSS Klasis Makassar, salam sejahtera dalam Nama Tuhan Yesus Kristus. Selamat Merayakan Hari Ulang Tahun GKSS, 12 Juni 2008 (sekalipun saya berpendapat GKSS lahir bukan pada persidangan Sinode tahun 1966 di Makassar, melainkan persiapan sinode tahun 1965 di Soppeng). Melalui tulisan singkat ini, saya ingin memperjelas gagasan yang saya mulai kedepankan dalam percakapan di gereja Jemaat GKSS Pandang-pandang pada tanggal 10 Juni : Merumuskan Visi Jemaat 2015. Dan sekalipun gagasan ini untuk jemaat-jemaat GKSS Klasis Makassar (yang berlokasi di Makassar dan Sungguminasa – itu makna Ma’minasa sebagai singkatan, di samping makna kata: minasa = cita-cita luhur) para pimpinan dan warga jemaat lainnya, bahkan di luar GKSS bebas mengaplikasikan bagi jemaatnya.
1. Titik Tolak Merumuskan Visi Jemaat untuk tujuh tahun mendatang bertolak dari dua hal mendasar, yakni (1) panggilan Tuhan atas gereja-Nya yang dijalankan dalam jemaat adalah panggilan mulia yang tidak bisa dikerjakan secara rutin tanpa perencanaan dan pelaksanaan yang serius; (2) kehidupan jemaat-jemaat masa kini sudah harus diselenggarakan mengikuti pola kerja managemen organisasi moderen untuk dapat berhasil melakukan tugasnya atau mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, misi gereja – yang berakar dalam missi Deo, misi Allah mengasihi-menyelamatkan dunia – perlu dijabarkan ke dalam visi jangka pendek untuk diwujudkan melalui perencanaan dan pelaksanaan yang efisien dan efektif.
2. Siapa? Perumusan Visi Jemaat dilakukan oleh seluruh jajaran pimpinan jemaat: pendeta jemaat, Majelis Jemaat, pimpinan OIG, bahkan tua-tua dan para tokoh di dalam jemaat. Perumusan harus berlangsung secara terbuka dan kritis, dan dalam prinsip kebersamaan: bersama-sama menggagas masa depan bersama! Setiap orang wajib memberi dan dipertimbangkan pendapatnya sedemikian rupa bahwa rumusan yang dicapai adalah rumusan bersama, bukan rumusan dari satu orang. Dalam suatu organisasi, kemampuan bersama jauh lebih baik atau lebih besar, dari kemampuan seorang atau beberapa orang saja dalam organisasi itu. Dalam urusan visi, kalau orang bermimpi sendiri maka mimpinya tetap mimpi, tetapi kalau mimpi bersama-sama maka mimpinya akan menjadi kenyataan.
3. Data Perumusan Visi Jemaat harus didasarkan pada data jemaat yang jelas dan akurat, karena visi harus bertolak dari kenyataan aktual. Karena itu pimpinan (Majelis) Jemaat harus memiliki data yang selengkap mungkin. Perumusan visi tidak bisa dikerjakan dengan bertolak dari perkiraan-perkiraan saja. Data itu terutama harus mencerminkan potensi di dalam jemaat, yang menjadi modal atau kekuatan dalam penyelenggaraan tugas atau pencapaian tujuan jemaat.
4. Visi dan Citra Bertolak dari kenyataan jemaat saat ini, apa yang anda yakin – dengan perkenan Tuhan -- dapat diwujudkan tahun 2015 melalui upaya-upaya bersama secara serius dan terencana memajukan jemaat. Pilihlah berdasarkan visi tadi, aspek yang mendapat tekanan utama -- koinonia, martyria, diakonia -- apa “citra diri jemaat” yang anda anggap paling tepat bagi jemaat anda? Rumuskan secara konrit dalam kalimat slogan, misalnya “Jemaat Yang Memuji”; atau “Jemaat Yang Peduli.” Dapat pula dengan tambahan logo. Visi Jemaat terkait dengan aspek-aspek tri-panggilan gereja (koinonia, martyria, diakonia) atau enam panggilan sebagaimana dikembangkan Oase (koinonia, martyria, diakonia + oikonomia, leitourgia, didache). Dalam hal ini perlu memilih aspek yang paling cocok menjadi penekanan dalam jemaat, yakni sesuai potensi yang ada. Rumusan Visi Jemaat dalam bentuk kalimat pendek yang mengungkapkan “mimpi” apa yang anda bersama-sama. Rumusan visi haruslah menggetarkan hati, atau membakar semangat untuk mewujudkannya. Sebagaimana dinyatakan di atas, visi haruslah urusan bersama, mimpi bersama yang menggetarkan-menggerakkan seluruh jemaat. Sebagai contoh-contoh: Dalam pencitraan dirinya, Jemaat GKSS Pandang-pandang bermimpi “menjadi jemaat yang beribadah”, yakni mengandalkan potensi menyanyi warganya untuk melayani melalui paduan suara dan nyanyian jemaat. Terkait dengan itu adalah pembaruan liturgi yang memungkinkan potensi diaktualisasikan (bakat-bakat yang ada tersalurkan), dan juga dapat berlangsung “ibadah yang menggetarkan hati”. Jemaat GKSS Makkio Baji bermimpi “menjadi jemaat diakonia”, yang mampu menyediakan bantuan materil – melalui usaha pengembangan sumber dana – untuk membantu secara karitatif maupun transformatif warga gereja dan warga masyarakat; termasuk layanan kesehatan, pengembangan SDM, dsb. Jemaat GKSS Kertago Borongloe masih mencari-cari yang relevan bagi potensinya. Wakil-wakil jemaat ini mengedepankan berbagai kebutuhan sarana/prasarana (renovasi gedung gereja, ruangan pastoral, dsb) dan rupanya belum sampai pada suatu kejelasan apa mimpinya untuk tujuh tahun ke depan.
5. Layanan Unggulan Pencitraan diri secara ideal, seperti Jemaat GKSS Makkio Baji “menjadi jemaat diakonia” atau “jemaat yang peduli kaum miskin” [ini contoh saja, yang masih dapat dikembangkan lebih lanjut] menyiratkan bahwa layanan unggulan jemaat ini adalah di bidang diakonia sosial. Jemaat gkss Pandang-pandang mengedepankan koinonia-liturgis (kebaktian yang menggetarkan hati). Layanan-layanan unggulan macam ini, akan berdampak terhadap aspek-aspek lain kehidupan jemaat: menjadi kesaksian yang menarik orang-orang untuk bergabung (sehingga menambah jumlah warga), mendorong pengambangan diri warga sehingga aspek kemajuan kwalitas iman, kasih, pengharapan meningkat pula, termasuk segi-segi persaudaraan yang menguat.
6. Jemaat Ideal Saya telah menyampaikan gambaran umum jemaat yang ideal, yakni menonjol salah satu atau beberapa hal berikut [biasanya yang satu mendukung terwujudnya yang lain]:
* Ibadah jemaat menggetarkan: entah tenang teduh, entah hingar-bingar dengan musik dan nyanyian, tetapi orang mengikuti dengan penuh perasaan dan konsentrasi. *Adanya pelayanan pastoral yang dirasakan orang sebagai dukungan menghadapi berbagai pergumulan pribadi dan keluarga; bahkan dalam bentuk program trauma healing. *Adanya persaudaraan yang akrab dalam jemaat dan jaringan ekumenis antar jemaat/gereja: orang mengalami kehidupan sebagai sesama warga gereja sebagai satu keluarga besar yang saling peduli dan terikat. Dalam pertemuan ibadah berlangsung pula percakapan-percakapan, bahkan sharing pergumulan (curhat); terbuka saling bantu melayani dalam keperluan. Bergairah bersama mendukung kegiatan-kegiatan yang diprogramkan jemaat, dsb. Terdapat pula hubungan-gubungan ekumenis antar jemaat/gereja karena orang termotivasi dan bergairah dalam setiap kegiatan bersama. * Angka pertambahan warga yang bermakna: jemaat yang hidup dengan persekutuan yang akrab diminati orang (band. Kis 2:42-47). Sebaliknya, orang malas dan pelan-pelan mengundurkan diri dari persekutuan yang suam; orang kehilangan gairah dan motivasi untuk mendukung kegiatan jemaat. *Aktivitas diakonia dan/atau pastoral: jemaat yang hidup memang memberi perhatian pada kebutuhan warganya, juga kebutuhan sosial-ekonomi. Dan bukan sekadar bikisan Natal atau Paskah (model BLT?), melainkan suatu program rutin yang berbentuk diakonia karitatif maupun transformatif, bahkan bisa dalam bentuk crisis center. *Partisipasi warga sebagai SDM bertalenta: jemaat yang hidup mendorong dan memberi kesempatan pada setiap warga untuk memanfaatkan talentanya dalam pelayanan jemaat. Entah apa, tetapi setiap warga dilengkapi Tuhan dengan talenta (1 Kor 12: 4 dst), yang dapat dimanfaatkan secara langsung atau setelah melalui program-program pemberdayaan. *Jaringan dialog antar-iman: penting pula bahwa jemaat sadar akan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat umum, yang dalam konteks kita adalah masyarakat majemuk juga dalam agama. Sebab itu hubungan-hubungan antar-penganut agama (interfaith) yang harmonis perlu dikembangkan. Ada sedikitnya tiga alasan teologis untuk itu: (1) Allah adalah Tuhan atas semua orang dan semesta ciptaan, yang juga mengasihi semua orang; (2) dalam panggilam misioner jemaat, kesaksian Injil hanya dapat dinyatakan melalui pergaulan yang baik dengan semua orang; dan (3) panggilan gereja mendukung kehidupan bersama yang rukun selaku satu bangsa Indonesia. *Pengembangan sarana teknologi informasi / komunikasi. Di setiap jemaat dapat dikembangkan pusat data, informasi dan pelayanan, misalnya melalui internet dalam bentuk mailing list atau website dan weblog. Siaran radio juga merupakan sarana layanan yang dapat dipertimbangkan diselenggarakan jemaat.
7. Pilihan Culture Gereja diikat oleh nilai-nilai Kristen yang dijabarkan dari Firman Tuhan. Culture suatu jemaat adalah nilai yang dipromosikan sebagai nilai andalan yang membentuk karakter suatu jemaat. Rasul Paulus menyebut tiga nilai utama: iman, pengharapan dan kasih (1 Kor 13:13). Tetapi ada pula nilai-nilai kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5:22,23). Nilai mana paling cocok untuk jemaat anda? Sebaiknya pilihan nilai untuk menjadi karakter culture suatu jemaat dihubungkan dengan citra diri ideal dan program layanan unggulannya. Karena Makkio Baji, misalnya, mengidealkan citra diri sebagai jemaat diakonia, maka culture-nya cocok dengan kemurahan.
8. Visi dan Kepemimpinan Percakapan di Pandang-pandang menyinggung aspek leadership, management dan pendeta jemaat. Pimpinan Jemaat (dalam hal ini Majelis dan Pendeta Jemaat) adalah sekaligus leader dan manager. Kedua fungsi itu dapat dibandingkan sbb:
  • LEADER Ber-inovasi Mengembangkan Meng-inspirasi Berpandangan jangka-panjang Mempersoalkan apa dan mengapa Memulai yang baru Menantang status quo Do the right things
  • MANAGER Meng-administrasikan Memelihara Mengontrol Berpandangan jangka-pendek Mempersoalkan bagaimana dan kapan Mem-formal-kan Menerima status quo Do things right
Visi dimulai oleh pemimpin, namun harus menjadi visi bersama seluruh jemaat. Jadi, dalam prakteknya, perumusan visi dilakukan dalam kapasitas sebagai leader, namun dalam pelaksanaannya lebih sebagai manager. Karena itu Pimpinan Jemaat harus sungguh-sungguh memahami konsepsi visi jemaat dan mengetahui berbagai aspek operasional aplikasinya sesuai prinsip-prinsip efektivitas dan efisiensi managemen organisasi moderen. Pimpinan jemaat harus memulai memantapkan dalam kalangannya. Pendeta dan seluruh Majelis jemaat harus sungguh-sungguh sefaham mengenai visi dan langkah-langkah aplikasinya. Tidak boleh ada perbedaan pemahaman yang akan membingungkan jemaat. Dalam hal ini penting dokumen-dokumen rumusan tertulis sebagai acuan bersama.
9. SWOT dan Aksi Visi yang telah dirumuskan secara lengkap perlu dijabarkan ke dalam aksi, atau program-program pelaksanaannya. Untuk suatu visi tujuh tahun, perlu program per tahun yang sedemikian rupa berangsung-angsur mewujudkannya. Program-program aksi tahunan itu akan bergantung pada hasil analisis SWOT, yang merupakan kegiatan pertama setelah perumusan visi. Dengan perumusan Visi telah ditetapkan suatu tujuan. Maka berdasarkan tujuan itu suatu analisis SWOT dikerjakan secara saksama untuk menemukan kekuatan-kekuatan (Strengths) dan kelemahan-kelemahan (Weaknesses) di dalam jemaat, dan peluang-peluang (Opportunities) serta tantangan-tantangan (Threats) dari luar.
10. Status jemaat ekumene? Status “jemaat oikoumene” membuka kemungkinan warga jemaat menjadi anggota rangkap di jemaat GKSS dan di jemaat gereja lain. Saya menghimbau pimpinan jemaat dan pimpinan Klasis/Sinode GKSS meninjau lagi status keanggotaan rangkap itu, karena lebih menjadi beban daripada pendukung pelayanan. Jemaat ekumene [ini ejaan yang baku dalam bahasa Indonesia daripada bentuk kata bahasa Latin: oikoumene] sebaiknya bukan status keanggotaan warga jemaat, melainkan status kelembagaan jemaat, yakni sebagai jemaat yang terbentuk dari latar warga gereja yang berbeda-beda di bawah tanggungjawab PGIW, yang diserahkan kepada pelayanan GKSS. Dengan tidak adanya keanggotaan rangkap, warga jemaat dapat berkonsentrasi untuk hak-hak dan kewajiban-kewajibannya dalam jemaat.
11. Bagaimana mulai? Suatu pemanasan telah dilakukan dalam pertemuan kemarin di Pandang-pandang. Harapan saya adalah masing-masing jemaat mulai mengembangkan wacana visi jemaat untuk tujuh tahun mendatang, sehingga tiba pada suatu momen yang tepat untuk merumuskan dan menetapkannya. Mudah-mudahan dengan tuntunan Roh Tuhan mimpi ini menjadi kenyataan.
Salam, Zakaria Ngelow

Monday, September 12, 2011

Partisipasi Gereja dalam Pembangunan Daerah Tertinggal

image
DAERAH TERTINGGAL, 7 TAHUN KEMUDIAN
Disampaikan oleh: Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe

http://pgi.or.id/article/78641/partisipasi-gereja-dalam-pembangunan-daerah-tertinggal.html
 
 


I. 
Semiloka Makassar Tujuh Tahun Kemudian
Pada 20-21 September 2004 diselenggarakan "Seminar dan Lokakarya (Semiloka) Nasional Peranan Pimpinan Gereja Dalam Membangun Daerah Tertinggal" di kota Makassar, Sulawesi Selatan. 7 (tujuh) tahun kemudian, sebuah semiloka serupa kita selenggarakan lagi di Waingapu, Sumba Timur, NTT (9-10 September 2011). Mau tidak mau kita bertanya, adakah sesuatu yang berkembang dalam 7 tahun terakhir ini? Adakah gereja-gereja mengambil manfaat dari Semiloka di Makassar itu yang diakomodasikan di dalam program kerja gereja masing-masing? Atau kita hanya berlangkah di tempat, sehingga istilah "daerah tertinggal" tetap saja dilekatkan pada daerah-daerah itu yang sedikit-banyaknya juga punya dampak bagi kehidupan gereja-gereja sendiri? Pertanyaan ini patut diajukan sebagai sebuah introspeksi, jangan-jangan pelaksanaan semiloka seperti ini hanyalah untuk menghabiskan anggaran pemerintah, tanpa membawa hasil konkret apapun.
Dalam 7 tahun terakhir ini bisa saja terjadi, daerah-daerah yang dulunya "maju" sekarang menjadi tertinggal (sayang sekali!) dan yang dulu tertinggal sekarang maju (syukurlah!). Atau malah semuanya tertinggal (ini lebih tragis lagi!), sebagaimana secara kasat mata kita menyaksikan dewasa ini misalnya sarana-sarana jalan yang bukannya makin baik melainkan makin buruk. Kita juga mendengar gedung-gedung sekolah dasar yang ambruk di mana-mana karena pembangunannya yang memang tidak memenuhi syarat. Atau orang-orang sakit yang tidak bisa dilayani karena ongkos rumah sakit makin mahal, sementara Puskesmas-puskesmas juga tidak merupakan pilihan yang masuk akal. Karena itu ditetapkannya sebuah kementerian di dalam struktur pemerintahan RI guna secara khusus mengarahkan perhatian kepada daerah-daerah tertinggal adalah sesuatu yang baik, tetapi sekaligus juga merupakan pengakuan bahwa pembangunan di negeri kita selama ini tidak merata. Sebagai demikian kita menghadapi persoalan yang sangat serius, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Di era Orde Baru dikenal istilah "Go East". Sekarang ini istilah itu hampir tidak dipakai lagi, bukan karena Timur sudah mapan, melainkan memang ternyata yang tertinggal bukan hanya daerah-daerah di Timur, melainkan juga di Barat.
MOU antara Kementerian PDT dengan PGI yang sekarang diperbarui dengan penandatanganannya di Tobelo, Halmahera Utara dalam bulan Februari 2011 lalu merupakan "payung" bagi kerjasama selanjutnya antara gereja-gereja dengan Kementerian tersebut dalam 5 tahun mendatang. Maka sesudah Semiloka ini kami mengharapkan dan menyerukan kepada gereja-gereja dengan segera mengambil langkah-langkah praksis (aksi) sehingga sungguh-sungguh terciptalah berbagai perkembangan konkret di dalam mengubah ketertinggalan ke arah kemajuan.


II. 
Partisipasi Gereja Dalam Pembangunan
Bahwa gereja berpartisipasi dalam pembangunan bukan lagi merupakan persoalan. Sebagaimana berkali-kali telah dikemukakan dalam berbagai kesempatan, perubahan paradigma berpikir dan bertindak gereja-gereja di Indonesia bermula dari Sidang Raya Pematang Siantar (1971). Pada saat itu Injil direinterpretasi sebagai "Berita Pembebasan" yang sangat konkret menyangkut kehidupan sehari-hari. Lukas 4:18-19 dilihat sebagai sebuah berita yang mestinya dijalankan oleh gereja-gereja di dalam menghadapi berbagai persoalan di dalam dunia dan masyarakat yang di dalamnya mereka berada. PGI telah beberapa kali menyelenggarakan konsultasi-konsultasi mengenai partisipasi gereja dalam pembangunan (yang secara khusus menyoroti pembangunan), dan konferensi-konferensi gereja dan masyarakat. Tetapi tentu saja apa yang dilakukan gereja tidak terlepas dari segala sesuatu yang dilakukan masyarakat dan pemerintah. Kesejahteraan gereja tergantung kepada kesejahteraan masyarakat (Yer. 29:7). Tidaklah patut apabila gereja makmur sendiri dan membiarkan lingkungannya miskin papa. Seringkali secara simbolis kita melihat hal itu dalam bentuk gedung gereja yang "mewah" di tengah-tengah masyarakatnya yang kumuh. Memang ada kebanggaan tersendiri bagi masyarakat yang, walaupun miskin namun berhasil membangun  sesuatu yang bagus "untuk Tuhan". Tetapi kalau sebuah gedung yang hanya dipakai seminggu sekali menguras begitu banyak dana, sementara masyarakatnya makin miskin saja rasanya tidak juga berkenan kepada Tuhan. Dalam sebuah novel  berjudul "Robohnya Surau Kami" (A. A. Navis), diceriterakan mengenai Haji Salim yang selama ini setia menunggui surau lalu meninggal setelah suraunya itu ambruk diterjang topan. Ia menghadap malaekat di sorga dengan sebuah kayakinan bahwa ia akan dimasukkan ke dalam surga. Bukankah selama ini sangat rajin beribadah? Apalagi setia menunggui surau? Ternyata ia dirujuk ke naraka. Tentu saja ia protes, menyangka Tuhan pasti "keliru". Ternyata Tuhan tidak keliru. Ia memang dibuang ke naraka karena telah mengabaikan anugerah Tuhan berupa tanah air Indonesia yang kaya dan hanya sibuk dengan berdoa dan berzikir. Tuhan bersabda: "Kau sangka Aku gila hormat sehingga setiap detik nama-Ku dipanggil? Maka waktumu disia-siakan hanya untuk memanggil-manggil Aku sementara kesempatan untuk mengolah tanah diabaikan." Saya kira cara berpikir jemaat kita harus diubah, supaya lebih giat bekerja, kendati ibadah tentu saja tetap penting.
Max Weber yang menulis buku berjudul, "Die Protestantische Etik und der Geist des Kapitalismus" berhasil membuktikan, bahwa spiritualitas orang Kristen calvinis yang dianut di Eropa dan Amerika telah berhasil membawa negeri-negeri itu menjadi kaya raya dibandingkan dengan negeri-negeri selatan yang miskin (setidak-tidaknya ketika buku ini ditulis). Keyakinan bahwa mereka terpilih (predestinasi) dibuktikan dengan kerja keras dan sikap hemat. Askese dialihkan dari biara-biara ke tengah-tengah dunia (innerweltlich askese). Sayang juga bahwa di kalangan orang-orang Kristen penganut Calvin di Indonesia hal ini tidak menjadi kenyataan. Malah sebagian besar daerah yang di dalamnya gereja-gereja berpengaruh merupakan daerah-daerah miskin. "Lingkar luar" Indonesia yang miskin berpenghuni mayoritas orang-orang Kristen. Saya kira hal ini harus menjadi bahan perenungan kita.


III. 
Apa Yang Akan Dilakukan?
Dalam Semiloka Makassar (2004) saya mengusulkan agar pendidikan dimajukan. Usul itu masih saya pegang sampai sekarang. Sekarang ini roh (neo) kapitalisme dan liberalisme di bidang ekonomi juga sudah memasuki lembaga-lembaga pendidikan sehingga pendidikan makin menjadi komoditas yang ditawarkan dengan harga mahal. Akibatnya hanya orang-orang kaya yang menikmati pendidikan yang baik sementara orang-orang miskin tetap  terbengkalai. Gereja-gereja harus sungguh-sungguh berusaha agar yang paling miskin justru memperoleh pendidikan yang baik. Di Leilam, Sulawesi Utara ada sebuah lembaga bernama "Jehovah Jireh" yang didirikan oleh seorang pensiunan pendeta. Ia mendidik anak-anak miskin sejak "Kelompok Bermain" dan "TK" secara gratis. Syarat untuk masuk ke situ adalah benar-benar tidak sanggup. Visinya adalah, orang-orang miskin diberi kesempatan menempuh pendidikan yang baik agar bisa sama dengan mereka yang berkecukupan.
Usaha-usaha lain di bidang ekonomi bisa saja dilakukan dengan bantuan dan atau tanpa bantuan Kementerian PDT. Kendati Kementerian PDT mempunyai maksud mulia, tetapi jangan dilupakan bahwa mereka juga mempunyai dana terbatas. Maka bantuan-bantuan Kementerian ini haruslah dilihat sebagai perangsang guna mendorong pembangunan yang dilakukan sendiri secara swadaya. Persoalan kemiskinan akut yang masih kita alami dewasa ini di Indonesia tidak bisa ditanggulangi secara kharitatif saja, melainkan sungguh-sungguh ditanggulangi secara struktural. Maka peranan berbagai pihak, terutama pemerintah untuk menerapkan filosofi pembangunan yang bertolak dari keadilan sangat dibutuhkan. Dewasa ini ditengarai banyak UU yang tidak terlalu memihak rakyat. Sebaliknya para investor sangat diuntungkan dengan UU tersebut, sementara rakyat disingkirkan. Fenomena itu terlihat misalnya dalam makin tersingkirnya pasar-pasar tradisional digantikan oleh mal-mal besar yang kebanyakan merupakan milik pihak asing. Maka yang terjadi bukanlah pembangunan Indonesia, melainkan pembangunan di Indonesia. Dengan kata-kata lain, orang-orang Indonesia akan menjadi penonton saja dari segala riuh-rendah pembangunan ini. Contoh sangat jelas kita lihat di Timika. Kekayaan Timika tidak dinikmati oleh orang Papua. Paling-paling mereka hanya memperoleh remah-remahnya saja berupa "Dana Otsus", itu pun hanya dinikmati oleh para elitnya di Papua dalam kerjasama dengan orang-orang Jakarta. Sikap Walikota Solo yang berani melawan Gubernur yang memaksakan pembangunan mal patut diapresiasi. Ia tidak sekadar melawan buta, melainkan sungguh-sungguh melihat dari segi faedahnya bagi rakyat kebanyakan.
Tugas gereja adalah mengingatkan semua pihak bahwa pembangunan memang penting bagi sebuah masyarakat, tetapi ia harus memperlihatkan segi-segi keadilannya.
Sidang MPL-PGI di Tobelo memuat Pikiran Pokok: "Memperkuat Persekutuan, Merawat Kemajemukan, Memelihara Lingkungan". Hal memelihara lingkungan juga merupakan kewajiban yang tidak bisa diabaikan apabila kita ingin umat manusia lestari dan alam lingkungan menjadi "home" bagi semua yang hidup.
Demikianlah beberapa pokok pemikiran saya. Kiranya bermanfaat.


*) Disampaikan Dalam Semiloka Gereja-gereja dan Kementerian PDT di Waingapu, Sumba Timur, 9 September 2011.

Monday, May 23, 2011

Damai Sejahtera Kristus

Memaknai Damai Sejahtera Kristus dalam Konteks Dunia yang Bergumul
(Bacaan Alkitab: Injil Yohanes 20:19-23)

Pdt. Armin Sukri, M.Th

Pendeta GKSS, Durektur Yayasan Pelayanan Reformed Makassar (YPRM)


Saudara-saudara seiman di dalam Tuhan Yesus Kristus, saat ini kita masih berada dalam masa post Paskah (minggu-minggu setelah Peristiwa Kebangkitan Yesus), dimana dalam masa tersebut Alkitab memberi kesaksian mengenai beberapa peristiwa perjumpaan Yesus dengan murid-murid-Nya sebelum naik ke surga. Peristiwa tersebut ditulis juga oleh Penulis Injil Yohanes sebagaimana yang kita baca dalam perikop tadi.

Saudara-saudara yang kekasih di dalam Tuhan!

1. Situasi Para Murid

Apa yang terjadi kepada murid-murid Tuhan Yesus setelah peristiwa penangkapan sampai kepada kematian-Nya? Beberapa ahli tafsir Alkitab mengatakan bahwa murid-murid Yesus ketika itu bercerai berai dan ada yang kembali ke tempat kediamannya masing-masing. Namun demikian dari keterangan Alkitab kita dapatkan bahwa pada hari pertama dalam seminggu, murid-murid mengadakan pertemuan,

Pertemuan para murid ini tidak dijelaskan apakah berlangsung setiap hari pertama dalam Minggu itu dan juga tidak di sebutkan hari apa yang dimaksud. Tetapi menurut kalender atau penanggalan Romawi maka hari pertama dalam seminggu adalah jatuh pada hari Minggu.


ayat 19: Ketika hari sudah malam pada hari pertama Minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus.Pada pasal 20:1 juga didapati keterangan akan adanya suatu pertemuan diantara mereka ketika peristiwa kebangkitan Yesus terjadi (cf. Lukas 24:1, Matius 28:1). Selanjutnya diberikan keterangan bahwa pada waktu itu murid-murid Yesus dilanda rasa takut terhadap orang-orang Yahudi. Ada beberapa alasan yang dapat kita kemukakan mengenai ketakutan para Murid.

· Ada kemungkinan orang-orang Yahudi pada waktu itu tidak hanya berhenti ketika mereka berhasil menyalibkan Yesus, tetapi mereka juga berusaha menangkap para murid dan mereka yang terkait dengan pekerjaan Yesus. Bagi mereka gerakan yang dibawa oleh Yesus merupakan ancaman besar dalam tata keagamaan mereka. Hal ini kita dapat lihat dalam ajaran-ajaran Yesus dan kritikan-kritikannya terhadap pemimpin-pemimpin Yahudi khususnya dari golongan Farisi dan Saduki (Matius 12:1-8, Murid-murid Yesus dinilai tidak menghormati Sabat dengan memetik gandum. (Matius 12:915a, Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Matius 16:5-12 (c.f. Markus 8:14-21), waspada terhadap orang Farisi dan Saduki.

· Kebangkitan Yesus yang ditandai dengan kubur yang kosong (tubuh Yesus hilang dari kubur) menghasilkan kecurigaan dikalangan para pemimpin orang Yahudi bahwa para muridlah yang telah mencuri dan memindahkan tubuh tersebut dari dalam kubur.

· Para pemimpin agama khawatir kalau-kalau peristiwa penyaliban Yesus dan berita tentang kebangkitan-Nya membawa pengaruh dalam masyarakat dan keagaamaan. Mereka takut kalau para murid dapat memimpin gerakan keagamaan yang dapat mengancam kedudukan mereka.

Dalam suasana yang demikian para murid (dan kemungkinan pengikut-pengikut Tuhan yang lain) merasa mereka tidak tentram, tidak aman atau kelangsungan hidup mereka terancam. Itulah sebabnya mereka berkumpul dengan pintu-pintu dalam keadaan terkunci.

Dalam situasi yang sama yaitu dicekam oleh ketakutan terhadap kekuasaan, baik itu yang datang dari golongan-golongan agama, masyarakat dan pemerintah, banyak para pengikut Tuhan Yesus (orang-orang Kristen) sekarang ini tidak memiliki kebebasan untuk bersekutu. Mereka berkumpul dalam tempat-tempat yang dirahasiakan (bawah tanah), jauh dari jangkauan banyak orang dan dalam keadaan yang serba terbatas (mis. Kekristenan di Tiongkok, sebagian Africa dll).

2. Penampakan Yesus di depan para Murid

Selanjutnya dalam ayat 19b dikatakan, Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Dalam suasana yang dilanda ketakutan ini, Yesus datang dan menampakkan diri kepada murid-murid-Nya yang hadir pada saat itu. Dalam Injil lain dikatakan bahwa ketika Yesus datang secara tiba-tiba dan berdiri ditengah-tengah mereka, para murid terkejut dan takut sebab mereka menyangka bahwa mereka melihat hantu (Lukas 24:37). Ini adalah suatu gejala psikologis (Psychological Phenomena), dimana seseorang yang berada dalam keadaan tertekan dan ketakutan biasanya tidak dapat berfikir dengan baik dan tenang. Pada saat itu para murid tidak dapat mengenal dengan baik dan jelas Guru mereka yang selama lebih kurang tiga setengah tahun bersama-sama dengan mereka dalam pelayanan. Bahkan tidak sampai di situ saja, mereka menyangka bahwa Yesus yang berdiri di hadapan mereka itu adalah hantu (Saya kira ini sudah biasa dalam situasi kita, kalau ada orang yang sudah mati secara tiba-tiba muncul ditengah-tengah orang banyak pasti akan menimbulkan efek seperti yang dialami oleh para murid). Tetapi lebih jauh Lukas mengisahkan bahwa penampakan Yesus ini adalah penampakan secara Jasmaniah bukan dalam wujud roh seperti halnya hantu. Lukas 24:39 disana Yesus berkata, …Aku sendirilah ini, .rabahlah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya. Bahkan dalam ayat 41, Yesus meminta kepada mereka makanan untuk dimakan-Nya. Ini benar-benar membuktikan bahwa Yesus yang hadir di depan mereka adalah Yesus yang dulu mereka kenal dan bersama-sama dalam pelayanan. Yesus yang berdiri dihadapan mereka adalah Tuhan yang telah bangkit secara jasmaniah dan menang atas kuasa maut (Ada banyak ajaran sekarang yang berkembang bahwa Yesus tidak bangkit secara jasmaniah. Kebangkitan Yesus adalah kebangkitan secara rohaniah yang dikaitkan dengan pernyataan iman para murid. Atau dengan kata lain bahwa kebangkitan Yesus adalah hasil imaginasi para murid yang pada saat itu berada dalam keadaan yang penuh dengan tekanan).

· Apa arti penampakan Yesus dalam konteks para murid masa itu?

Penampakan Yesus merupakan suatu jaminan dan sekaligus jawaban terhadap ketakutan dan tekanan yang dihadapi para murid. Kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka merupakan bukti bahwa Yesus ada bersama dengan mereka. Para murid tidak perlu khawatir dan takut terhadap situasi yang sedang mereka hadapi, sebab Yesus telah benar-benar bangkit dan kebangkitan-Nya itu merupakan bukti kemenangan-Nya atas segala kuasa yang ada bahkan maut sekalipun (Roma 6:9, Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. c.f. Matius 28:18, Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.).

Penampakan Yesus merupakan suatu momentum (saat yang penuh arti) agar para murid dapat berdiri teguh dan mempersiapkan diri untuk suatu tugas yang akan mereka terima kelak, yaitu pergi untuk memberitakan kabar keselamatan di dalam Kristus (Matius 28:19:20, Markus 16:15, Lukas 24:47, dan Kisah Rasul 1:8). Dalam melaksanakan tugas ini para murid tidak perlu takut dan gentar sebab Yesus yang telah bangkit dan menampakkan diri secara Jasmaniah kepada mereka adalah juga Yesus yang berjanji bahwa Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20 akhir).

3. Menghayati Damai Sejahtera Kristus

Ketika Yesus menampakkan diri kepada mereka, Ia berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Ingglish : Peace be with you! Hebrew: Syalom dan Greek: eirene=Syalom ) dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan Lambung-Nya kepada para murid (ayat 19 akhir dan 20). Damai sejahtera atau Syalom dihubungkan dengan keselamatan (Kel.4:13, Markus 5:34 dan Lukas 7:50), Ketentraman (Mazmur 4:8), Kemujuran (Mazmur 73:3) dll. Dalam kata ini terkandung pengertian bahwa keselamatan, ketentraman, kemujuran, kedamaian, sukacita dan kebahagiaan telah hadir ditengah-tengah kehidupan para murid. Dengan pengertian ini, berarti bahwa ketakutan dan perasaan tertekan yang dialami oleh para murid pada waktu itu berganti dengan sukacita, kedamaian, ketentraman, kebahagiaan dan keselamatan melalui kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka. Damai sejahtera kini menjadi bagian dari kehidupan mereka dan diberikan kepada mereka sebagai suatu kenyataan dalam kehidupan mereka.

Namun yang menarik di sini adalah setelah mengucapkan “Damai sejahtera bagi kamu!”, Yesus menunjukkan bekas luka ditangan-Nya dan lambung-Nya yang merupakan simbol atau tanda penderitaan-Nya. Disini ada semacam hal yang sangat contrast antara pengertian damai sejahtera dan simbol penderitaan Yesus. Dua hal yang sama sekali bertentangan dalam batasan pengertian bahasa kita (pemahaman kita). Damai sejahtera menempatkan manusia dalam situasi bahagia sedangkan stigmata atau bekas luka Tuhan Yesus menempatkan manusia dalam situasi penderitaan.

· Apa makna dari realitas (kenyataan) ini?

Damai sejahtera dan simbol penderitaan Yesus merupakan dua hal yang tidak dipisahkan dalam panggilan para murid. Kedua hal ini ibaratkan dua sisi mata uang yang selalu hadir secara bersama-sama. Tanpa sisi yang lain maka uang logam itu tidak berarti apa-apa, sebaliknya akan berarti besar bila keduanya saling melengkapi.

Damai sejahtera dalam pemanggilan para murid tidak terlepas dari penderitaan sebagai pengikut-pengikut Kristus. Yesus sendiri sudah memperingatkan hal ini kepada murid-murid-Nya sebelum Dia disalibkan. Lukas 14:27, Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. C.f. Matius 1624, Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya dan mengikut Aku.

Damai sejahtera selalu berjalan beriringan dengan konsekwensi sebagai murid-murid Yesus yaitu penderitaan. Hal ini dapat dilihat kemudian dalam sejarah pekabaran Injil/Gereja bahwa hampir semua murid Tuhan Yesus mati sebagai martyr (Yakobus mati dengan pedang, Petrus di salibkan dll). Juga dalam perkembangan orang Kristen selanjutnya bahwa mereka tidak pernah lepas dari penderitaan sampai pada hari ini oleh karena iman mereka kepada Yesus Kristus. Jemaat mula-mula hidup menderita dalam pemerintahan kekaisaran Romawi, bahkan ada sebuah catatan dalam sejarah gereja bahwa tubuh orang-orang Kristen dijadikan obor untuk menerangi kota Roma pada malam hari dan mereka dijadikan mangsa binatang buas dalam gelanggang olahraga. Namun demikian semangat para murid dalam pemberitaan Injil tidak pernah mundur demikian juga semangat orang-orang Kristen pada masa itu tidak pernah patah. Orang Kristen adalah ibarat sebuah tanaman yang semakin dibabat semakin merambat. Inilah yang dimaksudkan Paulus ketika dia berkata,”Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit, kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan namun tidak binasa (2 Korintus 4:8-9).

Pertanyaan bagi kita adalah apa yang menjadi pegangan setiap murid Tuhan dalam situasi penderitaan? Jawabannya adalah sebab Damai sejahtera Kristus ada ditengah-tengah mereka. Damai sejahtera Kristus berbeda dengan damai sejahtera yang ditawarkan oleh dunia ini yang semata-mata hanya menjanjikan kesenangan, kenikmatan, materialisme, dan lain sebagainya tetapi yang sifatnya sementara saja. Nabi Yesaya berkata, Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering dan bunga menjadi layu… (Yesaya 40:6-7). Damai sejahtera Kristus yang memberikan jaminan kebahagiaan dan keselamatan hidup yang kekal merupakan pendorong semangat mereka dalam melaksanakan tugas pemberitaan Injil. Orientasi mereka jauh kemasa depan dan bukan hanya terfokus kepada apa yang ditawarkan oleh dunia ini. Sama seperti Bapa mengutus Dia demikianlah juga Yesus mengutus murid-murid-Nya dengan kuasa ke dalam dunia ini (ayat 21-23). Rasul Paulus menegaskan bahwa Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya… (Filipi 3:7-8). Paulus telah memperoleh Damai Sejahtera yang sejati yaitu Damai Sejahtera Kristus, dengan demikian meskipun dia menderita sebagai pengikut Kristus, namun Ia tahu bahwa di dalam Kristus dia akan memperoleh kebahagiaan dan kedamaian yang sejati.

Aplikasi dan Kesimpulan

Saudara-saudara yang kekasih di dalam Kristus!

Bagaimana kita menghayati Damai sejahtera Kristus dalam terang Paskah di tengah-tengah kehidupan kita saat ini?

· Kita hidup dalam dunia yang penuh tawaran dan tantangan

Saat ini kita hidup dalam dunia yang sedang mengalami perubahan. Modernisasi yang ditandai dengan kemajuan tekhnologi dan pembangunan menghasilkan banyak tawaran dan tantangan. Kita ditawarkan dengan berbagai hal yang menjanjikan kemudahan dan keseronokan (mulai dari hal yang terkecil sampai kepada hal yang paling utama dalam kebutuhan hidup kita). Sekaligus kita ditantantang untuk lebih kritis dan kreatif dalam berbagai aspek kehidupan kita (pendidikan, pekerjaan dan bahkan pelayanan kita), sebab kalau tidak kita hanya akan tinggal sebagai penonton saja. Ketika orang sudah maju selangkah kita masih diam di tempat dan ketika orang sudah berhasil baru kita sadar akan kegagalan kita. Namun, sebagai murid-murid Tuhan kita harus waspada dengan apa yang dijanjikan oleh dunia ini. Semua kebahagiaan, kenikmatan, dan kesejahteraan yang ditawarkan oleh dunia ini memang tidak salah untuk kita rasakan dan terima karena selama kita hidup didunia maka kitapun membutuhkannya. Tetapi semua itu harus dinilai secara kritis berdasarkan ukuran dan norma Kristus. Atau dengan kata lain sangat penting bagi kita untuk “berjaga-jaga dan berdoa”, artinya adalah sebagaimana dikatakan oleh rasul Paulus, Karena itu perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari itu jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan… (Efesus 5:15-17). Kita memikirkan hal-hal yang ada di atas dan bukan diperhamba oleh hal-hal yang ada di bumi (c.f. Kolose 3:2). Mintalah Damai Sejahtera Kristus untuk berdiam ditengah-tengah kamu…

· Damai sejahtera Kristus menjadi kekuatan dalam menghadapi penderitaan sebagai murid-murid-Nya.

Kekristenan tidak pernah menjanjikan suatu kehidupan yang serba enak, mudah, aman, dsb. Tetapi orang Kristen tidak pernah terlepas dari salib yang harus kita pikul kapan dan dimanapun masa itu terjadi dalam kehidupan kita. Kita harus selalu siap sedia untuk menghadapi situasi yang tersulit sekalipun dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Kekuatan kita adalah Kristus yang telah bangkit dan memperlihatkan diri kepada murid-murid-Nya dan memberi mereka damai sejahtera. Yesus yang ada dulu adalah sama dengan Yesus yang ada di dalam kita. Dia tidak berubah dari saat ini sekarang dan selama-Nya (amin!).

Seperti janji-Nya kepada para murid bahwa Aku akan menyertai engkau sampai kepada akhir zaman adalah juga janjinya kepada kita saat ini dan tidak ada satu kuasa apapun yang akan memisahkan kita dari Kristus (Roma 8:35-39). Barangkali kita tidak akan mengalami peristiwa yang dialami para murid pada waktu itu, yaitu Yesus menampakkan diri secara jasmani ditengah-tengah mereka. Tetapi ini bukan alasan kita untuk meragukan ataupun tidak mempercayai sama sekali kuasa Kristus. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (Yohanes 20:29 akhir).

Kristus yang telah bangkit dan kepada-Nya telah diberikan kuasa baik di bumi dan di surga juga berkuasa atas kehidupan kita. Justru di dalam penderitaan, kita dapat mengenal betapa besar kuasa dan kasih Tuhan dalam hidup kita dan betapa indah damai sejahtera yang disediakan bagi kita. Damai sejahtera kristus bersama dengan kita, terpujilah Tuhan…….. (Amin).