Ini memang bukan hal yang baru, tapi entah mengapa kali ini rasanya ada yang berbeda dari penyaliban yang biasanya. Aku mengenalnya, memang tidak pernah bercakap secara langsung, tapi aku selalu melihatnya.
Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! (Mazmur 34:9)
Saturday, April 7, 2012
Dalam Jumat yang Agung
Ini memang bukan hal yang baru, tapi entah mengapa kali ini rasanya ada yang berbeda dari penyaliban yang biasanya. Aku mengenalnya, memang tidak pernah bercakap secara langsung, tapi aku selalu melihatnya.
Friday, April 6, 2012
Dia Pikul Salib Demi Kita
Tuesday, March 20, 2012
Sikap Gereja dalam melawan Korupsi
Keputusan Sidang MPL PGI, No. 12/MPL-PGI/XV/2012,
di Melonguane, Kab. Kepulauan Talaud,
Sulawesi Utara
Saturday, February 25, 2012
Ash Wednesday Prayers
Doa Rabu Abu
the sign of my sister Death:
“Remember you are dust,
and to dust you shall return.”
Tuhan Yesus, Engkau menaruh di dahiku
Tanda dari Sang Maut, saudariku:
"Ingatlah engkau abu,
dan akan kembali ke debu."
How not hear her wise advice?
One day my life on earth will end;
the limits on my years are set,
though I know not the day or hour.
Shall I be ready to go to meet you?
Let this holy season be a time of grace
for me and all this world.
Bagaimana tak kusimak petuah bijaknya?
Suatu hari hidupku di dunia akan berakhir;
batas umurku telah ditentukan,
meski tak kutahu hari dan saatnya.
Harukah aku bersiap menemui-Mu?
Biarlah masa kudus ini jadi suatu masa rahmat
bagiku dan semua orang.
“Teach us to number our days aright,
that we may gain wisdom of heart.”
"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami dengan benar,
sehingga kami beroleh hikmat nurani"
the sign of your saving Cross:
“Turn from sin and be faithful
to the gospel.”
Ya Yesus, Engkau menaruh abu di dahiku
tanda dari salib-Mu yang menyelamatkan:
"Bertobatlah dari dosa dan setialah
kepada Injil."
How can I turn from sin
unless I turn to you?
Bagaimanakah aku bertobat dari dosa
jika tidak berbalik kepada-Mu?
You speak, you raise your hand,
you touch my mind and call my name,
“Turn to the Lord your God again.”
Engkau bersabda, Engkau mengangkat tangan-Mu,
Engkau menyentuh pikiranku, dan memanggil namaku,
"Baliklah lagi kepada Tuhan Allahmu"
These days of your favor
leave a blessing as you pass
on me and all your people.
Turn to us, Lord God,
and we shall turn to you.
Di hari-hari perkenanmu ini
Engkau beri berkat ketika lewat
atasku dan atas semua umat-Mu.
Baliklah kepada kami, Tuhan Allah,
dan kami akan berbalik kepadamu.
terjemahan: Zakaria Ngelow.
Minggu Sengsara Pertama 2012
http://id.wikipedia.org/wiki/Rabu_AbuRabu AbuDari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Dalam agama Kristen tradisi barat (termasuk Katolik Roma dan Protestanisme), Rabu Abu adalah hari pertama masa Pra-Paskah. Ini terjadi pada hari Rabu, 40 hari sebelum Paskah tanpa menghitung hari-hari Minggu atau 44 hari (termasuk Minggu) sebelum hari Jumat Agung. Pada hari ini umat yang datang ke Gereja dahinya diberi tanda salib dari abu sebagai simbol upacara ini. Simbol ini mengingatkan umat akan ritual Israel kuna di mana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan (misalnya seperti dalam Kitab Ester 4:1, 3). Dalam Mazmur 102:10 penyesalan juga digambarkan dengan "memakan abu": "Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan." Biasanya pemberian tanda tersebut disertai dengan ucapan, "Bertobatlah dan percayalah pada Injil."Seringkali pada hari ini bacaan di Gereja diambil dari Alkitab, kitab II Samuel 11-12, perihal raja Daud yang berzinah dan bertobat.Banyak orang Katolik menganggap hari Rabu Abu sebagai hari untuk mengingat kefanaan seseorang. Pada hari ini umat Katolik berusia 18–59 tahun diwajibkan berpuasa, dengan batasan makan kenyang paling banyak satu kali, dan berpantang.
Sunday, January 8, 2012
Membangun Jemaat-jemaat GKSS dalam Tujuh Tahun Kedepan
Ma’minasa 2015: Membangun Jemaat-jemaat GKSS dalam Tujuh Tahun Kedepan [Berdasarkan presentasi pada peringatan HUT GKSS, 10 Juni 2008 di Pandangpandang]Saudara-saudara pimpinan dan warga GKSS Klasis Makassar, salam sejahtera dalam Nama Tuhan Yesus Kristus. Selamat Merayakan Hari Ulang Tahun GKSS, 12 Juni 2008 (sekalipun saya berpendapat GKSS lahir bukan pada persidangan Sinode tahun 1966 di Makassar, melainkan persiapan sinode tahun 1965 di Soppeng). Melalui tulisan singkat ini, saya ingin memperjelas gagasan yang saya mulai kedepankan dalam percakapan di gereja Jemaat GKSS Pandang-pandang pada tanggal 10 Juni : Merumuskan Visi Jemaat 2015. Dan sekalipun gagasan ini untuk jemaat-jemaat GKSS Klasis Makassar (yang berlokasi di Makassar dan Sungguminasa – itu makna Ma’minasa sebagai singkatan, di samping makna kata: minasa = cita-cita luhur) para pimpinan dan warga jemaat lainnya, bahkan di luar GKSS bebas mengaplikasikan bagi jemaatnya.
1. Titik Tolak Merumuskan Visi Jemaat untuk tujuh tahun mendatang bertolak dari dua hal mendasar, yakni (1) panggilan Tuhan atas gereja-Nya yang dijalankan dalam jemaat adalah panggilan mulia yang tidak bisa dikerjakan secara rutin tanpa perencanaan dan pelaksanaan yang serius; (2) kehidupan jemaat-jemaat masa kini sudah harus diselenggarakan mengikuti pola kerja managemen organisasi moderen untuk dapat berhasil melakukan tugasnya atau mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, misi gereja – yang berakar dalam missi Deo, misi Allah mengasihi-menyelamatkan dunia – perlu dijabarkan ke dalam visi jangka pendek untuk diwujudkan melalui perencanaan dan pelaksanaan yang efisien dan efektif.
2. Siapa? Perumusan Visi Jemaat dilakukan oleh seluruh jajaran pimpinan jemaat: pendeta jemaat, Majelis Jemaat, pimpinan OIG, bahkan tua-tua dan para tokoh di dalam jemaat. Perumusan harus berlangsung secara terbuka dan kritis, dan dalam prinsip kebersamaan: bersama-sama menggagas masa depan bersama! Setiap orang wajib memberi dan dipertimbangkan pendapatnya sedemikian rupa bahwa rumusan yang dicapai adalah rumusan bersama, bukan rumusan dari satu orang. Dalam suatu organisasi, kemampuan bersama jauh lebih baik atau lebih besar, dari kemampuan seorang atau beberapa orang saja dalam organisasi itu. Dalam urusan visi, kalau orang bermimpi sendiri maka mimpinya tetap mimpi, tetapi kalau mimpi bersama-sama maka mimpinya akan menjadi kenyataan.
3. Data Perumusan Visi Jemaat harus didasarkan pada data jemaat yang jelas dan akurat, karena visi harus bertolak dari kenyataan aktual. Karena itu pimpinan (Majelis) Jemaat harus memiliki data yang selengkap mungkin. Perumusan visi tidak bisa dikerjakan dengan bertolak dari perkiraan-perkiraan saja. Data itu terutama harus mencerminkan potensi di dalam jemaat, yang menjadi modal atau kekuatan dalam penyelenggaraan tugas atau pencapaian tujuan jemaat.
4. Visi dan Citra Bertolak dari kenyataan jemaat saat ini, apa yang anda yakin – dengan perkenan Tuhan -- dapat diwujudkan tahun 2015 melalui upaya-upaya bersama secara serius dan terencana memajukan jemaat. Pilihlah berdasarkan visi tadi, aspek yang mendapat tekanan utama -- koinonia, martyria, diakonia -- apa “citra diri jemaat” yang anda anggap paling tepat bagi jemaat anda? Rumuskan secara konrit dalam kalimat slogan, misalnya “Jemaat Yang Memuji”; atau “Jemaat Yang Peduli.” Dapat pula dengan tambahan logo. Visi Jemaat terkait dengan aspek-aspek tri-panggilan gereja (koinonia, martyria, diakonia) atau enam panggilan sebagaimana dikembangkan Oase (koinonia, martyria, diakonia + oikonomia, leitourgia, didache). Dalam hal ini perlu memilih aspek yang paling cocok menjadi penekanan dalam jemaat, yakni sesuai potensi yang ada. Rumusan Visi Jemaat dalam bentuk kalimat pendek yang mengungkapkan “mimpi” apa yang anda bersama-sama. Rumusan visi haruslah menggetarkan hati, atau membakar semangat untuk mewujudkannya. Sebagaimana dinyatakan di atas, visi haruslah urusan bersama, mimpi bersama yang menggetarkan-menggerakkan seluruh jemaat. Sebagai contoh-contoh: Dalam pencitraan dirinya, Jemaat GKSS Pandang-pandang bermimpi “menjadi jemaat yang beribadah”, yakni mengandalkan potensi menyanyi warganya untuk melayani melalui paduan suara dan nyanyian jemaat. Terkait dengan itu adalah pembaruan liturgi yang memungkinkan potensi diaktualisasikan (bakat-bakat yang ada tersalurkan), dan juga dapat berlangsung “ibadah yang menggetarkan hati”. Jemaat GKSS Makkio Baji bermimpi “menjadi jemaat diakonia”, yang mampu menyediakan bantuan materil – melalui usaha pengembangan sumber dana – untuk membantu secara karitatif maupun transformatif warga gereja dan warga masyarakat; termasuk layanan kesehatan, pengembangan SDM, dsb. Jemaat GKSS Kertago Borongloe masih mencari-cari yang relevan bagi potensinya. Wakil-wakil jemaat ini mengedepankan berbagai kebutuhan sarana/prasarana (renovasi gedung gereja, ruangan pastoral, dsb) dan rupanya belum sampai pada suatu kejelasan apa mimpinya untuk tujuh tahun ke depan.
5. Layanan Unggulan Pencitraan diri secara ideal, seperti Jemaat GKSS Makkio Baji “menjadi jemaat diakonia” atau “jemaat yang peduli kaum miskin” [ini contoh saja, yang masih dapat dikembangkan lebih lanjut] menyiratkan bahwa layanan unggulan jemaat ini adalah di bidang diakonia sosial. Jemaat gkss Pandang-pandang mengedepankan koinonia-liturgis (kebaktian yang menggetarkan hati). Layanan-layanan unggulan macam ini, akan berdampak terhadap aspek-aspek lain kehidupan jemaat: menjadi kesaksian yang menarik orang-orang untuk bergabung (sehingga menambah jumlah warga), mendorong pengambangan diri warga sehingga aspek kemajuan kwalitas iman, kasih, pengharapan meningkat pula, termasuk segi-segi persaudaraan yang menguat.
6. Jemaat Ideal Saya telah menyampaikan gambaran umum jemaat yang ideal, yakni menonjol salah satu atau beberapa hal berikut [biasanya yang satu mendukung terwujudnya yang lain]:
* Ibadah jemaat menggetarkan: entah tenang teduh, entah hingar-bingar dengan musik dan nyanyian, tetapi orang mengikuti dengan penuh perasaan dan konsentrasi. *Adanya pelayanan pastoral yang dirasakan orang sebagai dukungan menghadapi berbagai pergumulan pribadi dan keluarga; bahkan dalam bentuk program trauma healing. *Adanya persaudaraan yang akrab dalam jemaat dan jaringan ekumenis antar jemaat/gereja: orang mengalami kehidupan sebagai sesama warga gereja sebagai satu keluarga besar yang saling peduli dan terikat. Dalam pertemuan ibadah berlangsung pula percakapan-percakapan, bahkan sharing pergumulan (curhat); terbuka saling bantu melayani dalam keperluan. Bergairah bersama mendukung kegiatan-kegiatan yang diprogramkan jemaat, dsb. Terdapat pula hubungan-gubungan ekumenis antar jemaat/gereja karena orang termotivasi dan bergairah dalam setiap kegiatan bersama. * Angka pertambahan warga yang bermakna: jemaat yang hidup dengan persekutuan yang akrab diminati orang (band. Kis 2:42-47). Sebaliknya, orang malas dan pelan-pelan mengundurkan diri dari persekutuan yang suam; orang kehilangan gairah dan motivasi untuk mendukung kegiatan jemaat. *Aktivitas diakonia dan/atau pastoral: jemaat yang hidup memang memberi perhatian pada kebutuhan warganya, juga kebutuhan sosial-ekonomi. Dan bukan sekadar bikisan Natal atau Paskah (model BLT?), melainkan suatu program rutin yang berbentuk diakonia karitatif maupun transformatif, bahkan bisa dalam bentuk crisis center. *Partisipasi warga sebagai SDM bertalenta: jemaat yang hidup mendorong dan memberi kesempatan pada setiap warga untuk memanfaatkan talentanya dalam pelayanan jemaat. Entah apa, tetapi setiap warga dilengkapi Tuhan dengan talenta (1 Kor 12: 4 dst), yang dapat dimanfaatkan secara langsung atau setelah melalui program-program pemberdayaan. *Jaringan dialog antar-iman: penting pula bahwa jemaat sadar akan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat umum, yang dalam konteks kita adalah masyarakat majemuk juga dalam agama. Sebab itu hubungan-hubungan antar-penganut agama (interfaith) yang harmonis perlu dikembangkan. Ada sedikitnya tiga alasan teologis untuk itu: (1) Allah adalah Tuhan atas semua orang dan semesta ciptaan, yang juga mengasihi semua orang; (2) dalam panggilam misioner jemaat, kesaksian Injil hanya dapat dinyatakan melalui pergaulan yang baik dengan semua orang; dan (3) panggilan gereja mendukung kehidupan bersama yang rukun selaku satu bangsa Indonesia. *Pengembangan sarana teknologi informasi / komunikasi. Di setiap jemaat dapat dikembangkan pusat data, informasi dan pelayanan, misalnya melalui internet dalam bentuk mailing list atau website dan weblog. Siaran radio juga merupakan sarana layanan yang dapat dipertimbangkan diselenggarakan jemaat.
7. Pilihan Culture Gereja diikat oleh nilai-nilai Kristen yang dijabarkan dari Firman Tuhan. Culture suatu jemaat adalah nilai yang dipromosikan sebagai nilai andalan yang membentuk karakter suatu jemaat. Rasul Paulus menyebut tiga nilai utama: iman, pengharapan dan kasih (1 Kor 13:13). Tetapi ada pula nilai-nilai kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5:22,23). Nilai mana paling cocok untuk jemaat anda? Sebaiknya pilihan nilai untuk menjadi karakter culture suatu jemaat dihubungkan dengan citra diri ideal dan program layanan unggulannya. Karena Makkio Baji, misalnya, mengidealkan citra diri sebagai jemaat diakonia, maka culture-nya cocok dengan kemurahan.
8. Visi dan Kepemimpinan Percakapan di Pandang-pandang menyinggung aspek leadership, management dan pendeta jemaat. Pimpinan Jemaat (dalam hal ini Majelis dan Pendeta Jemaat) adalah sekaligus leader dan manager. Kedua fungsi itu dapat dibandingkan sbb:
LEADER Ber-inovasi Mengembangkan Meng-inspirasi Berpandangan jangka-panjang Mempersoalkan apa dan mengapa Memulai yang baru Menantang status quo Do the right things
MANAGER Meng-administrasikan Memelihara Mengontrol Berpandangan jangka-pendek Mempersoalkan bagaimana dan kapan Mem-formal-kan Menerima status quo Do things right
Visi dimulai oleh pemimpin, namun harus menjadi visi bersama seluruh jemaat. Jadi, dalam prakteknya, perumusan visi dilakukan dalam kapasitas sebagai leader, namun dalam pelaksanaannya lebih sebagai manager. Karena itu Pimpinan Jemaat harus sungguh-sungguh memahami konsepsi visi jemaat dan mengetahui berbagai aspek operasional aplikasinya sesuai prinsip-prinsip efektivitas dan efisiensi managemen organisasi moderen. Pimpinan jemaat harus memulai memantapkan dalam kalangannya. Pendeta dan seluruh Majelis jemaat harus sungguh-sungguh sefaham mengenai visi dan langkah-langkah aplikasinya. Tidak boleh ada perbedaan pemahaman yang akan membingungkan jemaat. Dalam hal ini penting dokumen-dokumen rumusan tertulis sebagai acuan bersama.
9. SWOT dan Aksi Visi yang telah dirumuskan secara lengkap perlu dijabarkan ke dalam aksi, atau program-program pelaksanaannya. Untuk suatu visi tujuh tahun, perlu program per tahun yang sedemikian rupa berangsung-angsur mewujudkannya. Program-program aksi tahunan itu akan bergantung pada hasil analisis SWOT, yang merupakan kegiatan pertama setelah perumusan visi. Dengan perumusan Visi telah ditetapkan suatu tujuan. Maka berdasarkan tujuan itu suatu analisis SWOT dikerjakan secara saksama untuk menemukan kekuatan-kekuatan (Strengths) dan kelemahan-kelemahan (Weaknesses) di dalam jemaat, dan peluang-peluang (Opportunities) serta tantangan-tantangan (Threats) dari luar.
10. Status jemaat ekumene? Status “jemaat oikoumene” membuka kemungkinan warga jemaat menjadi anggota rangkap di jemaat GKSS dan di jemaat gereja lain. Saya menghimbau pimpinan jemaat dan pimpinan Klasis/Sinode GKSS meninjau lagi status keanggotaan rangkap itu, karena lebih menjadi beban daripada pendukung pelayanan. Jemaat ekumene [ini ejaan yang baku dalam bahasa Indonesia daripada bentuk kata bahasa Latin: oikoumene] sebaiknya bukan status keanggotaan warga jemaat, melainkan status kelembagaan jemaat, yakni sebagai jemaat yang terbentuk dari latar warga gereja yang berbeda-beda di bawah tanggungjawab PGIW, yang diserahkan kepada pelayanan GKSS. Dengan tidak adanya keanggotaan rangkap, warga jemaat dapat berkonsentrasi untuk hak-hak dan kewajiban-kewajibannya dalam jemaat.
11. Bagaimana mulai? Suatu pemanasan telah dilakukan dalam pertemuan kemarin di Pandang-pandang. Harapan saya adalah masing-masing jemaat mulai mengembangkan wacana visi jemaat untuk tujuh tahun mendatang, sehingga tiba pada suatu momen yang tepat untuk merumuskan dan menetapkannya. Mudah-mudahan dengan tuntunan Roh Tuhan mimpi ini menjadi kenyataan.Salam, Zakaria Ngelow
Monday, September 12, 2011
Partisipasi Gereja dalam Pembangunan Daerah Tertinggal
I. Semiloka Makassar Tujuh Tahun Kemudian
II. Partisipasi Gereja Dalam Pembangunan
III. Apa Yang Akan Dilakukan?
*) Disampaikan Dalam Semiloka Gereja-gereja dan Kementerian PDT di Waingapu, Sumba Timur, 9 September 2011.
Monday, May 23, 2011
Damai Sejahtera Kristus
(Bacaan Alkitab: Injil Yohanes 20:19-23)
Pdt. Armin Sukri, M.Th
Pendeta GKSS, Durektur Yayasan Pelayanan Reformed Makassar (YPRM)
Saudara-saudara seiman di dalam Tuhan Yesus Kristus, saat ini kita masih berada dalam masa post Paskah (minggu-minggu setelah Peristiwa Kebangkitan Yesus), dimana dalam masa tersebut Alkitab memberi kesaksian mengenai beberapa peristiwa perjumpaan Yesus dengan murid-murid-Nya sebelum naik ke surga. Peristiwa tersebut ditulis juga oleh Penulis Injil Yohanes sebagaimana yang kita baca dalam perikop tadi.
Saudara-saudara yang kekasih di dalam Tuhan!
1. Situasi Para Murid
Apa yang terjadi kepada murid-murid Tuhan Yesus setelah peristiwa penangkapan sampai kepada kematian-Nya? Beberapa ahli tafsir Alkitab mengatakan bahwa murid-murid Yesus ketika itu bercerai berai dan ada yang kembali ke tempat kediamannya masing-masing. Namun demikian dari keterangan Alkitab kita dapatkan bahwa pada hari pertama dalam seminggu, murid-murid mengadakan pertemuan,
ayat 19: Ketika hari sudah malam pada hari pertama Minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus.Pada pasal 20:1 juga didapati keterangan akan adanya suatu pertemuan diantara mereka ketika peristiwa kebangkitan Yesus terjadi (cf. Lukas 24:1, Matius 28:1). Selanjutnya diberikan keterangan bahwa pada waktu itu murid-murid Yesus dilanda rasa takut terhadap orang-orang Yahudi. Ada beberapa alasan yang dapat kita kemukakan mengenai ketakutan para Murid.
· Ada kemungkinan orang-orang Yahudi pada waktu itu tidak hanya berhenti ketika mereka berhasil menyalibkan Yesus, tetapi mereka juga berusaha menangkap para murid dan mereka yang terkait dengan pekerjaan Yesus. Bagi mereka gerakan yang dibawa oleh Yesus merupakan ancaman besar dalam tata keagamaan mereka. Hal ini kita dapat lihat dalam ajaran-ajaran Yesus dan kritikan-kritikannya terhadap pemimpin-pemimpin Yahudi khususnya dari golongan Farisi dan Saduki (Matius 12:1-8, Murid-murid Yesus dinilai tidak menghormati Sabat dengan memetik gandum. (Matius 12:915a, Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Matius 16:5-12 (c.f. Markus 8:14-21), waspada terhadap orang Farisi dan Saduki.
· Kebangkitan Yesus yang ditandai dengan kubur yang kosong (tubuh Yesus hilang dari kubur) menghasilkan kecurigaan dikalangan para pemimpin orang Yahudi bahwa para muridlah yang telah mencuri dan memindahkan tubuh tersebut dari dalam kubur.
· Para pemimpin agama khawatir kalau-kalau peristiwa penyaliban Yesus dan berita tentang kebangkitan-Nya membawa pengaruh dalam masyarakat dan keagaamaan. Mereka takut kalau para murid dapat memimpin gerakan keagamaan yang dapat mengancam kedudukan mereka.
Dalam suasana yang demikian para murid (dan kemungkinan pengikut-pengikut Tuhan yang lain) merasa mereka tidak tentram, tidak aman atau kelangsungan hidup mereka terancam. Itulah sebabnya mereka berkumpul dengan pintu-pintu dalam keadaan terkunci.
Dalam situasi yang sama yaitu dicekam oleh ketakutan terhadap kekuasaan, baik itu yang datang dari golongan-golongan agama, masyarakat dan pemerintah, banyak para pengikut Tuhan Yesus (orang-orang Kristen) sekarang ini tidak memiliki kebebasan untuk bersekutu. Mereka berkumpul dalam tempat-tempat yang dirahasiakan (bawah tanah), jauh dari jangkauan banyak orang dan dalam keadaan yang serba terbatas (mis. Kekristenan di Tiongkok, sebagian Africa dll).
2. Penampakan Yesus di depan para Murid
Selanjutnya dalam ayat 19b dikatakan, Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Dalam suasana yang dilanda ketakutan ini, Yesus datang dan menampakkan diri kepada murid-murid-Nya yang hadir pada saat itu. Dalam Injil lain dikatakan bahwa ketika Yesus datang secara tiba-tiba dan berdiri ditengah-tengah mereka, para murid terkejut dan takut sebab mereka menyangka bahwa mereka melihat hantu (Lukas 24:37). Ini adalah suatu gejala psikologis (Psychological Phenomena), dimana seseorang yang berada dalam keadaan tertekan dan ketakutan biasanya tidak dapat berfikir dengan baik dan tenang. Pada saat itu para murid tidak dapat mengenal dengan baik dan jelas Guru mereka yang selama lebih kurang tiga setengah tahun bersama-sama dengan mereka dalam pelayanan. Bahkan tidak sampai di situ saja, mereka menyangka bahwa Yesus yang berdiri di hadapan mereka itu adalah hantu (Saya kira ini sudah biasa dalam situasi kita, kalau ada orang yang sudah mati secara tiba-tiba muncul ditengah-tengah orang banyak pasti akan menimbulkan efek seperti yang dialami oleh para murid). Tetapi lebih jauh Lukas mengisahkan bahwa penampakan Yesus ini adalah penampakan secara Jasmaniah bukan dalam wujud roh seperti halnya hantu. Lukas 24:39 disana Yesus berkata, …Aku sendirilah ini, .rabahlah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya. Bahkan dalam ayat 41, Yesus meminta kepada mereka makanan untuk dimakan-Nya. Ini benar-benar membuktikan bahwa Yesus yang hadir di depan mereka adalah Yesus yang dulu mereka kenal dan bersama-sama dalam pelayanan. Yesus yang berdiri dihadapan mereka adalah Tuhan yang telah bangkit secara jasmaniah dan menang atas kuasa maut (Ada banyak ajaran sekarang yang berkembang bahwa Yesus tidak bangkit secara jasmaniah. Kebangkitan Yesus adalah kebangkitan secara rohaniah yang dikaitkan dengan pernyataan iman para murid. Atau dengan kata lain bahwa kebangkitan Yesus adalah hasil imaginasi para murid yang pada saat itu berada dalam keadaan yang penuh dengan tekanan).
· Apa arti penampakan Yesus dalam konteks para murid masa itu?
Penampakan Yesus merupakan suatu jaminan dan sekaligus jawaban terhadap ketakutan dan tekanan yang dihadapi para murid. Kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka merupakan bukti bahwa Yesus ada bersama dengan mereka. Para murid tidak perlu khawatir dan takut terhadap situasi yang sedang mereka hadapi, sebab Yesus telah benar-benar bangkit dan kebangkitan-Nya itu merupakan bukti kemenangan-Nya atas segala kuasa yang ada bahkan maut sekalipun (Roma 6:9, Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. c.f. Matius 28:18, Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.).
Penampakan Yesus merupakan suatu momentum (saat yang penuh arti) agar para murid dapat berdiri teguh dan mempersiapkan diri untuk suatu tugas yang akan mereka terima kelak, yaitu pergi untuk memberitakan kabar keselamatan di dalam Kristus (Matius 28:19:20, Markus 16:15, Lukas 24:47, dan Kisah Rasul 1:8). Dalam melaksanakan tugas ini para murid tidak perlu takut dan gentar sebab Yesus yang telah bangkit dan menampakkan diri secara Jasmaniah kepada mereka adalah juga Yesus yang berjanji bahwa Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20 akhir).
3. Menghayati Damai Sejahtera Kristus
Ketika Yesus menampakkan diri kepada mereka, Ia berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Ingglish : Peace be with you! Hebrew: Syalom dan Greek: eirene=Syalom ) dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan Lambung-Nya kepada para murid (ayat 19 akhir dan 20). Damai sejahtera atau Syalom dihubungkan dengan keselamatan (Kel.4:13, Markus 5:34 dan Lukas 7:50), Ketentraman (Mazmur 4:8), Kemujuran (Mazmur 73:3) dll. Dalam kata ini terkandung pengertian bahwa keselamatan, ketentraman, kemujuran, kedamaian, sukacita dan kebahagiaan telah hadir ditengah-tengah kehidupan para murid. Dengan pengertian ini, berarti bahwa ketakutan dan perasaan tertekan yang dialami oleh para murid pada waktu itu berganti dengan sukacita, kedamaian, ketentraman, kebahagiaan dan keselamatan melalui kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka. Damai sejahtera kini menjadi bagian dari kehidupan mereka dan diberikan kepada mereka sebagai suatu kenyataan dalam kehidupan mereka.
Namun yang menarik di sini adalah setelah mengucapkan “Damai sejahtera bagi kamu!”, Yesus menunjukkan bekas luka ditangan-Nya dan lambung-Nya yang merupakan simbol atau tanda penderitaan-Nya. Disini ada semacam hal yang sangat contrast antara pengertian damai sejahtera dan simbol penderitaan Yesus. Dua hal yang sama sekali bertentangan dalam batasan pengertian bahasa kita (pemahaman kita). Damai sejahtera menempatkan manusia dalam situasi bahagia sedangkan stigmata atau bekas luka Tuhan Yesus menempatkan manusia dalam situasi penderitaan.
· Apa makna dari realitas (kenyataan) ini?
Damai sejahtera dan simbol penderitaan Yesus merupakan dua hal yang tidak dipisahkan dalam panggilan para murid. Kedua hal ini ibaratkan dua sisi mata uang yang selalu hadir secara bersama-sama. Tanpa sisi yang lain maka uang logam itu tidak berarti apa-apa, sebaliknya akan berarti besar bila keduanya saling melengkapi.
Damai sejahtera dalam pemanggilan para murid tidak terlepas dari penderitaan sebagai pengikut-pengikut Kristus. Yesus sendiri sudah memperingatkan hal ini kepada murid-murid-Nya sebelum Dia disalibkan. Lukas 14:27, Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. C.f. Matius 1624, Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya dan mengikut Aku.
Damai sejahtera selalu berjalan beriringan dengan konsekwensi sebagai murid-murid Yesus yaitu penderitaan. Hal ini dapat dilihat kemudian dalam sejarah pekabaran Injil/Gereja bahwa hampir semua murid Tuhan Yesus mati sebagai martyr (Yakobus mati dengan pedang, Petrus di salibkan dll). Juga dalam perkembangan orang Kristen selanjutnya bahwa mereka tidak pernah lepas dari penderitaan sampai pada hari ini oleh karena iman mereka kepada Yesus Kristus. Jemaat mula-mula hidup menderita dalam pemerintahan kekaisaran Romawi, bahkan ada sebuah catatan dalam sejarah gereja bahwa tubuh orang-orang Kristen dijadikan obor untuk menerangi kota Roma pada malam hari dan mereka dijadikan mangsa binatang buas dalam gelanggang olahraga. Namun demikian semangat para murid dalam pemberitaan Injil tidak pernah mundur demikian juga semangat orang-orang Kristen pada masa itu tidak pernah patah. Orang Kristen adalah ibarat sebuah tanaman yang semakin dibabat semakin merambat. Inilah yang dimaksudkan Paulus ketika dia berkata,”Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit, kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan namun tidak binasa (2 Korintus 4:8-9).
Pertanyaan bagi kita adalah apa yang menjadi pegangan setiap murid Tuhan dalam situasi penderitaan? Jawabannya adalah sebab Damai sejahtera Kristus ada ditengah-tengah mereka. Damai sejahtera Kristus berbeda dengan damai sejahtera yang ditawarkan oleh dunia ini yang semata-mata hanya menjanjikan kesenangan, kenikmatan, materialisme, dan lain sebagainya tetapi yang sifatnya sementara saja. Nabi Yesaya berkata, Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering dan bunga menjadi layu… (Yesaya 40:6-7). Damai sejahtera Kristus yang memberikan jaminan kebahagiaan dan keselamatan hidup yang kekal merupakan pendorong semangat mereka dalam melaksanakan tugas pemberitaan Injil. Orientasi mereka jauh kemasa depan dan bukan hanya terfokus kepada apa yang ditawarkan oleh dunia ini. Sama seperti Bapa mengutus Dia demikianlah juga Yesus mengutus murid-murid-Nya dengan kuasa ke dalam dunia ini (ayat 21-23). Rasul Paulus menegaskan bahwa Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya… (Filipi 3:7-8). Paulus telah memperoleh Damai Sejahtera yang sejati yaitu Damai Sejahtera Kristus, dengan demikian meskipun dia menderita sebagai pengikut Kristus, namun Ia tahu bahwa di dalam Kristus dia akan memperoleh kebahagiaan dan kedamaian yang sejati.
Aplikasi dan Kesimpulan
Saudara-saudara yang kekasih di dalam Kristus!
Bagaimana kita menghayati Damai sejahtera Kristus dalam terang Paskah di tengah-tengah kehidupan kita saat ini?
· Kita hidup dalam dunia yang penuh tawaran dan tantangan
Saat ini kita hidup dalam dunia yang sedang mengalami perubahan. Modernisasi yang ditandai dengan kemajuan tekhnologi dan pembangunan menghasilkan banyak tawaran dan tantangan. Kita ditawarkan dengan berbagai hal yang menjanjikan kemudahan dan keseronokan (mulai dari hal yang terkecil sampai kepada hal yang paling utama dalam kebutuhan hidup kita). Sekaligus kita ditantantang untuk lebih kritis dan kreatif dalam berbagai aspek kehidupan kita (pendidikan, pekerjaan dan bahkan pelayanan kita), sebab kalau tidak kita hanya akan tinggal sebagai penonton saja. Ketika orang sudah maju selangkah kita masih diam di tempat dan ketika orang sudah berhasil baru kita sadar akan kegagalan kita. Namun, sebagai murid-murid Tuhan kita harus waspada dengan apa yang dijanjikan oleh dunia ini. Semua kebahagiaan, kenikmatan, dan kesejahteraan yang ditawarkan oleh dunia ini memang tidak salah untuk kita rasakan dan terima karena selama kita hidup didunia maka kitapun membutuhkannya. Tetapi semua itu harus dinilai secara kritis berdasarkan ukuran dan norma Kristus. Atau dengan kata lain sangat penting bagi kita untuk “berjaga-jaga dan berdoa”, artinya adalah sebagaimana dikatakan oleh rasul Paulus, Karena itu perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari itu jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan… (Efesus 5:15-17). Kita memikirkan hal-hal yang ada di atas dan bukan diperhamba oleh hal-hal yang ada di bumi (c.f. Kolose 3:2). Mintalah Damai Sejahtera Kristus untuk berdiam ditengah-tengah kamu…
· Damai sejahtera Kristus menjadi kekuatan dalam menghadapi penderitaan sebagai murid-murid-Nya.
Kekristenan tidak pernah menjanjikan suatu kehidupan yang serba enak, mudah, aman, dsb. Tetapi orang Kristen tidak pernah terlepas dari salib yang harus kita pikul kapan dan dimanapun masa itu terjadi dalam kehidupan kita. Kita harus selalu siap sedia untuk menghadapi situasi yang tersulit sekalipun dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Kekuatan kita adalah Kristus yang telah bangkit dan memperlihatkan diri kepada murid-murid-Nya dan memberi mereka damai sejahtera. Yesus yang ada dulu adalah sama dengan Yesus yang ada di dalam kita. Dia tidak berubah dari saat ini sekarang dan selama-Nya (amin!).
Seperti janji-Nya kepada para murid bahwa Aku akan menyertai engkau sampai kepada akhir zaman adalah juga janjinya kepada kita saat ini dan tidak ada satu kuasa apapun yang akan memisahkan kita dari Kristus (Roma 8:35-39). Barangkali kita tidak akan mengalami peristiwa yang dialami para murid pada waktu itu, yaitu Yesus menampakkan diri secara jasmani ditengah-tengah mereka. Tetapi ini bukan alasan kita untuk meragukan ataupun tidak mempercayai sama sekali kuasa Kristus. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (Yohanes 20:29 akhir).
Kristus yang telah bangkit dan kepada-Nya telah diberikan kuasa baik di bumi dan di surga juga berkuasa atas kehidupan kita. Justru di dalam penderitaan, kita dapat mengenal betapa besar kuasa dan kasih Tuhan dalam hidup kita dan betapa indah damai sejahtera yang disediakan bagi kita. Damai sejahtera kristus bersama dengan kita, terpujilah Tuhan…….. (Amin).




