Showing posts with label pesan. Show all posts
Showing posts with label pesan. Show all posts

Wednesday, May 23, 2012

Pesan Bulan Oikoumene 2012







Bulan Mei setiap tahun ditetapkan sebagai Bulan Oikoumene oleh PGI. Pada Bulan Mei inilah PGI merayakan Hari Ulang Tahunnya. Sejak berdirinya pada 25 Mei 1950, PGI pada tahun ini genap berusia 62 tahun. Dalam rangka Bulan Oikoumene 2012 ini, MPH PGI telah menyampaikan Pesan Bulan Oikoumene 2012 untuk diketahui oleh seluruh anggota gereja dalam lingkup PGI.






PESAN BULAN OIKOUMENE 2012
“DIPANGGIL UNTUK TERUS MENYATAKAN KEADILAN DAN PERDAMAIAN” (bdk. Filipi 4:8)

Saudara-saudari warga gereja yang dikasihi Kristus!
Salam Sejahtera,
  1. Puji dan syukur kita haturkan kepada Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja, yang karena kasih dan kemurahan-Nya telah menghantar kita memasuki Bulan Oikoumene 2012. Bulan ini mengandung arti penting dan mendasar bagi kita, karena lagi-lagi kita diingatkan terhadap komitmen dan tekad gereja-gereja mewujudkan Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia sebagaimana dinyatakan pada pembentukan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI), 25 Mei 1950. Pembentukan DGI tersebut telah ikut mendorong ke arah persatuan dan kesatuan bangsa, yang pada tahun-tahun itu masih gamang dengan keindonesiaannya. Kendati gereja-gereja berbeda-beda dari segi teologi, eklesiologi, suku dan etnis, namun telah berusaha untuk membuka diri satu terhadap yang lainnya dan terus berjalan bersama dalam arak-arakan oikoumene. Gereja-gereja berusaha menampilkan kesatuan yang utuh, sehingga kesaksian dan pelayanannya dapat diwujudkan lebih nyata di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Ketika PGI (semula bernama DGI) sekarang berusia 62 tahun, 88 sinode gereja telah bergabung di dalamnya. Fakta ini  sungguh memperkaya kehidupan beroikoumene, kendati doa Yesus, “…supaya mereka menjadi satu…” (Yoh.17:21) belum sepenuhnya terpenuhi. Namun kita bertekad untuk tidak mempertentangkan perbedaan-perbedaan di antara kita. Sebaliknya, kita memahaminya sebagai kekayaan bersama. Oikoumene in action terus kita laksanakan, seraya menerima berbagai konsensus dan komitmen bersama sebagaimana antara lain termaktub dalam Dokumen Keesaan Gereja. Kita juga belajar terbuka kepada saudara-saudari umat beriman lain yang tidak tergabung di dalam PGI. Pada tanggal 7 Oktober 2011, bertepatan dengan diselenggarakannya Pertemuan II Global Christian Forum di Manado, Indonesia, secara bersama-sama kita telah mendeklarasikan “Forum Umat Kristen Indonesia” (FUKI) sebagai wujud saling membagi kekayaan spiritual bersama.
  2. Pilihan tema Bulan Oikoumene tahun ini didorong oleh kondisi dan situasi masyarakat, bangsa dan negara kita, yang di dalamnya kita bersaksi dan melayani. Secara khusus, Konsultasi Teologi yang baru saja diselenggarakan ikut mengilhami pemilihan tema ini. Berbagai peristiwa penting yang terjadi akhir-akhir ini, mau tidak mau menuntut peranan gereja untuk bersaksi di dalamnya. “Dipanggil untuk terus menyatakan keadilan dan perdamaian”, diilhami oleh nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi, khususnya Filipi 4:8, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”  Rasul Paulus mendorong pemikiran dan perilaku berdasarkan etika kristiani. Apa yang benar, apa yang adil, apa yang patut, semuanya itu mestinya bukan sekadar dipikirkan, tetapi sekaligus dilakukan oleh orang-orang percaya di manapun berada. Panggilan mewujudkan keadilan dan perdamaian melampaui batas-batas denominasi dan gereja. Bahkan inilah panggilan kenabian gereja di tengah-tengah dunia yang terus bergumul dengan perjuangan mewujudkan keadilan dan perdamaian. Kita percaya, dengan curahan Roh Kudus, gereja-gereja di Indonesia dimampukan berlaku dan bertindak atas dasar etika kristiani tersebut, di mana keadilan dan perdamaian dinyatakan.
  3. Masyarakat, bangsa dan negara kita sedang berada dalam pergumulan besar. Khususnya di bidang perekonomian dicatat adanya kemajuan besar. Tetapi pada saat yang sama jumlah orang-orang miskin makin bertambah. Ini mengindikasikan bahwa pembangunan ekonomi tidak berpihak kepada orang-orang miskin dan yang lemah secara ekonomis. Peristiwa yang baru saja kita alami berupa unjuk rasa di mana-mana sebagai protes terhadap rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak memperlihatkan kebenaran sinyalemen ini. Kita mendorong pemerintah dan semua pengambil keputusan di negeri ini untuk lebih berpihak kepada kepentingan rakyat. Alkitab menyaksikan bahwa Allah selalu berpihak kepada yang lemah dan tidak berdaya. Secara eksplisit Allah memerintahkan para pemimpin untuk “melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas…orang lemah, dan orang miskin” (Mz. 72:12-14). Bahkan lebih tegas lagi dilarang untuk “memeras pekerja harian yang miskin dan menderita” (Ul.4:37-40; Yer.29:7).
  4. Apabila gereja-gereja menyatakan keadilan dan perdamaian, maka itulah refleksi dari wujud keberpihakan Allah kepada kehidupan semua makhluk ciptaan-Nya, lebih-lebih terhadap yang menderita, tersisih, dan tertindas. Dalam konteks bangsa kita, wujud keberpihakan ini mesti diarahkan kepada orang-orang miskin, penganut agama-agama yang tidak leluasa menyatakan imannya di muka umum karena tekanan-tekanan, penduduk daerah-daerah tertinggal dan yang mendiami wilayah-wilayah perbatasan, para pekerja migran, mereka yang berkebutuhan khusus, korban bencana alam, orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS, LGBT (lesbian, gay, biseksual, transjender/transseksual), kaum perempuan yang mengalami diskriminasi dan penindasan, para korban perdagangan manusia, dan semua yang mengalami penderitaan dalam jenis apapun. Kepeduliaan terhadap lingkungan yang adalah penunjang kehidupan harus diarahkan kepada pencegahan perusakan hutan tropis, pemusnahan margasatwa, eksploitasi sumber daya alam, polusi dan pemanasan global.
  5. Gerakan oikoumene kita memang telah menempatkan kita dalam arak-arakan bersama. Namun harus diakui, kebanyakan praktek beroikoumene kita cenderung masih sebatas seremonial. Maka adalah tantangan dan panggilan kita bagaimana gerakan oikoumene mewujud juga dalam karya-karya sosial yang menjawab kebutuhan gereja dan masyarakat. Gejala-gejala perpecahan di dalam gereja tentulah ‘menyumbang secara negatif’ terhadap upaya kebersamaan di dalam aksi ini. Karena itu dalam semangat kebersamaan gereja-gereja Tuhan, kiranya perayaan Bulan Oikoumene ini kembali menjadi momentum yang mengingatkan kesejatian panggilan kita selaku Tubuh Kristus, yaitu “menjadi satu”.
Pada akhirnya, dalam momentum perayaan ini dan dengan semangat peringatan hari pencurahan Roh Kudus (Pentakosta) ini kami mengajak gereja-gereja untuk:
Pertama, semakin memantapkan langkah bersama tanpa mengenal lelah memperkuat persekutuan di dalam wadah PGI guna mewujudkan Gereja Kristen Yang Esa. Piagam Saling Mengakui dan Saling Menerima (PSMSM) yang telah disepekati bersama tetap menjadi kerangka acuan kita bersama. Seraya kita juga percaya bahwa semua warga gereja, khsususnya generasi muda, perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan semangat oikoumenis melalui berbagai cara.
Kedua, menyatakan sikap pemihakan yang jelas terhadap orang miskin, sikap kritis terhadap proses perumusan dan pemberlakuan kebijakan ekonomi, serta sikap hidup jujur, hemat, dan kerja keras. Seluruh perilaku itu harus mewujud di dalam kehidupan pribadi, keluarga, komunitas, masyarakat dan negara, seraya tetap waspada atas dampak-dampak negatif dari sistem ekonomi pasar bebas dan (neo)-kapitalisme, dan mendorong  upaya-upaya ekonomi yang berkeadilan.
Ketiga, menanggapi panggilan Allah bagi gereja untuk memihak kepada kehidupan, baik dalam relasi oikoumenis mau pun dalam relasi dengan sesama ciptaan. Ini berarti gereja-gereja dan gerakan oikoumenis diminta untuk memberi perhatian yang lebih serius kepada realitas-realitas ketimpangan yang ada, misalnya daerah-daerah tertinggal dan perbatasan, pekerja migran, perdagangan manusia, orang berkebutuhan khusus, korban bencana alam, dan semua mereka yang menderita. Kepedulian terhadap lingkungan perlu semakin ditingkatkan dan diarahkan kepada pencegahan pengrusakan alam, eksploitasi sumber daya alam, polusi dan pemanasan global, sehingga bumi ini benar-benar menjadi “rumah” (oikos) bersama.
Demikianlah pesan dan harapan di Bulan Oikoumene 2012 ini. Tuhan kiranya memberkati segala upaya kita dalam mewujudkan keesaan gereja-gereja Tuhan di Indonesia. Selamat merayakan Bulan Oikoumene 2012.

Jakarta, Mei 2012
Atas nama,
MAJELIS PEKERJA HARIAN PGI



Pdt.Dr.Andreas A.Yewangoe                Pdt.Gomar Gultom, M.Th
Ketua Umum                                     Sekretaris Umum

Wednesday, February 29, 2012

Pesan Paska PGI 2012


Pada 8 April 2012, umat Kristen (Protestan) akan merayakan Paska. Hari Raya Paska adalah hari raya yang selalu dinantikan karena orang-orang Kristen merayakan Hari Kemenangan Tuhan melalui Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian-Nya di kayu salib. Seperti biasa, setiap tahun PGI mempublikasikan Pesan Paska bagi Gereja-gereja di Indonesia untuk menjadi tema utama dalam menyambut dan merayakan Paska. Pesan Paska ini dapat juga dipakai oleh lembaga-lembaga Kristen lainnya.


PESAN PASKA
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA
TAHUN 2012

Tema:
“Kebangkitan-Nya Menyingkapkan Integritas Allah Dalam Wajah Kemanusiaan: Gereja Melawan Korupsi” (bdk. Efesus 5:8-11)

Saudara/i Seiman di manapun berada,
Salam Sejahtera Dalam Kasih Yesus Kristus,
Dalam suasana kehidupan bermasyarakat yang penuh tantangan saat ini, dengan penuh sukacita umat Kristen di seluruh dunia, termasuk Indonesia, memasuki Hari Raya Paska, peringatan Kebangkitan Kristus dari kematian. Paska selalu membangkitkan pengharapan dan kekuatan guna menjalani kehidupan masa kini menuju masa depan, kendati kenyataan hidup di sekitar kita tidak selalu mudah. Khususnya di negeri kita, Indonesia dalam kaitan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pesan Paska ini ditempatkan di bawah tema: “Kebangkitan-Nya Menyingkapkan Integritas Allah Dalam Wajah Kemanusiaan: Gereja Melawan Korupsi” (bdk. Efesus 5:8-11). Tema ini memberi inspirasi dan sekaligus memotivasi kita untuk memusatkan perhatian dan pemikiran kita kepada makna Kebangkitan Kristus di masa kini, khususnya dalam kenyataan kehidupan kita di negeri ini.
Peristiwa Paska memiliki makna teramat dalam bagi kita. Kebangkitan Kristus tidak pernah mempunyai analoginya di dalam sejarah. Ia adalah ciptaan baru, yang memperlihatkan secara amat nyata betapa Allah mempedulikan kehidupan sejati manusia. Dalam peristiwa Kebangkitan itu, manusia sebagai gambar dan citra Allah (Imago Dei, Kej.1:26-27) diperlihatkan secara utuh. Manusia Kebangkitan adalah manusia baru yang memiliki kebebasan sejati dari berbagai penderitaan berupa penindasan, diperlakukan tidak adil, didiskriminasikan, hidup dalam kebodohan dan keterbelakangan, hidup dalam kemiskinan. Sebaliknya keutuhan manusia baru memberikan perspektif hidup penuh pengharapan dan optimisme.
Peristiwa Paska juga menyingkapkan secara sangat jelas betapa Allah setia dengan janji-Nya. Ia adalah Allah yang berintegritas, yang menggenapi apa yang telah dijanjikan-Nya. Ia konsisten dengan rancangan damai-sejahtera bagi kita, kendati realitas dosa selalu membayang-bayangi kehidupan kita. Pengorbanan Diri Putra-Nya sebagai perbuatan penebusan dan penyelamatan yang membawa pemulihan, adalah wujud integritas dan kesetiaan Allah itu.
Maka sebagai orang-orang beriman kita dipanggil untuk merefleksikan integritas dan kesetiaan Allah itu melalui kehidupan kita sehari-hari. Kita yang telah dianugerahi hidup baru melalui Kebangkitan Kristus didorong untuk membuktikan kesungguhan kita sebagai “anak-anak terang” (Ef. 5:8b). Harus ada perubahan nyata di dalam kehidupan kita, sebagaimana ditegaskan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus: “sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan:Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia” (Ef. 4:17). Paskah mendorong kita menjadi manusia-manusia baru yang dipanggil untuk menyatakannya dalam kehidupan kita yang berintegritas dan konsisten melawan berbagai kejahatan.
Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) di Melanguane, Talaud, Januari 2012 menyoroti berbagai kejahatan manusia yang secara khusus mewujud melalui praktik-praktik korupsi. Itu tidak berarti bahwa kejahatan-kejahatan manusia hendak direduksikan hanya pada perbuatan ini. Tetapi korupsi di negeri kita memang telah memasuki fase yang sangat menguatirkan, karena hampir tidak ada lagi bidang kehidupan yang bebas dari virus ini. Korupsi adalah kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang mencederai harkat dan martabat manusia sebagai gambar dan citra Allah. Maka tidak ada lain yang harus dilakukan oleh umat beriman, apabila sungguh-sungguh mau merefleksikan integritas dan kesetiaan Allah ini, selain dari menyatakan perang terhadap korupsi dalam berbagai bentuknya. Umat Allah tidak boleh lagi menaklukkan diri ke bawah perhambaan Mammon, yang dalam konteks masyarakat kita mewujud dalam praktek-praktek korupsi.
Karena itu, di dalam menyambut dan merayakan Paska 2012 ini, kami mengajak saudara/i seiman, baik para pemimpin gereja maupun anggota-anggota jemaat untuk makin memperlihatkan integritas dan kesetiaan sebagai manusia kebangkitan, manusia baru di dalam Kristus yang telah bangkit dengan tindakan-tindakan nyata, khususnya melawan praktek-praktek korupsi melalui hal-hal berikut:
  1. Perayaan Paska hendaknya menjadi momentum bagi gereja-gereja dan umat beriman guna memastikan diri sebagai yang berada di garda terdepan melawan segala bentuk korupsi;
  2. Semangat Paska hendaknya mendorong gereja-gereja dan umat beriman memperlihatkan secara konsisten pola hidup sederhana, kerja keras, saling berbagi, dan menjadi contoh dalam mengelola aset-aset gereja secara transparan dan akuntabel;
  3. Semangat Paska hendaknya menginspirasi gereja-gereja dan umat beriman guna melakukan pendidikan anti-korupsi antara lain, di samping khotbah-khotbah, juga melalui kurikulum pengajaran Sekolah Minggu dan Katekisasi, sehingga pemahaman korupsi sebagai kejahatan luar biasa telah ditanamkan sejak dini;
  4. Melalui semangat Paska diharapkan gereja-gereja menempatkan diri sebagai mitra kritis pemerintah. Gereja harus berani menyatakan penolakan terhadap sumbangan/bantuan yang tidak jelas sumber dan asal-usulnya, dan/atau yang ditengarai sebagai hasil korupsi dan praktek pencucian uang (money laundry) berkedok bantuan sosial;
  5. Semangat Paska, pada akhirnya hendaknya mendorong gereja-gereja menjauhkan diri dari berbagai godaan, seperti misalnya mendukung pasangan tertentu dalam perhelatan Pemilu dan Pemilukada yang ditengarai melakukan money politics, dan sebaliknya memberi penghargaan kepada pemimpin yang takut akan Allah dan benci kepada pengejaran suap (Kel. 18:21).

Pesan ini kami akhiri dengan menggarisbawahi Firman ini:

“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Ef.5:11).

Jakarta, 21 Februari 2012

Atas nama,
MAJELIS PEKERJA HARIAN
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA



Pdt. Dr. A. A. Yewangoe                               Pdt.Gomar Gultom M.Th.
Ketua Umum                                             Sekretaris Umum

Monday, June 13, 2011

MPS GKSS: Pesan HUT GKSS 45 dan HUT PI GKSS 78

PESAN MAJELIS PEKERJA SINODE – GEREJA KRISTEN SULAWESI SELATAN
PADA PERINGATAN HARI ULANG TAHUN GKSS KE 45 - 12 JUNI 2011-
DAN HARI PEKABARAN INJIL KE 78 TANGGAL 19 JUNI 2011

Seluruh warga Gereja Kristen Sulawesi Selatan, yang kami kasihi dalam nama Tuhan Yesus Kristus,

Kita patut memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Besar, atas pertolongan-Nya. Hari ini 12 Juni 2011, kita rayakan Hari Ulang Tahun GKSS ke-45, bertepatan dengan hari Pentakosta, peristiwa Pencurahan Roh Kudus - hari yang bersejarah bagi umat Kristiani di seluruh dunia. Peristiwa Pencurahan Roh Kudus kiranya membawa makna yang sungguh berarti bagi kita semua.
Sejak berdirinya GKSS, 45 tahun yang lalu , tidak kecil ombak dan angin yang menghantam bahtera GKSS, namun kita percaya pada janji Firman Tuhan dalam Matius 12:20 bahwa “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.”
Sampai sekarang GKSS masih ada dan tetap melayani di negeri ini, karena itu kami berharap seluruh warga GKSS dapat menyatakan perannya masing-masing dan menjadikan GKSS sebagai ‘tanah perjanjian’ yang diberikan Tuhan untuk berkarya dan mengabdikan diri, seperti kata pepatah yang mengatakan “Di mana bumi di pijak di situ langit di junjung”. Semoga kita sebagai warga gereja yang diutus dalam wilayah pelayanan GKSS, memperoleh kekuatan dalam menjalankan tugas pengutusan kita selanjutnya, bagi kemuliaan nama-Nya.

Saudara-saudara yang kami kasihi di dalam Tuhan Yesus,

Setiap kali kita memperingati HUT Gereja, kita patut mengenang pemimpin, pelayan Tuhan, dan seluruh warga gereja yang dengan visi yang jelas, telah berjuang tanpa pamrih dan meletakkan landasan yang kokoh bagi keberlangsungan pelayanan . Mereka telah mengorbankan banyak hal, termasuk nyawa mereka bagi pelayanan, sehigga GKSS sebagai gereja Tuhan tetap mampu berdiri dari pesisir selatan kepulauan Selayar, yakni desa Barang-barang hingga pesisir utara Propinsi Sulawesi Barat/Mamuju, yakni Jemaat Maranatha-Toabo dan Jemaat Keang. Tentu kita semua percaya sesuai dengan janji Tuhan, bahwa jerih payah mereka dalam Tuhan tidak sia-sia (1 Kor 15:58). Kiranya perjuangan mereka dalam Tuhan akan terus memotivasi kita yang sedang hidup dan melayani di GKSS.

Menurut data statistik yang dihimpun pada Rapat Tahunan Majelis Sinode (RTMS) 2011 -, GKSS telah mencapai 6 Klasis dan 1 klasis perwakilan, di 8 kabupaten/kota, 41 jemaat ditambah 1 bakal jemaat pelayanan, dengan tenaga pelayan sebanyak 31 orang pekerja aktif dengan jumlah anggota jemaat sebanyak 5.854 jiwa.” Jumlah ini mungkin kecil, tetapi jika kita bersatu dan saling mendukung maka kita dapat melakukan sesuatu yang besar untuk kemuliaan nama Tuhan.

Pada kesempatan peringatan Ulang Tahun ke-45, kami ingin menghimbau kepada semua pemimpin Gereja Kristen Sulawesi Selatan pada semua aras, untuk mengingat tugas dan tanggung jawab kita semua sebagai gereja dengan:
1. Melaksanakan ketentuan Tata Gereja dan Peraturan Gereja GKSS dengan konsekuen.
2. Melaksanakan semua keputusan Persidangan Sinode XV tahun 2010 dan Ketetapan Rapat Tahunan Majelis Sinode tahun 2011 yang diselenggarakan pada semua tingkatan.

Melalui momentum Hari Ulang Tahun ke 45 ini, perkenankan kami menyampaikan pokok-pokok perhatian kita ke depan dan mohon dukungan seluruh warga Gereja Kristen Sulawesi Selatan:
1. Kami menghimbau kepada seluruh warga GKSS di mana dan apa pun peran dalam Gereja untuk memberikan partisipasi aktif dalam rangka eksisnya GKSS di masa kini dan masa mendatang.
2. Sesuai dengan keputusan Persidangan Sinode XV 2010 dan Ketetapan RTMS 2011, perhatian dan pergumulan kita sebagai Gereja secara Sinodal adalah pada nilai-nilai bersekutu, yakni Kemitraan Jemaat. Kemitraan jemaat merupakan satu-satunya solusi yang ditempuh dalam menghadapi dan menanggulangi kondisi penggajian para Pelayan di GKSS. Kami memberikan apresiasi kepada jemaat-jemaat yang telah dan setia melaksanakan program kemitraan ini, sambil kami juga berharap jemaat-jemaat yang lain dapat mengembangkan potensi-potensi diri dalam rangka kelanjutan pelayanan di masa mendatang.
3. Sambil kita memberi perhatian secara internal, kami juga menghimbau warga GKSS agar tetap membangun komunikasi secara intensif dengan pemerintah dan elemen masyarakat dan hidup berdampingan demi terpeliharanya toleransi dan kerukunan hidup bersama di bumi Pancasila ini. Kebersamaan dengan semua elemen masyarakat diperlukan dalam rangka membangun sikap peduli pada masalah-malasah sosial dan lingkungan hidup.

Pada akhirnya, kami ucapkan limpah terima kasih untuk semua bentuk dukungan dari semua pihak, baik dari perorangan, jemaat, dan klasis yang memungkinkan pekerjaan pelayanan Tuhan dapat berjalan dan diberkati hingga kini.

Teriring salam dan doa.

Majelis Pekerja Sinode – GKSS

Pdt. Maays Elisyah Baura,S.Th. Ketua
Pdt. Luciana S. Laoh,M.Teol. Wakil Ketua
Pdt. Yulianus Lamarang,S.Th. Sekretaris
Freddy Erenst Pinontoan,MBA Wakil Sekretaris
Oei Tiong Sui Bendahara
Osben Sinaga Anggota
Pdt. Yohanis Lampung,S.Th. Anggota