Showing posts with label paskah. Show all posts
Showing posts with label paskah. Show all posts

Saturday, April 7, 2012

Paskah Mattiro Baji 2012

Bersiap melayani Perjamuan Kudus
GKSS Jemaat Mattiro Baji merayakan rangkaian peringatan Sengsara dan Kabangkitan Yesus Kristus melalui acara Kebaktian Perjamuan Kudus pada Hari Jumat Agung (Peringatan Sengsara dan Kematian Yesus Kristus di kayu salib), sharing spiritualitas salib pada Sabtu sore, dirangkai dengan lomba menyanyikan nyanyian gerejawi. Pada hari Minggu subuh acara jalan santai di lingkungan sekitar kompleks gereja, dan kemudian kebaktian perayaan Paska, kebangkitan Yesus Kristus. Beberapa foto di halaman ini memperlihatkan beberapa kegiatan itu.
Ibu-ibu memasak untuk semua

Anak-anak makan dengan gembira




Jalan santai menyambut Paskah


Rombongan jemaat berjalan di samping jalan Bandara

3 ibu nampang sejenak

Mengundi pemenang
Para juara menerima hadiah

Dan semua gembira

Friday, March 2, 2012

Pra-Paskah



Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pra-Paskah (bahasa Inggris: Lent; bahasa Latin: Quadragesima, "ke-40"[1]) adalah masa yang mendahului hari raya Paskah dalam agama Kristen. Masa ini mencakup empat puluh hari mulai hari Rabu Abu sampai hari Minggu Paskah, dengan berbagai liturgi yang diakhiri sampai Kamis Putih, menjelang peringatan 3 peristiwa amat penting yaitu Kematian Yesus pada hari Jumat Agung, yang dilanjutkan dengan penguburannya dan masa tinggalnya di dalam kubur, serta kebangkitan-Nya dari kematian pada hari Minggu Paskah.

Kalau Paskah memperingati kebangkitan Yesus setelah kematiannya di atas kayu salib, masa Pra-Paskah berhubungan dengan persiapan Pekan Suci, yang memperingati kejadian yang menuju ke Pengadilan Yesus terakhir oleh Kekaisaran Romawi. Ini terjadi di antara tahun 29-33 Masehi.

Secara tradisional, Pra-Paskah ini merupakan persiapan penyesalan orang percaya, melalui doa, penyesalan, pertobatan, pemberian sedekah, dan mengingkari diri. Tujuan ini lebih ditekankan saat memasuki masa perayaan tahunan Pekan Suci, yaitu peristiwa Kematian dan Kebangkitan Yesus. Ada empat puluh hari dalam masa pra-paskah yang ditandai dengan berpantang dari makanan dan kenikmatan, dan sikap penyesalan lainnya. Hal ini merujuk pada peristiwa yang dicatat di kitab-kitab Injil Sinoptik (Injil Matius, Injil Markus dan Injil Lukas, bahwa Yesus Kristus berpuasa 40 hari 40 malam lamanya di padang gurun sebelum memulai pekerjaan-Nya, di mana Ia dicobai oleh Iblis.[2][3][4]
Acolyte mematikan lilin di atas altar yang dihiasi warna ungu untuk Pra-Paskah. Perhatikan bahwa salib dan patung sering dibungkus kain ungu, dan tidak ada bunga maupun persembahan yang diperlihatkan. Rabu Abu, dalam sebuah gereja Episkopal di Tennessee, Amerika Serikat.
Jemaat merayakan Pra-Paskah dengan barisan pawai selama Pekan Suci. Warna ungu sering dihubungkan dengan penyesalan dan pertobatan. Kebiasaan penyesalan yang serupa dijumpai di negara-negara lain, kadang termasuk penyiksaan tubuh. Granada, Nicaragua.

Di sejumlah gereja Kristen, enam hari Minggu di antara hari Selasa sebelum Rabu Abu (Shrove Tuesday) dan Minggu Paskah tidak dihitung dalam 40 hari Pra-Paskah, sehingga tanggal hari Selasa itu lebih dari 40 hari sebelum Paskah. Peristiwa ini, dengan kebiasaan-kebiasaan yang khusyuk, diperingati di gereja-gereja Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental, Katolik Roma, Lutheran, Methodist, Presbyterian, Anglikan dan sejumlah gereja Baptis.[5][5][6][6] Pra-Paskah ini sekarang juga diperingati di beberapa denominasi yang dulunya mengabaikannya, misalnya di sejumlah gereja Baptis dan Mennonit.[7]

Lamanya masa Pra-Paskah

Kebanyakan penganut agama Kristen memperingati Pra-Paskah sejak hari Rabu Abu dan berakhir pada hari Kamis Putih.[4][8] Enam hari Minggu di antaranya tidak dihitung, karena masing-masing merupakan "Paskah kecil", yaitu peringatan kemenangan Yesus atas dosa dan kematian.[3] Salah satu perkecualian yang terkenal adalah di Archdiocese of Milan, yang mengikuti "ritual Ambrosian" (Ambrosian Rite) di mana Pra-Paskah dimulai pada hari Minggu 6 minggu sebelum Paskah.[9]

Sejak Konsili Vatikan Kedua, gereja Katolik Roma menetapkan hari Jumat Agung sampai Sabtu Suci sebagai dua hari pertama "Easter Triduum" dan bukan lagi sebagai dua hari terakhir Pra-Paskah, meskipun peringatan Pra-Paskah tetap dilanjutkan sampai "Easter Vigil".

Di gereja-gereja yang mengikuti "Ritus Konstatinopel" (misalnya gereja Ortodoks Timur dan gereja Katolik Timur), 40 hari Pra-Paskah dihitung berbeda, sebagaimana perbedaan perhitungan tanggal untuk hari Paskah. Puasa dimulai pada hari Senin Murni ("Clean Monday"), dengan memasukkan setiap hari Minggu, sampai berakhir pada hari Jumat sebelum Minggu Palem. Hari-hari khusus Sabtu Lazarus ("Lazarus Saturday"), Minggu Palem dan Pekan Suci dianggap masa puasa yang terpisah. Seluruh masa Pra-Paskah ini disebut "Great Lent".

Dalam gereja Ortodoks Oriental, ada sejumlah tradisi setempat selama Pra-Paskah. Gereja Ortodoks Koptik, gereja Ortodoks Etiopia dan gereja Ortodoks Eritrea memperingati 8 minggu Pra-Paskah, di mana tanpa menyertakan hari Sabtu dan Minggu, merupakan 40 hari puasa.[9]
Asal nama

Dalam liturgi bahasa Latin dipakai istilah quadragesima, yaitu terjemahan dari bahasa Yunani "Τεσσαρακοστή" (Tessarakoste, "ke-40" hari sebelum Paskah). Istilah ini dipelihara dalam bahasa Romana (Romance), bahasa Slavik dan bahasa Keltik (Celtic), misalnya bahasa Spanyol cuaresma, bahasa Portugis quaresma, bahasa Perancis carême, bahasa Italia quaresima, bahasa Romania paresimi, bahasa Kroasia korizma, bahasa Irlandia Carghas, dan bahasa Wales C(a)rawys.

Di akhir Abad Pertengahan, ketika khotbah diberikan dalam bahasa rakyat, tidak lagi dalam bahasa Latin, istilah bahasa Inggris lent mulai dipakai. Kata ini mulanya berarti "musim semi", seperti dalam bahasa Jerman Lenz dan bahasa Belanda lente), yang berasal dari akar kata bahasa Jermanik long (=panjang), karena di musim semi, hari (siang hari) jelas terasa lebih panjang dari musim dingin sebelumnya.[10]

Perayaan sebelum Pra-Paskah

Perayaan karnaval tradisional yang mendahului masa Pra-Paskah diadakan sebelum memasuki masa puasa. Yang paling terkenal adalah di Rio de Janeiro; di samping karnaval di Trinidad & Tobago, Venice, Cologne, Mobile di Alabama dan New Orleans di Louisiana. Acara ini terkenal dengan nama Mardi Gras atau "Shrove Tuesday" atau "Fat Tuesday" (hari "Selasa Gemuk").
Puasa dan pantangan

Puasa di masa Pra-Paskah lebih berat di zaman dulu daripada zaman sekarang. Socrates Scholasticus mencatat bahwa di beberapa tempat, semua bahan makanan dari binatang dilarang, sementara di tempat lain ikan dan burung boleh dimakan, buah-buahan dan telur dilarang, dan di tempat lain hanya makan roti. Ada tempat dimana umat berpantang makan selama satu hari penuh; di tempat lain hanya makan sekali sehari, atau berpantang makan sampai jam 3 siang. Di banyak tempat, kebiasaan puasa ini diakhiri di waktu petang, di mana umat hanya makan makanan kecil tanpa sayur maupun alkohol.

Di awal Abad Pertengahan, bahan makanan mengandung daging, telur dan susu umumnya dilarang. Thomas Aquinas berpendapat bahwa "bahan-bahan itu memberi kesukaan lebih banyak (daripada ikan), dan banyak nutrisi bagi tubuh, sehingga dengan memakannya memberi lebih banyak kelebihan untuk proses seminal, yang jika berlebihan memberi dorongan kepada hawa nafsu."[11] Namun, dispensasi untuk bahan dari susu diberikan sebagai donasi untuk pembangunan sejumlah gereja, termasuk "Butter Tower" dari Rouen Cathedral. Di Spanyol, peraturan untuk "Holy Crusade" (diperbarui secara teratur setelah tahun 1492) mengijinkan makan bahan dari susu[12] dan telur selama Pra-Paskah sebagai ganti kontribusi kepada konflik. Giraldus Cambrensis dalam tulisannya Itinerary of Archbishop Baldwin through Wales melaporkan bahwa "di Jerman dan daerah arktik," "orang-orang saleh," makan ekor berang-berang (beaver) sebagai "ikan" karena bentuknya mirip dengan ikan dan mudah didapat.[13]

Di masyarakat barat kebiasaan ini sekarang lebih kendor, meskipun di gereja Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental dan Gereja Katolik Timur, masih berlaku pantangan untuk semua bahan binatang termasuk ikan, telur, burung dan susu yang dari binatang (kambing atau sapi, bukan dari kacang kedelai atau kelapa), sehingga hanya makanan dari tumbuhan (vegetarian/vegan) yang dimakan selama 44 hari Pra-Paskah mereka. Dalam gereja Katolik Roma ada kebiasaan untuk berpantang makan daging binatang mamalia dan burung pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat selama Pra-Paskah, meskipun ikan dan makanan dari susu diijinkan dimakan. Pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung juga ada kebiasaan untuk puasa sehari penuh, tanpa daging, makan hanya sekali sehari, atau jika perlu, dua kali makanan kecil.

Hari-hari Raya

Sejumlah hari penting selama Pra-Paskah:

Rabu Abu, hari pertama masa Pra-Paskah di gereja barat.
Clean Monday (atau "Senin Abu"), hari pertama Pra-Paskah di gereja timur.
Hari Minggu Pra-Paskah ke-4, yang menandai titik tengah antara Rabu Abu dan Paskah, kadang disebut Laetare Sunday, di gereja Katolik Roma, atau "Mothering Sunday", yang menjadi sama dengan "Mother's Day" di Inggris. Namun, mulanya adalah perayaan di abad ke-16 untuk "Mother Church" (gereja induk). Pada hari Laetare Sunday, pastor boleh memakai jubah berwarna merah muda, sebagai pengganti ungu.
Hari Minggu Pra-Paskah ke-5, juga disebut Passion Sunday (istilah ini juga dipakai untuk Minggu Palem), menandai permulaan Passiontide
Hari Minggu Pra-Paskah ke-6, umumnya disebut Minggu Palem, menandai permulaan Pekan Suci, minggu terakhir Pra-Paskah sebelum Minggu Paskah.
Hari Rabu dalam Pekan Suci disebut "Spy Wednesday" (Rabu Mata-mata atau Pengintai) untuk memperingati hari-hari Yudas Iskariot mengintai Yesus Kristus di taman Getsemani sebelum mengkhianati-Nya.
Hari Kamis dalam Pekan Suci disebut Kamis Putih (Maundy Thursday atau Holy Thursday), merupakan hari peringatan Perjamuan Terakhir yang dilakukan oleh Yesus Kristus dengan murid-murid-Nya.
Jumat Agung, hari peringatan Kematian Yesus dan penguburan-Nya

Dalam gereja Katolik Roma, Easter Triduum adalah peringatan tiga hari yang dimulai dengan nyanyian pembukaan Mass untuk Perjamuan Kudus. Setelah peringatan hari Kamis Putih sore, hosti kudus diambil dengan khusuk dari altar ke tempat penyimpanan dimana orang percaya diundang untuk menyembah "tubuh kudus Kristus". Di hari berikutnya, diadakan liturgi peringatan penderitaan Kristus pada pukul 3 sore. Ibadah ini terdiri dari pembacaan Alkitab terutama dari Injil Yohanes tentang penderitaan Yesus Kristus, diikuti dengan doa, pemujaan salib Yesus dan kemudian Perjamuan Kudus dimana hosti, yang dikuduskan pada sore sebelumnya, dibagikan. Easter Vigil di waktu malam antara Sabtu Suci petang dan Minggu Paskah subuh dimulai dengan pemberkatan api dan lilin khusus dengan pembacaan Alkitab yang berhubungan dengan baptisan, lalu menyanyikan Gloria in Excelsis Deo, pemberkatan air, dilakukan baptisan dan konfirmasi untuk orang dewasa, kemudian jemaat diundang untuk memperbarui janji baptisan mereka; akhirnya Mass dilakukan seperti biasa mulai dari "Preparation of the Gifts" dan selanjutnya.

Pekan Suci dan masa Pra-Paskah, tergantung dari denominasi Kristen dan kebiasaan setempat, diakhiri dengan Easter Vigil pada Sabtu Suci sore atau subuh pada hari Minggu Paskah. Ada kebiasaan di sejumlah gereja untuk mengadakan ibadah subuh di lapangan terbuka.

Dalam gereja Katolik Roma, Lutheran, dan banyak gereja Anglikan, para pendeta berpakaian ungu selama Pra-Paskah. Pada hari Minggu ke-4 Pra-Paskah, boleh memakai warna merah muda. Di beberapa gereja Anglikan sejenis kain lenan yang tidak diputihkan atau muslin yang disebut "Lenten array", dipakai selama 3 minggu pertama Pra-Paskah, kemudian warna merah selama Passiontide.

Referensi

1 http://www.newadvent.org/cathen/09152a.htm
2 Matius 4:1–2; Markus 1:12–13; Lukas 4:1–2
3 a b "What is Lent and why does it last forty days?". The United Methodist Church. Diakses pada 24 Agustus 2007.
4 a b "The Liturgical Year". The Anglican Catholic Church. Diakses pada 24 Agustus 2007.
5 a b Comparative Religion For Dummies. For Dummies. Diakses pada 8 Maret 2011.
6 a b William P. Lazarus, Mark Sullivan. Comparative Religion For Dummies. For Dummies. Diakses pada 8 Maret 2011.
7 http://www.thirdway.com/menno/glossary.asp?ID=121
8 Thurston, Herbert (1910). "Lent". The Catholic Encyclopedia. IX. New York: Robert Appleton Company. Diakses pada 15 Februari 2008
9 a b Catholic Encyclopedia – Lent See paragraph: Duration of the Fast
10 Lent Online Etymology Dictionary. Retrieved 8 March 2009.
11 "'''Summa Theologica''' Q147a8". Newadvent.org. Diakses pada 27 Agustus 2010.
12 "Millennium:Fear and Religion". Diarsipkan dari yang asli pada 18 Agustus 2002.
13 "Baldwin's Itinerary Through Wales No. 2 by Giraldus Cambrensis". Gutenberg.org. 31 Desember 2001. Diakses pada 27 Agustus 2010.



Wednesday, February 29, 2012

Pesan Paska PGI 2012


Pada 8 April 2012, umat Kristen (Protestan) akan merayakan Paska. Hari Raya Paska adalah hari raya yang selalu dinantikan karena orang-orang Kristen merayakan Hari Kemenangan Tuhan melalui Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian-Nya di kayu salib. Seperti biasa, setiap tahun PGI mempublikasikan Pesan Paska bagi Gereja-gereja di Indonesia untuk menjadi tema utama dalam menyambut dan merayakan Paska. Pesan Paska ini dapat juga dipakai oleh lembaga-lembaga Kristen lainnya.


PESAN PASKA
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA
TAHUN 2012

Tema:
“Kebangkitan-Nya Menyingkapkan Integritas Allah Dalam Wajah Kemanusiaan: Gereja Melawan Korupsi” (bdk. Efesus 5:8-11)

Saudara/i Seiman di manapun berada,
Salam Sejahtera Dalam Kasih Yesus Kristus,
Dalam suasana kehidupan bermasyarakat yang penuh tantangan saat ini, dengan penuh sukacita umat Kristen di seluruh dunia, termasuk Indonesia, memasuki Hari Raya Paska, peringatan Kebangkitan Kristus dari kematian. Paska selalu membangkitkan pengharapan dan kekuatan guna menjalani kehidupan masa kini menuju masa depan, kendati kenyataan hidup di sekitar kita tidak selalu mudah. Khususnya di negeri kita, Indonesia dalam kaitan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pesan Paska ini ditempatkan di bawah tema: “Kebangkitan-Nya Menyingkapkan Integritas Allah Dalam Wajah Kemanusiaan: Gereja Melawan Korupsi” (bdk. Efesus 5:8-11). Tema ini memberi inspirasi dan sekaligus memotivasi kita untuk memusatkan perhatian dan pemikiran kita kepada makna Kebangkitan Kristus di masa kini, khususnya dalam kenyataan kehidupan kita di negeri ini.
Peristiwa Paska memiliki makna teramat dalam bagi kita. Kebangkitan Kristus tidak pernah mempunyai analoginya di dalam sejarah. Ia adalah ciptaan baru, yang memperlihatkan secara amat nyata betapa Allah mempedulikan kehidupan sejati manusia. Dalam peristiwa Kebangkitan itu, manusia sebagai gambar dan citra Allah (Imago Dei, Kej.1:26-27) diperlihatkan secara utuh. Manusia Kebangkitan adalah manusia baru yang memiliki kebebasan sejati dari berbagai penderitaan berupa penindasan, diperlakukan tidak adil, didiskriminasikan, hidup dalam kebodohan dan keterbelakangan, hidup dalam kemiskinan. Sebaliknya keutuhan manusia baru memberikan perspektif hidup penuh pengharapan dan optimisme.
Peristiwa Paska juga menyingkapkan secara sangat jelas betapa Allah setia dengan janji-Nya. Ia adalah Allah yang berintegritas, yang menggenapi apa yang telah dijanjikan-Nya. Ia konsisten dengan rancangan damai-sejahtera bagi kita, kendati realitas dosa selalu membayang-bayangi kehidupan kita. Pengorbanan Diri Putra-Nya sebagai perbuatan penebusan dan penyelamatan yang membawa pemulihan, adalah wujud integritas dan kesetiaan Allah itu.
Maka sebagai orang-orang beriman kita dipanggil untuk merefleksikan integritas dan kesetiaan Allah itu melalui kehidupan kita sehari-hari. Kita yang telah dianugerahi hidup baru melalui Kebangkitan Kristus didorong untuk membuktikan kesungguhan kita sebagai “anak-anak terang” (Ef. 5:8b). Harus ada perubahan nyata di dalam kehidupan kita, sebagaimana ditegaskan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus: “sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan:Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia” (Ef. 4:17). Paskah mendorong kita menjadi manusia-manusia baru yang dipanggil untuk menyatakannya dalam kehidupan kita yang berintegritas dan konsisten melawan berbagai kejahatan.
Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) di Melanguane, Talaud, Januari 2012 menyoroti berbagai kejahatan manusia yang secara khusus mewujud melalui praktik-praktik korupsi. Itu tidak berarti bahwa kejahatan-kejahatan manusia hendak direduksikan hanya pada perbuatan ini. Tetapi korupsi di negeri kita memang telah memasuki fase yang sangat menguatirkan, karena hampir tidak ada lagi bidang kehidupan yang bebas dari virus ini. Korupsi adalah kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang mencederai harkat dan martabat manusia sebagai gambar dan citra Allah. Maka tidak ada lain yang harus dilakukan oleh umat beriman, apabila sungguh-sungguh mau merefleksikan integritas dan kesetiaan Allah ini, selain dari menyatakan perang terhadap korupsi dalam berbagai bentuknya. Umat Allah tidak boleh lagi menaklukkan diri ke bawah perhambaan Mammon, yang dalam konteks masyarakat kita mewujud dalam praktek-praktek korupsi.
Karena itu, di dalam menyambut dan merayakan Paska 2012 ini, kami mengajak saudara/i seiman, baik para pemimpin gereja maupun anggota-anggota jemaat untuk makin memperlihatkan integritas dan kesetiaan sebagai manusia kebangkitan, manusia baru di dalam Kristus yang telah bangkit dengan tindakan-tindakan nyata, khususnya melawan praktek-praktek korupsi melalui hal-hal berikut:
  1. Perayaan Paska hendaknya menjadi momentum bagi gereja-gereja dan umat beriman guna memastikan diri sebagai yang berada di garda terdepan melawan segala bentuk korupsi;
  2. Semangat Paska hendaknya mendorong gereja-gereja dan umat beriman memperlihatkan secara konsisten pola hidup sederhana, kerja keras, saling berbagi, dan menjadi contoh dalam mengelola aset-aset gereja secara transparan dan akuntabel;
  3. Semangat Paska hendaknya menginspirasi gereja-gereja dan umat beriman guna melakukan pendidikan anti-korupsi antara lain, di samping khotbah-khotbah, juga melalui kurikulum pengajaran Sekolah Minggu dan Katekisasi, sehingga pemahaman korupsi sebagai kejahatan luar biasa telah ditanamkan sejak dini;
  4. Melalui semangat Paska diharapkan gereja-gereja menempatkan diri sebagai mitra kritis pemerintah. Gereja harus berani menyatakan penolakan terhadap sumbangan/bantuan yang tidak jelas sumber dan asal-usulnya, dan/atau yang ditengarai sebagai hasil korupsi dan praktek pencucian uang (money laundry) berkedok bantuan sosial;
  5. Semangat Paska, pada akhirnya hendaknya mendorong gereja-gereja menjauhkan diri dari berbagai godaan, seperti misalnya mendukung pasangan tertentu dalam perhelatan Pemilu dan Pemilukada yang ditengarai melakukan money politics, dan sebaliknya memberi penghargaan kepada pemimpin yang takut akan Allah dan benci kepada pengejaran suap (Kel. 18:21).

Pesan ini kami akhiri dengan menggarisbawahi Firman ini:

“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Ef.5:11).

Jakarta, 21 Februari 2012

Atas nama,
MAJELIS PEKERJA HARIAN
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA



Pdt. Dr. A. A. Yewangoe                               Pdt.Gomar Gultom M.Th.
Ketua Umum                                             Sekretaris Umum

Monday, May 23, 2011

Paskah Jemaat Mattiro Baji


Wisata Kebun, Pakkatto pada tanggal 14 Mei 2011.

Kegiatan ini dihadiri oleh 75 anggota jemaat (anak-anak dan dewasa). Rombongan berangkat dari TC Mandai pada pukul 9.00 (pagi) dengan menyewa bus Patas-DAMRI dan beberapa kendaraan pribadi lainnya. Oleh karena jalanan yang sedang daam perbaikan dan sedikit macet, maka rombongan tiba sekitar 11.15 siang. Kegiatan diawali dengan ibadah singkat yang dipandu oleh Jenifer Ladja dengan beberapa lagu, membaca kisah kebangkitan Yesus dari Injil Yohanes 20:1-10 oleh salah seorang anak Sekolah Minggu, dan doa oleh Pnt. Kurnaini Alwi.

Acara dilanjutkan dengan games berpacu dalam Kidung Jemaat yang dipandu oleh Pdt. Ike Ngelow bersama seksi acara, di mana peserta dibagi atas: kelompok Kaum Bapak, Kaum Ibu, Pemuda-Remaja, dan Sekolah Minggu (Games ini dimenangkan oleh kelompok Sekolah Minggu). Setelah acara game selesai, dilanjutkan dengan makan siang (doa oleh Pdt. Paulus Pellu) dan acara bebas. Acara diakhiri pada pukul 3.00 sore dengan doa penutup oleh Pdt. Armin Sukri sebelum rombongan kembali ke Mandai.

Sunday, April 17, 2011

Undangan Perayaan Paskah JMB-GKSS 14 Mei 2011

Perayaan Paskah Jemaat Mattiro Baji (JMB) GKSS akan dilaksanakan dalam bentuk "Wisata Rohani

Tempat: WISATA KEBUN, Pakkatto-GOWA, 
Waktu: Hari Sabtu, 14 Mei 2011. 
Jemaat diharapkan berkumpul di Gedung Gereja JMB paling lambat jam 9.00 pagi dan berangkat bersama-sama ke lokasi. 
Kegiatan akan diisi dengan ibadah singkat (kreatif), family games, dan relaksasi. Untuk konfirmasi keikutsertaan anggota jemaat (keluarga) hubungi seksi acara panitia Paskah JMB-GKSS, 
a.n. Armin (081343597494).

Minggu Palma, Jumat Agung, Paska

Minggu Palma
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
http://id.wikipedia.org/wiki/Minggu_Palma

Minggu Palma adalah hari raya Kristen yang selalu jatuh pada hari Minggu sebelum Paskah. Perayaan ini dikisahkan dalam empat perikop Injil, yaitu Markus 11:1-11, Matius 21:1-11, Lukas 19:28-44 dan Yohanes 12:12-19. Perayaan ini merupakan perayaan masuknya Yesus ke kota Yerusalem sebelum ia disalibkan. Masuknya Yesus ke kota suci atau Yerusalem adalah hal yang istimewa, sebab terjadinya hanya sekali seumur hidup Yesus. Itulah sebabnya Minggu Palma disebut pembuka pekan suci, yang berfokus pada pekan terakhir Yesus di kota Yerusalem. Dalam liturgi Minggu Palem, umat dibagikan daun palem dan ruang gereja dipenuhi ornamen palem.


Simbol Palem dalam Minggu Palma

Daun palem adalah simbol dari kemenangan. Daun palem ini membawa arti ke arah simbol Kristen. Daun palem digunakan untuk menyatakan kemenangan martir atas kematian. Martir sering digambarkan dengan daun pelem di antara tempat atau tambahan untuk instrumen dari kesyahidan. Kristus kerap kali menunjukkan hubungan daun palem sebagai simbol kemenangan atas dosa dan kematian. Lebih jelas lagi, hal itu diasosiasikan dengan kejayaan-Nya memasuki Yerusalem, ( Yohanes 12:12-13).

Daun palem memiliki warna hijau, hijau adalah warna dari tumbuh-tumbuhan dan musim semi. Oleh karena itu simbol kemenangan dari musim semi diatas musim salju atau kehidupan di atas kematian, menjadi sebuah campuran dari kuning dan biru itu juga melambangkan amal dan registrasi dari pekerjaan jiwa yang baik.

Saat Minggu Palma, umat melambai-lambaikan daun palem sambil bernyanyi. Hal ini menyatakan keikutsertaan umat bersama Yesus dalam arak-arakan menuju Yerusalem. Ini menyatakan tujuan yang akan dicapai pada masa yang akan datang: kota Allah, di mana ada kedamaian.

Jumat Agung
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
http://id.wikipedia.org/wiki/Jumat_Agung

Jumat Agung adalah Hari Jumat sebelum Minggu Paskah, hari peringatan Penyaliban Yesus Kristus dan wafatNya di Golgota.
Berdasarkan rincian kitab suci mengenai Pengadilan Sanhedrin atas Yesus, dan analisis ilmiah, peristiwa penyaliban Yesus sangat mungkin terjadi pada hari Jumat, namun tanggal terjadinya tidak diketahui dengan pasti, dan akhir-akhir ini diperkirakan terjadi pada tahun 33 Masehi, oleh dua kelompok ilmuwan, dan sebelumnya diperkirakan terjadi pada tahun 34 Masehi oleh Isaac Newton via perhitungan selisih-selisih antara kalender Yahudi dan kalender Julian dan besarnya bulan sabit.

Yesus di hadapan Mahkamah Agama

Setelah sebelumnya mengadakan Perjamuan Malam (Matius 26:17-25, Markus 14:12-25, Lukas 22:7-23, Yohanes 13:21-30), Yesus bersama-sama dengan murid-murid-Nya pergi ke Taman Getsemani. Di sana Yesus berdoa.
Setelah Yesus berdoa, maka datanglah Yudas, "dan bersama-sama serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi" Matius 26:47. Yesus lalu dibawa ke hadapan Mahkamah Agama Yahudi, di depan Imam Besar Kayafas.

Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati, tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Tetapi akhirnya tampillah dua orang, yang mengatakan: "Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari." Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya: "Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak." Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit." Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus dihukum mati!" Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia, dan berkata: "Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?" —Matius 26:59-68

Sementara itu Petrus yang mengikuti hingga di halaman Mahkamah Agama dikenali sebagai pengikut Yesus namun ia menyangkal tiga kali, dan pada saat itu berkokoklah ayam. Petrus yang teringat apa yang dikatakan Yesus kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Lalu Petrus pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. Matius 26:75
Yesus di hadapan Pilatus

Karena yang berhak menghukum mati seseorang hanyalah pemerintah Romawi, maka Yesus dibawa ke hadapan Pontius Pilatus.

Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apapun. Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" Tetapi Ia tidak menjawab suatu katapun, sehingga wali negeri itu sangat heran. ... Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: "Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?" Kata mereka: "Barabas." Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!" Katanya: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!" Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!" Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!" Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.
—Matius 27:11-14, 23-26

Yesus disiksa dan diolok-olok

Setelah Yesus divonis hukuman salib oleh Pontius Pilatus, Yesus disiksa terlebih dahulu seperti yang umum dilakukan pada jaman Romawi.

Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!" Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan. —Matius 27:27-31

Yesus disalibkan

Setelah disesah, maka Yesus dihukum mati di atas kayu salib di Bukit Golgota atau Kalvari

Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi. Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia. Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: "Inilah Yesus Raja orang Yahudi." Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya. Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!" Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah." Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga. —Matius 27:35-44

Yesus mati

Yesus pun mati di atas kayu salib, bukan karena Ia mati lemas atau kehabisan darah, tetapi Ia sendiri yang menyerahkan nyawa-Nya ke tangan Bapa-Nya.

Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang. Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah."
—Matius 27:50-54

Perhitungan Tanggal Jumat Agung

Jumat Agung adalah Hari Jumat sebelum Paskah, yang perhitungan tanggalnya berbeda antara Gereja Timur dan Gereja Barat (lihat Computus untuk penjelasan lebih rinci). Paskah jatuh pada hari Minggu pertama sesudah Bulan Purnama Paskah, bulan purnama pada atau sesudah 21 Maret, yang dijadikan tanggal dari vernal equinox. Perhitungan Barat menggunakan Kalender Gregorian, sedangkan perhitungan Timur menggunakan Kalender Julian, di mana tanggal 21 Maret-nya kini bertepatan dengan tanggal 3 April menurut kalender Gregorian. Perhitungan-perhitungan untuk menentukan tanggal bulan purnama tersebut juga berbeda. Lihat Metode Penentuan Tanggal Paskah (Astronomical Society of South Australia).
Karena Paskah di Gereja Barat dapat jatuh pada salah satu tanggal mulai tanggal 22 Maret sampai 25 April menurut kalender Gregorian, maka Jumat Agung dapat jatuh antara tanggal 19 Maret sampai 22 April. Dalam Gereja Timur, Paskah dapat jatuh antara 22 Maret sampai 25 April menurut kalender Julian (antara 4 April dan 8 Mei menurut kalender Gregorian, untuk periode 1900 dan 2099), jadi Jumat Agung dapat jatuh antara 19 Maret dan 22 April (atau antara 1 April dan 5 Mei menurut kalender Gregorian).

Paskah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
http://id.wikipedia.org/wiki/Paskah

Paskah (bahasa Yunani: Pasxa) adalah perayaan terpenting dalam tahun liturgi gerejawi Kristen. Bagi umat Kristen, Paskah identik dengan Yesus, yang oleh Paulus disebut sebagai "anak domba Paskah"; jemaat Kristen hingga saat ini percaya bahwa Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan, dan pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Paskah merayakan hari kebangkitan tersebut dan merupakan perayaan yang terpenting karena memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus.

Paskah juga merujuk pada masa di dalam kalender gereja yang disebut masa Paskah, yaitu masa yang dirayakan dulu selama empat puluh hari sejak Minggu Paskah (puncak dari Pekan Suci) hingga hari Kenaikan Yesus namun sekarang masa tersebut diperpanjang hingga lima puluh hari, yaitu sampai dengan hari Pentakosta (yang artinya "hari kelima puluh" - hari ke-50 setelah Paskah, terjadi peristiwa turunnya Roh Kudus). Minggu pertama di dalam masa Paskah dinamakan Oktaf Paskah oleh Gereja Katolik Roma. Hari Paskah juga mengakhiri perayaan Pra-Paskah yang dimulai sejak empat puluh hari sebelum Kamis Putih, yaitu masa-masa berdoa, penyesalan, dan persiapan berkabung.

Paskah merupakan salah satu hari raya yang berubah-ubah tanggalnya (dalam kekristenan disebut dengan perayaan yang berpindah[2]) karena disesuaikan dengan hari tertentu (dalam hal ini hari Minggu), bukan tanggal tertentu di dalam kalender sipil. Hari raya-hari raya Kristen lainnya tanggalnya disesuaikan dengan hari Paskah tersebut dengan menggunakan sebuah formula kompleks. Paskah biasanya dirayakan antara akhir bulan Maret hingga akhir bulan April (ritus Barat) atau awal bulan April hingga awal bulan Mei (ritus Timur) setiap tahunnya, tergantung kepada siklus bulan. Setelah ratusan tahun gereja-gereja tidak mencapai suatu kesepakatan, saat ini semua gereja telah menerima perhitungan Gereja Aleksandria (sekarang disebut Gereja Koptik) yang menentukan bahwa hari Paskah jatuh pada hari Minggu pertama setelah Bulan Purnama Paskah, yaitu bulan purnama pertama yang hari keempat belasnya ("bulan purnama" gerejawi) jatuh pada atau setelah 21 Maret (titik Musim Semi Matahari/vernal equinox gerejawi)

Minggu Paskah bukan perayaan yang sama (namun masih berhubungan) dengan Paskah Yahudi (bahasa Ibrani: Pesakh) dalam hal simbolisme dan juga penanggalannya. Bahasa Indonesia tidak memiliki istilah yang berbeda untuk Paskah Pesakh (Yahudi) dan Paskah Paskha (Kristen) sebagaimana beberapa bahasa Eropa yang mempunyai dua istilah yang berbeda, oleh sebab itu kata Paskah dapat memiliki dua arti yang berbeda di dalam bahasa Indonesia.

Banyak elemen budaya, termasuk kelinci Paskah dan telur Paskah, telah menjadi bagian dari perayaan Paskah modern, dan elemen-elemen tersebut biasa dirayakan oleh umat Kristen maupun non-Kristen.