Showing posts with label kebudayaan. Show all posts
Showing posts with label kebudayaan. Show all posts

Friday, February 10, 2012

Perkosaan Tamar

Bacaan: 2Samuel 13:1-39
Di GKSS Jemaat Mattiro Baji terdapat kelompok diskusi Alkitab internasional TEA, Through the Eyes of Another, Intercultural Reading of The Bible (Melalui Mata Orang Lain: Membaca Alkitab Secara Lintas Budaya). Kelompok disebut TEA Mattiro Baji. Hasil diskusi dikirim ke suatu mitra kelompok pembaca di luar negeri; kelompok itu juga mengirim hasil diskusinya kepada kelompok Mattiro Baji.
TEA Kelompok Mattiro Baji:
Armin Sukri (Ketua), Jenifer Ladja (Sekretaris), Anggota: Christovina Lebang, Jufri, Kurnaini Alwi, Makis Wata, Martinus Zainuddin, Zakaria Ngelow
Berikut hasil diskusi TEA Mattiro Baji mengenai Perkosaan Tamar (2 Sam 13)

A. Di balik Teks -- Apakah Teks ini merujuk pada konflik tertentu?

Menurut kelompok; Teks 2Samuel 13:1-39 merujuk pada konflik. Baik konflik perorangan maupun konflik batin. Adapun beberapa konflik yang dikemukakan oleh kelompok adalah:
1. Konfliknya terang-terangan: Konflik antara dua orang saudara tiri (Absalom dan Amnon, setelah Amnon memperkosa Tamar).
2. Konflik tersirat (terselubung): Konflik antara Amnon dan Absalom karena perebutan kekuasaan. Absalom kemudian membangun sebuah kekuatan untuk menggulingkan Ayahnya.
3. Selain konflik antar keluarga yang ada, juga ada konflik batin para tokoh dalam teks. Misalnya konflik batin yang dialami Tamar, sebagai seorang korban yang telah diperkosa, ia merasa pasti merasa sangat sedih, setelah ia diperkosa, saudaranya lalu membuangnya begitu saja, tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Hal yang bisa dilakukannya hanyalah menaruh abu di atas kepalanya dan mengoyakkan baju kurung yang maha indah lalu menangis. Konflik batin, juga dialami oleh Daud; ketika mengetahui Amnon telah memperkosa Tamar, lalu Absalom telah membunuh Amnon. Pada satu sisi ia merasa sangat marah tapi pada sisi lain ia tidak dapat berbuat apa-apa. Daud tidak bisa menegakkan keadilan; karena dia sendiri telah dibunuh oleh keadilan. Pengadilan Nathan kepada Daud telah membuat Daud kehilangan kepercayaan diri. Sehingga setelah Daud mau mati, dia meminta Salomo menegakkan keadilan.
4. Konflik dengan kebudayaan/kebiasaan, dalam hal apa yang dilakukan Amnon yaitu memperkosa Tamar menimbulkan konflik dengan budaya.
5. Dosa Daud yang pernah mengambil istri Uria (Batsyeba) kini dituai oleh anak-anaknya. Dalam hal ini berlaku hukum tabur-tuai. Tabur-tuai yang dimaksud ada dalam dua hal;
a. Karma: Karma dalam pengertian; pemerkosaan yang dialami Tamar merupakan hukuman atas apa yang pernah dilakukan Ayahnya. Dan pembunuhan yang dialami oleh Amnon juga merupakan karma atas apa yang pernah dilakukannya.
b. “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” : Ini merupakan pepatah di Indonesia untuk menggambarkan bahwa sikap/perilaku orang tua menurun pada anaknya. Daud menjadi contoh yang tidak baik bagi anak-anaknya, karena itu apa yang dilakukan oleh Amnon merupakan bentuk dari contoh buruk yang diberikan Daud.

B. Di dalam Teks --- Jejak-jejak Kebudayaan apa yang anda temukan dalam teks?

Beberapa jejak-jejak kebudayaan yang ditemukan dalam teks ini adalah:
• Ada budaya bagaimana seseorang harus bersikap terhadap kejadian/peristiwa tertentu. Misalnya mengoyakkan pakaian sebagai simbol duka/sedih.
• Budaya balas dendam: Absalom membalas dendam kepada Amnon karena telah memperkosa Tamar. Mungkinkah juga ada masalah persaingan sebagai putra mahkota?
• Dalam kebudayan Bugis-Makassar, ada budaya membalas dendam dalam rangka menenggakan siri’ (harga diri). Dalam budaya siri’ ini, apa yang dilakukan oleh Absalom adalah hal yang mulia dan termormat. Pemerkosaan yang dilakukan oleh Amnon telah menjatuhkan harkat dan martabat Tamar (dan keluarga besar) sehingga untuk menegakkan siri’ tersebut maka pemerkosa itu harus mati.
• Budaya patriarkhi: Tamar sebagai perempuan ditampilkan sebagai properti/hak milik atas laki-laki yang bisa diminta dan jika tidak dibutuhkan dapat dibuang. [Bersambung]

Tuesday, September 20, 2011

Upacara Adat Mapacci

Di kalangan masyarakat Bugis/Makassar pada malam menjelang upacara pernikahan seorang gadis (atau perjaka) keesokan harinya, dilangsungkan upacara adat yang disebut mapacci. Upacara adat ini sarat dengan simbol-simbol yang maknanya terkait dengan semua harapan bagi kebahagiaan calon pengantin dalam hidup rumah tangganya.

Nama mappaci berhubungan dengan daun pacci (daun pacar, yang lasim dipakai membersihkan kuku) yang dipakai dalam upacara itu. Kata pacci terhubung dengan paccing, yang berarti bersih, atau suci. Ini melambangkan kesucian hati calon pengantin menghadapi saat pernikahan dalam memulai mengayuh biduk rumah tangganya.

Dalam sastra Bugis terdapat pantun yang berbunyi :”Dua kuala sappo, unganna panasae na belo kanukue” Harafiah: Dua hal kujadikan pagar, bunga nangka (panasae) dan daun pacar (pacci). Maknanya terhubung dengan simbol yang terungkap dalam nama Bugis kedua obyek: panasa dan pacci. Kata panasa menggemakan kata minasa, yang berarti cita-cita luhur, yang juga terkait dengan kejujuran (lempu’). Kombinasi kejujuran (panasa, minasa) dan kesucian (paccing) merupakan dasar utama menjalani kehidupan rumah tangga.


Simbol-simbol Harapan

Perlengkapan simbolik upacara mapacci terdiri atas beberapa bahan: (1) benno (beras yang disangrai; biasa juga beras biasa) dan tai bani; (2) bantal, sarung, daun pisang dan daun nangka; dan (3) bekkeng berisi pacci; serta (4) gula merah dan kelapa. Benno yaitu beras yang digoreng kering hingga mekar, adalah doa kiranya calon pengantin ini akan mekar berkembang dengan baik, bersih dan jujur. Dalam bahasa Bugis disebut mpenno rialei. Sedang tai bani (patti), malam/lilin yang diperoleh dari sarang lebah -- dahulu juga dapat dibuat dari isi buah kemiri atau buah jarak; namun umumnya kini dipakai lilin biasa dari toko saja -- melambangkan suluh (penerang), supaya terang (kebaikan) menyertai hidupnya. Juga lambang kehidupan yang seperti komunitas lebah, yaitu tata kehidupan bermasyarakat yang rukun, bekerjasama, dan menekuni tugas/tanggungjawab masing-masing. Jadi simbol ini mengharapkan menjadi keluarga teladan dalam kehidupan bermasyarakat. Selanjutnya, bantal (angkalung, pa’lungang) sebagai pengalas kepala yang bermakna penghormatan atau martabat, yang dalam bahasa Bugis disebut mappakalebbi. Mengenai sarung (lipa’) haruslah sarung baru (belum pernah dipakai) sebanyak tujuh (atau sembilan) lembar, disusun dalam jalinan khusus terkait satu dengan yang lain; maksudnya ialah sebagai penutup tubuh (harga diri), juga karena sarung dibuat dari benang yang di tenun helai demi helai yang melambangkan ketekunan dan keterampilan. Dahulu kala jika laki-laki mencari calon isteri, dia tidak perlu melihat secara langsung si gadis tapi cukup dengan melihat hasil tenunannya. Bila tenunnannya rapi dan bagus maka gadis itu dapat diandalkan menjadi isteri yang baik. Tujuh lembar sarung (juga tujuh lembar daun nangka, tujuh lilin) adalah angka ganjil yang menjunjuk pada harapan untuk penggenapan. [Juga karena dalam bahasa Makassar kata “tuju” (angka tujuh) mirip dengan kata mattujui yang artinya berguna.]

Daun pisang (Bugis: daung otti, Makassar: leko’ unti), melambangkan kehidupan (keturunan, rezeki) yang berkesinambungan, sambung-menyambung. Daun pisang yang tua belum mulai kering, daun muda telah bermunculan untuk menggantikan dan melanjutkan hidupnya. Dalam bahasa Bugis disebut maccolli maddaung. Daun nangka (Bugis = daung panasa), sebagaimana dijelaskan di atas, terkait dengan minasa yang berarti harapan atau cita-cita yang luhur.

Bekkeng, yaitu wadah tempat menaruh daun pacci, mengandung arti kesatuan jiwa atau kerukunan hidup dalam suatu rumah tangga. Daun pacci, sesuai kaitan bunyinya menunjuk pada paccing/mapaccing, melambangkan kesucian, yang meliputi: mapaccing ati (bersih hati), mapaccing nawa – nawa (bersih pikiran), mapaccing panggaukang (bersih tingkah laku), mapaccing ateka’ (bersih itikad). Gula merah menunjuk pada hal yang manis (Bugis: macenning) dan dengan santan kelapa yang memberi rasa sedap (Bugis: mallunra’), simbol kehidupan rumah tangga yang penuh cinta kasih, manis dan sedap.


Jalannya Upacara Mapacci

Upacara mapaccing dirangkai dengan upacara agama; biasanya di kalangan Islam dengan barzanji. Gadis/perjaka calon pengantin duduk (di kursi atau di lantai) pelaminan (bisa juga dalam kamar pengantinnya) didampingi orangtua. Para tamu yang diundang umumnya kerabat dekat dan handai taulan. Lalu seorang yang ditentukan menjelaskan apa makna upacara mapaccing dan simbol-simbolnya, serta selanjutnya memanggil pasangan suami-isteri orang-orang yang dituakan satu persatu maju ke depan mem-pacci calon mempelai. Jumlah mereka juga ganjil, tujuh atau sembilan pasang; dan diminta dari pasangan suami-isteri yang masih utuh. Mereka juga merupakan simbol untuk harapan akan rumah tangga yang utuh, langgeng dan bahagia. Mereka duduk dan bergiliran mengambil beberapa daun pacci, mencampurnya dengan gula dan kelapa lalu meletakkan di telapak tangan mempelai yang terbuka beralas bantal di atas lipatan sarung, daun nangka dan daun pisang). Dapat pula memberikan sejumput beras (bisa dihamburkan ke kepalanya).

Setelah semua pasangan yang ditetapkan telah melakukan mapacci maka seluruh hadirin bersama-sama mendoakan semoga calon pengantin direstui oleh Yang Maha Kuasa agar menjadi isteri atau suami yang bahagia, bermartabat dan penuh berkat. ”Cukkong muwa minasae, nakkelo Puwangnge naiyya ma’dupa” (Pengharapan yang teguh, dengan perkenan Tuhan, akan terpenuhi).


Orang Kristen melakukan Mapacci?

Di kalangan orang Bugis yang beragama Kristen upacara mapacci juga dilakukan dengan dirangkaikan kebaktian jemaat. Upacara ini berbeda dengan tradisi sekuler “lepas bujang”, yang lebih merupakan pesta si gadis (atau si perjaka) masing-masing dengan kawan-kawan muda-mudi sepergaulannya. Upacara mapacci secara Kristiani difahami terutama sebagai ucapan syukur dan doa atas hidup si gadis/ si perjaka, sang calon mempelai. Disyukuri perkenan Tuhan memberi kekuatan orangtuanya membesarkan dia, dan penentuan Tuhan sehingga telah menemukan jodohnya untuk siap berumah tangga. Upacara ini adalah mendoakan supaya upacara perkawinannya besok hari berlangsung dengan baik, dan supaya rumah tangganya diberkati Tuhan dengan kebahagiaan dan semua yang baik, sebagaimana dinyatakan melalui simbol benda-benda yang dipakai dalam mapacci. Pembacaan dan perenungan Firman Allah dari Alkitab dikaitkan dengan syukur dan doa itu. Dengan kata lian, upacara mapacci merupakan suatu tindakan berteologi -- bukan terutama dengan kata-kata -- tetapi dengan simbol-simbol yang konkrit. Aspek lain yang juga penting dalam mapacci adalah menghimpunkan kerabat dan handai taulan tanpa membedakan latar agama, untuk bersama-sama bersyukur dan mendoakan calon pengantin. Di dalam upcara ini berbagai nilai-nilai positif tradisi budaya dihidupkan dan diperkenalkan. Jadi gereja menerima upacara mapacci sebagai suatu warisan budaya yang positif dan perlu dilestrikan.


Rujukan:
http://ila-galigo.blogspot.com/2009/02/upacara-adat-mapacci.html.
http://idawy.wordpress.com/2009/06/20/mappacci/

Terima kasih kepada Bpk Penatua Kurnaini Alwi, yang menjelaskan berberapa makna simbolis unsur-unsur yang dipakai dalam mapacci. Pdt. Armin Sukri dan Jenifer Ladja mengoreksi beberapa istilah bahasa daerah. Tulisan ini sebagai “doa mapacci” untuk seorang gadis asal Bugis Soppeng warga GKSS Jemaat Mattiro Baji yang baru-baru ini mengalami upacara mapacci menjelang pemberkatan nikahnya. Tuhan berkati.


[Zakaria J. Ngelow]

Sunday, September 4, 2011

Buku La Galigo



Karya sastra klasik lahir dari tanah Bugis, Sulawesi Selatan. Merupakan karya sastra terpanjang di dunia, melebihi Mahabarata dari India dan karya Homeros dari Yunani. Pada tahun 2011 Badan dunia UNESCO menetapkan naskah klasik I La Galigo ini sebagai Warisan Dunia dan diberi anugerah Memory of The Word (MOW).

Karya sastra I La Galigo kini telah hadir dalam terjemahan Indonesia yang diterbitkan oleh Pustaka Refleksi sebanyak 6 jilid. Bagi yang berminat untuk memilikinya, silahkan mengunjungi toko buku Gramedia.

[info dari Pdt. Armin Sukri]

untuk tambahan informasi silahkan klik:
http://id.wikipedia.org/wiki/Sureq_Galigo

Saturday, August 20, 2011

Minasa Riboritta

Berikut ini sebuah lagu populer dari daerah Makassar yang isinya dapat menjadi renungan kita dalam merayakan hari kemerdekaan bangsa kita. Apakah semangat yang diusung dalam syair lagu ini sesuai dengan ajaran Kristen?



(A.R. Ridwan/Abdullah Sijaya)

http://www.geocities.ws/radiospfm/minasariboritta.html (diunduh 21 Agustus 2011)

 
Mangkumamo mabella
Niya'ma' ri se'reang bori
Ansombalangi sare kamaseku
Passare Batara
 
Manna monjo nakamma
Pangngu'rangingku ri kau tonji
Ka butta la'biri' passolongang ceratta
Ri Bawakaraeng
 
Se'reji kupala' ri julu boritta
Sirika ji tojeng
Sollanna na niya' areng mabajitta
Ri bori' maraeng
 
Naki ma'minasa te'neki masunggu
Na nacini' todong
Bori' maraenga sarrowa mangngakkali
Ri kamajuanta
 
 
Terjemahan bebas (z. ngelow) silahkan koreksi:

Harapan untuk Negeri Kita
 
Walaupun aku jauh berada di negeri orang, melayari nasibku sesuai perkenan Ilahi
 
Tetapi ingatanku hanya padamu, tanah mulia tumpah darah kita di Bawa Karaeng
 
Hanya satu yang kuminta dari kaum senegriku, utamakanlah siri' supaya terjaga nama baik kita di negeri orang.
 
Dan kita berharap beroleh sejahtera, sehingga kemajuan kita akan dilihat juga oleh orang di negeri lain, yang sering menertawai kita