Showing posts with label kalender gereja. Show all posts
Showing posts with label kalender gereja. Show all posts

Friday, April 6, 2012

Dia Pikul Salib Demi Kita



 Cathy Jo Moore

Ketika Dia bergumul di taman Getsemani
Kitalah yang Dia pertaruhkan
Dia sadar Dia harus mati
Supaya kita dibebaskan

Ketika Dia dihadapkan kepada umat
Mereka berteriak-teriak: Salibkan Dia! Salibkan Dia!
Dia dapat memanggil sepuluh ribu malaikat
Namun Dia sadar kita semua yang tidak berdaya

Ketika mereka telanjangi Dia
Dan mencambuk Dia berdarah-darah
Dia dapat memanggil sepuluh ribu malaikat
Namun demi kita Dia memilih diam saja.

Kasih Yesus sangat besar
Ya, karena besar kasih-Nya kepada kita manusia
Dia tetap bertahan disiksa
Dia sadar derita-sengsara itu harus Dia alami.

Ketika Dia terseok-seok mendaki jalan itu memikul salib-Nya
Di setiap langkah-Nya Dia dapat tunjukkan Kuasa-Nya
Tetapi kasih-Nya membuat Dia tegar mendaki ke bukit itu
Dia tahu harus menanggung dosa-dosa kita di tubuh-Nya.

Oh, betapa sangat Dia peduli
Paku tajam-panjang ditancap tembus tangan dan kaki-Nya
Menghunjam ke dalam balok kayu salib-Nya
Hanya itu caranya Dia genapi rencana besar Ilahi.

Di bukit Tengkorak itu, di antara dua penjahat
Mereka pancangkan salib-Nya.
Dan apakah yang dilihat-Nya?
Dia melihat betapa kita semua tersesat.

Sebenarnya Dia dapat memanggil para malaekat-Nya
Dan mereka pasti akan segera bertindak membebaskan Dia.
Namun dia sadar benar bahwa kitalah yang perlu diselamatkan.

Dosa-dosa kita amatlah banyak, kita buatdosa  sepanjang hidup kita
Namun semua telah dibayar-Nya lunas.

Dengan memilih menerima siksa-derita di kayu salib itu
Dia akhirnya menang perang melawan kuasa dosa
Di salib-Nya itu Dia menanggung dosa-dosa kita
Dosa semua orang dibasuh darah-Nya

Ya, Dia pikul salib-Nya dan Dia dipaku di salib itu demi kita
Karena Dia benar-benar mengasihi kita.

He Carried That Cross For Us
http://www.turnbacktogod.com/poem-he-carried-that-cross-for-us/
Terjemahan bebas oleh Pdt. Zakaria Ngelow (Jumat Agung 2012)

Friday, March 2, 2012

Pra-Paskah



Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pra-Paskah (bahasa Inggris: Lent; bahasa Latin: Quadragesima, "ke-40"[1]) adalah masa yang mendahului hari raya Paskah dalam agama Kristen. Masa ini mencakup empat puluh hari mulai hari Rabu Abu sampai hari Minggu Paskah, dengan berbagai liturgi yang diakhiri sampai Kamis Putih, menjelang peringatan 3 peristiwa amat penting yaitu Kematian Yesus pada hari Jumat Agung, yang dilanjutkan dengan penguburannya dan masa tinggalnya di dalam kubur, serta kebangkitan-Nya dari kematian pada hari Minggu Paskah.

Kalau Paskah memperingati kebangkitan Yesus setelah kematiannya di atas kayu salib, masa Pra-Paskah berhubungan dengan persiapan Pekan Suci, yang memperingati kejadian yang menuju ke Pengadilan Yesus terakhir oleh Kekaisaran Romawi. Ini terjadi di antara tahun 29-33 Masehi.

Secara tradisional, Pra-Paskah ini merupakan persiapan penyesalan orang percaya, melalui doa, penyesalan, pertobatan, pemberian sedekah, dan mengingkari diri. Tujuan ini lebih ditekankan saat memasuki masa perayaan tahunan Pekan Suci, yaitu peristiwa Kematian dan Kebangkitan Yesus. Ada empat puluh hari dalam masa pra-paskah yang ditandai dengan berpantang dari makanan dan kenikmatan, dan sikap penyesalan lainnya. Hal ini merujuk pada peristiwa yang dicatat di kitab-kitab Injil Sinoptik (Injil Matius, Injil Markus dan Injil Lukas, bahwa Yesus Kristus berpuasa 40 hari 40 malam lamanya di padang gurun sebelum memulai pekerjaan-Nya, di mana Ia dicobai oleh Iblis.[2][3][4]
Acolyte mematikan lilin di atas altar yang dihiasi warna ungu untuk Pra-Paskah. Perhatikan bahwa salib dan patung sering dibungkus kain ungu, dan tidak ada bunga maupun persembahan yang diperlihatkan. Rabu Abu, dalam sebuah gereja Episkopal di Tennessee, Amerika Serikat.
Jemaat merayakan Pra-Paskah dengan barisan pawai selama Pekan Suci. Warna ungu sering dihubungkan dengan penyesalan dan pertobatan. Kebiasaan penyesalan yang serupa dijumpai di negara-negara lain, kadang termasuk penyiksaan tubuh. Granada, Nicaragua.

Di sejumlah gereja Kristen, enam hari Minggu di antara hari Selasa sebelum Rabu Abu (Shrove Tuesday) dan Minggu Paskah tidak dihitung dalam 40 hari Pra-Paskah, sehingga tanggal hari Selasa itu lebih dari 40 hari sebelum Paskah. Peristiwa ini, dengan kebiasaan-kebiasaan yang khusyuk, diperingati di gereja-gereja Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental, Katolik Roma, Lutheran, Methodist, Presbyterian, Anglikan dan sejumlah gereja Baptis.[5][5][6][6] Pra-Paskah ini sekarang juga diperingati di beberapa denominasi yang dulunya mengabaikannya, misalnya di sejumlah gereja Baptis dan Mennonit.[7]

Lamanya masa Pra-Paskah

Kebanyakan penganut agama Kristen memperingati Pra-Paskah sejak hari Rabu Abu dan berakhir pada hari Kamis Putih.[4][8] Enam hari Minggu di antaranya tidak dihitung, karena masing-masing merupakan "Paskah kecil", yaitu peringatan kemenangan Yesus atas dosa dan kematian.[3] Salah satu perkecualian yang terkenal adalah di Archdiocese of Milan, yang mengikuti "ritual Ambrosian" (Ambrosian Rite) di mana Pra-Paskah dimulai pada hari Minggu 6 minggu sebelum Paskah.[9]

Sejak Konsili Vatikan Kedua, gereja Katolik Roma menetapkan hari Jumat Agung sampai Sabtu Suci sebagai dua hari pertama "Easter Triduum" dan bukan lagi sebagai dua hari terakhir Pra-Paskah, meskipun peringatan Pra-Paskah tetap dilanjutkan sampai "Easter Vigil".

Di gereja-gereja yang mengikuti "Ritus Konstatinopel" (misalnya gereja Ortodoks Timur dan gereja Katolik Timur), 40 hari Pra-Paskah dihitung berbeda, sebagaimana perbedaan perhitungan tanggal untuk hari Paskah. Puasa dimulai pada hari Senin Murni ("Clean Monday"), dengan memasukkan setiap hari Minggu, sampai berakhir pada hari Jumat sebelum Minggu Palem. Hari-hari khusus Sabtu Lazarus ("Lazarus Saturday"), Minggu Palem dan Pekan Suci dianggap masa puasa yang terpisah. Seluruh masa Pra-Paskah ini disebut "Great Lent".

Dalam gereja Ortodoks Oriental, ada sejumlah tradisi setempat selama Pra-Paskah. Gereja Ortodoks Koptik, gereja Ortodoks Etiopia dan gereja Ortodoks Eritrea memperingati 8 minggu Pra-Paskah, di mana tanpa menyertakan hari Sabtu dan Minggu, merupakan 40 hari puasa.[9]
Asal nama

Dalam liturgi bahasa Latin dipakai istilah quadragesima, yaitu terjemahan dari bahasa Yunani "Τεσσαρακοστή" (Tessarakoste, "ke-40" hari sebelum Paskah). Istilah ini dipelihara dalam bahasa Romana (Romance), bahasa Slavik dan bahasa Keltik (Celtic), misalnya bahasa Spanyol cuaresma, bahasa Portugis quaresma, bahasa Perancis carême, bahasa Italia quaresima, bahasa Romania paresimi, bahasa Kroasia korizma, bahasa Irlandia Carghas, dan bahasa Wales C(a)rawys.

Di akhir Abad Pertengahan, ketika khotbah diberikan dalam bahasa rakyat, tidak lagi dalam bahasa Latin, istilah bahasa Inggris lent mulai dipakai. Kata ini mulanya berarti "musim semi", seperti dalam bahasa Jerman Lenz dan bahasa Belanda lente), yang berasal dari akar kata bahasa Jermanik long (=panjang), karena di musim semi, hari (siang hari) jelas terasa lebih panjang dari musim dingin sebelumnya.[10]

Perayaan sebelum Pra-Paskah

Perayaan karnaval tradisional yang mendahului masa Pra-Paskah diadakan sebelum memasuki masa puasa. Yang paling terkenal adalah di Rio de Janeiro; di samping karnaval di Trinidad & Tobago, Venice, Cologne, Mobile di Alabama dan New Orleans di Louisiana. Acara ini terkenal dengan nama Mardi Gras atau "Shrove Tuesday" atau "Fat Tuesday" (hari "Selasa Gemuk").
Puasa dan pantangan

Puasa di masa Pra-Paskah lebih berat di zaman dulu daripada zaman sekarang. Socrates Scholasticus mencatat bahwa di beberapa tempat, semua bahan makanan dari binatang dilarang, sementara di tempat lain ikan dan burung boleh dimakan, buah-buahan dan telur dilarang, dan di tempat lain hanya makan roti. Ada tempat dimana umat berpantang makan selama satu hari penuh; di tempat lain hanya makan sekali sehari, atau berpantang makan sampai jam 3 siang. Di banyak tempat, kebiasaan puasa ini diakhiri di waktu petang, di mana umat hanya makan makanan kecil tanpa sayur maupun alkohol.

Di awal Abad Pertengahan, bahan makanan mengandung daging, telur dan susu umumnya dilarang. Thomas Aquinas berpendapat bahwa "bahan-bahan itu memberi kesukaan lebih banyak (daripada ikan), dan banyak nutrisi bagi tubuh, sehingga dengan memakannya memberi lebih banyak kelebihan untuk proses seminal, yang jika berlebihan memberi dorongan kepada hawa nafsu."[11] Namun, dispensasi untuk bahan dari susu diberikan sebagai donasi untuk pembangunan sejumlah gereja, termasuk "Butter Tower" dari Rouen Cathedral. Di Spanyol, peraturan untuk "Holy Crusade" (diperbarui secara teratur setelah tahun 1492) mengijinkan makan bahan dari susu[12] dan telur selama Pra-Paskah sebagai ganti kontribusi kepada konflik. Giraldus Cambrensis dalam tulisannya Itinerary of Archbishop Baldwin through Wales melaporkan bahwa "di Jerman dan daerah arktik," "orang-orang saleh," makan ekor berang-berang (beaver) sebagai "ikan" karena bentuknya mirip dengan ikan dan mudah didapat.[13]

Di masyarakat barat kebiasaan ini sekarang lebih kendor, meskipun di gereja Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental dan Gereja Katolik Timur, masih berlaku pantangan untuk semua bahan binatang termasuk ikan, telur, burung dan susu yang dari binatang (kambing atau sapi, bukan dari kacang kedelai atau kelapa), sehingga hanya makanan dari tumbuhan (vegetarian/vegan) yang dimakan selama 44 hari Pra-Paskah mereka. Dalam gereja Katolik Roma ada kebiasaan untuk berpantang makan daging binatang mamalia dan burung pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat selama Pra-Paskah, meskipun ikan dan makanan dari susu diijinkan dimakan. Pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung juga ada kebiasaan untuk puasa sehari penuh, tanpa daging, makan hanya sekali sehari, atau jika perlu, dua kali makanan kecil.

Hari-hari Raya

Sejumlah hari penting selama Pra-Paskah:

Rabu Abu, hari pertama masa Pra-Paskah di gereja barat.
Clean Monday (atau "Senin Abu"), hari pertama Pra-Paskah di gereja timur.
Hari Minggu Pra-Paskah ke-4, yang menandai titik tengah antara Rabu Abu dan Paskah, kadang disebut Laetare Sunday, di gereja Katolik Roma, atau "Mothering Sunday", yang menjadi sama dengan "Mother's Day" di Inggris. Namun, mulanya adalah perayaan di abad ke-16 untuk "Mother Church" (gereja induk). Pada hari Laetare Sunday, pastor boleh memakai jubah berwarna merah muda, sebagai pengganti ungu.
Hari Minggu Pra-Paskah ke-5, juga disebut Passion Sunday (istilah ini juga dipakai untuk Minggu Palem), menandai permulaan Passiontide
Hari Minggu Pra-Paskah ke-6, umumnya disebut Minggu Palem, menandai permulaan Pekan Suci, minggu terakhir Pra-Paskah sebelum Minggu Paskah.
Hari Rabu dalam Pekan Suci disebut "Spy Wednesday" (Rabu Mata-mata atau Pengintai) untuk memperingati hari-hari Yudas Iskariot mengintai Yesus Kristus di taman Getsemani sebelum mengkhianati-Nya.
Hari Kamis dalam Pekan Suci disebut Kamis Putih (Maundy Thursday atau Holy Thursday), merupakan hari peringatan Perjamuan Terakhir yang dilakukan oleh Yesus Kristus dengan murid-murid-Nya.
Jumat Agung, hari peringatan Kematian Yesus dan penguburan-Nya

Dalam gereja Katolik Roma, Easter Triduum adalah peringatan tiga hari yang dimulai dengan nyanyian pembukaan Mass untuk Perjamuan Kudus. Setelah peringatan hari Kamis Putih sore, hosti kudus diambil dengan khusuk dari altar ke tempat penyimpanan dimana orang percaya diundang untuk menyembah "tubuh kudus Kristus". Di hari berikutnya, diadakan liturgi peringatan penderitaan Kristus pada pukul 3 sore. Ibadah ini terdiri dari pembacaan Alkitab terutama dari Injil Yohanes tentang penderitaan Yesus Kristus, diikuti dengan doa, pemujaan salib Yesus dan kemudian Perjamuan Kudus dimana hosti, yang dikuduskan pada sore sebelumnya, dibagikan. Easter Vigil di waktu malam antara Sabtu Suci petang dan Minggu Paskah subuh dimulai dengan pemberkatan api dan lilin khusus dengan pembacaan Alkitab yang berhubungan dengan baptisan, lalu menyanyikan Gloria in Excelsis Deo, pemberkatan air, dilakukan baptisan dan konfirmasi untuk orang dewasa, kemudian jemaat diundang untuk memperbarui janji baptisan mereka; akhirnya Mass dilakukan seperti biasa mulai dari "Preparation of the Gifts" dan selanjutnya.

Pekan Suci dan masa Pra-Paskah, tergantung dari denominasi Kristen dan kebiasaan setempat, diakhiri dengan Easter Vigil pada Sabtu Suci sore atau subuh pada hari Minggu Paskah. Ada kebiasaan di sejumlah gereja untuk mengadakan ibadah subuh di lapangan terbuka.

Dalam gereja Katolik Roma, Lutheran, dan banyak gereja Anglikan, para pendeta berpakaian ungu selama Pra-Paskah. Pada hari Minggu ke-4 Pra-Paskah, boleh memakai warna merah muda. Di beberapa gereja Anglikan sejenis kain lenan yang tidak diputihkan atau muslin yang disebut "Lenten array", dipakai selama 3 minggu pertama Pra-Paskah, kemudian warna merah selama Passiontide.

Referensi

1 http://www.newadvent.org/cathen/09152a.htm
2 Matius 4:1–2; Markus 1:12–13; Lukas 4:1–2
3 a b "What is Lent and why does it last forty days?". The United Methodist Church. Diakses pada 24 Agustus 2007.
4 a b "The Liturgical Year". The Anglican Catholic Church. Diakses pada 24 Agustus 2007.
5 a b Comparative Religion For Dummies. For Dummies. Diakses pada 8 Maret 2011.
6 a b William P. Lazarus, Mark Sullivan. Comparative Religion For Dummies. For Dummies. Diakses pada 8 Maret 2011.
7 http://www.thirdway.com/menno/glossary.asp?ID=121
8 Thurston, Herbert (1910). "Lent". The Catholic Encyclopedia. IX. New York: Robert Appleton Company. Diakses pada 15 Februari 2008
9 a b Catholic Encyclopedia – Lent See paragraph: Duration of the Fast
10 Lent Online Etymology Dictionary. Retrieved 8 March 2009.
11 "'''Summa Theologica''' Q147a8". Newadvent.org. Diakses pada 27 Agustus 2010.
12 "Millennium:Fear and Religion". Diarsipkan dari yang asli pada 18 Agustus 2002.
13 "Baldwin's Itinerary Through Wales No. 2 by Giraldus Cambrensis". Gutenberg.org. 31 Desember 2001. Diakses pada 27 Agustus 2010.



Monday, February 27, 2012

Pembacaan Alkitab: Januari-Maret 2012


Bacaan Alkitab (BAKI PGI 2012)


Januari
Minggu, 1 Januari : Kejadian 17:1-12a, 15-16 Pagi: Mazmur 103 Petang: Mazmur petang: 148 Kolose 2:6-12 Yohanes 16:23b-30 Tahun Baru Masehi

Minggu, 8 Januari : Kejadian 17:1-12a, 15-16 Pagi: Mazmur 103 Petang: Mazmur petang: 148 Kolose 2:6-12 Yohanes 16:23b-30

Minggu, 15 Januari : Yesaya 44:6-8, 21-23 Pagi: Mazmur 25 Petang: Mazmur 9, 15 Efesus 4:1-16 Markus 3:7-19a

Minggu, 22 Januari : Yesaya 48:1-11 Pagi: Mazmur 41, 52 Petang: Mazmur 44 Galatia 1:1-17 Markus 5:21-43

Minggu, 29 Januari : Yesaya 51:17-23 Pagi: Mazmur 56, 57, 58 Petang: Mazmur 64, 65 Galatia 4:1-11 Markus 7:24-37

Februari
Minggu, 5 Februari : Yesaya 58:1-12 Pagi: Mazmur 80 Petang: Mazmur 77, 79 Galatia 6:11-18 Markus 9:30-41

Minggu, 12 Februari : Yesaya 63:1-6 Pagi: Mazmur 89:1-18 Petang: Mazmur 89:19-52 1 Timotius 1:1-17 Markus 11:1-11

Minggu, 19 Februari : Rut 1:1-14 Pagi: Mazmur 106:1-18 Petang: Mazmur 106:19-48 2 Korintus 1:1-11 Matius 5:1-12

Minggu, 26 Februari : Ulangan 6:10-15 Pagi: Mazmur 25 Petang: Mazmur 9, 15 Ibrani 1:1-14 Yohanes 1:1-18

Maret
Minggu, 4 Maret : Ulangan 8:1-10 Pagi: Mazmur 63, 98 Petang: Mazmur 103 1 Korintus 1:17-31 Markus 2:18-22 Hari Doa Anak-anak Sedunia

Minggu, 11 Maret : Yeremia 1:1-10 Pagi: Mazmur 24, 29 Petang: Mazmur 8, 84 1 Korintus 3:11-23 Markus 3:31-4:9

Minggu, 18 Maret : Yeremia 6:9-15 Pagi: Mazmur 93, 96 Petang: Mazmur: 34 1 Korintus 6:12-20 Markus 5:1-20

Minggu, 25 Maret : Yeremia 14:1-9, 17-22 Pagi: Mazmur 66, 67 Petang: Mazmur 19, 46 Galatia 4:21-5:1 Markus 8:11-21


Saturday, February 25, 2012

Ash Wednesday Prayers

Doa Rabu Abu

Jesus, you place on my forehead
the sign of my sister Death:
“Remember you are dust,
and to dust you shall return.”

Tuhan Yesus, Engkau menaruh di dahiku
Tanda dari Sang Maut, saudariku:
"Ingatlah engkau abu,
dan akan kembali ke debu."

How not hear her wise advice?
One day my life on earth will end;
the limits on my years are set,
though I know not the day or hour.
Shall I be ready to go to meet you?
Let this holy season be a time of grace
for me and all this world.

Bagaimana tak kusimak petuah bijaknya?
Suatu hari hidupku di dunia akan berakhir;
batas umurku telah ditentukan,
meski tak kutahu hari dan saatnya.
Harukah aku bersiap menemui-Mu?
Biarlah masa kudus ini jadi suatu masa rahmat
bagiku dan semua orang. 

“Teach us to number our days aright,
that we may gain wisdom of heart.”

"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami dengan benar,
sehingga kami beroleh hikmat nurani"

O Jesus, you place on my forehead
the sign of your saving Cross:
“Turn from sin and be faithful
to the gospel.”

Ya Yesus,  Engkau menaruh abu di dahiku
tanda dari salib-Mu yang menyelamatkan:
"Bertobatlah dari dosa dan setialah
kepada Injil."

How can I turn from sin
unless I turn to you?

Bagaimanakah aku bertobat dari dosa
jika tidak berbalik kepada-Mu?

You speak, you raise your hand,
you touch my mind and call my name,
“Turn to the Lord your God again.”

Engkau bersabda, Engkau mengangkat tangan-Mu,
Engkau menyentuh pikiranku, dan memanggil namaku,
"Baliklah lagi kepada Tuhan Allahmu"

These days of your favor
leave a blessing as you pass
on me and all your people.
Turn to us, Lord God,
and we shall turn to you.

Di hari-hari perkenanmu ini
Engkau beri berkat ketika lewat
atasku dan atas semua umat-Mu.
Baliklah kepada kami, Tuhan Allah,
dan kami akan berbalik kepadamu.

Teks dari: http://www.cptryon.org/prayer/season/ash.html
terjemahan: Zakaria Ngelow.
Minggu Sengsara Pertama 2012

Catatan:
Rabu Abu
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
 http://id.wikipedia.org/wiki/Rabu_Abu
Dalam agama Kristen tradisi barat (termasuk Katolik Roma dan Protestanisme), Rabu Abu adalah hari pertama masa Pra-Paskah. Ini terjadi pada hari Rabu, 40 hari sebelum Paskah tanpa menghitung hari-hari Minggu atau 44 hari (termasuk Minggu) sebelum hari Jumat Agung. Pada hari ini umat yang datang ke Gereja dahinya diberi tanda salib dari abu sebagai simbol upacara ini. Simbol ini mengingatkan umat akan ritual Israel kuna di mana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan (misalnya seperti dalam Kitab Ester 4:1, 3). Dalam Mazmur 102:10 penyesalan juga digambarkan dengan "memakan abu": "Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan." Biasanya pemberian tanda tersebut disertai dengan ucapan, "Bertobatlah dan percayalah pada Injil."

Seringkali pada hari ini bacaan di Gereja diambil dari Alkitab, kitab II Samuel 11-12, perihal raja Daud yang berzinah dan bertobat.

Banyak orang Katolik menganggap hari Rabu Abu sebagai hari untuk mengingat kefanaan seseorang. Pada hari ini umat Katolik berusia 18–59 tahun diwajibkan berpuasa, dengan batasan makan kenyang paling banyak satu kali, dan berpantang.

Monday, May 9, 2011

Hari Pentakosta

Warna Liturgis: Merah Jenis Hari Raya: Pesta
Waktu: 50 hari sesudah Paskah
Lama perayaan: satu hari (dahulu seminggu penuh)
Pokok Perayaan: Ketuangan Roh Kudus dan lahirnya Gereja
Nama Lain: Minggu Putih
Referensi Alkitab: Kis 2:1-11


Perayaan Pentakosta: tanggal 31 Mei 2009; 23 Mei 2010; 12 Juni 2011; 27 Mei 2012.
Dalam setiap tahunnya, gereja secara liturgis berjalan dari minggu ke minggu mengikuti kehidupan Yesus Kristus. Perjalanan liturgis kalender gerejawi ini dimulai dengan Minggu Advent I (4 minggu sebelum Natal, dihitung mulai dari hari Minggu terdekat ke tanggal 30 November) menantikan kedatangan-Nya (hari Natal, 25 Desember), dan sunat/ penyerahan-Nya di Bait Allah (Luk 2:21 dst; 1 Januari) dan perkunjungan orang Majus (6 Januari). Kemudian masuk minggu-minggu sengsara (7 minggu) penyaliban dan kematian-Nya (Jumat Agung), lalu kebangkitan-Nya (Paskah, yang tepat pada hari Minggu). Setelah 40 hari penampakan-penampakan-Nya kepada para murid di Yerusalem dan Galilea, Yesus nasik ke sorga (pada hari Kenaikan); dan 10 hari kemudian Roh Kudus dicurahkan (pada hari Pentakosta). Dalam perjalanan liturgis ini gereja merayakan hidup Tuhan Yesus Kristus dengan ibadah, doa, pemberitaan firman, sakramen, hiasan gereja, lambang-lambang, pergantian warna kain mimbar dan pakaian pejabat gereja (termasuk stola), dsb. Perayaan hari Pentakosta mulai populer dalam gereja sejak abad ke-4.

Pada waktu Tuhan Yesus
Dengan murid-Nya di Bukit Zaitun
Datanglah awan yang khabus
Tuhan Yesus pun terangkatlah
Ke dalam t’rang.

Reff

Tuhan Yesus sabdalah:
Hai, janganlah kamu cerai
Dari negeri Yerusalem
Nantikanlah, nantikan janjian Bapamu.

Kemudian s’puluh hari
Datanglah Roh yang dijanjikan-Nya
Hinggap di kepala rasul
Dialah pemimpin, satu orang berkuasa penuh


Demikianlah dalam penanggalan gereja hari Pentakosta dihubungkan dengan hari pencurahan Roh Kudus kepada para rasul (Kis 2: 1 dst). Hari Pentakosta disebut juga hari Minggu Putih (Whitsunday) karena dahulu di Barat orang-orang yang dibaptis pada malam menjelang hari perayaan itu memakai pakaian putih. Tetapi pejabat gereja memakai pakaian warna merah, karena merujuk pada api Roh Kudus. Hari Pentakosta juga dihubungkan dengan lahirnya gereja. Umumnya perayaan Pentakosta dikaitkan dengan peran pembaharuan, persekutuan dan karunia-karunia Roh Kudus bagi orang percaya. [Sebagai aliran gereja, nama Pentakosta pada mulanya muncul pada awal abad lalu di Amerika Serikat, dan merupakan gerakan pembaharuan yang menekankan kuasa dan karunia-karunia Roh Kudus, khususnya penyembuhan ilahi dan bahasa lidah.]

Latar Belakang Yahudi

Latar belakang perayaan Pentakosta adalah suatu perayaan Yahudi, salah satu dari tiga perayaan utama: Paskah, Tujuh Minggu, dan Pondok Daun. Perayaan-perayaan dalam agama Yahudi terhubung dengan pesta-pesta kebudayaan agraris kuno, dan sebagai peringatan peristiwa-peristiwa sejarah bangsa itu. Paskah yang diperingati dalam rangka peristiwa keluaran dari Mesir adalah perayaan awal panen, dengan mempersembahkan berkas jelai (persembahan unjukan Bil 23:15), yang diakhiri dengan perayaan Tujuh Minggu (lazim disebut Shavuot), yaitu hari kelima puluh setelah Paskah, dengan mempersembahkan dua roti yang dibuat dari panen hulu hasil gandum. Hari raya Pondok Daun dirayakan seminggu setelah panen buah-buahan (anggur, zaitun, kurma dsb Ul 16: 9 dst). Di Palestina dikenal hasil bumi utama: gandum, jelai, pohon anggur, pohon ara, pohon delima, pohon zaitun, dan pohon kurma (band Ul 8:8). Tema dasar seluruh perayaan panen itu dirangkum dalam Mzr 65:10-11

Engkau mengindahkan tanah itu, mengaruniainya kelimpahan, dan membuatnya sangat kaya. Batang air Allah penuh air; Engkau menyediakan gandum bagi mereka. Ya, demikianlah Engkau menyediakannya: Engkau mengairi alur bajaknya, Engkau membasahi gumpalan-gumpalan tanahnya, dengan dirus hujan Engkau menggemburkannya; Engkau memberkati tumbuh-tumbuhannya.

Tetapi istilah Pentakosta tidak terdapat dalam Perjanjian Lama; penamaan Pentakosta (Yunani: lima puluh) berasal dari kalangan Yahudi yang tinggal di wilayah berbahasa Yunani. Dalam Perjanjian Baru nama hari raya Pentakosta disebutkan tiga kali (Kis 2:1; 20:16 dan 1Kor 16:8), semuanya menunjuk pada perayaan orang Yahudi. Dalam Perjanjian Lama, perayaan ini dikenal dengan banyak nama: Perayaan Panen (Kel. 23: 16) dan Perayaan Tujuh Minggu (Kel 34: 22; Ul 41: 10; II Taw 8: 13); Juga hari Buah Bungaran (Buah Sulung, Bil. 28: 26;). Kemudian disebut pula Perayaan Penutup atau Penutupan Masa Paskah. Di Palestina panen berlangsung tujuh minggu dan merupakan masa sukaria (Yer 5: 24; Ul 41: 9; Yes 9: 2). Masa panen dimulai dengan panen jelai selama Paskah, dan berakhir dengan panen gandum pada Pentakosta. Jadi Pentakosta adalah pesta terakhir perayaan panen, yang dirayakan selain dalam peribadahan bersama, juga dalam perayaan sosial makan bersama para undangan (band. Paskah yang lebih dirayakan dalam lingkup terbatas keluarga).

Menurut Kel 34: 18-26 (band 33: 10-17), perayaan Tujuh Minggu ini adalah yang kedua dari tiga perayaan yang dirayakan dengan tarian altar kaum pria di tempat suci. Mereka harus membawa buah sulung dari panen gandum (Ul 16:9-12), yang dilaksanakan dalam suatu upacara penyembahan yang menggabungkan tradisi pertanian dengan sejarah Israel. Kitab Ulangan 26:1-11 memuat petunjuk penyembahan dengan liturgi yang berisi “Pengakuan Iman Israel” berdasarkan sejarahnya. Pengakuan itu adalah pemilihan leluhur, pembebasan dari Mesir, pemeliharaan di padang gurun, dan pemberian Tanah Kanaan. Salah satu pokok yang tidak tercantum adalah pemberian Hukum Torat (band. Rangkuman sejarah Israel dalam Neh 9).

Dalam Im 23: 15-22 juga diatur persembahan pada perayaan ini, berupa 2 roti beragi dari tepung gandum panen perdana. Bentuknya berombak sehingga disebut “roti berombak”. Dan karena roti itu beragi tidak dapat diletakkan di mezbah (Im 2:11). Kedua ketul roti diserahkan masing-masing satu kepada Imam Besar dan satu kepada para imam lainnya. Mereka memakannya dalam kompleks tempat suci. Di samping itu, terdapat pula kewajiban memberi persembahan korban hewan (lihat Bil 28:26-31; Im 23:15-22).

Dalam tradisi Yahudi kemudian hari, perayaan Pentakosta juga dihubungkan dengan hari lahir Torat (pemberian hukum-hukum Tuhan di Sinai), yang dirayakan dengan membaca Torat semalam suntuk atau sampai tengah malam. Bagian-bagian bacaan Kitab Suci adalah sbb:

* Hari-hari Penciptaan (Kej 1:1 - 2:3);
* Keluaran dan Nyanyian di Laut Merah (Kel 14:1 - 15:27)
* Pemberian 1o Hukum di Sinai (Kel 18: 1 - 20:26; 24:1-18; 34: 27-35; Ul 5: 1 - 6:9)
* Sejarah dan bagian dari “Dengarlah” (Ul 10:12 - 11:25)
* Kitab nabi-nabi: Yehezkiel fasal 1; Hos 1:1-3; Hab 2:20-3:19; dan Mal 3:22-24.
* Kitab Rut dibaca seluruhnya;
* Mazmur: 1, 19, 68, 119, 150.


Karena Torat dikaruniakan pada hari Pentakosta, para Rabbi Yahudi menjadikannya hari raya gembira. Seorang rabbi terkemuka menetapkan supaya dihidangkan anak lembu terbaik, karena sekiranya Torat tidak dikaruniakan Tuhan maka tidak akan muncul para rabbi terpelajar di kalangan umat itu. Perayaan Paskah dan Pentakosta, yang merupakan satu rangkaian, kemudian menjadi salah satu alasan tradisi mudik orang Yahudi diaspora ke Yerusalem setiap tahun (band Kis 2:5).

Kemudian hari berkembang kebiasaan memakan makanan olahan dan kue keju dari susu sapi untuk menghormati Torat, yang rasanya seperti “madu dan susu” (band Kid 4:11). Setelah itu baru makan daging.

Di sinagoge gulungan kitab Rut dibaca karena berisi kisah Rut sebagai orang asing yang menerima agama Yahudi, dan adanya ceritera mengenai panen, yang cocok menghubungkan Pentakosta sebagai perayaan Torat dan perayaan panen. Juga dipercaya bahwa Raja Daud, yang adalah keturunan Rut, wafat pada hari Pentakosta.

Pada perayaan Pentakosta orang Yahudi menghiasi rumah dan sinagoge dengan daun-daunan, dan pohon-pohonan, yang berhubungan baik dengan dunia pertanian maupun dengan pengalaman perjalanan keluaran di padang tiah.

Pada perayaan Pentakosta dilakukan konfirmasi (=sidi) bagi para pemuda Yahudi; suatu tradisi dari kalangan pembaru agama Yahudi. Hari Pentakosta sebagai hari lahir Torat, juga dirayakan sebagai hari lahir agama Yahudi.

Demikianlah perayaan Pentakosta Yahudi meliputi:

• Sidi bagi para pemuda (khusus komunitas Yahudi reformis)
• Pembacaan puisi liturgis pada ibadah pagi di sinagoge
• Makan makanan olahan dari susu, seperti keju dan mentega
• Pembacaan kitab Rut pada ibadah pagi
• dekorasi rumah dan sinagoge dengan daun-daunan
• Melakukan studi Torah sepanjang malam.


Beberapa Tradisi Pentakosta dalam Gereja:

* Di Italia terdapat tradisi menghambur kelopak-kelopak bunga mawar merah dari langit-langit gereja sebagai peringatan mujizat keturunan Roh Kudus. Sebab itu hari Pentakosta disebut pula Pasqua rosatum atau Pascha rossa (Paskah Merah).

* Di Perancis orang meniup terompet untuk mengingat suara angin gemuruh ketika keturunan Roh Kudus.

* Di Rusia orang membawa mawar dan ranting-ranting pohon ke gereja.

* Dalam Gereja Ortodoks Timur berlangsung doa puitis dan pembacaan Mazmur serta ibadah khususk sepanjang malam menjelang Pentakosta. Pada kebaktian Pentakosta biasanya berlangsung baptisan, dan hari Minggu Pentakosta itu disebut Hari Minggu Tritunggal.

* Di Libanon, hari Pentakosta menandai berakhirnya musim dingin. Sesudah kebaktiasn keluarga-keluarga pergi ke hutan berpiknik menikmati musim semi. Anak-anak bermain ayunan, yang digantung di cabang-cabang pohon (pinus, zaitun, araz).

* Di Polandia, Pentakosta disebut “Hari Raya Hijau”. Orang menghias rumah mereka dengan cabang-cabang hijau, sebagai tanda berkat Tuhan bagi penghuninya. Dahulu ada arak-arakan ke padang pertanian untuk memberkati tanaman.

* Di Ukraina, Pentakosta disebut Hari Minggu Hijau. Bagian dalam gereja dihiasi daun-daun yang gugur, dan pada pintu dan tangga ditaruh ranting-ranting. Pejabat gereja dan anak-anak altar memakai pakaian hijau; demikian juga sejumlah warga gereja. Hal ini untuk memperingati tiga ribu orang yang dibaptis pada hari Pentakosta; mereka memasuki kehidupan baru yang ditandai dengan warna hijau. Warna hijau juga menunjuk pada pengaruh perayaan dan pemahaman Yahudi.

* Di Negeri Belanda, Pentakosta disebut "Pinksteren", dan hari Senin besoknya adalah hari libur nasional. Karena satu-satunya hari libur sebelum hari Natal, dan yang umumnya dengan maka
di musim yang cerah, maka dilakukan bazar dan festival, terutama Pinkpop , sesuai nama Pentakosta dalam bahasa Belanda, Pinksteren.

Kesimpulan

Tradisi perayaan hari Pentakosta mengandung nilai-nilai dari latar belakang perayaan panen dan penerimaan Torat Yahudi, maupun tradisi Kristen mengenai Roh Kudus dan lahirnya Gereja. Para pemimpin gereja perlu memikirkan bagaimana pada masa kini perayaan ini (demikian juga perayaan lainnya) diberi pemaknaan dan bentuk-bentuk yang menggairahkan penghayatan serta komitmen iman. Pentakosta dapat dihubungkan dengan panen dan pemeliharaan alam, tetapi juga dengan pembaharuan hidup dan ketaatan. Kegembiraan dan fungsi sosialnya memang tidakisa menyamai perayaan Natal, namun di pedesaan dapat digabung dengan syukuran panen.

Disarikan dari berbagai sumber
oleh Zakaria J. Ngelow


Sunday, April 17, 2011

Minggu Palma, Jumat Agung, Paska

Minggu Palma
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
http://id.wikipedia.org/wiki/Minggu_Palma

Minggu Palma adalah hari raya Kristen yang selalu jatuh pada hari Minggu sebelum Paskah. Perayaan ini dikisahkan dalam empat perikop Injil, yaitu Markus 11:1-11, Matius 21:1-11, Lukas 19:28-44 dan Yohanes 12:12-19. Perayaan ini merupakan perayaan masuknya Yesus ke kota Yerusalem sebelum ia disalibkan. Masuknya Yesus ke kota suci atau Yerusalem adalah hal yang istimewa, sebab terjadinya hanya sekali seumur hidup Yesus. Itulah sebabnya Minggu Palma disebut pembuka pekan suci, yang berfokus pada pekan terakhir Yesus di kota Yerusalem. Dalam liturgi Minggu Palem, umat dibagikan daun palem dan ruang gereja dipenuhi ornamen palem.


Simbol Palem dalam Minggu Palma

Daun palem adalah simbol dari kemenangan. Daun palem ini membawa arti ke arah simbol Kristen. Daun palem digunakan untuk menyatakan kemenangan martir atas kematian. Martir sering digambarkan dengan daun pelem di antara tempat atau tambahan untuk instrumen dari kesyahidan. Kristus kerap kali menunjukkan hubungan daun palem sebagai simbol kemenangan atas dosa dan kematian. Lebih jelas lagi, hal itu diasosiasikan dengan kejayaan-Nya memasuki Yerusalem, ( Yohanes 12:12-13).

Daun palem memiliki warna hijau, hijau adalah warna dari tumbuh-tumbuhan dan musim semi. Oleh karena itu simbol kemenangan dari musim semi diatas musim salju atau kehidupan di atas kematian, menjadi sebuah campuran dari kuning dan biru itu juga melambangkan amal dan registrasi dari pekerjaan jiwa yang baik.

Saat Minggu Palma, umat melambai-lambaikan daun palem sambil bernyanyi. Hal ini menyatakan keikutsertaan umat bersama Yesus dalam arak-arakan menuju Yerusalem. Ini menyatakan tujuan yang akan dicapai pada masa yang akan datang: kota Allah, di mana ada kedamaian.

Jumat Agung
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
http://id.wikipedia.org/wiki/Jumat_Agung

Jumat Agung adalah Hari Jumat sebelum Minggu Paskah, hari peringatan Penyaliban Yesus Kristus dan wafatNya di Golgota.
Berdasarkan rincian kitab suci mengenai Pengadilan Sanhedrin atas Yesus, dan analisis ilmiah, peristiwa penyaliban Yesus sangat mungkin terjadi pada hari Jumat, namun tanggal terjadinya tidak diketahui dengan pasti, dan akhir-akhir ini diperkirakan terjadi pada tahun 33 Masehi, oleh dua kelompok ilmuwan, dan sebelumnya diperkirakan terjadi pada tahun 34 Masehi oleh Isaac Newton via perhitungan selisih-selisih antara kalender Yahudi dan kalender Julian dan besarnya bulan sabit.

Yesus di hadapan Mahkamah Agama

Setelah sebelumnya mengadakan Perjamuan Malam (Matius 26:17-25, Markus 14:12-25, Lukas 22:7-23, Yohanes 13:21-30), Yesus bersama-sama dengan murid-murid-Nya pergi ke Taman Getsemani. Di sana Yesus berdoa.
Setelah Yesus berdoa, maka datanglah Yudas, "dan bersama-sama serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi" Matius 26:47. Yesus lalu dibawa ke hadapan Mahkamah Agama Yahudi, di depan Imam Besar Kayafas.

Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati, tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Tetapi akhirnya tampillah dua orang, yang mengatakan: "Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari." Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya: "Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak." Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit." Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus dihukum mati!" Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia, dan berkata: "Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?" —Matius 26:59-68

Sementara itu Petrus yang mengikuti hingga di halaman Mahkamah Agama dikenali sebagai pengikut Yesus namun ia menyangkal tiga kali, dan pada saat itu berkokoklah ayam. Petrus yang teringat apa yang dikatakan Yesus kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Lalu Petrus pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. Matius 26:75
Yesus di hadapan Pilatus

Karena yang berhak menghukum mati seseorang hanyalah pemerintah Romawi, maka Yesus dibawa ke hadapan Pontius Pilatus.

Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apapun. Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" Tetapi Ia tidak menjawab suatu katapun, sehingga wali negeri itu sangat heran. ... Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: "Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?" Kata mereka: "Barabas." Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!" Katanya: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!" Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!" Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!" Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.
—Matius 27:11-14, 23-26

Yesus disiksa dan diolok-olok

Setelah Yesus divonis hukuman salib oleh Pontius Pilatus, Yesus disiksa terlebih dahulu seperti yang umum dilakukan pada jaman Romawi.

Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!" Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan. —Matius 27:27-31

Yesus disalibkan

Setelah disesah, maka Yesus dihukum mati di atas kayu salib di Bukit Golgota atau Kalvari

Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi. Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia. Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: "Inilah Yesus Raja orang Yahudi." Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya. Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!" Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah." Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga. —Matius 27:35-44

Yesus mati

Yesus pun mati di atas kayu salib, bukan karena Ia mati lemas atau kehabisan darah, tetapi Ia sendiri yang menyerahkan nyawa-Nya ke tangan Bapa-Nya.

Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang. Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah."
—Matius 27:50-54

Perhitungan Tanggal Jumat Agung

Jumat Agung adalah Hari Jumat sebelum Paskah, yang perhitungan tanggalnya berbeda antara Gereja Timur dan Gereja Barat (lihat Computus untuk penjelasan lebih rinci). Paskah jatuh pada hari Minggu pertama sesudah Bulan Purnama Paskah, bulan purnama pada atau sesudah 21 Maret, yang dijadikan tanggal dari vernal equinox. Perhitungan Barat menggunakan Kalender Gregorian, sedangkan perhitungan Timur menggunakan Kalender Julian, di mana tanggal 21 Maret-nya kini bertepatan dengan tanggal 3 April menurut kalender Gregorian. Perhitungan-perhitungan untuk menentukan tanggal bulan purnama tersebut juga berbeda. Lihat Metode Penentuan Tanggal Paskah (Astronomical Society of South Australia).
Karena Paskah di Gereja Barat dapat jatuh pada salah satu tanggal mulai tanggal 22 Maret sampai 25 April menurut kalender Gregorian, maka Jumat Agung dapat jatuh antara tanggal 19 Maret sampai 22 April. Dalam Gereja Timur, Paskah dapat jatuh antara 22 Maret sampai 25 April menurut kalender Julian (antara 4 April dan 8 Mei menurut kalender Gregorian, untuk periode 1900 dan 2099), jadi Jumat Agung dapat jatuh antara 19 Maret dan 22 April (atau antara 1 April dan 5 Mei menurut kalender Gregorian).

Paskah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
http://id.wikipedia.org/wiki/Paskah

Paskah (bahasa Yunani: Pasxa) adalah perayaan terpenting dalam tahun liturgi gerejawi Kristen. Bagi umat Kristen, Paskah identik dengan Yesus, yang oleh Paulus disebut sebagai "anak domba Paskah"; jemaat Kristen hingga saat ini percaya bahwa Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan, dan pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Paskah merayakan hari kebangkitan tersebut dan merupakan perayaan yang terpenting karena memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus.

Paskah juga merujuk pada masa di dalam kalender gereja yang disebut masa Paskah, yaitu masa yang dirayakan dulu selama empat puluh hari sejak Minggu Paskah (puncak dari Pekan Suci) hingga hari Kenaikan Yesus namun sekarang masa tersebut diperpanjang hingga lima puluh hari, yaitu sampai dengan hari Pentakosta (yang artinya "hari kelima puluh" - hari ke-50 setelah Paskah, terjadi peristiwa turunnya Roh Kudus). Minggu pertama di dalam masa Paskah dinamakan Oktaf Paskah oleh Gereja Katolik Roma. Hari Paskah juga mengakhiri perayaan Pra-Paskah yang dimulai sejak empat puluh hari sebelum Kamis Putih, yaitu masa-masa berdoa, penyesalan, dan persiapan berkabung.

Paskah merupakan salah satu hari raya yang berubah-ubah tanggalnya (dalam kekristenan disebut dengan perayaan yang berpindah[2]) karena disesuaikan dengan hari tertentu (dalam hal ini hari Minggu), bukan tanggal tertentu di dalam kalender sipil. Hari raya-hari raya Kristen lainnya tanggalnya disesuaikan dengan hari Paskah tersebut dengan menggunakan sebuah formula kompleks. Paskah biasanya dirayakan antara akhir bulan Maret hingga akhir bulan April (ritus Barat) atau awal bulan April hingga awal bulan Mei (ritus Timur) setiap tahunnya, tergantung kepada siklus bulan. Setelah ratusan tahun gereja-gereja tidak mencapai suatu kesepakatan, saat ini semua gereja telah menerima perhitungan Gereja Aleksandria (sekarang disebut Gereja Koptik) yang menentukan bahwa hari Paskah jatuh pada hari Minggu pertama setelah Bulan Purnama Paskah, yaitu bulan purnama pertama yang hari keempat belasnya ("bulan purnama" gerejawi) jatuh pada atau setelah 21 Maret (titik Musim Semi Matahari/vernal equinox gerejawi)

Minggu Paskah bukan perayaan yang sama (namun masih berhubungan) dengan Paskah Yahudi (bahasa Ibrani: Pesakh) dalam hal simbolisme dan juga penanggalannya. Bahasa Indonesia tidak memiliki istilah yang berbeda untuk Paskah Pesakh (Yahudi) dan Paskah Paskha (Kristen) sebagaimana beberapa bahasa Eropa yang mempunyai dua istilah yang berbeda, oleh sebab itu kata Paskah dapat memiliki dua arti yang berbeda di dalam bahasa Indonesia.

Banyak elemen budaya, termasuk kelinci Paskah dan telur Paskah, telah menjadi bagian dari perayaan Paskah modern, dan elemen-elemen tersebut biasa dirayakan oleh umat Kristen maupun non-Kristen.