Showing posts with label Liputan. Show all posts
Showing posts with label Liputan. Show all posts

Monday, September 3, 2012

Pelatihan Perempuan Gereja



Keterlibatan perempuan dalam pelayanan gereja tentunya bukan hal yang asing dan tidak perlu dipertanyakan lagi.  Dalam peran dan tugas yang padat sebagai ibu rumah tangga, domestik maupun publik, perempuan gereja senantiasa meluangkan waktu dan tenaga serta pengorbanan lainnya demi pelayanan dalam gereja.

Secara kasat mata, jumlah perempuan lebih mendominasi dari pada kaum bapak/pria dalam ibadah-ibadah atau kegiatan gerejawi lainnya; sayangnya jumlah bukan menjadi ukuran sumberdaya.  Kualitas tetap menjadi hal utama dalam hal ini, karena itu dirasa perlu oleh pengurus Persekutuan Wanita Gereja Kristen Sulawesi Selatan  (PW GKSS) Klasis Bulusaraung untuk menyelenggarakan sebuah Pelatihan Kepemimpinan Perempuan lingkup Klasis Bulusaraung.

Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ini diseleggarakan atas kerjasama tiga lembaga, yakni; Pengurus PW GKSS Klasis Bulusaraung, Yayasan Pelayanan Holistik Allamahabah (YPHA) dan Yayasan Oase Intim.  Kegiatan yang diselenggarakan di pendopo YPHA, jln Arung Teko ini dihadiri oleh 36 peserta (33 peserta dari jemaat-jemaat di Klasis Bulusaraung dan tiga orang dari jemaat tetangga POUK Kanaan)
Sisca Dalawir Dalam Materi Public Speaking dan Kepribadian Perempuan Kristen

Empat hari pelaksanaan,14-17Agustus 2012 tidak memudarkan semangat para peserta, meski kerinduan kepada keluarga masing-masing tentu merasuk sukma.  Beberapa materi yang disajikan disesuaikan dengan kebutuhan para peserta sesuai hasil rapat persiapan sebelumnya.


Farida Pelupess (kiri) bersama Hj. Dra. St. Hadawiah (kanan)
Di antara materi yang dibahas adalah ketrampilan public speaking dan aspek-aspek kepribadian perempuan (Kristen) difasilitasi Sisca Dalawir; masalah-masalah perempuan dalam keluarga dan masyarakat dari perspektif hukum oleh Lusy Palulungan.  Seorang tokoh pengurus Aisyiyah Propinsi Sulawesi Selatan, Hj. St. Hadawiah, memperkenalkan organisasi perempuan Islam dan kegiatan-kegiatannya. Seorang tamu dari Australia, Henk , juga memperkenalkan tantangan pelayanan perempuan Kristen di negerinya, yang sudah sangat dipengaruhi nilai-nilai sekuler.   Sharing ini bertujuan untuk menambah wawasan para perempuan dalam pelayanan yang tidak hanya terfokus pada pelayanan di dalam tembok gereja tapi juga bagi masyarakat secara lebih luas. 

Akhirnya, kegiatan yang dibuka oleh Majelis Pekerja Klasis Bulusaraung (Pnt. Petrus Rani) dan juga ditutup oleh MPK Klasis Bulusaraung (Pdt. Armin Sukri) pun berakhir tepat pada hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agutus 2012.

Pada akhir kegiatan, saya menyempatkan untuk mewawancarai beberapa Ibu untuk dimintai pendapat seputar proses. Menurut pengakuan Ibu Martina dan Ibu Ester dari jemaat GKSS Sudiang, seluruh proses yang berlangsung selama beberapa hari sudah sangat memuaskan dan berharap masih akan diadakan lagi.  Salah satu materi yang sangat berkesan dan dapat segera dipraktekkan adalah materi Public Speaking dan Kepribadian Kristen, karena pada sessi ini para peserta dibekali dengan berbagai aspek etiket pergaulan. Selain itu, Ibu Agustina dan Ibu Dorkas dari Jemaat GKSS Baji Pa’mai Maros menyarankan waktu pelaksanaan ditambah dan jika diadakan lagi perlu diadakan pada saat libur. Bagi mereka banyak hal yang menjadi pelajaran dari pelatihan ini. Dari beberapa peserta yang minta pendapat menyarankan supaya Kesehatan Reproduksi menjadi salah satu materi pada pelatihan selanjutnya.  [Jenifer]

Ny. Abidin Ato, saat menafsirkan Alkitab



Peserta dari POUK Kanaan saat memimpin permainan

Tuesday, July 10, 2012

Mereka Disatukan Dalam GKSS Futsal Cup 2012



Euforia EURO 2012 telah berakhir, GKSS pun menulis kisah baru tentang dirinya dalam ajang GKSS Futsal Cup 2012. Kompetisi futsal yang digelar di Glora Sudiang, 7 Juli 2012 itu berakhir dengan berbagai cerita. 

Oleh: SRIYANTO

Ada tawa, ada sedih. Ada yang senang dan gembira, ada juga yang kecewa. Tak sedikit pula yang galau. Ekspresi-ekspresi itulah yang mewarnai event GKSS Futsal Cup 2012, 7 Juli lalu.
Mungkin yang paling bergembira diajang tersebut adalah pemain dan suporter Bethel Sambueja. Ya, tim mereka berhasil menjadi kampiun GKSS Futsal Cup 2012. Tapi sayangnya, suporter yang paling heboh itu merupakan suporter “naturalisasi”. Mereka adalah anak-anak warga setempat yang diminta meneriakkan yel-yel mendukung Bethel Sambueja.
Berbeda pula dengan para pemain. Jika tim mereka menang, menjadi spirit untuk pertandingan selanjutnya. Tapi tak sedikit pula, ketika tim kalah, mereka mencari-cari kesalahan. Dan, ujungnya mengarah ke wasit yang dijadikan ‘kambing hitam’ atas kegagalan tim.
Kemenangan memang penting. Tapi bukan itu sebenarnya yang ingin dicapai dalam GKSS Futsal Cup 2012. “Ini ajang untuk saling mengenal, menjalin kebersamaan sesama pemuda GKSS. Jadi mencari kemenangan bukan yang utama,” ujar Ari, salah seorang pemain Pangkajene Pangkep kepada penulis.
Meski diwarnai berbagai pelanggaran, pemain yang cedera, tetapi tidak ada dendam. Ya, inilah salah satu ajang yang mempersatukan pemuda GKSS. Siapa saja bisa kalah, tetapi jika ia mampu bangkit dan memetik pelajaran dari setiap kekalahan, ia lebih dari pemenang.

Kariango “Dibetel” oleh Sambueja

Tim futsal Jemaat Bethel Sambueja berhasil menjuarai turnamen GKSS Futsal Cup 2012 yang berlangsung di Glora Sudiang, 7 Juli 2012. Bertemu di laga final 2 x 15 menit, Jemaat Damai Kariango “dibetel” oleh Lukas dkk dengan skor 3-2.
Sejak awal, banyak pihak sudah memprediksi tim Bethel Sambueja bakal bertemu tim Damai Kariango di laga final. Pasalnya, kedua tim mempunyai materi pemain di atas rata-rata pemain tim lain, kekuatan fisik salah satunya.
Menempati grup A yang merupakan grup ‘maut’, Bethel Sambueja tampil luar biasa. Dari empat kali bertanding, tim “Julu Siri” berhasil memetik poin penuh dengan empat kali menang atas lawan-lawannya.
Pada pertandingan pertama melawan Baji Pa’mai Maros, Lukas dkk berhasil meraih kemenangan dengan skor 4-2. Selanjutnya membungkam Mattiro Baji 5-1, menaklukkan Pandang-pandang 4-1, dan membuyarkan harapan Kertago masuk ke semifinal dengan skor 3-1. Dengan hasil tersebut, Bethel Sambueja menjadi juara grup A dengan 12 poin dan disusul Mattiro Baji sebagai runner up dengan 9 poin.
Sementara di grup B, tim Damai Kariango berhasil menjadi juara grup dengan nilai 7 poin. Mereka berhasil melumat tim dari Pangkajene Pangkep dengan skor 7-3, bermain imbang melawan Makkio Baji 5-5, dan menaklukkan Oikumene Sudiang 7-1. Sebenarnya Damai Kariango dan Makkio Baji sama-sama mengumpulkan 7 poin, namun Kariango unggul dalam hal produktifitas gol sebanyak 19 dibanding Makkio Baji yang hanya 15 gol.
Di babak semifinal, juara grup A melawan runner up grup B dan runner up grup A melawan juara grup B. Bethel Sambueja sebagai juara grup A ditantang Makkio Baji yang datang dengan ambisi juara. Sedangkan juara grup B, ketangguhan para pemain Damai Kariango ditantang runner up grup A, Mattiro Baji yang mengandalkan pemain-pemain usia remajanya.
Laga semifinal pertama antara Damai Kariango melawan Mattiro Baji berjalan dengan tensi tinggi. Mattiro Baji dengan pemain-pemain usia remajanya yang tidak diunggulkan sejak babak penyisihan mampu membuktikan bahwa mereka mampu membuat kejutan. Tampil baik sejak menit-menit awal babak pertama, Jodhi dkk berhasil memimpin 2-0 atas Damai Kariango.
Tertinggal 0-2, membuat tim Damai Kariango tampil lebih ngotot. Pelanggaran-pelanggaran keras pun semakin banyak mewarnai jalannya pertandingan. Permainan keras yang diperagakan Damai Kariango membuat permainan Mattiro Baji menjadi tidak fokus.
Puncaknya saat Darma, pemain Mattiro Baji mengalami cedera cukup serius, ia tidak mampu lagi melanjutkan permainan dan harus dipapah ke luar lapangan. Sejak saat itu, mental anak-anak Mattiro Baji yang didominasi usia remaja menjadi drop dan kehilangan kekompakan.
Satu per satu pemain inti Mattiro Baji mengalami cedera dan tidak mampu melanjutkan pertandingan. Tim Mattiro Baji akhirnya berhasil dikalahkan dengan skor 9-3 dan harus mengakui ketangguhan Damai Kariango.
Sementara di laga semifinal kedua yang mempertemukan juara grup A, Bethel Sambueja melawan runner up grup B, Makkio Baji. Pertandingan berjalan cukup ketat, meskipun pada akhirnya tim Makkio Baji harus mengakui keperkasaan Lukas dkk dengan skor 5-2.

Makkio Baji Patahkan Dominasi Klasis Bulusaraung

Tim Makkio Baji pantas mendapat acungan jempol. Jika tim lain membawa lebih dari 8 pemain, Makkio Baji membawa hanya 6 pemain (lima pemain inti dan satu pemain pengganti). Hasilnya? Mereka mampu masuk babak semifinal dan berhasil meraih juara III.
Sejak bertanding di babak penyisihan grup, Makkio Baji sudah memperlihatkan permainannya yang membuat calon lawan mereka menjadi ciut. Buktinya, Damai Kariango yang lebih diunggulkan mampu ditahan imbang oleh Makkio Baji dengan skor 5-5.
Dengan keberhasilan Makkio Baji meraih juara III GKSS Futsal Cup 2012, mereka sekaligus mematahkan dominasi tim-tim Klasis Bulusaraung yang berlaga di turnamen ini. Dari empat besar semifinalis GKSS Futsal Cup 2012, Makkio Baji satu-satunya wakil dari Klasis Makassar. Tiga di antaranya dari Klasis Bulusaraung, yakni Bethel Sambueja, Damai Kariango dan Mattiro Baji.
Sementara itu, tim Pangkajene Pangkep satu-satunya dari Klasis Mappatuwo harus pulang tanpa poin bersama Baji Pa’mai Maros. Dari tiga kali bertanding, Pangkajene tak sekalipun memetik kemenangan. Sementara Baji Pa’mai Maros, juga tak pernah menang dari tiga pertandingan.
Sebenarnya tim Baji’ Pa’mai Maros bisa memiliki poin jika mereka menang atau seri di pertandingan terakhir melawan Pandang-pandang. Namun, baik menang atau seri, harapan Baji Pa’mai Maros masuk ke babak semifinal tetap tertutup.
Tertutupnya harapan lolos ke babak semifinal, tim Baji Pa’mai Maros tak lagi melakoni pertandingan terakhirnya melawan Pandang-pandang. Mereka memilih meninggalkan arena kompleks Glora Sudiang.
Berbeda dengan Pangkajene Pangkep, meski tak satu pun poin yang diraih, Ari dkk tetap melakoni semua pertandingan hingga selesai. “Lebih baik kalah dalam bertanding daripada kalah sebelum bertanding,” kata Ari.

 
Mental Juara Mattiro Baji

Tidak diunggulkan oleh banyak pihak, ternyata tim Mattiro Baji mampu membuktikan bahwa mereka patut diperhitungkan pada turnamen GKSS Futsal Cup kali ini. Banyak pihak lebih mengunggulkan tim Baji Pa’mai Maros atau Kertago yang akan mendampingi Bethel Sambueja lolos ke babak semifinal dari grup A.
Namun, prediksi tersebut dipatahkan Mattiro Baji. Hal ini dibuktikan atas penampilan yang mengejutkan, mampu membungkam tim Kertago dengan skor telak 4-1 pada penyisihan grup A.
Saat pertandingan melawan Baji Pa’mai Maros, mental anak-anak remaja Mattiro Baji kembali diuji. Pada babak pertama, Jodhi dkk tertinggal 0-2 dari Baji Pa’mai Maros. Namun hingga pertandingan berakhir, Mattiro Baji mampu membalikkan keadaan dengan mempecundangi Isman dkk dengan skor 5-4.
Pada laga terakhir melawan tim Pandang-pandang, Mattiro Baji kembali membuktikan bahwa mereka memiliki mental juara meskipun didominasi oleh pemain-pemain usia remaja. Dalam laga hidup mati tersebut, Mattiro Baji kembali sempat tertinggal 0-2.
Namun dengan performa tim yang makin kompak diakhir pertandingan, mereka mampu membalikkan keadaan dengan skor 5-2 untuk kemenangan Mattiro Baji. Hasil ini membuat Mattiro Baji menjadi runner up grup A dan membuat Pandang-pandang harus angkat koper.



Pemain Termuda GKSS Futsal Cup 2012

Jika pada perhelatan EURO 2012 lalu, tim ‘Panzer’ Jerman mendapat pujian karena materi-materi pemain mudanya, di event GKSS Futsal Cup 2012 juga tampaknya telah melahirkan deretan pemain-pemain muda berbakat.
Tim tersebut adalah Mattiro Baji. Didominasi oleh pemain-pemain remaja, mereka mampu menjawab keraguan banyak pihak dengan mengalahkan tim-tim dengan pemain usia 22-35 tahun dan lolos ke babak semifinal.
Para pemain-pemain remaja tersebut adalah Yosua CH Djalang (15 tahun), Jodhi CH Djalang (13 tahun) pencetak 8 gol, Suwerdy Dwinandar Gustian (14 tahun) pencetak 9 gol. Jodhi yang meski berpostur tubuh agak kecil, namun ketajamannya di depan gawang mampu ia buktikan dengan koleksi 8 golnya.
Kordinator Tim Mattiro Baji, Frenky Wongkar mengaku salut atas perjuangan para pemain hingga mampu masuk empat besar GKSS Futsal Cup 2012. Meskipun memiliki pemain-pemain usia muda, namun keberanian menurunkan pemain-pemain usia remaja menjadi starting membuktikan akan adanya regenerasi yang baik di skuad Mattiro Baji. “Mereka juga bisa mendapat pengalaman dari sini,” kata Frenky.
Tak hanya dominasi pemain termudanya yang mendapat pujian, Mattiro Baji juga berhasil didaulat oleh panitia sebagai Suporter Terbaik. Sebenarnya tanda-tanda suporter terbaik, awalnya dipertontonkan oleh Baji Pa’mai Maros. Namun mereka tidak mengikuti event hingga selesai karena tim futsal Baji Pa’mai Maros harus pulang lebih awal.
Selain Baji Pa’mai Maros, kehebohan suporter Damai Kariango juga berhasil membuat riuh kompleks Glora Sudiang, tempat pelaksanaan GKSS Futsal Cup 2012. Namun karena datang terlambat, mereka gagal dinobatkan sebagai suporter terbaik.
Dan, akhirnya pilihan sebagai Suporter Terbaik jatuh kepada Mattiro Baji. Panitia menilai, karena kesetiaan mereka mendukung tim Mattiro Baji yang bertanding, dari awal hingga turnamen GKSS Futsal Cup usai dan ditutup dengan penyerahan piala pemenang oleh Pdt Yulianus Lamarang, Sekretaris MPS GKSS. (anto_jurnalis@yahoo.co.id)









Wednesday, May 30, 2012

Ibadah Konsolidasi Klasis Bulusaraung


Ibadah bersama pemuda se-klasis Bulusaraung atau yang biasa disebut ibadah konsolidasi untuk bulan Mei ini dilaksanakan di Jemaat Mattiro Baji, Mandai. Ibadah yang awalnya dijadwalkan pukul 15.00 dilaksanakan pada pukul 15.30 hanya dihadiri oleh tiga jemaat. Seharusnya ibadah ini dihadiri oleh 6 jemaat akan tetapi jemaat yang lain tidak hadir hingga ibadah ini berakhir. Beberapa jemaat, seperti Sambueja dan Sudiang menyatakan tidak dapat hadir karena berhalangan, sedangkan untuk Jemaat Kappang tidak ada pemberitahuan. Pada saat yang sama, Jemaat Sudiang mengalami kedukaaan, dikarenakan salah satu jemaat mereka meninggal dunia (Simon Mongan) yang juga merupakan Ayahanda dari rekan pemuda yakni Harun Mongan.

Ibadah yang dilaksanakan pada hari minggu tanggal 20 Mei 2012 ini dilayani oleh Pdt. Ike Ngelow, S.Th yang juga merupakan penghantar Jemaat Mattiro Baji GKSS. Pelayanan firman yang dilaksanakan tidak seperti biasanya, kali ini pengurus memutar sebuah film yang berjudul Tanda Tanya lalu dilanjutkan dengan diskusi yang dipimpin oleh Pdt Ike.  Film ini berkisah tentang bagaimana pluralisme di Indonesia dan bagaimana kita hidup di Negara Indonesia yang majemuk ini namun tetap menjunjung tinggi toleransi dan kebersamaan.  Film yang penuh makna ini mengundang banyak komentar-komentar dari teman-teman pemuda yang hadir saat itu.

Dalam ibadah ini Ketua Komisi Pemuda Klasis Bulusaraung, Lewi Maliku menyatakan bagaimana pentingnya saling menjaga kebersamaan namun tetap memegang jati diri kita sebagai anak-anak Tuhan. Ibadah ini ditutup dengan sambutan Ketua Komisi Pemuda Sinode GKSS, Yudhi Satria Pulo yang sekaligus berdoa untuk berkat jasmani yang akan diterima oleh seluruh hadirin.
Pada Kesempatan ini juga, kami dari segenap pengurus dan anggota Pemuda se-Klasis Bulusaraung turut berduka cita atas duka yang dirasakan oleh saudara, rekan, sahabat kami, Harun Mongan atas berpulangnya Ayahanda tercinta.  [YSP]