Showing posts with label gereja. Show all posts
Showing posts with label gereja. Show all posts

Tuesday, June 12, 2012

Gereja Imanuel Moncongloe


Dengan perkenan Tuhan maka pada tanggal 12 Juni 2012 diberkati pemakaian gedung gereja GKSS Jemaat Imanuel Moncongloe dalam suatu kebaktian perayaan. Kebaktian didpimpin bersama oleh Pdt. Alex Siampa (Pengehntar Jemaat) dan Pdt. E. Maays Baura (Ketua Sinode GKSS).

Upacara dirangkaikan dengan pekan perayaan Hari Ulang Tahun ke-46 GKSS (12 Juni 1966-2012); dan Hari Pekabaran Injil ke-79 GKSS (19 Juni 1933-2012).
Jemaat yang terletak jauh terpencil di wilayah Kabupaten Gowa ini dicapai melalui jalan dari Batang Ase (Kab Maros) melalui Kompleks militer Kariango. Ada pula jalan tembus dari Perumahan BTP Makassar.

Jemaat ini berasal dari pembinaan rohani para tahanan politik (Tapol) yang mulai pada tahun 1968. Pada tahun 1969 atas swadaya masyarakat dan TNI dibangun gedung darurat untuk tempat beribadah bersama pada hari Minggu. Atas kerjasama dengan POMDAM dan GKSS maka sejak tahun 1977 daerah Moncongloe dan sekitarnya menjadi pos Pekabaran Injil GKSS. Terutama orang mengingat kesetiaan almarhuman Pdt. Mintje Montolalu dalam pelayanan para tapol masa itu. Setelah kompleks tapol dibubarkan maka sejumlah warga Kristen menetap di Moncongloe dan keluarganya datang bergabung.


Kemudian pada tahun 1980-an  dusun Moncongloe dijadikan lokasi pemeliharaan ternak Babi. Sejumlah orang Kristen asal Toraja Mamasa sebagai karyawan bergabung sebagai warga jemaat.
Pada tahun 1994 jemaat Moncongloe ditetapkan oleh persidangan Sinode XI GKSS menjadi Jemaat GKSS. Jemaat juga mulai berusaha membangun gedung gereja permanen tetapi belum berhasil. Karena adanya bencana angin yang merobohkan pohon jati dan menimpa gedung gereja darurat, maka atas desakan pemuka masyarakat setempat maka suatu upaya renovasi lebih serius dilakukan. Pada tanggal 18 September 2008 berlangsung peletakan batu pertama. Atas kerja serius warga jemaat dengan penghentar jemaatnya, maka gedung gereja dapat diselesaikan. Sumbangan diperoleh dari para donatur dari berbagai tempat, termasuk beberapa pengusaha warga Tionghoa,dan bebeberapa lembaga.
Jemaat ini terdiri atas 26 KK dipimpin oleh penghantar jemaat Pdt. Ir. Alex Siampa, S.Th., bersama para anggota Majelis Jemaatnya: Pnt. Bongga Lele (Ketua); Dkn. Natan Minggu (Sekretaris); Pnt. Duma (Bendahara); dan Dkn. Daniel Tayan (Anggota).
Selamat. Tuhan berkati.

Sunday, January 8, 2012

Membangun Jemaat-jemaat GKSS dalam Tujuh Tahun Kedepan

Catatan lama ini dimuat menyambut penetapan program GKSS Jemaat Mattirobaji thn 2012. Semoga bermanfaat.
Ma’minasa 2015: Membangun Jemaat-jemaat GKSS dalam Tujuh Tahun Kedepan [Berdasarkan presentasi pada peringatan HUT GKSS, 10 Juni 2008 di Pandangpandang]
Saudara-saudara pimpinan dan warga GKSS Klasis Makassar, salam sejahtera dalam Nama Tuhan Yesus Kristus. Selamat Merayakan Hari Ulang Tahun GKSS, 12 Juni 2008 (sekalipun saya berpendapat GKSS lahir bukan pada persidangan Sinode tahun 1966 di Makassar, melainkan persiapan sinode tahun 1965 di Soppeng). Melalui tulisan singkat ini, saya ingin memperjelas gagasan yang saya mulai kedepankan dalam percakapan di gereja Jemaat GKSS Pandang-pandang pada tanggal 10 Juni : Merumuskan Visi Jemaat 2015. Dan sekalipun gagasan ini untuk jemaat-jemaat GKSS Klasis Makassar (yang berlokasi di Makassar dan Sungguminasa – itu makna Ma’minasa sebagai singkatan, di samping makna kata: minasa = cita-cita luhur) para pimpinan dan warga jemaat lainnya, bahkan di luar GKSS bebas mengaplikasikan bagi jemaatnya.
1. Titik Tolak Merumuskan Visi Jemaat untuk tujuh tahun mendatang bertolak dari dua hal mendasar, yakni (1) panggilan Tuhan atas gereja-Nya yang dijalankan dalam jemaat adalah panggilan mulia yang tidak bisa dikerjakan secara rutin tanpa perencanaan dan pelaksanaan yang serius; (2) kehidupan jemaat-jemaat masa kini sudah harus diselenggarakan mengikuti pola kerja managemen organisasi moderen untuk dapat berhasil melakukan tugasnya atau mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, misi gereja – yang berakar dalam missi Deo, misi Allah mengasihi-menyelamatkan dunia – perlu dijabarkan ke dalam visi jangka pendek untuk diwujudkan melalui perencanaan dan pelaksanaan yang efisien dan efektif.
2. Siapa? Perumusan Visi Jemaat dilakukan oleh seluruh jajaran pimpinan jemaat: pendeta jemaat, Majelis Jemaat, pimpinan OIG, bahkan tua-tua dan para tokoh di dalam jemaat. Perumusan harus berlangsung secara terbuka dan kritis, dan dalam prinsip kebersamaan: bersama-sama menggagas masa depan bersama! Setiap orang wajib memberi dan dipertimbangkan pendapatnya sedemikian rupa bahwa rumusan yang dicapai adalah rumusan bersama, bukan rumusan dari satu orang. Dalam suatu organisasi, kemampuan bersama jauh lebih baik atau lebih besar, dari kemampuan seorang atau beberapa orang saja dalam organisasi itu. Dalam urusan visi, kalau orang bermimpi sendiri maka mimpinya tetap mimpi, tetapi kalau mimpi bersama-sama maka mimpinya akan menjadi kenyataan.
3. Data Perumusan Visi Jemaat harus didasarkan pada data jemaat yang jelas dan akurat, karena visi harus bertolak dari kenyataan aktual. Karena itu pimpinan (Majelis) Jemaat harus memiliki data yang selengkap mungkin. Perumusan visi tidak bisa dikerjakan dengan bertolak dari perkiraan-perkiraan saja. Data itu terutama harus mencerminkan potensi di dalam jemaat, yang menjadi modal atau kekuatan dalam penyelenggaraan tugas atau pencapaian tujuan jemaat.
4. Visi dan Citra Bertolak dari kenyataan jemaat saat ini, apa yang anda yakin – dengan perkenan Tuhan -- dapat diwujudkan tahun 2015 melalui upaya-upaya bersama secara serius dan terencana memajukan jemaat. Pilihlah berdasarkan visi tadi, aspek yang mendapat tekanan utama -- koinonia, martyria, diakonia -- apa “citra diri jemaat” yang anda anggap paling tepat bagi jemaat anda? Rumuskan secara konrit dalam kalimat slogan, misalnya “Jemaat Yang Memuji”; atau “Jemaat Yang Peduli.” Dapat pula dengan tambahan logo. Visi Jemaat terkait dengan aspek-aspek tri-panggilan gereja (koinonia, martyria, diakonia) atau enam panggilan sebagaimana dikembangkan Oase (koinonia, martyria, diakonia + oikonomia, leitourgia, didache). Dalam hal ini perlu memilih aspek yang paling cocok menjadi penekanan dalam jemaat, yakni sesuai potensi yang ada. Rumusan Visi Jemaat dalam bentuk kalimat pendek yang mengungkapkan “mimpi” apa yang anda bersama-sama. Rumusan visi haruslah menggetarkan hati, atau membakar semangat untuk mewujudkannya. Sebagaimana dinyatakan di atas, visi haruslah urusan bersama, mimpi bersama yang menggetarkan-menggerakkan seluruh jemaat. Sebagai contoh-contoh: Dalam pencitraan dirinya, Jemaat GKSS Pandang-pandang bermimpi “menjadi jemaat yang beribadah”, yakni mengandalkan potensi menyanyi warganya untuk melayani melalui paduan suara dan nyanyian jemaat. Terkait dengan itu adalah pembaruan liturgi yang memungkinkan potensi diaktualisasikan (bakat-bakat yang ada tersalurkan), dan juga dapat berlangsung “ibadah yang menggetarkan hati”. Jemaat GKSS Makkio Baji bermimpi “menjadi jemaat diakonia”, yang mampu menyediakan bantuan materil – melalui usaha pengembangan sumber dana – untuk membantu secara karitatif maupun transformatif warga gereja dan warga masyarakat; termasuk layanan kesehatan, pengembangan SDM, dsb. Jemaat GKSS Kertago Borongloe masih mencari-cari yang relevan bagi potensinya. Wakil-wakil jemaat ini mengedepankan berbagai kebutuhan sarana/prasarana (renovasi gedung gereja, ruangan pastoral, dsb) dan rupanya belum sampai pada suatu kejelasan apa mimpinya untuk tujuh tahun ke depan.
5. Layanan Unggulan Pencitraan diri secara ideal, seperti Jemaat GKSS Makkio Baji “menjadi jemaat diakonia” atau “jemaat yang peduli kaum miskin” [ini contoh saja, yang masih dapat dikembangkan lebih lanjut] menyiratkan bahwa layanan unggulan jemaat ini adalah di bidang diakonia sosial. Jemaat gkss Pandang-pandang mengedepankan koinonia-liturgis (kebaktian yang menggetarkan hati). Layanan-layanan unggulan macam ini, akan berdampak terhadap aspek-aspek lain kehidupan jemaat: menjadi kesaksian yang menarik orang-orang untuk bergabung (sehingga menambah jumlah warga), mendorong pengambangan diri warga sehingga aspek kemajuan kwalitas iman, kasih, pengharapan meningkat pula, termasuk segi-segi persaudaraan yang menguat.
6. Jemaat Ideal Saya telah menyampaikan gambaran umum jemaat yang ideal, yakni menonjol salah satu atau beberapa hal berikut [biasanya yang satu mendukung terwujudnya yang lain]:
* Ibadah jemaat menggetarkan: entah tenang teduh, entah hingar-bingar dengan musik dan nyanyian, tetapi orang mengikuti dengan penuh perasaan dan konsentrasi. *Adanya pelayanan pastoral yang dirasakan orang sebagai dukungan menghadapi berbagai pergumulan pribadi dan keluarga; bahkan dalam bentuk program trauma healing. *Adanya persaudaraan yang akrab dalam jemaat dan jaringan ekumenis antar jemaat/gereja: orang mengalami kehidupan sebagai sesama warga gereja sebagai satu keluarga besar yang saling peduli dan terikat. Dalam pertemuan ibadah berlangsung pula percakapan-percakapan, bahkan sharing pergumulan (curhat); terbuka saling bantu melayani dalam keperluan. Bergairah bersama mendukung kegiatan-kegiatan yang diprogramkan jemaat, dsb. Terdapat pula hubungan-gubungan ekumenis antar jemaat/gereja karena orang termotivasi dan bergairah dalam setiap kegiatan bersama. * Angka pertambahan warga yang bermakna: jemaat yang hidup dengan persekutuan yang akrab diminati orang (band. Kis 2:42-47). Sebaliknya, orang malas dan pelan-pelan mengundurkan diri dari persekutuan yang suam; orang kehilangan gairah dan motivasi untuk mendukung kegiatan jemaat. *Aktivitas diakonia dan/atau pastoral: jemaat yang hidup memang memberi perhatian pada kebutuhan warganya, juga kebutuhan sosial-ekonomi. Dan bukan sekadar bikisan Natal atau Paskah (model BLT?), melainkan suatu program rutin yang berbentuk diakonia karitatif maupun transformatif, bahkan bisa dalam bentuk crisis center. *Partisipasi warga sebagai SDM bertalenta: jemaat yang hidup mendorong dan memberi kesempatan pada setiap warga untuk memanfaatkan talentanya dalam pelayanan jemaat. Entah apa, tetapi setiap warga dilengkapi Tuhan dengan talenta (1 Kor 12: 4 dst), yang dapat dimanfaatkan secara langsung atau setelah melalui program-program pemberdayaan. *Jaringan dialog antar-iman: penting pula bahwa jemaat sadar akan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat umum, yang dalam konteks kita adalah masyarakat majemuk juga dalam agama. Sebab itu hubungan-hubungan antar-penganut agama (interfaith) yang harmonis perlu dikembangkan. Ada sedikitnya tiga alasan teologis untuk itu: (1) Allah adalah Tuhan atas semua orang dan semesta ciptaan, yang juga mengasihi semua orang; (2) dalam panggilam misioner jemaat, kesaksian Injil hanya dapat dinyatakan melalui pergaulan yang baik dengan semua orang; dan (3) panggilan gereja mendukung kehidupan bersama yang rukun selaku satu bangsa Indonesia. *Pengembangan sarana teknologi informasi / komunikasi. Di setiap jemaat dapat dikembangkan pusat data, informasi dan pelayanan, misalnya melalui internet dalam bentuk mailing list atau website dan weblog. Siaran radio juga merupakan sarana layanan yang dapat dipertimbangkan diselenggarakan jemaat.
7. Pilihan Culture Gereja diikat oleh nilai-nilai Kristen yang dijabarkan dari Firman Tuhan. Culture suatu jemaat adalah nilai yang dipromosikan sebagai nilai andalan yang membentuk karakter suatu jemaat. Rasul Paulus menyebut tiga nilai utama: iman, pengharapan dan kasih (1 Kor 13:13). Tetapi ada pula nilai-nilai kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5:22,23). Nilai mana paling cocok untuk jemaat anda? Sebaiknya pilihan nilai untuk menjadi karakter culture suatu jemaat dihubungkan dengan citra diri ideal dan program layanan unggulannya. Karena Makkio Baji, misalnya, mengidealkan citra diri sebagai jemaat diakonia, maka culture-nya cocok dengan kemurahan.
8. Visi dan Kepemimpinan Percakapan di Pandang-pandang menyinggung aspek leadership, management dan pendeta jemaat. Pimpinan Jemaat (dalam hal ini Majelis dan Pendeta Jemaat) adalah sekaligus leader dan manager. Kedua fungsi itu dapat dibandingkan sbb:
  • LEADER Ber-inovasi Mengembangkan Meng-inspirasi Berpandangan jangka-panjang Mempersoalkan apa dan mengapa Memulai yang baru Menantang status quo Do the right things
  • MANAGER Meng-administrasikan Memelihara Mengontrol Berpandangan jangka-pendek Mempersoalkan bagaimana dan kapan Mem-formal-kan Menerima status quo Do things right
Visi dimulai oleh pemimpin, namun harus menjadi visi bersama seluruh jemaat. Jadi, dalam prakteknya, perumusan visi dilakukan dalam kapasitas sebagai leader, namun dalam pelaksanaannya lebih sebagai manager. Karena itu Pimpinan Jemaat harus sungguh-sungguh memahami konsepsi visi jemaat dan mengetahui berbagai aspek operasional aplikasinya sesuai prinsip-prinsip efektivitas dan efisiensi managemen organisasi moderen. Pimpinan jemaat harus memulai memantapkan dalam kalangannya. Pendeta dan seluruh Majelis jemaat harus sungguh-sungguh sefaham mengenai visi dan langkah-langkah aplikasinya. Tidak boleh ada perbedaan pemahaman yang akan membingungkan jemaat. Dalam hal ini penting dokumen-dokumen rumusan tertulis sebagai acuan bersama.
9. SWOT dan Aksi Visi yang telah dirumuskan secara lengkap perlu dijabarkan ke dalam aksi, atau program-program pelaksanaannya. Untuk suatu visi tujuh tahun, perlu program per tahun yang sedemikian rupa berangsung-angsur mewujudkannya. Program-program aksi tahunan itu akan bergantung pada hasil analisis SWOT, yang merupakan kegiatan pertama setelah perumusan visi. Dengan perumusan Visi telah ditetapkan suatu tujuan. Maka berdasarkan tujuan itu suatu analisis SWOT dikerjakan secara saksama untuk menemukan kekuatan-kekuatan (Strengths) dan kelemahan-kelemahan (Weaknesses) di dalam jemaat, dan peluang-peluang (Opportunities) serta tantangan-tantangan (Threats) dari luar.
10. Status jemaat ekumene? Status “jemaat oikoumene” membuka kemungkinan warga jemaat menjadi anggota rangkap di jemaat GKSS dan di jemaat gereja lain. Saya menghimbau pimpinan jemaat dan pimpinan Klasis/Sinode GKSS meninjau lagi status keanggotaan rangkap itu, karena lebih menjadi beban daripada pendukung pelayanan. Jemaat ekumene [ini ejaan yang baku dalam bahasa Indonesia daripada bentuk kata bahasa Latin: oikoumene] sebaiknya bukan status keanggotaan warga jemaat, melainkan status kelembagaan jemaat, yakni sebagai jemaat yang terbentuk dari latar warga gereja yang berbeda-beda di bawah tanggungjawab PGIW, yang diserahkan kepada pelayanan GKSS. Dengan tidak adanya keanggotaan rangkap, warga jemaat dapat berkonsentrasi untuk hak-hak dan kewajiban-kewajibannya dalam jemaat.
11. Bagaimana mulai? Suatu pemanasan telah dilakukan dalam pertemuan kemarin di Pandang-pandang. Harapan saya adalah masing-masing jemaat mulai mengembangkan wacana visi jemaat untuk tujuh tahun mendatang, sehingga tiba pada suatu momen yang tepat untuk merumuskan dan menetapkannya. Mudah-mudahan dengan tuntunan Roh Tuhan mimpi ini menjadi kenyataan.
Salam, Zakaria Ngelow

Sifat Gereja dalam Tujuh Jemaat di Kitab Wahyu

[Khotbah Pdt John Palondongan, 8 Jan 2012]
1. Jemaat di Efesus (Wahyu 2 : 1 - 7): Gereja yang telah meninggalkan kasih yang semula (2 : 4) 2. Jemaat di Smirna (Wahyu 2 : 8 - 11): Gereja miskin dan mengalami penganiayaan (2 : 9) 3. Jemaat di Pergamus (Wahyu 2 : 12 - 17): Gereja yang perlu bertobat (2 : 13 - 15) 4. Jemaat di Tiatira (Wahyu 2 : 18 - 29): Gereja yang mengalami penyesatan (2 : 20) 5. Jemaat di Sardis (Wahyu 3 : 1 - 6): Gereja yang tmati (3 : 1) 6. Jemaat di Filadelfia (Wahyu 3 : 7 - 13): Gereja yang setia (3 : 8) 7. Jemaat di Laodikia (Wahyu 3 : 14 - 22): Gereja yang imannya suam - suam kuku (3 : 15 - 16)
Gereja yang ideal adalah setia seperti Jemaat Filadelfia: "Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku." (Why 3:8.
Peta: 7 jemaat ini terletak di bagian Barat negara Turki sekarang.

Untuk suatu uraian sederhana yang informatif lihat: 7 jemaat di kitab Wahyu & perkembangan sejarah Gereja I/II dalam http://ayumarleen.blogspot.com/2010/02/7-jemaat-di-kitab-wahyu-perkembangan.html
Salah satu tafsiran online yang memberi latar belakang jemaat-jemat Wahyu, lihat: David Guzik's Commentary on Revelation (http://www.enduringword.com/commentaries/6602.htm; http://www.enduringword.com/commentaries/6603.htm)

Wednesday, November 23, 2011

Izin renovasi gedung gereja


Doakan Jemaat GKSS Pangkep, klasis Mappatuwo, yang mendapat kesulitan merenovasi atap gerejanya yang sudah mau runtuh ...



Thn 1960-an mulai ada komunitas Protestan di kota Pangkep: terutama pegawai, polisi, guru ... Mula-mula sebagai cabang kebaktian Jemaat GKSS Maros, lalu kemudian menjadi jemaat, dan bahkan jemaat induk beberapa jemaat homebase militer di daerah Pangkep.
Kebaktian hari Minggu dapat berlangsung dengan difasilitasi para pejabat : Kepala Pengadilan, Kepala Ktr Telepon, Komandan Polisi, Bupati, dengan memakai beberapa tempat berpindah-pindah, termasuk asrama polisi dan kantor Bupati.

Thn 1985: dibolehkan membangun gedung semi permanen untuk siswa Kristen (semua murid SD dan siswa SMP) dikumpulkan belajar agama dari pendeta, karena belum ada guru agama Kristen di sekolah.
Thn 1989 menjadi gedung gereja/pastori atas izin lisan Bupati;
Thn 2006: sidang sinode GKSS yang disetujui Bupati di lokasi terpencil di hutan milik balai kehutanan (di Tabotabo) terpaksa dipindahkan ke Makassar, karena diprotes kalangan Islam.
Tahun 2011 ada izin lisan Bupati untuk renovasi tiang dan atap bangunan yang sudah keropos dimakan rayap.
Bulan Agustus 2011 ada penolakan masyarakat dan ormas Muslim Kab. Pangkajene dan Kepulauan, dengan tuduhan rumah tinggal disulap jadi gereja. Fihak Dinas PU Kab. Pangkep juga menuntut IMB. Percakapan dengan FKUB minta proses gedung baru: harus mulai dengan persetujuan penduduk sekitar, dst sesuai Peraturan Bersama 2 Menteri No. 9 dan 8 thn 2006.
Majelis Jemaat & Panitia: meminta kepada Bupati supaya diperlakukan sebagai renovasi, bukan izin bangunan baru. Sampai sekarang belum ada jawaban ...

Mazmur 10:12 Bangkitlah, TUHAN! Ya Allah, ulurkanlah tangan-Mu, janganlah lupakan orang-orang yang tertindas.

Thursday, August 18, 2011

Doakan jemaat di Pangkep

Di masa perayaan kemerdekaan bangsa kita ada orang-orang yang tidak menghargai kebebasan orang beribadah sesuai agamanya. Di Jakarta dan di Jawa Barat, di Riau, dan juga di Sulawesi Selatan terjadi gangguan terhadap kehidupan beragama. Sejumlah gereja di tanah air dipersoalkan. Ada yang dibongkar. Ada yang disegel. Ada pula jemaat yang dilarang beribadah.

Pada beberapa hari ini jemaat di Pangkep diancam dan dilarang merenovasi gedung gerejanya. Kita doakan bersama semoga jemaat di sana dikuatkan menghadapi berbagai cobaan, dan dengan perkenan Tuhan dapat menyaksikan kasih dan persaudaraan.