Showing posts with label bulusaraung. Show all posts
Showing posts with label bulusaraung. Show all posts

Monday, September 3, 2012

Pelatihan Perempuan Gereja



Keterlibatan perempuan dalam pelayanan gereja tentunya bukan hal yang asing dan tidak perlu dipertanyakan lagi.  Dalam peran dan tugas yang padat sebagai ibu rumah tangga, domestik maupun publik, perempuan gereja senantiasa meluangkan waktu dan tenaga serta pengorbanan lainnya demi pelayanan dalam gereja.

Secara kasat mata, jumlah perempuan lebih mendominasi dari pada kaum bapak/pria dalam ibadah-ibadah atau kegiatan gerejawi lainnya; sayangnya jumlah bukan menjadi ukuran sumberdaya.  Kualitas tetap menjadi hal utama dalam hal ini, karena itu dirasa perlu oleh pengurus Persekutuan Wanita Gereja Kristen Sulawesi Selatan  (PW GKSS) Klasis Bulusaraung untuk menyelenggarakan sebuah Pelatihan Kepemimpinan Perempuan lingkup Klasis Bulusaraung.

Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ini diseleggarakan atas kerjasama tiga lembaga, yakni; Pengurus PW GKSS Klasis Bulusaraung, Yayasan Pelayanan Holistik Allamahabah (YPHA) dan Yayasan Oase Intim.  Kegiatan yang diselenggarakan di pendopo YPHA, jln Arung Teko ini dihadiri oleh 36 peserta (33 peserta dari jemaat-jemaat di Klasis Bulusaraung dan tiga orang dari jemaat tetangga POUK Kanaan)
Sisca Dalawir Dalam Materi Public Speaking dan Kepribadian Perempuan Kristen

Empat hari pelaksanaan,14-17Agustus 2012 tidak memudarkan semangat para peserta, meski kerinduan kepada keluarga masing-masing tentu merasuk sukma.  Beberapa materi yang disajikan disesuaikan dengan kebutuhan para peserta sesuai hasil rapat persiapan sebelumnya.


Farida Pelupess (kiri) bersama Hj. Dra. St. Hadawiah (kanan)
Di antara materi yang dibahas adalah ketrampilan public speaking dan aspek-aspek kepribadian perempuan (Kristen) difasilitasi Sisca Dalawir; masalah-masalah perempuan dalam keluarga dan masyarakat dari perspektif hukum oleh Lusy Palulungan.  Seorang tokoh pengurus Aisyiyah Propinsi Sulawesi Selatan, Hj. St. Hadawiah, memperkenalkan organisasi perempuan Islam dan kegiatan-kegiatannya. Seorang tamu dari Australia, Henk , juga memperkenalkan tantangan pelayanan perempuan Kristen di negerinya, yang sudah sangat dipengaruhi nilai-nilai sekuler.   Sharing ini bertujuan untuk menambah wawasan para perempuan dalam pelayanan yang tidak hanya terfokus pada pelayanan di dalam tembok gereja tapi juga bagi masyarakat secara lebih luas. 

Akhirnya, kegiatan yang dibuka oleh Majelis Pekerja Klasis Bulusaraung (Pnt. Petrus Rani) dan juga ditutup oleh MPK Klasis Bulusaraung (Pdt. Armin Sukri) pun berakhir tepat pada hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agutus 2012.

Pada akhir kegiatan, saya menyempatkan untuk mewawancarai beberapa Ibu untuk dimintai pendapat seputar proses. Menurut pengakuan Ibu Martina dan Ibu Ester dari jemaat GKSS Sudiang, seluruh proses yang berlangsung selama beberapa hari sudah sangat memuaskan dan berharap masih akan diadakan lagi.  Salah satu materi yang sangat berkesan dan dapat segera dipraktekkan adalah materi Public Speaking dan Kepribadian Kristen, karena pada sessi ini para peserta dibekali dengan berbagai aspek etiket pergaulan. Selain itu, Ibu Agustina dan Ibu Dorkas dari Jemaat GKSS Baji Pa’mai Maros menyarankan waktu pelaksanaan ditambah dan jika diadakan lagi perlu diadakan pada saat libur. Bagi mereka banyak hal yang menjadi pelajaran dari pelatihan ini. Dari beberapa peserta yang minta pendapat menyarankan supaya Kesehatan Reproduksi menjadi salah satu materi pada pelatihan selanjutnya.  [Jenifer]

Ny. Abidin Ato, saat menafsirkan Alkitab



Peserta dari POUK Kanaan saat memimpin permainan

Tuesday, July 10, 2012

Mereka Disatukan Dalam GKSS Futsal Cup 2012



Euforia EURO 2012 telah berakhir, GKSS pun menulis kisah baru tentang dirinya dalam ajang GKSS Futsal Cup 2012. Kompetisi futsal yang digelar di Glora Sudiang, 7 Juli 2012 itu berakhir dengan berbagai cerita. 

Oleh: SRIYANTO

Ada tawa, ada sedih. Ada yang senang dan gembira, ada juga yang kecewa. Tak sedikit pula yang galau. Ekspresi-ekspresi itulah yang mewarnai event GKSS Futsal Cup 2012, 7 Juli lalu.
Mungkin yang paling bergembira diajang tersebut adalah pemain dan suporter Bethel Sambueja. Ya, tim mereka berhasil menjadi kampiun GKSS Futsal Cup 2012. Tapi sayangnya, suporter yang paling heboh itu merupakan suporter “naturalisasi”. Mereka adalah anak-anak warga setempat yang diminta meneriakkan yel-yel mendukung Bethel Sambueja.
Berbeda pula dengan para pemain. Jika tim mereka menang, menjadi spirit untuk pertandingan selanjutnya. Tapi tak sedikit pula, ketika tim kalah, mereka mencari-cari kesalahan. Dan, ujungnya mengarah ke wasit yang dijadikan ‘kambing hitam’ atas kegagalan tim.
Kemenangan memang penting. Tapi bukan itu sebenarnya yang ingin dicapai dalam GKSS Futsal Cup 2012. “Ini ajang untuk saling mengenal, menjalin kebersamaan sesama pemuda GKSS. Jadi mencari kemenangan bukan yang utama,” ujar Ari, salah seorang pemain Pangkajene Pangkep kepada penulis.
Meski diwarnai berbagai pelanggaran, pemain yang cedera, tetapi tidak ada dendam. Ya, inilah salah satu ajang yang mempersatukan pemuda GKSS. Siapa saja bisa kalah, tetapi jika ia mampu bangkit dan memetik pelajaran dari setiap kekalahan, ia lebih dari pemenang.

Kariango “Dibetel” oleh Sambueja

Tim futsal Jemaat Bethel Sambueja berhasil menjuarai turnamen GKSS Futsal Cup 2012 yang berlangsung di Glora Sudiang, 7 Juli 2012. Bertemu di laga final 2 x 15 menit, Jemaat Damai Kariango “dibetel” oleh Lukas dkk dengan skor 3-2.
Sejak awal, banyak pihak sudah memprediksi tim Bethel Sambueja bakal bertemu tim Damai Kariango di laga final. Pasalnya, kedua tim mempunyai materi pemain di atas rata-rata pemain tim lain, kekuatan fisik salah satunya.
Menempati grup A yang merupakan grup ‘maut’, Bethel Sambueja tampil luar biasa. Dari empat kali bertanding, tim “Julu Siri” berhasil memetik poin penuh dengan empat kali menang atas lawan-lawannya.
Pada pertandingan pertama melawan Baji Pa’mai Maros, Lukas dkk berhasil meraih kemenangan dengan skor 4-2. Selanjutnya membungkam Mattiro Baji 5-1, menaklukkan Pandang-pandang 4-1, dan membuyarkan harapan Kertago masuk ke semifinal dengan skor 3-1. Dengan hasil tersebut, Bethel Sambueja menjadi juara grup A dengan 12 poin dan disusul Mattiro Baji sebagai runner up dengan 9 poin.
Sementara di grup B, tim Damai Kariango berhasil menjadi juara grup dengan nilai 7 poin. Mereka berhasil melumat tim dari Pangkajene Pangkep dengan skor 7-3, bermain imbang melawan Makkio Baji 5-5, dan menaklukkan Oikumene Sudiang 7-1. Sebenarnya Damai Kariango dan Makkio Baji sama-sama mengumpulkan 7 poin, namun Kariango unggul dalam hal produktifitas gol sebanyak 19 dibanding Makkio Baji yang hanya 15 gol.
Di babak semifinal, juara grup A melawan runner up grup B dan runner up grup A melawan juara grup B. Bethel Sambueja sebagai juara grup A ditantang Makkio Baji yang datang dengan ambisi juara. Sedangkan juara grup B, ketangguhan para pemain Damai Kariango ditantang runner up grup A, Mattiro Baji yang mengandalkan pemain-pemain usia remajanya.
Laga semifinal pertama antara Damai Kariango melawan Mattiro Baji berjalan dengan tensi tinggi. Mattiro Baji dengan pemain-pemain usia remajanya yang tidak diunggulkan sejak babak penyisihan mampu membuktikan bahwa mereka mampu membuat kejutan. Tampil baik sejak menit-menit awal babak pertama, Jodhi dkk berhasil memimpin 2-0 atas Damai Kariango.
Tertinggal 0-2, membuat tim Damai Kariango tampil lebih ngotot. Pelanggaran-pelanggaran keras pun semakin banyak mewarnai jalannya pertandingan. Permainan keras yang diperagakan Damai Kariango membuat permainan Mattiro Baji menjadi tidak fokus.
Puncaknya saat Darma, pemain Mattiro Baji mengalami cedera cukup serius, ia tidak mampu lagi melanjutkan permainan dan harus dipapah ke luar lapangan. Sejak saat itu, mental anak-anak Mattiro Baji yang didominasi usia remaja menjadi drop dan kehilangan kekompakan.
Satu per satu pemain inti Mattiro Baji mengalami cedera dan tidak mampu melanjutkan pertandingan. Tim Mattiro Baji akhirnya berhasil dikalahkan dengan skor 9-3 dan harus mengakui ketangguhan Damai Kariango.
Sementara di laga semifinal kedua yang mempertemukan juara grup A, Bethel Sambueja melawan runner up grup B, Makkio Baji. Pertandingan berjalan cukup ketat, meskipun pada akhirnya tim Makkio Baji harus mengakui keperkasaan Lukas dkk dengan skor 5-2.

Makkio Baji Patahkan Dominasi Klasis Bulusaraung

Tim Makkio Baji pantas mendapat acungan jempol. Jika tim lain membawa lebih dari 8 pemain, Makkio Baji membawa hanya 6 pemain (lima pemain inti dan satu pemain pengganti). Hasilnya? Mereka mampu masuk babak semifinal dan berhasil meraih juara III.
Sejak bertanding di babak penyisihan grup, Makkio Baji sudah memperlihatkan permainannya yang membuat calon lawan mereka menjadi ciut. Buktinya, Damai Kariango yang lebih diunggulkan mampu ditahan imbang oleh Makkio Baji dengan skor 5-5.
Dengan keberhasilan Makkio Baji meraih juara III GKSS Futsal Cup 2012, mereka sekaligus mematahkan dominasi tim-tim Klasis Bulusaraung yang berlaga di turnamen ini. Dari empat besar semifinalis GKSS Futsal Cup 2012, Makkio Baji satu-satunya wakil dari Klasis Makassar. Tiga di antaranya dari Klasis Bulusaraung, yakni Bethel Sambueja, Damai Kariango dan Mattiro Baji.
Sementara itu, tim Pangkajene Pangkep satu-satunya dari Klasis Mappatuwo harus pulang tanpa poin bersama Baji Pa’mai Maros. Dari tiga kali bertanding, Pangkajene tak sekalipun memetik kemenangan. Sementara Baji Pa’mai Maros, juga tak pernah menang dari tiga pertandingan.
Sebenarnya tim Baji’ Pa’mai Maros bisa memiliki poin jika mereka menang atau seri di pertandingan terakhir melawan Pandang-pandang. Namun, baik menang atau seri, harapan Baji Pa’mai Maros masuk ke babak semifinal tetap tertutup.
Tertutupnya harapan lolos ke babak semifinal, tim Baji Pa’mai Maros tak lagi melakoni pertandingan terakhirnya melawan Pandang-pandang. Mereka memilih meninggalkan arena kompleks Glora Sudiang.
Berbeda dengan Pangkajene Pangkep, meski tak satu pun poin yang diraih, Ari dkk tetap melakoni semua pertandingan hingga selesai. “Lebih baik kalah dalam bertanding daripada kalah sebelum bertanding,” kata Ari.

 
Mental Juara Mattiro Baji

Tidak diunggulkan oleh banyak pihak, ternyata tim Mattiro Baji mampu membuktikan bahwa mereka patut diperhitungkan pada turnamen GKSS Futsal Cup kali ini. Banyak pihak lebih mengunggulkan tim Baji Pa’mai Maros atau Kertago yang akan mendampingi Bethel Sambueja lolos ke babak semifinal dari grup A.
Namun, prediksi tersebut dipatahkan Mattiro Baji. Hal ini dibuktikan atas penampilan yang mengejutkan, mampu membungkam tim Kertago dengan skor telak 4-1 pada penyisihan grup A.
Saat pertandingan melawan Baji Pa’mai Maros, mental anak-anak remaja Mattiro Baji kembali diuji. Pada babak pertama, Jodhi dkk tertinggal 0-2 dari Baji Pa’mai Maros. Namun hingga pertandingan berakhir, Mattiro Baji mampu membalikkan keadaan dengan mempecundangi Isman dkk dengan skor 5-4.
Pada laga terakhir melawan tim Pandang-pandang, Mattiro Baji kembali membuktikan bahwa mereka memiliki mental juara meskipun didominasi oleh pemain-pemain usia remaja. Dalam laga hidup mati tersebut, Mattiro Baji kembali sempat tertinggal 0-2.
Namun dengan performa tim yang makin kompak diakhir pertandingan, mereka mampu membalikkan keadaan dengan skor 5-2 untuk kemenangan Mattiro Baji. Hasil ini membuat Mattiro Baji menjadi runner up grup A dan membuat Pandang-pandang harus angkat koper.



Pemain Termuda GKSS Futsal Cup 2012

Jika pada perhelatan EURO 2012 lalu, tim ‘Panzer’ Jerman mendapat pujian karena materi-materi pemain mudanya, di event GKSS Futsal Cup 2012 juga tampaknya telah melahirkan deretan pemain-pemain muda berbakat.
Tim tersebut adalah Mattiro Baji. Didominasi oleh pemain-pemain remaja, mereka mampu menjawab keraguan banyak pihak dengan mengalahkan tim-tim dengan pemain usia 22-35 tahun dan lolos ke babak semifinal.
Para pemain-pemain remaja tersebut adalah Yosua CH Djalang (15 tahun), Jodhi CH Djalang (13 tahun) pencetak 8 gol, Suwerdy Dwinandar Gustian (14 tahun) pencetak 9 gol. Jodhi yang meski berpostur tubuh agak kecil, namun ketajamannya di depan gawang mampu ia buktikan dengan koleksi 8 golnya.
Kordinator Tim Mattiro Baji, Frenky Wongkar mengaku salut atas perjuangan para pemain hingga mampu masuk empat besar GKSS Futsal Cup 2012. Meskipun memiliki pemain-pemain usia muda, namun keberanian menurunkan pemain-pemain usia remaja menjadi starting membuktikan akan adanya regenerasi yang baik di skuad Mattiro Baji. “Mereka juga bisa mendapat pengalaman dari sini,” kata Frenky.
Tak hanya dominasi pemain termudanya yang mendapat pujian, Mattiro Baji juga berhasil didaulat oleh panitia sebagai Suporter Terbaik. Sebenarnya tanda-tanda suporter terbaik, awalnya dipertontonkan oleh Baji Pa’mai Maros. Namun mereka tidak mengikuti event hingga selesai karena tim futsal Baji Pa’mai Maros harus pulang lebih awal.
Selain Baji Pa’mai Maros, kehebohan suporter Damai Kariango juga berhasil membuat riuh kompleks Glora Sudiang, tempat pelaksanaan GKSS Futsal Cup 2012. Namun karena datang terlambat, mereka gagal dinobatkan sebagai suporter terbaik.
Dan, akhirnya pilihan sebagai Suporter Terbaik jatuh kepada Mattiro Baji. Panitia menilai, karena kesetiaan mereka mendukung tim Mattiro Baji yang bertanding, dari awal hingga turnamen GKSS Futsal Cup usai dan ditutup dengan penyerahan piala pemenang oleh Pdt Yulianus Lamarang, Sekretaris MPS GKSS. (anto_jurnalis@yahoo.co.id)









Monday, June 18, 2012

Refleksi Sejarah GKSS dan Pekabaran Injil di tanah Bugis-Makassar-Selayar

Masih sebagai rangkaian pekan HUT GKSS (46) dan Hari PI (79) di klasis Bulusaraung, diadakan seminar PI untuk memberikan informasi dari para saksi sejarah dan pelaku PI di tanah Bugis (Melle’) Makassar (Poona) dan Selayar (Dg. Taung).  Seminar yang dilakukan pada senin, 18 Juni 2012 ini didampingi oleh ketua Klasis Blusaraung, Pdt. Armin Sukri, selaku moderator dan juga penerjemah dari bapak Melle yang tidak begitu paham bahasa Indonesia.  Selain itu juga dihadirikan seorang ahli sejarah gereja, Pdt. Zakaria Ngelow yang memberi beberapa catatan. 

Seminar yang diadakan di Aula TC GKSS ini berlangsung cukup menarik hingga memakan waktu selama tiga jam.  Sayang sekali bahwa seminar yang memberi banyak rekomendasi bagi keberlangsungan GKSS di masa depan tidak dihadiri oleh para undangan dari pihak MPS GKSS komisi-komisinya.  

Berikut beberapa refleksi sejarah GKSS oleh Zakaria Ngelow:


1. Kesaksian dari Selayar

GKSS gagal mempertahankan warga yang dibaptis masal dari aliran Muhdi Akbar pada awal tahun 1970-an karena tidak berlangsung pembinaan yang didasarkan pada pemahaman yang mendasar mengenai ajaran Muhdi Akbar. Hal ini terkait juga dengan tiadanya putra-putri Selayar sendiri yang seperti Rasul Paulus – mampu memahami secara mendalam sekaligus ajaran Muhdi Akbar dan budaya Selayar pada umumnya dan Injil Yesus Kristus, untuk selanjutnya melakukan transformasi. Apakah aspek keturunan akan juga menentukan, bahwa tokoh yang bisa bicara kepada masyarakat Selayar haruslah turunan pemuka masyarakatnya? Mungkin begitu, namun Injil harus kritis terhadap struktur sosial yang menindas, termasuk paternalisme dan feodalisme.

2. Kesaksian dari Soppeng

Orang Soppeng masuk Kristen dalam rangka mencari kebenaran Injil, mengikuti tradisi messianik Petta Barang. Itu suatu kebanggaan, yang juga dapat ditambahkan bahwa Kekristenan di kalangan orang Soppeng telah teruji melalui taruhan nyawa pada zaman gerombolan DI/TII tahun 1950-an.

Kekristenan Bugis Soppeng sejak awal terkait dengan jaringan keluarga. Hubungan keluarga dapat memajukan gereja, tetapi sebaliknya juga dapat merusaknya. Setiap pelayanan dalam komunitas masyarakat Bugis Soppeng ini harus memberi perhatian pada aspek hubungan-hubungan kekeluargaan itu. Dapat disimpulkan bahwa Kekristenan di kalangan orang Soppeng berakar kuat, namun terpencar dalam berbagai gereja. Dukungan wadah sosial seperti kerukunan warga Kristen Soppeng dapat menjadi jembatan untuk persaudaraan ganda sebagai sesaudara dalam identitas Soppeng dan dalam persaudaraan iman kepada Kristus.

3. Kesaksian dari Bawakaraeng

Kekristenan di kalangan orang Makassar/Gowa dihidupkan melalui pelayanan sosial, ekonomi dan pendidikan. Melemahnya gereja dalam pelayanan sosial melemahkan juga daya saingnya dalam masyarakat. Apakah masyarakat Kristen asal Makassar/Gowa seperti saudara-saudarinya dari Soppeng yang menghilang dari GKSS tetapi tetap eksis di gereja-gereja lain? Atau memang makin punah?

4. Masih gereja Bugis?

GKSS dimaksudkan oleh kalangan zending pada awalnya sebagai gereja dari dan untuk masyarakat Bugis-Makassar-Selayar. Tetapi pada kenyataannya telah berkembang menjadi gereja multi-etnis yang bhinneka tunggal ika. Jadi apa identitasnya? Kita menerima fakta sejarah sebagai jalan yang Tuhan kehendaki: gereja ini adalah gereja dari semua untuk semua, namun yang tetap sadar akan sejarah dan konteksnya sebagai gereja di tengah-tengah masyarakat Bugis-Makassar-Selayar. Dengan kata lain, perlu upaya-upaya pada satu fihak untuk mengembangkan pelayanan yang bersifat ekumenis, sesuai latar belakang warga, dan pada fihak lain mengakarkan mereka ke dalam visi dan komitmen bersama terhadap konteks sosial-kultural Sulawesi Selatan (dan Barat?)

5. Peringatan Peristiwa apa?

Peristiwa yang diperingati GKSS sebagai ulang tahun: 12 Juni tanggal pembentukan Sinode pada tahun 1966 di Makkio Baji, Makassar. Pada hal sebelumnya, pada tahun 1965 Bakal Gereja Bugis telah ditetapkan menjadi Gereja Kristen di Sulawesi Selatan dalam persidangan wakil-wakil jemaat di Watansoppeng tanggal 23-25 April 1965. Persidangan dihadiri wakil-wakil dari 6 jemaat dari daerah Soppeng; 8 jemaat dari daerah Malino; 2 jemaat dari Makassar, dan 3 jemaat dari Selayar dan sepakat membentuk gereja dengan pengurus dan tata gerejanya. Terpilih Pdt. N. Dg. Massikki sebagai Ketua Sinode.
Tanggal 19 Juni yang diperingati sebagai hari Pekabaran Injil adalah peristiwa berlabuhnya di pelabuhan Makassar kapal yang membawa tenaga zending, Ds. H. van den Brink, dari Gereformeerde Kerk untuk penginjilan di Sulawesi Selatan. Tetapi yang sebenarnya jauh lebih bermakna adalah peristiwa penerimaan Injil oleh orang Bugis sendiri. Tahun 1935 seorang bangsawan Bugis, Petta Lolo Marhabang, dibaptiskan di Soppengriaja; tgl 8 Februari 1938 Andi Kamba dibaptis di Barru oleh Ds. H. van den Brink. Atau yang lebih langsung terkait dengan Kekristenan Bugis adalah pembaptisan ke-3 “pencari kebenaran Injil”, La Galiti, La Mappe’, La Tasakka’, di gereja Indische Kerk (sekarang GPIB) Immanuel Makassar, pada tanggal 17 Februari 1940.
Bukan maksudnya supaya perayaan-perayaan yang sudah dibakukan itu diganti atau direvisi, melainkan supaya peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah GKSS diberi makna dan turut diperingati.

6. Pekabaran Injil?

Pekabaran Injil dalam GKSS tidak tepat lagi dilakukan dalam format masa lalu, melainkan meberdayakan setiap warga jemaat untuk bersikap misioner, yakni selalu terpanggil untuk menyatakan kebenaran Injil kepada orang lain dalam hidup masing-masing, melalui tutur kata mau pun perbuatan. Bagaimana pembinaan dilakukan untuk mencapai kualitas Kristen handal, seperti warga Muhdi Akbar dari Selayar, yang sekalipun berpindah-pindah agama tetap memegang “kebenaran” Muhdi Akbar? Bisakah pembinaan seperti ini dimulai di jemaat-jemaat tanpa “menunggu komando” dari pimpinan sinode?

7. 500 tahun Injil di Sulawesi Selatan.

Sejarah Kekristenan di kalangan orang Bugis sudah berlangsung sejak abad ke-16. Sejumlah-raja-raja Bugis di pesisir selamat Makassar, dari Parepare sampai Makassar (Bacukiki, Gowa, Siang, Suppa, Tallo) pernah mengenal agama Kristen, bahkan ada raja dan pangeran yang dibaptis oleh para paderi Katolik zaman Portugis. Kekristenan Katolik yang berlangsung lebih 100 tahun (1530-an – 1668) berakhir oleh peristiwa silariang seorang putri raja Suppa dengan kapiten kapal Portugis, dan kemudian juga oleh pilihan raja Gowa menerima Islam dan memaksakan pengislaman kerajaan-kerejaan lainnya (awal abad ke-17). Fihak VOC dan pemerintah kolonial Belanda mempertahankan Kerkistenan Protestan di Makassar, dan kemudian juga di Bonthain, Bulukumba dan Selayar. Yang patut dicatat adalah utusan Lembaga Alkitab Belanda, B.F. Matthes, yang berhasil menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bugis dan Makassar, dan “menyelamatkan” banyak lontara sastra Bugis/Makassar, termasuk I Lagaligo. [Selengkapnya, cari “sejarah” atau "matthes" di blog ini.]

Sebelum masyarakat Bugis-Makassar dan Selayar pada abad ke-20 sudah berlangsung pekabaran Injil di kalangan suku-suku Toraja, mula-mula oleh Indische Kerk, lalu kemudian pada tahun 1913 Tana Toraja, Luwu, Rongkong dan Seko dilayani oleh badan zending Gereformeerde Zendingsbond (GZB). Dan sejak tahun 1928 Toraja Mamasa, Pitu Ulunna Salu, dan Kalumpang oleh Zending der Christelijke Gereformeerdekerken (ZCGK). Masing-masing berhasil membentuk GerejaToraja dan Gereja Toraja Mamasa pada tahun 1947. Gereja Toraja dan GTM akan memperingati 100 tahun masuknya Injil ke masing-masing wilayah, dengan puncak perayaan tahun 2013.

Tuesday, June 12, 2012

Gereja Imanuel Moncongloe


Dengan perkenan Tuhan maka pada tanggal 12 Juni 2012 diberkati pemakaian gedung gereja GKSS Jemaat Imanuel Moncongloe dalam suatu kebaktian perayaan. Kebaktian didpimpin bersama oleh Pdt. Alex Siampa (Pengehntar Jemaat) dan Pdt. E. Maays Baura (Ketua Sinode GKSS).

Upacara dirangkaikan dengan pekan perayaan Hari Ulang Tahun ke-46 GKSS (12 Juni 1966-2012); dan Hari Pekabaran Injil ke-79 GKSS (19 Juni 1933-2012).
Jemaat yang terletak jauh terpencil di wilayah Kabupaten Gowa ini dicapai melalui jalan dari Batang Ase (Kab Maros) melalui Kompleks militer Kariango. Ada pula jalan tembus dari Perumahan BTP Makassar.

Jemaat ini berasal dari pembinaan rohani para tahanan politik (Tapol) yang mulai pada tahun 1968. Pada tahun 1969 atas swadaya masyarakat dan TNI dibangun gedung darurat untuk tempat beribadah bersama pada hari Minggu. Atas kerjasama dengan POMDAM dan GKSS maka sejak tahun 1977 daerah Moncongloe dan sekitarnya menjadi pos Pekabaran Injil GKSS. Terutama orang mengingat kesetiaan almarhuman Pdt. Mintje Montolalu dalam pelayanan para tapol masa itu. Setelah kompleks tapol dibubarkan maka sejumlah warga Kristen menetap di Moncongloe dan keluarganya datang bergabung.


Kemudian pada tahun 1980-an  dusun Moncongloe dijadikan lokasi pemeliharaan ternak Babi. Sejumlah orang Kristen asal Toraja Mamasa sebagai karyawan bergabung sebagai warga jemaat.
Pada tahun 1994 jemaat Moncongloe ditetapkan oleh persidangan Sinode XI GKSS menjadi Jemaat GKSS. Jemaat juga mulai berusaha membangun gedung gereja permanen tetapi belum berhasil. Karena adanya bencana angin yang merobohkan pohon jati dan menimpa gedung gereja darurat, maka atas desakan pemuka masyarakat setempat maka suatu upaya renovasi lebih serius dilakukan. Pada tanggal 18 September 2008 berlangsung peletakan batu pertama. Atas kerja serius warga jemaat dengan penghentar jemaatnya, maka gedung gereja dapat diselesaikan. Sumbangan diperoleh dari para donatur dari berbagai tempat, termasuk beberapa pengusaha warga Tionghoa,dan bebeberapa lembaga.
Jemaat ini terdiri atas 26 KK dipimpin oleh penghantar jemaat Pdt. Ir. Alex Siampa, S.Th., bersama para anggota Majelis Jemaatnya: Pnt. Bongga Lele (Ketua); Dkn. Natan Minggu (Sekretaris); Pnt. Duma (Bendahara); dan Dkn. Daniel Tayan (Anggota).
Selamat. Tuhan berkati.

Sunday, May 20, 2012

Perayaan HUT GKSS 2012

Doakan, dukung, dan hadiri:

Tgl 12-19 Juni 2012 GKSS merayakan Hari Ulang Tahun ke-46 Sinode GKSS dan Hari Pekabaran Injil GKSS ke-79. Acara untuk GKSS Klasis Saraung dipusatkan di Jemaat Mattiro Baji.

Salah satu kegiatan adalah Refleksi Sejarah GKSS pada 18 Juni 2012 sore di TC GKSS.

Saturday, January 14, 2012

Rapat Kerja Klasis Bulusaraung

Rapat Kerja Majelis Klasis Bulusaraung berlangsung di Sekretariat Klasis, Jl. Arung Teko No. 4 Makassar pada tanggal 14 Januari 2012. Rapat dihadiri lebih 40 orang utusan dari jemaat-jemaat se-klasis Bulusaraung. Pdt. Maays E. Baura,, S.Th, Ketua Sinode GKSS memberi sambutan pada Rapat Kerja yang dipimpin oleh Pdt. Armin Sukri, M.Th., Ketua Majelis Klasis Bulusaraung. [Foto bersama Ibu-ibu yang hadir pada Rapat Kerja. Lihat beberapoa foto lainnya di http://www.oaseintim.org/mattirobaji klik Galeri