Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Saturday, January 19, 2013

Profile Jemaat GKSS Mattiro Baji




Oleh Pdt. Armin Sukri, M.Th

Jemaat Mattiro Baji yang berlokasi di Jalan Arung Sanrego Km.19, kelurahan Sudiang, kecamatan Biringkanaya, kota Makassar merupakan jemaat yang terdiri atas multi-etnis dan berbagai macam latar belakang pekerjaan dan pendidikan.  Jemaat tersebut lahir dan berkembang dalam kompleks Pusat Pembinaan Gereja (PPG) – GKSS yang lebih dikenal dengan sebutan TC GKSS.  Pembangunan Pusat Pembinaan ini sendiri dimulai pada tahun 1976 oleh Pdt. M.Umar Kasau Kanna (Alm.) dengan maksud untuk menampung anak-anak daerah yang ingin melanjutkan sekolah di Makassar. Seiring dengan berjalannya waktu tempat tersebut kemudian berkembang dengan kehadiran Yayasan Matepe dan diselenggarakannya Pendidikan Theologia D2 (kerjasama GKSS dan STT Intim Makassar).

Untuk memenuhi kebutuhan akan ibadah, khususnya ibadah minggu bagi warga di dalam kompleks tersebut, maka dimulailah kebaktian hari Minggu pada sore hari di aula PPG-GKSS (gedung tersebut telah digantikan dengan gedung baru milik Yayasan Matepe-GKSS).  Sebelumnya warga mengikuti Ibadah Minggu di Jemaat Oikumene Kanaan atau Jemaat Baji Pamai Maros.

Pada tanggal 1 Desember 1988 oleh Majelis Jemaat Baji Pamai Maros membentuk Panitia Pelaksana Cabang Kebaktian Jemaat Baji Pamai Maros di Pusat Pembinaan Gereja (PPG) GKSS atau yang lebih dikenal dengan sebutan TC GKSS Mandai, sesuai dengan SK No. 72/MJ-BP/XII/1988 dengan komposisi sebagai berikut:

Ketua              : Pdt. Paulus Pellu, S.MTh
Sekretaris       : Johan Djuni (Alm.)
Bendahara     : Ir. Midas Simanjuntak
Anggota          : Kurnaini Alwi
                           S.B.Minggu
                           Amin Fathoni
                           Paulus Barubu (Alm.)

Panitia ini bertugas untuk mempersiapkan pembukaan cabang kebaktian yang akan dimulai pada tanggal 15 Januari 1989.

Setelah menjalani beberapa kali pertemuan, maka terbentuklah pengurus cabang kebaktian Jemaat Baji Pamai Maros di PPG-GKSS Mandai dengan komposisi sebagai berikut:

Ketua              : Pdt. Paulus Pellu, S.MTh
Sekretaris       : Amin Fathoni
Bendahara     : Ir. Ny.Maria M.Simanjuntak

Pembukaan cabang kebaktian dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 15 Januari 1989, pukul 17.00 wita di aula Yayasan Matepe yang dipimpin oleh Pdt. Yusuf Patang, S.Th (Alm.) selaku penghantar jemaat Baji Pamai Maros pada masa itu.

Pada persidangan Sinode GKSS ke-10 di Soppeng pada tahun 1990 cabang kebaktian ini disahkan menjadi jemaat dengan nama Mattiro Baji (Melihat Kebaikan). Sejak resmi berdiri sebagai sebuah jemaat, Mattiro Baji telah mengalami beberapa kali pergantian susunan pelayanan, antara lain:

Periode 1990-1994
Ketua Majelis             : Amin Fathoni
Sekretaris                   : Osben Sinaga
Penghantar Jemaat   : Pdt. Barnabas Doinga (Alm.)

Periode 1994-1998
Ketua Majelis             : Osben Sinaga
Sekretaris                   : Okto Lamarang
Penghantar Jemaat   : Pdt. Demma Dg. Pasare (Alm.)



Periode 1998-2002
Ketua Majelis             : Pnt. Kurnani Alwi
Sekretaris                   : Pnt. Drs. Ruslan Djalang
Penghantar Jemaat   : Pdt. Paulus Pellu, S.MTh.

Periode 2002-2006
Ketua Majelis             : Pdt. Paulus Pellu, S.MTh
Sekretaris                   : Pnt. Osben Sinaga
Penghantar Jemaat   : Pdt. Paulus Pellu, S.MTh

Periode 2006-2010
Ketua Majelis             : Pnt. Petrus Katjang
Sekretaris                   : Dkn. Serlina Dungke
Penghantar Jemaat   : Pdt. Maays E.Baura, S.Th (Lalu digantikan oleh
                                           Pdt. Andarias Naseng)

Periode 2010-2014
Ketua Majelis             : Pnt. Drs. Ruslan Djalang
Sekretaris                   : Pnt. Drs. Marthinus Zainuddin
Penghantar Jemaat   : Pdt. Ike Ngelow, S.Th

Dalam perjalanan dan perkembangan jemaat ini, telah terjadi perpindahan tempat ibadah sebanyak tiga kali, yaitu pada tanggal 15 Januari 1998 menempati aula Yayasan Matepe, kemudian pindah ke aula asrama pembinaan dan beribadah di tempat tersebut sampai tanggal 12 Desember 2008 bertepatan pada acara perayaan Natal Jemaat Mattiro Baji, ibadah dipindahkan ke Gedung Gereja Jemaat Mattiro Baji (ibadah perdana menggunakan gedung gereja tersebut).  Gedung Gereja Jemaat Mattiro Baji dimulai pembangunannya pada tanggal 12 Juni 2007 yang diawali dengan ibadah singkat (dipimpin oleh Pdt. Armin Sukri, M.Th sebagai sekretaris pembangunan) dan peletakan batu pertama oleh Pdt. F.Sopamena-Latumahina (selaku ketua MPS GKSS masa itu).  Pengresmian gedung Gereja tersebut dilaksanakan bertepatan dengan HUT GKSS ke-43 pada tanggal 12 Juni 2009. Setelah kurun waktu 24 tahun (15 Januari 2012), Jemaat Mattiro Baji telah mengalami perkembangan yang cukup berarti. Jumlah keanggotaannya mencapai 52 KK atau sekitar 140 jiwa yang terdiri atas anak-anak dan dewasa.






Tuesday, January 15, 2013

Perayaan 24 tahun Mattiro Baji

Perjamuan Kasih peringatan 24 tahun jemaat GKSS Mattiro Baji


Pada tanggal 15 Januari 2013 mulai jam 17.30 berlangsung kebaktian syukur peringatan 24 tahun berdirinya jemaat GKSS Mattiro Baji (1988-2012) di gedung gerejanya di kompleks TC GKSS Jl Arung Sanrego, Mandai.

Kebaktian syukur diselenggarakan dalam bentuk refleksi dan perjamuan kasih. Ditegakkan di tengah ruangan gereja sebatang pohon pisang, dihiasi bermacam buah. Sebelum hadirin mengambil buah untuk diserahkan kepada warga lain sebagai pelayanan, sejumlah tokoh jemaat memberikan refleksi atas 24 tahun jemaat ini. Ada penilaian terhadap perkembangannya dari jemaat kecil yang terbentuk sebagai cabang kebaktian jemaat Baji Pa'mai' Maros, yang kemudian mandiri dan bahkan sudah sempat melahirkan jemaat baru, jemaat Oikoumene Sudiang. Termasuk perkembangannya adalah kemampuan finansil dalam mendirikan gedung gereja dan dalam membantu jemaat-jemaat lain melalui kemitraan pembiayaan gaji pendeta. Berbagai pelayanan ke jemaat-jemaat di pedalaman juga diungkapkan. Tetapi juga diungkapkan kritik terhadap melemahnya persekutuan bersama pemuda, perempuan dan anak-anak; masing-masing seolah berjalan sendiri. Setelah ibadah syukur dan perjamuan kasih, acara dilanjutkan dengan makan bersama makanan yang disediakan oleh masing-masing warga jemaat.

Entah mengapa untuk jemaat ini dipilih nama Mattiro Baji  -- bahasa Makassar yang bermakna melihat kebaikan, atau bisa juga menampakkan kebaikan. Rujukan alkitabiah ungkapan ini terdapat dalam Mazmur 34: 9, sebagaimana tercantum di bawah judul blog ini. 

Terjemahaman ayat ini dalam bahasa Bugis dan bahasa Makassar mengikuti terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), tanpa kata-kata "dan lihatlah":

Bugis: Pérasai kalému pékkugi kessinna PUWANGNGE, masennangngi tau iya mallinrungngé ri Aléna.
Makassar: Kasia'mi kalennu antekamma baji'Na Batara,mate'nei tau ma'la'langa mae ri Ia.
BIS: Rasakanlah sendiri betapa baiknya TUHAN, berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya.
 Sedangkan Bahasa Toraja dan Terjemahan Baru mengikuti teks Ibrani:
Toraja: Perasaimi sia tiromi, kumua iatu PUANG masokan; maupa' tu to umpentirerung
TB: Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!
RSV: O taste and see that the LORD is good!Happy is the man who takes refuge in him!  (Psa 34:8 RSV)

Pohon Pisang?
Mungkin pilihan menegakkan pohon pisang hanya pilihan praktis. Namun dalam berbagai tradisi religius Indonesia pisang tergolong sangat penting; buah pisang selalu disertakan dalam upacara sakral. Pohon pisang juga mengandung falsafah kehidupan.

Selamat ulang tahun Mattiro Baji.

Monday, June 18, 2012

Refleksi Sejarah GKSS dan Pekabaran Injil di tanah Bugis-Makassar-Selayar

Masih sebagai rangkaian pekan HUT GKSS (46) dan Hari PI (79) di klasis Bulusaraung, diadakan seminar PI untuk memberikan informasi dari para saksi sejarah dan pelaku PI di tanah Bugis (Melle’) Makassar (Poona) dan Selayar (Dg. Taung).  Seminar yang dilakukan pada senin, 18 Juni 2012 ini didampingi oleh ketua Klasis Blusaraung, Pdt. Armin Sukri, selaku moderator dan juga penerjemah dari bapak Melle yang tidak begitu paham bahasa Indonesia.  Selain itu juga dihadirikan seorang ahli sejarah gereja, Pdt. Zakaria Ngelow yang memberi beberapa catatan. 

Seminar yang diadakan di Aula TC GKSS ini berlangsung cukup menarik hingga memakan waktu selama tiga jam.  Sayang sekali bahwa seminar yang memberi banyak rekomendasi bagi keberlangsungan GKSS di masa depan tidak dihadiri oleh para undangan dari pihak MPS GKSS komisi-komisinya.  

Berikut beberapa refleksi sejarah GKSS oleh Zakaria Ngelow:


1. Kesaksian dari Selayar

GKSS gagal mempertahankan warga yang dibaptis masal dari aliran Muhdi Akbar pada awal tahun 1970-an karena tidak berlangsung pembinaan yang didasarkan pada pemahaman yang mendasar mengenai ajaran Muhdi Akbar. Hal ini terkait juga dengan tiadanya putra-putri Selayar sendiri yang seperti Rasul Paulus – mampu memahami secara mendalam sekaligus ajaran Muhdi Akbar dan budaya Selayar pada umumnya dan Injil Yesus Kristus, untuk selanjutnya melakukan transformasi. Apakah aspek keturunan akan juga menentukan, bahwa tokoh yang bisa bicara kepada masyarakat Selayar haruslah turunan pemuka masyarakatnya? Mungkin begitu, namun Injil harus kritis terhadap struktur sosial yang menindas, termasuk paternalisme dan feodalisme.

2. Kesaksian dari Soppeng

Orang Soppeng masuk Kristen dalam rangka mencari kebenaran Injil, mengikuti tradisi messianik Petta Barang. Itu suatu kebanggaan, yang juga dapat ditambahkan bahwa Kekristenan di kalangan orang Soppeng telah teruji melalui taruhan nyawa pada zaman gerombolan DI/TII tahun 1950-an.

Kekristenan Bugis Soppeng sejak awal terkait dengan jaringan keluarga. Hubungan keluarga dapat memajukan gereja, tetapi sebaliknya juga dapat merusaknya. Setiap pelayanan dalam komunitas masyarakat Bugis Soppeng ini harus memberi perhatian pada aspek hubungan-hubungan kekeluargaan itu. Dapat disimpulkan bahwa Kekristenan di kalangan orang Soppeng berakar kuat, namun terpencar dalam berbagai gereja. Dukungan wadah sosial seperti kerukunan warga Kristen Soppeng dapat menjadi jembatan untuk persaudaraan ganda sebagai sesaudara dalam identitas Soppeng dan dalam persaudaraan iman kepada Kristus.

3. Kesaksian dari Bawakaraeng

Kekristenan di kalangan orang Makassar/Gowa dihidupkan melalui pelayanan sosial, ekonomi dan pendidikan. Melemahnya gereja dalam pelayanan sosial melemahkan juga daya saingnya dalam masyarakat. Apakah masyarakat Kristen asal Makassar/Gowa seperti saudara-saudarinya dari Soppeng yang menghilang dari GKSS tetapi tetap eksis di gereja-gereja lain? Atau memang makin punah?

4. Masih gereja Bugis?

GKSS dimaksudkan oleh kalangan zending pada awalnya sebagai gereja dari dan untuk masyarakat Bugis-Makassar-Selayar. Tetapi pada kenyataannya telah berkembang menjadi gereja multi-etnis yang bhinneka tunggal ika. Jadi apa identitasnya? Kita menerima fakta sejarah sebagai jalan yang Tuhan kehendaki: gereja ini adalah gereja dari semua untuk semua, namun yang tetap sadar akan sejarah dan konteksnya sebagai gereja di tengah-tengah masyarakat Bugis-Makassar-Selayar. Dengan kata lain, perlu upaya-upaya pada satu fihak untuk mengembangkan pelayanan yang bersifat ekumenis, sesuai latar belakang warga, dan pada fihak lain mengakarkan mereka ke dalam visi dan komitmen bersama terhadap konteks sosial-kultural Sulawesi Selatan (dan Barat?)

5. Peringatan Peristiwa apa?

Peristiwa yang diperingati GKSS sebagai ulang tahun: 12 Juni tanggal pembentukan Sinode pada tahun 1966 di Makkio Baji, Makassar. Pada hal sebelumnya, pada tahun 1965 Bakal Gereja Bugis telah ditetapkan menjadi Gereja Kristen di Sulawesi Selatan dalam persidangan wakil-wakil jemaat di Watansoppeng tanggal 23-25 April 1965. Persidangan dihadiri wakil-wakil dari 6 jemaat dari daerah Soppeng; 8 jemaat dari daerah Malino; 2 jemaat dari Makassar, dan 3 jemaat dari Selayar dan sepakat membentuk gereja dengan pengurus dan tata gerejanya. Terpilih Pdt. N. Dg. Massikki sebagai Ketua Sinode.
Tanggal 19 Juni yang diperingati sebagai hari Pekabaran Injil adalah peristiwa berlabuhnya di pelabuhan Makassar kapal yang membawa tenaga zending, Ds. H. van den Brink, dari Gereformeerde Kerk untuk penginjilan di Sulawesi Selatan. Tetapi yang sebenarnya jauh lebih bermakna adalah peristiwa penerimaan Injil oleh orang Bugis sendiri. Tahun 1935 seorang bangsawan Bugis, Petta Lolo Marhabang, dibaptiskan di Soppengriaja; tgl 8 Februari 1938 Andi Kamba dibaptis di Barru oleh Ds. H. van den Brink. Atau yang lebih langsung terkait dengan Kekristenan Bugis adalah pembaptisan ke-3 “pencari kebenaran Injil”, La Galiti, La Mappe’, La Tasakka’, di gereja Indische Kerk (sekarang GPIB) Immanuel Makassar, pada tanggal 17 Februari 1940.
Bukan maksudnya supaya perayaan-perayaan yang sudah dibakukan itu diganti atau direvisi, melainkan supaya peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah GKSS diberi makna dan turut diperingati.

6. Pekabaran Injil?

Pekabaran Injil dalam GKSS tidak tepat lagi dilakukan dalam format masa lalu, melainkan meberdayakan setiap warga jemaat untuk bersikap misioner, yakni selalu terpanggil untuk menyatakan kebenaran Injil kepada orang lain dalam hidup masing-masing, melalui tutur kata mau pun perbuatan. Bagaimana pembinaan dilakukan untuk mencapai kualitas Kristen handal, seperti warga Muhdi Akbar dari Selayar, yang sekalipun berpindah-pindah agama tetap memegang “kebenaran” Muhdi Akbar? Bisakah pembinaan seperti ini dimulai di jemaat-jemaat tanpa “menunggu komando” dari pimpinan sinode?

7. 500 tahun Injil di Sulawesi Selatan.

Sejarah Kekristenan di kalangan orang Bugis sudah berlangsung sejak abad ke-16. Sejumlah-raja-raja Bugis di pesisir selamat Makassar, dari Parepare sampai Makassar (Bacukiki, Gowa, Siang, Suppa, Tallo) pernah mengenal agama Kristen, bahkan ada raja dan pangeran yang dibaptis oleh para paderi Katolik zaman Portugis. Kekristenan Katolik yang berlangsung lebih 100 tahun (1530-an – 1668) berakhir oleh peristiwa silariang seorang putri raja Suppa dengan kapiten kapal Portugis, dan kemudian juga oleh pilihan raja Gowa menerima Islam dan memaksakan pengislaman kerajaan-kerejaan lainnya (awal abad ke-17). Fihak VOC dan pemerintah kolonial Belanda mempertahankan Kerkistenan Protestan di Makassar, dan kemudian juga di Bonthain, Bulukumba dan Selayar. Yang patut dicatat adalah utusan Lembaga Alkitab Belanda, B.F. Matthes, yang berhasil menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bugis dan Makassar, dan “menyelamatkan” banyak lontara sastra Bugis/Makassar, termasuk I Lagaligo. [Selengkapnya, cari “sejarah” atau "matthes" di blog ini.]

Sebelum masyarakat Bugis-Makassar dan Selayar pada abad ke-20 sudah berlangsung pekabaran Injil di kalangan suku-suku Toraja, mula-mula oleh Indische Kerk, lalu kemudian pada tahun 1913 Tana Toraja, Luwu, Rongkong dan Seko dilayani oleh badan zending Gereformeerde Zendingsbond (GZB). Dan sejak tahun 1928 Toraja Mamasa, Pitu Ulunna Salu, dan Kalumpang oleh Zending der Christelijke Gereformeerdekerken (ZCGK). Masing-masing berhasil membentuk GerejaToraja dan Gereja Toraja Mamasa pada tahun 1947. Gereja Toraja dan GTM akan memperingati 100 tahun masuknya Injil ke masing-masing wilayah, dengan puncak perayaan tahun 2013.

Sunday, May 20, 2012

Perayaan HUT GKSS 2012

Doakan, dukung, dan hadiri:

Tgl 12-19 Juni 2012 GKSS merayakan Hari Ulang Tahun ke-46 Sinode GKSS dan Hari Pekabaran Injil GKSS ke-79. Acara untuk GKSS Klasis Saraung dipusatkan di Jemaat Mattiro Baji.

Salah satu kegiatan adalah Refleksi Sejarah GKSS pada 18 Juni 2012 sore di TC GKSS.

Friday, March 2, 2012

Pra-Paskah



Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pra-Paskah (bahasa Inggris: Lent; bahasa Latin: Quadragesima, "ke-40"[1]) adalah masa yang mendahului hari raya Paskah dalam agama Kristen. Masa ini mencakup empat puluh hari mulai hari Rabu Abu sampai hari Minggu Paskah, dengan berbagai liturgi yang diakhiri sampai Kamis Putih, menjelang peringatan 3 peristiwa amat penting yaitu Kematian Yesus pada hari Jumat Agung, yang dilanjutkan dengan penguburannya dan masa tinggalnya di dalam kubur, serta kebangkitan-Nya dari kematian pada hari Minggu Paskah.

Kalau Paskah memperingati kebangkitan Yesus setelah kematiannya di atas kayu salib, masa Pra-Paskah berhubungan dengan persiapan Pekan Suci, yang memperingati kejadian yang menuju ke Pengadilan Yesus terakhir oleh Kekaisaran Romawi. Ini terjadi di antara tahun 29-33 Masehi.

Secara tradisional, Pra-Paskah ini merupakan persiapan penyesalan orang percaya, melalui doa, penyesalan, pertobatan, pemberian sedekah, dan mengingkari diri. Tujuan ini lebih ditekankan saat memasuki masa perayaan tahunan Pekan Suci, yaitu peristiwa Kematian dan Kebangkitan Yesus. Ada empat puluh hari dalam masa pra-paskah yang ditandai dengan berpantang dari makanan dan kenikmatan, dan sikap penyesalan lainnya. Hal ini merujuk pada peristiwa yang dicatat di kitab-kitab Injil Sinoptik (Injil Matius, Injil Markus dan Injil Lukas, bahwa Yesus Kristus berpuasa 40 hari 40 malam lamanya di padang gurun sebelum memulai pekerjaan-Nya, di mana Ia dicobai oleh Iblis.[2][3][4]
Acolyte mematikan lilin di atas altar yang dihiasi warna ungu untuk Pra-Paskah. Perhatikan bahwa salib dan patung sering dibungkus kain ungu, dan tidak ada bunga maupun persembahan yang diperlihatkan. Rabu Abu, dalam sebuah gereja Episkopal di Tennessee, Amerika Serikat.
Jemaat merayakan Pra-Paskah dengan barisan pawai selama Pekan Suci. Warna ungu sering dihubungkan dengan penyesalan dan pertobatan. Kebiasaan penyesalan yang serupa dijumpai di negara-negara lain, kadang termasuk penyiksaan tubuh. Granada, Nicaragua.

Di sejumlah gereja Kristen, enam hari Minggu di antara hari Selasa sebelum Rabu Abu (Shrove Tuesday) dan Minggu Paskah tidak dihitung dalam 40 hari Pra-Paskah, sehingga tanggal hari Selasa itu lebih dari 40 hari sebelum Paskah. Peristiwa ini, dengan kebiasaan-kebiasaan yang khusyuk, diperingati di gereja-gereja Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental, Katolik Roma, Lutheran, Methodist, Presbyterian, Anglikan dan sejumlah gereja Baptis.[5][5][6][6] Pra-Paskah ini sekarang juga diperingati di beberapa denominasi yang dulunya mengabaikannya, misalnya di sejumlah gereja Baptis dan Mennonit.[7]

Lamanya masa Pra-Paskah

Kebanyakan penganut agama Kristen memperingati Pra-Paskah sejak hari Rabu Abu dan berakhir pada hari Kamis Putih.[4][8] Enam hari Minggu di antaranya tidak dihitung, karena masing-masing merupakan "Paskah kecil", yaitu peringatan kemenangan Yesus atas dosa dan kematian.[3] Salah satu perkecualian yang terkenal adalah di Archdiocese of Milan, yang mengikuti "ritual Ambrosian" (Ambrosian Rite) di mana Pra-Paskah dimulai pada hari Minggu 6 minggu sebelum Paskah.[9]

Sejak Konsili Vatikan Kedua, gereja Katolik Roma menetapkan hari Jumat Agung sampai Sabtu Suci sebagai dua hari pertama "Easter Triduum" dan bukan lagi sebagai dua hari terakhir Pra-Paskah, meskipun peringatan Pra-Paskah tetap dilanjutkan sampai "Easter Vigil".

Di gereja-gereja yang mengikuti "Ritus Konstatinopel" (misalnya gereja Ortodoks Timur dan gereja Katolik Timur), 40 hari Pra-Paskah dihitung berbeda, sebagaimana perbedaan perhitungan tanggal untuk hari Paskah. Puasa dimulai pada hari Senin Murni ("Clean Monday"), dengan memasukkan setiap hari Minggu, sampai berakhir pada hari Jumat sebelum Minggu Palem. Hari-hari khusus Sabtu Lazarus ("Lazarus Saturday"), Minggu Palem dan Pekan Suci dianggap masa puasa yang terpisah. Seluruh masa Pra-Paskah ini disebut "Great Lent".

Dalam gereja Ortodoks Oriental, ada sejumlah tradisi setempat selama Pra-Paskah. Gereja Ortodoks Koptik, gereja Ortodoks Etiopia dan gereja Ortodoks Eritrea memperingati 8 minggu Pra-Paskah, di mana tanpa menyertakan hari Sabtu dan Minggu, merupakan 40 hari puasa.[9]
Asal nama

Dalam liturgi bahasa Latin dipakai istilah quadragesima, yaitu terjemahan dari bahasa Yunani "Τεσσαρακοστή" (Tessarakoste, "ke-40" hari sebelum Paskah). Istilah ini dipelihara dalam bahasa Romana (Romance), bahasa Slavik dan bahasa Keltik (Celtic), misalnya bahasa Spanyol cuaresma, bahasa Portugis quaresma, bahasa Perancis carême, bahasa Italia quaresima, bahasa Romania paresimi, bahasa Kroasia korizma, bahasa Irlandia Carghas, dan bahasa Wales C(a)rawys.

Di akhir Abad Pertengahan, ketika khotbah diberikan dalam bahasa rakyat, tidak lagi dalam bahasa Latin, istilah bahasa Inggris lent mulai dipakai. Kata ini mulanya berarti "musim semi", seperti dalam bahasa Jerman Lenz dan bahasa Belanda lente), yang berasal dari akar kata bahasa Jermanik long (=panjang), karena di musim semi, hari (siang hari) jelas terasa lebih panjang dari musim dingin sebelumnya.[10]

Perayaan sebelum Pra-Paskah

Perayaan karnaval tradisional yang mendahului masa Pra-Paskah diadakan sebelum memasuki masa puasa. Yang paling terkenal adalah di Rio de Janeiro; di samping karnaval di Trinidad & Tobago, Venice, Cologne, Mobile di Alabama dan New Orleans di Louisiana. Acara ini terkenal dengan nama Mardi Gras atau "Shrove Tuesday" atau "Fat Tuesday" (hari "Selasa Gemuk").
Puasa dan pantangan

Puasa di masa Pra-Paskah lebih berat di zaman dulu daripada zaman sekarang. Socrates Scholasticus mencatat bahwa di beberapa tempat, semua bahan makanan dari binatang dilarang, sementara di tempat lain ikan dan burung boleh dimakan, buah-buahan dan telur dilarang, dan di tempat lain hanya makan roti. Ada tempat dimana umat berpantang makan selama satu hari penuh; di tempat lain hanya makan sekali sehari, atau berpantang makan sampai jam 3 siang. Di banyak tempat, kebiasaan puasa ini diakhiri di waktu petang, di mana umat hanya makan makanan kecil tanpa sayur maupun alkohol.

Di awal Abad Pertengahan, bahan makanan mengandung daging, telur dan susu umumnya dilarang. Thomas Aquinas berpendapat bahwa "bahan-bahan itu memberi kesukaan lebih banyak (daripada ikan), dan banyak nutrisi bagi tubuh, sehingga dengan memakannya memberi lebih banyak kelebihan untuk proses seminal, yang jika berlebihan memberi dorongan kepada hawa nafsu."[11] Namun, dispensasi untuk bahan dari susu diberikan sebagai donasi untuk pembangunan sejumlah gereja, termasuk "Butter Tower" dari Rouen Cathedral. Di Spanyol, peraturan untuk "Holy Crusade" (diperbarui secara teratur setelah tahun 1492) mengijinkan makan bahan dari susu[12] dan telur selama Pra-Paskah sebagai ganti kontribusi kepada konflik. Giraldus Cambrensis dalam tulisannya Itinerary of Archbishop Baldwin through Wales melaporkan bahwa "di Jerman dan daerah arktik," "orang-orang saleh," makan ekor berang-berang (beaver) sebagai "ikan" karena bentuknya mirip dengan ikan dan mudah didapat.[13]

Di masyarakat barat kebiasaan ini sekarang lebih kendor, meskipun di gereja Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental dan Gereja Katolik Timur, masih berlaku pantangan untuk semua bahan binatang termasuk ikan, telur, burung dan susu yang dari binatang (kambing atau sapi, bukan dari kacang kedelai atau kelapa), sehingga hanya makanan dari tumbuhan (vegetarian/vegan) yang dimakan selama 44 hari Pra-Paskah mereka. Dalam gereja Katolik Roma ada kebiasaan untuk berpantang makan daging binatang mamalia dan burung pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat selama Pra-Paskah, meskipun ikan dan makanan dari susu diijinkan dimakan. Pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung juga ada kebiasaan untuk puasa sehari penuh, tanpa daging, makan hanya sekali sehari, atau jika perlu, dua kali makanan kecil.

Hari-hari Raya

Sejumlah hari penting selama Pra-Paskah:

Rabu Abu, hari pertama masa Pra-Paskah di gereja barat.
Clean Monday (atau "Senin Abu"), hari pertama Pra-Paskah di gereja timur.
Hari Minggu Pra-Paskah ke-4, yang menandai titik tengah antara Rabu Abu dan Paskah, kadang disebut Laetare Sunday, di gereja Katolik Roma, atau "Mothering Sunday", yang menjadi sama dengan "Mother's Day" di Inggris. Namun, mulanya adalah perayaan di abad ke-16 untuk "Mother Church" (gereja induk). Pada hari Laetare Sunday, pastor boleh memakai jubah berwarna merah muda, sebagai pengganti ungu.
Hari Minggu Pra-Paskah ke-5, juga disebut Passion Sunday (istilah ini juga dipakai untuk Minggu Palem), menandai permulaan Passiontide
Hari Minggu Pra-Paskah ke-6, umumnya disebut Minggu Palem, menandai permulaan Pekan Suci, minggu terakhir Pra-Paskah sebelum Minggu Paskah.
Hari Rabu dalam Pekan Suci disebut "Spy Wednesday" (Rabu Mata-mata atau Pengintai) untuk memperingati hari-hari Yudas Iskariot mengintai Yesus Kristus di taman Getsemani sebelum mengkhianati-Nya.
Hari Kamis dalam Pekan Suci disebut Kamis Putih (Maundy Thursday atau Holy Thursday), merupakan hari peringatan Perjamuan Terakhir yang dilakukan oleh Yesus Kristus dengan murid-murid-Nya.
Jumat Agung, hari peringatan Kematian Yesus dan penguburan-Nya

Dalam gereja Katolik Roma, Easter Triduum adalah peringatan tiga hari yang dimulai dengan nyanyian pembukaan Mass untuk Perjamuan Kudus. Setelah peringatan hari Kamis Putih sore, hosti kudus diambil dengan khusuk dari altar ke tempat penyimpanan dimana orang percaya diundang untuk menyembah "tubuh kudus Kristus". Di hari berikutnya, diadakan liturgi peringatan penderitaan Kristus pada pukul 3 sore. Ibadah ini terdiri dari pembacaan Alkitab terutama dari Injil Yohanes tentang penderitaan Yesus Kristus, diikuti dengan doa, pemujaan salib Yesus dan kemudian Perjamuan Kudus dimana hosti, yang dikuduskan pada sore sebelumnya, dibagikan. Easter Vigil di waktu malam antara Sabtu Suci petang dan Minggu Paskah subuh dimulai dengan pemberkatan api dan lilin khusus dengan pembacaan Alkitab yang berhubungan dengan baptisan, lalu menyanyikan Gloria in Excelsis Deo, pemberkatan air, dilakukan baptisan dan konfirmasi untuk orang dewasa, kemudian jemaat diundang untuk memperbarui janji baptisan mereka; akhirnya Mass dilakukan seperti biasa mulai dari "Preparation of the Gifts" dan selanjutnya.

Pekan Suci dan masa Pra-Paskah, tergantung dari denominasi Kristen dan kebiasaan setempat, diakhiri dengan Easter Vigil pada Sabtu Suci sore atau subuh pada hari Minggu Paskah. Ada kebiasaan di sejumlah gereja untuk mengadakan ibadah subuh di lapangan terbuka.

Dalam gereja Katolik Roma, Lutheran, dan banyak gereja Anglikan, para pendeta berpakaian ungu selama Pra-Paskah. Pada hari Minggu ke-4 Pra-Paskah, boleh memakai warna merah muda. Di beberapa gereja Anglikan sejenis kain lenan yang tidak diputihkan atau muslin yang disebut "Lenten array", dipakai selama 3 minggu pertama Pra-Paskah, kemudian warna merah selama Passiontide.

Referensi

1 http://www.newadvent.org/cathen/09152a.htm
2 Matius 4:1–2; Markus 1:12–13; Lukas 4:1–2
3 a b "What is Lent and why does it last forty days?". The United Methodist Church. Diakses pada 24 Agustus 2007.
4 a b "The Liturgical Year". The Anglican Catholic Church. Diakses pada 24 Agustus 2007.
5 a b Comparative Religion For Dummies. For Dummies. Diakses pada 8 Maret 2011.
6 a b William P. Lazarus, Mark Sullivan. Comparative Religion For Dummies. For Dummies. Diakses pada 8 Maret 2011.
7 http://www.thirdway.com/menno/glossary.asp?ID=121
8 Thurston, Herbert (1910). "Lent". The Catholic Encyclopedia. IX. New York: Robert Appleton Company. Diakses pada 15 Februari 2008
9 a b Catholic Encyclopedia – Lent See paragraph: Duration of the Fast
10 Lent Online Etymology Dictionary. Retrieved 8 March 2009.
11 "'''Summa Theologica''' Q147a8". Newadvent.org. Diakses pada 27 Agustus 2010.
12 "Millennium:Fear and Religion". Diarsipkan dari yang asli pada 18 Agustus 2002.
13 "Baldwin's Itinerary Through Wales No. 2 by Giraldus Cambrensis". Gutenberg.org. 31 Desember 2001. Diakses pada 27 Agustus 2010.



Tuesday, November 8, 2011

Lima Poin Calvinisme

Tanggal 9 November 2011 peserta International Conference on Protestant Church Polity in Changing Contexts -- yang diselenggarakan oleh Protestantse Theologische Universiteit te Kampen dan Protestantse Kerk in Nederland, di Utrecht, Negeri Belanda, tgl 7-10 November 2011 -- “berziarah” kota Dordrecht. [Dari Indonesia hadir: Lazarus Purwanto, Roy Alexander Surjanegara, Lia Wth,Jusni Saragih, dan Zakaria Ngelow] Sebagaimana anda (dapat) pelajari dalam sejarah gereja, di kota ini pada tahun 1618-1619 berlangsung persidangan sinode gereja Kalvinis Belanda, yang antara lain menghasilkan dokumen ajaran yang disebut Canons of Dort, yang berisi pokok-pokok ajaran menolak ajaran aliran Remonstran, suatu aliran Kristen yang menekankan peran serta manusia dalam keselamatan. Para pelanjut ajaran Kalvinis kemudian merumuskan pokok-pokok ajaran itu, yang dalam bahasa Inggeris dikenal dengan singkatan TULIP. Berikut suatu rangkuman dalam bahasa Inggeris.

Di bawah ada teks bahasa Indonesia, hasil terjemahan Google, yang masih perlu diluruskan
Semoga berguna,




Five points of Calvinism

http://en.wikipedia.org/wiki/Five_Points_of_Calvinism#Five_points_of_Calvinism

Calvinist theology is sometimes identified with the five points of Calvinism, also called the doctrines of grace, which are a point-by-point response to the five points of the Arminian Remonstrance (see History of Calvinist-Arminian debate) and which serve as a summation of the judgments rendered by the Synod of Dort in 1619. Calvin himself never used such a model and never combated Arminianism directly. In fact, Calvin died in 1564 and Jacob Arminias was born in 1560, and so the men were not contemporaries. The Articles of Remonstrance were authored by opponents of reformed doctrine and Biblical Monergism. They were rejected in 1619 at the Synod of Dort, more than 50 years after the death of Calvin.
The five points therefore function as a summary of the differences between Calvinism and Arminianism, but not as a complete summation of Calvin's writings or of the theology of the Reformed churches in general. In English, they are sometimes referred to by the acronym TULIP (see below), though this puts them in a different order than the Canons of Dort.
The central assertion of these canons is that God is able to save every person upon whom he has mercy, and that his efforts are not frustrated by the unrighteousness or inability of humans.
• "Total depravity": This doctrine, also called "total inability", asserts that as a consequence of the fall of man into sin, every person born into the world is enslaved to the service of sin. People are not by nature inclined to love God with their whole heart, mind, or strength, but rather all are inclined to serve their own interests over those of their neighbor and to reject the rule of God. Thus, all people by their own faculties are morally unable to choose to follow God and be saved because they are unwilling to do so out of the necessity of their own natures. (The term "total" in this context refers to sin affecting every part of a person, not that every person is as evil as possible.) This doctrine is borrowed from Augustine who was a member of a Manichaean sect in his youth.
• "Unconditional election": This doctrine asserts that God has chosen from eternity those whom he will bring to himself not based on foreseen virtue, merit, or faith in those people; rather, it is unconditionally grounded in God's mercy alone. God has chosen from eternity to extend mercy to those He has chosen and to withhold mercy from those not chosen. Those chosen receive salvation through Christ alone. Those not chosen receive the just wrath that is warranted for their sins against God
• "Limited atonement": Also called "particular redemption" or "definite atonement", this doctrine asserts that Jesus's substitutionary atonement was definite and certain in its design and accomplishment. This implies that only the sins of the elect were atoned for by Jesus's death. Calvinists do not believe, however, that the atonement is limited in its value or power, but rather that the atonement is limited in the sense that it is designed for some and not all. Hence, Calvinists hold that the atonement is sufficient for all and efficient for the elect. The doctrine is driven by the Calvinistic concept of the sovereignty of God in salvation and their understanding of the nature of the atonement.
• "Irresistible grace": This doctrine, also called "efficacious grace", asserts that the saving grace of God is effectually applied to those whom he has determined to save (that is, the elect) and, in God's timing, overcomes their resistance to obeying the call of the gospel, bringing them to a saving faith. This means that when God sovereignly purposes to save someone, that individual certainly will be saved. The doctrine holds that every influence of God's Holy Spirit cannot be resisted, but that the Holy Spirit, "graciously causes the elect sinner to cooperate, to believe, to repent, to come freely and willingly to Christ."
• "Perseverance of the saints": Perseverance (or preservation) of the saints (the word "saints" is used in the Biblical sense to refer to all who are set apart by God, and not in the technical sense of one who is exceptionally holy, canonized, or in heaven). The doctrine asserts that since God is sovereign and his will cannot be frustrated by humans or anything else, those whom God has called into communion with himself will continue in faith until the end. Those who apparently fall away either never had true faith to begin with or will return.

Terjemahan Google:

Teologi Calvinis kadang-kadang diidentifikasi dengan lima poin Calvinisme, juga disebut doktrin anugerah, yang merupakan respons titik-demi-point ke lima poin dari bantahan Arminian (lihat Sejarah Calvinis-Arminian debat) dan yang berfungsi sebagai penjumlahan dari penilaian yang diberikan oleh Sinode Dort tahun 1619. Calvin sendiri tidak pernah digunakan seperti model dan pernah diperangi Arminianisme secara langsung. Bahkan, Calvin meninggal pada 1564 dan Yakub Arminias lahir di 1560, sehingga orang itu tidak sezaman. Anggaran bantahan yang ditulis oleh penentang doktrin direformasi dan Monergism Alkitab. Mereka ditolak tahun 1619 di Sinode Dort, lebih dari 50 tahun setelah kematian Calvin.
Oleh karena itu lima poin berfungsi sebagai ringkasan dari perbedaan antara Calvinisme dan Arminianisme, tetapi bukan sebagai penjumlahan lengkap tulisan-tulisan Calvin atau teologi gereja-gereja Reformed pada umumnya. Dalam bahasa Inggris, mereka kadang-kadang disebut dengan singkatan TULIP (lihat di bawah), meskipun ini menempatkan mereka dalam urutan yang berbeda dari Kanon Dort.
Penegasan utama dari kanon adalah bahwa Allah mampu menyelamatkan setiap orang kepada siapa ia memiliki belas kasihan, dan bahwa usahanya tidak frustrasi oleh kejahatan atau ketidakmampuan manusia.
• "kebejatan total": Doktrin ini, juga disebut "ketidakmampuan total", menegaskan bahwa sebagai konsekuensi dari kejatuhan manusia ke dalam dosa, setiap orang lahir ke dunia ini diperbudak untuk melayani dosa. Orang tidak oleh alam cenderung untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, pikiran, atau kekuatan, tetapi semua cenderung untuk melayani kepentingan mereka sendiri atas orang-orang dari tetangga mereka dan menolak aturan Allah. Jadi, semua orang oleh fakultas mereka sendiri secara moral tidak dapat memilih untuk mengikuti Tuhan dan diselamatkan karena mereka tidak mau melakukannya karena kebutuhan kodrat mereka sendiri. (Istilah "total" dalam konteks ini mengacu pada dosa mempengaruhi setiap bagian dari seseorang, tidak bahwa setiap orang adalah sebagai jahat mungkin.) Doktrin ini dipinjam dari Agustinus yang merupakan anggota sebuah sekte Manichaean di masa mudanya.
• "pemilihan tak bersyarat": Doktrin ini menegaskan bahwa Allah telah memilih dari kekekalan mereka yang ia akan membawa dirinya tidak didasarkan pada kebajikan diramalkan, jasa, atau iman orang-orang, melainkan adalah tanpa syarat didasarkan pada kemurahan Allah saja. Allah telah memilih dari kekekalan untuk memperluas rahmat kepada mereka dan Ia telah memilih untuk menahan rahmat dari mereka yang tidak dipilih. Mereka yang terpilih menerima keselamatan melalui Kristus saja. Mereka tidak dipilih hanya menerima murka yang dijamin untuk dosa-dosa mereka terhadap Allah
• "Penebusan terbatas": Juga disebut "penebusan khusus" atau "penebusan yang pasti", doktrin ini menegaskan bahwa Yesus adalah penebusan dosa yang pasti dan tertentu dalam desain dan prestasi. Ini berarti bahwa hanya dosa-dosa umat pilihan itu ditebus oleh kematian Yesus. Calvinis tidak percaya, bagaimanapun, bahwa penebusan terbatas dalam nilai atau kekuasaan, melainkan bahwa penebusan terbatas dalam arti bahwa itu dirancang untuk beberapa dan tidak semua. Oleh karena itu, Calvinis berpendapat bahwa penebusan cukup untuk semua dan efisien untuk umat pilihan. Doktrin ini didorong oleh konsep Calvinis tentang kedaulatan Allah dalam keselamatan dan pemahaman mereka tentang sifat penebusan.
• "kasih karunia Ditolak": Doktrin ini, juga disebut "kasih karunia berkhasiat", menegaskan bahwa kasih karunia penyelamatan Allah secara efektif diterapkan untuk orang-orang yang ia telah bertekad untuk menyelamatkan (yaitu, memilih) dan, dalam waktu Tuhan, mengatasi perlawanan mereka untuk mematuhi panggilan Injil, membawa mereka ke iman yang menyelamatkan. Ini berarti bahwa ketika Tuhan berdaulat tujuan untuk menyelamatkan seseorang, individu yang pasti akan diselamatkan. Memegang doktrin bahwa setiap pengaruh Roh Kudus Allah tidak bisa ditolak, tetapi bahwa Roh Kudus, "anggun menyebabkan orang berdosa memilih untuk bekerja sama, untuk percaya, untuk bertobat, untuk datang bebas dan sukarela kepada Kristus."
• "Ketekunan orang-orang kudus": Ketekunan (atau pelestarian) dari orang-orang kudus (kata "orang kudus" digunakan dalam arti Alkitab untuk merujuk kepada semua yang diatur terpisah oleh Tuhan, dan bukan dalam arti teknis dari satu yang sangat suci, dikanonisasi, atau di surga). Doktrin ini menegaskan bahwa karena Allah berdaulat dan kehendak-Nya tidak dapat frustasi oleh manusia atau apa pun, mereka yang Allah telah memanggil ke dalam persekutuan dengan dirinya sendiri akan terus dalam iman sampai akhir. Mereka yang tampaknya terjatuh baik tidak pernah iman yang benar untuk memulai dengan atau akan kembali.

Friday, June 17, 2011

Injil di Sulawesi Selatan (bagian I)

Dikumpulkan dari berbagai sumber oleh Zakaria Ngelow

Raja-raja Bugis masuk Kristen (abad ke-16)

Sejumlah penguasa kerajaan di Sulawesi Selatan pada abad ke 16, pernah dibaptis masuk Kristen, antara lain penguasa kerajaan Tallo, Suppa, Siang (Pangkajenne), Bacukiki, Alitta, Gowa. Penyebaran agama Katolik di Sulawesi-Selatan oleh Portugis, yang datang dari Malaka menuju ke daerah Ajatappareng dan Suppa lalu ke Siang (Pangkajenne). Injil masuk ke Gowa dari Ternate pada tahun 1539, sementara ke Ajattapareng, Suppa dan Siang, tahun l534.

Kristenisasi raja-raja Bugis/Makassar dimulai dengan kedatangan seorang pedagang Portugis, Antonio de Paiva yang tertarik pada kekayaan daerah Indonesia Timur, khususnya kayu cendana. Mula-mula Antonio datang ke Siang, kemudian singgah di Suppa. Pada kesempatan itulah penguasa di Suppa dan Siang dibaptis setelah perdebatan teologis yang hangat.

Tahun 1537 raja Gowa mengirim suatu perutusan kepada Antonio Galvao, panglima Portugis di Ternate, untuk meminta perlindungan terhadap Ternate. Di Ternate 2 pangeran Makasar dibaptis. Sekembalinya ke Makasar mereka mengadakan propaganda untuk agama Kristen, dan banyak berhasil, sehingga meminta imam Katolik dari Ternate.
Tetapi oleh serangan angin taufan, kapal yang membawa 2 orang imam itu berlabuh di Filipina dan bukan di Makasar. Baru 6 tahun kemudian sebuah kapal Portugis tiba lagi di Makasar untuk memuat kayu cendana. Pada kesempatan itu raja Supa dan raja Siang (dekat Pare-pare) dibaptis. Apa alasan kedua penguasa ini mau dibaptis masuk agama Katholik? Kemungkinan untuk membuat persekutuan militer dalam menghadapi serangan kerajaan kembar Gowa dan Tallo. Di kisahkan, ketika Antonio de Paiva kembali ke Malaka, ikut serta utusan dari kedua penguasa ke Malaka untuk meminta Gubernur Malaka mengirimkan imam Katolik ke Suppa dan Siang dan jika mungkin bantuan militer. Bahkan ikut pula serta dua putra penguasa dari Suppa. Kedua pemuda itu, kemudian dibawah ke Eropa.

Mendengar permintaan kedua penguasa di Sulawesi Selatan itu, misionaris Katolik yang terkenal, Franciscus Xaverius, berangkat ke Malaka dan dari sana ia mau ke Suppa, tapi batal, karena di terjadi perang antara Wajo dan Sidenreng. Sidenreng bersekutu dengan Suppa dan Siang. Sebelumnya sudah datang pastor Vicente Viegas dari Malaka, dan dialah yang membaptis penguasa Alitta dan Bacukiki.

Kekristenan di Suppa, Siang, Alitta dan Bacukiki berakhir karena seorang perwira Portugis (Juan de Eredia) membawa lari seorang putri penguasa Suppa. Orang-orang Portugis buru-buru meninggalkan Suppa dan membawa putri penguasa Suppa tersebut ke kapal. Anak blasteran putri penguasa Suppa dengan perwira Portugis itu bernama Manuel Godinho de`Eredia, ibunya juga diberi nama Portugis, Donna Ele’na Vesiva. Manuel Godinho menjadi seorang terpelajar, ia menjadi penulis dan ahli geografi. Dialah yang pertama kali menyebut adanya pulau di sebelah selatan Timor yang kemudian dikenal sebagai Australia.


Gereja Katolik di Makassar
Tahun 1525 pertama kali Makassar disinggahi 3 pastor misionaris asal Portugal (Pastor Antonio dod Reijs, Cosmas de Annunciacio, Bernardinode Marvao, dan seorang bruder). Namun baru pada 1548 Pastor Vincente Viegas datang dari Malaka dan tinggal menetap di Makassar untuk melayani para saudagar Portugis yang Katolik. Tercatat Raja Gowa ke-13, Tepu Daeng Parabung Karaeng Tunipasulu masuk Kristen (1590). Setelah memeluk agama Islam Raja-raja Gowa tetap memberi kebebasan kepada orang-orang Katolik mendirikan gereja (1633). Atas dukungan Sultan, Karaeng Pattingaloang, tokoh kerajaan Tallo yang juga seorang intelektual banyak bekerja sama dengan misionaris Katolik, juga dalam bidang ilmu pengetahuan

Dari catatan sejarah, pada tahun 1560 ada sekitar 50.000 orang Katolik di pulau-pulau Nusantara bagian timur. Setelah Malaka jatuh ke tangan VOC (1641) 40 imam dan sekitar 20.000 orang Katolik diperintahkan meninggalkan Malaka; sekitar 3.000 orang dan beberapa Pastor pindah ke Makassar (1649).

Demi monopoli dagang VOC (perjanjian Batavia, 19 Agustus 1660) mengharuskan Sultan Hasanuddin mengusir semua orang Portugis dari Makaasar (1661); tetapi Sultan mengatur dengan baik keberangkatan orang-orang Portugis itu, dan atas bantuan Sultan baru pada 1665 Pastor Antonio Francesco, pastor terakhir meninggalkan Makassar, dan Bruder Antonio de Torres yang mengasuh suatu sekolah kecil untuk anak laki-laki baru meninggalkan Makassar pada 1668 karena pecahnya perang Gowa melawan Belanda. Sejak itu selama 225 tahun, tidak ada pastor yang menetap di Makassar, orang-orang Katolik yang masih ada, hanya sekali-sekali dilayani dari Surabaya atau Larantuka.

Pada tahun 1892, Pastor Aselbergs, SJ, dipindahkan dari Larantuka menjadi Pastor Stasi Makassar (7 September 1892) dan tinggal pada suatu rumah mewah di Heerenwerg (kini Jl. Hasanuddin). Tahun 1895 di beli tanah dan rumah di Komedi straat (kini Jl. Kajaolalido), yang adalah tempat gedung gereja Katedral sekarang. Gereja dibangun pada tahun 1898 selesai 1900; direnovasi dan diperluas pada tahun 1939, selesai pada 1941 dengan bentuk seperti sekarang.

Pada tanggal 19 Nopember 1919 dibentuk Prefektur Apostolik Sulawesi, misionaris Jesuit diganti oleh misionaris MSC, dengan Mgr. Vesters sebagai prefek yang berkedudukan di Manado. Pada tanggal 13 April 1937 wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara dijadikan Prefektur Apostolik Makassar oleh Sri Paus di Roma, dan dipercayakan kepada misionaris CICM, dengan Mgr. Martens sebagai prefek. Pada tanggal 13 mei 1948 menjadi Vikariat Apostolik Makassar, dan tanggal 3 Januari 1961 menjadi Keuskupan Agung Makassar, sampai sekarang


Bonthain, Bulukumba, Selayar (abad ke-19)

Sesudah keruntuhan VOC. pada akhir abad ke-18, hanya terdapat seorang pendeta saja di Makasar, yaitu pendeta Van der Dussen. Selain di Makasar, yang merupakan pusat pekerjaan di Sulawesi-Selatan, ia juga harus melayani Bonthain, Bulukumba dan Salayar. Tahun 1820 pendeta-sending Buttenaar ditempatkan di Makasar, lalu berturut-turut: tahun 1825 pendeta Van Laren; pendeta Lammers van Toorenburg, 1837 pendeta Hardy; dan 1839 pendeta Toewater. Sebelum berangkat ke Indonesia Toewater mempelajari bahasa-bahasa Indonesia dan setibanya di Makasar belajar bahasa Makasar dan bahasa Bugis. Sampai pada waktu itu bahasa Makasar dan bahasa Bugis masih terlampau sedikit dipelajari oleh orang-orang Eropa. Pada masa pemerintahan Raffles (1811-1816) Dr. Leyden, seorang ahli bahasa, telah menterjemahkan sebagian dari Perjanjian Baru ke dalam bahasa Makasar dan bahasa Bugis.

Dari Makasar Toewater banyak mengadakan perjalanan ke pedalaman dan karena itu ia juga banyak mempunyai hubungan dengan penduduk di Sulawesi Selatan, terutama dengan para kepala suku. Tahun 1843 ia dipindahkan ke Semarang. Untuk melanjutkan pekerjaannya di bidang penerjemahan Kitab Suci di Sulawesi-Selatan, Lembaga Alkitab Belanda (NBG) memutuskan untuk mengutus Dr Matthes, yang menjabat sebagai wakil-direktor NZG (badan zending Belanda), ke Sulawesi Selatan.

Matthes melaporkan kepada NZG bahwa di Bonthain dan di Bulukumba terdapat 2 Jemaat kecil yang sangat terlantar. Jemaat-jemaat itu, yang ia kunjungi pada tahun 1849, terdiri dari 200-300 anggota (= orang-orang Indo: keturunan orang-orang Belanda yang kawin dengan wanita-wanita Makasar dan Bugis). Pada masa VOC Bonthain dan Bulukumba -- di samping Makasar -- merupakan pos-pos militer yang penting. Banyak prajurit Belanda di situ kawin dengan wanita-wanita Makasar (dan Bugis): oleh perkawinan itu timbul suatu "persekutuan Indo", yang merupakan inti dari Jemaat-jemaat yang berada di situ. Ketika Van Rhijn, sebagai inspektor NZG pada tahun 1847 mengunjungi Bonthain, ia menerima surat dari pendeta Van Hengel -- yang dari tahun 1843-1847 bekerja di Makasar -- bahwa pemberitaan firman di antara orang-orang Makasar mempunyai harapan baik, karena mereka, "tidak memusuhi agama Kristen". Berdasarkan surat itu NZG menerima usul Matthes dan pada tahun 1851 ia mengambil keputusan untuk memulai pekerjaannya di Sulawesi Selatan. Sebagai pendeta-sending pertama untuk daerah itu NZG menunjuk Donselaar yang pada waktu itu bekerja di Timor ke Sulawesi-Selatan

Pada bulan Mei 1852 Donselaar tiba di Sulawesi Selatan dan memilih Bonthain sebagai tempat-tinggal. Di situ ia mendapati suatu Jemaat kecil yang terdiri dari "orang-orang Indo" dan prajurit-parjurit pribumi: semuanya kira-kira 100 orang. Ia mulai mengorganisir ibadah, katekisasi dan pengajaran sekolah. Pekerjaan di situ tidak begitu mudah, bukan saja karena anggota-anggota Jemaat tidak mengetahui apa-apa tentang agama Kristen, tetapi terutama karena hidup kesusilaan mereka sangat buruk. Di antara 20 anak, yang ia baptis pada tahun 1853, hanya ada satu anak saja yang "tidak lahir di luar nikah". Di samping pekerjaannya di Jemaat, ia juga mempersiapkan diri untuk pekerjaannya yang sebenarnya di antara orang-orang Makasar.

Pada permulaan tahun 1854 datang lagi 2 pendeta-sending baru, yaitu Rooker dan Goudsward. Rooker ditempatkan di Bulukumba, yang mempunyai suatu Jemaat kecil dengan 61 anggota. Tetapi tidak lama sesudah itu ia dipindahkan ke Tondano (= Minahasa). Goudswaard diberi tugas untuk memimpin sekolah di Bonthain (untuk "anak-anak Indo"), sehingga Donselaar dapat menggunakan seluruh waktunya untuk pekerjaan Jemaat, baik di Bonthain, maupun di Salayar.

Di Salayar ia mendapati suatu Jemaat kecil -- yang terdiri dari 47 orang Indo -- dalam keadan yang sangat buruk. Di situ tidak ada sekolah untuk anak-anak. Pengetahuan anggota-anggota jemaat tentang agama Kristen nihil: sama-sekali tidak ada. Hidup kesusilaan mereka sangat memalukan. Menurut peraturan Gereja pada waktu itu Salayar termasuk daerah pelayanan Jemaat di Makasar. Tetapi karena jauh sekali letaknya, ia jarang dikunjungi.

Sementara itu Donselaar dan Goudswaard terus berusaha mempelajari tanah, bahasa dan adat-istiadat orang-orang Makasar. Menurut mereka penduduk di situ tidak malas, tetapi "tidak begitu bersih dan lekas marah". Banyak di antara mereka suka berjudi dan menjadi "budak candu“, suka mencuri, suka membalas dendam, dan lain-lain. Secara resmi tidak ada perbudakan di situ, tetapi ada orang yang hidupnya tidak lebih baik daripada budak. Penduduk menganggap dirinya beragama Islam, sungguhpun demikian mereka banyak menyembah berhala dan menganut percaya yang sia-sia. Mereka benar beragama Islam, tetapi mereka tidak tahu apa-apa tentang agama itu: banyak diantara mereka minum-minuman keras (= alkohol) dan makan daging babi. Superstisi terdapat di mana-mana. Karena itu ia sangsi apakah pekerjaannya di Sulawesi-Selatan akan ada manfaatnya.

Pada tahun 1855 Jemaat di Bonthain mendirikan sebuah gedung-gereja kecil dengan bantuan uang dari pemerintah. Keadaan Jemaat berangsur-angsur menjadi baik. Sungguhpun demikian Donselaar dan Goudswaard tidak begitu puas. Mereka ingin lekas-lekas mulai dengan pekerjaan mereka yang sebenarnya: memberitakan Firman kepada penduduk prbumi. Tetapi masih banyak rintangan yang mereka hadapi. Pertama: mereka belum cukup menguasai bahasa daerah. Kedua: waktu untuk mempelajari bahasa daerah (= bahasa Makasar) sangat terbatas, karena dalam pekerjaan mereka di Jemaat, mereka harus menggunakan dua bahasa: bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Ketiga: "jalan-masuk" ke dalam dunia penduduk pribumi -- karena rupa-rupa sebab -- masih tertutup. Karena itu sambil menunggu, mereka melanjutkan pekerjaan mereka dalam Jemaat, yang sementara itu telah sedikit bertambah besar. Pada tahun 1856 Jamaat Bonthain telah mempunyai 180 anggota, di antaranya 56 anggota sidi. Juga sekolah, yang dipimpin Goudswaard, bertambah besar: jumlah muridnya telah meningkat menjadi 48 orang

Antara Matthes dan kedua pendeta-sending itu (= Donselaar dan Goudswaard) ada kontak dan kerjasama. Matthes tinggal di Makasar, sedang Donselaar dan Goudswaard jarang ke sana. Tetapi salinan dari bahan-bahan yang telah selesai disusun oleh Matthes, biasanya ia berikan kepada mereka. Dalam pekerjaan misi, mereka mencapai beberapa persetujuan: Pertama: Mereka setuju, bahwa Bonthain dan Bulukumba adalah tempat-tempat-tempat yang baik, tetapi keberatannya ialah: "adanya orang-orang Eropa di situ adalah reklame yang buruk" untuk pekerjaan Sending. Kedua: Mereka setuju dengan pendeta-sending Jellesma, bahwa jemaat Eropa adalah suatu beban yang berat bagi seorang pendeta-sending. Jemaat yang demikian dapat merupakan suatu pusat dan contoh yang baik, kalau "buah-buah Sending dapat dimasukkan ke dalamnya". Tetapi biasanya Jemaat-jemaat Indo merupakan "hambatan" bagi pekerjaan Sending. Makasar, menurut mereka, sama-sekali tidak cocok sebagai "pangkalan" pekerjaan Sending. Ketiga: Mereka juga setuju, bahwa bahasa yang harus dipakai dalam pekerjaan Sending bukan bahasa Melayu, tetapi bahasa Makasar: bahasa Makasar kaya akan kiasan-kiasan, sehingga mudah menarik perhatian pendengar-pendengar. Dalam pekerjaan ini dianjurkan supaya dipakai traktat-traktat yang akan disiapkan dalam bahasa Makasar.

Berdasarkan percakapan itu Donselaar (pada tahun 1858) menyusun dan mencetak suatu traktat dalam bahasa Makasar, yang memuat: Dasafirman; teks Yo 3:16: "Kasihilah Allah lebih dari segala sesuatu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri"; Mazmur 1 dan doa Bapa Kami. Traktat itu segera disita oleh Gubernur di Makasar dan hal itu merupakan langkah pertama dari larangan untuk bekerja memberitakan Injil di antara penduduk pribumi. Tindakan Gubernur itu sangat mengherankan baik Donselaar, maupun Pengurus NZG di Belanda. Mereka protes. Tapi gubernur menolak permintaan Donselaar untuk ber-PI. Alasannya ialah: karena "orang-orang Makasar dan orang-orang Bugis adalah orang-orang Islam yang sangat fanatik, sehingga pekerjaan Sending di antara mereka dapat menimbulkan gangguan keamanan".


Indische Kerk di Makassar

Antara tahun 1910-1927 pendeta-pendeta Indische Kerk di jemaat Makassar dan Bonthain giat melakukan PI di wilayah-wilayah utara Sulawesi Selatan (Tana Toraja, Mamasa). Mereka manfaatkan kesempatan yang terbuka setelah penaklukan Belanda atas kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan untuk menginjil (dan membendung penyebaran Islam). Pdt. R.W.F Kijftenbelt (1865-1952) di Makassar dan Pendeta bantu Jonathan Kelling (1861-1922) yang bertugas di Bonthain (dan kemudian di Luwuk) membaptis di Makale (murid-murid sekolah), dan Mamasa (secara masal) Mereka juga mendirikan sekolah-sekolah dengan guru-guru dari Ambon dan Minahasa

Jemaat (Gemeente) didirikan dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 17 Oktober 1852. Jemaat ini merupakan bagian dari De Protestantsche Kerk in Nederlandsch Indie (Gereja Protestan Hindia Belanda) atau biasa disingkat "Indische Kerk". Pendeta gereja ini digaji oleh pemerintah dan demikian juga anggaran-anggaran lainnya untuk keperluan gereja disediakan oleh pemerintah.

Pada tanggal 15 September 1885, pendeta J.C Knuttel meresmikan pemakaian gedung gereja yang telah dibangun kembali, gedung ini resminya bernama "Prins Hendriks Kerk" (Gereja dari Pangeran Hendrik) namun umumnya disebut "Protestantsche Kerk" (Gereja Protestan) atau "Grote Kerk" (Gereja Besar), yang kemudian dikenal dengan nama "Gereja Immanuel".

Setelah reorganisasi Indische Kerk, jemaat Makassar menjadi jemaat GPIB. Pada tahun 1967 diputuskan untuk membagi jemaat di Makassar, yang wilayah pelayanannya sudah terlalu luas ini, menjadi 4 jemaat, yaitu : Jemaat Immanuel, Jemaat Bukit Zaitun, Jemaat Bethania dan Jemaat Mangngamaseang. Pada tahun 1983, Jemaat GPIB di Makassar bertambah satu lagi yaitu Jemaat Bahtera Kasih sehingga seluruhnya menjadi 5 jemaat.


B.F. Matthes

B.F. Matthes lahir tahun 1818, studi teologi dan sastra Semitik, 1848-1870 utusan NBG ke Sulawesi Selatan, 1876-1879 Direktur sekolah guru di Makassar; menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Makassar dan Bugis (PB 1887, PL 1900), menyusun Tata Bahasa (1858) dan Kamus (1859) bahasa Makassar dan Tata Bahasa Bugis (1879). Meninggal tahun 1908.


Pada tahun 1864 terbit hasil yang pertama dari pekerjaan Matthes: Injil Matius, baik dalam bahasa Makasar, maupun dalam bahasa Bugis. Tetapi penerimaan Injil di antara orang-orang Makasar dan orang-orang Bugis tidak menggembirakan. Sungguhpun demikian Lembaga Alkitab Belanda tidak mau menghentikan pekerjaannya di Sulawesi-Selatan.

Karena rupa-rupa sebab -- Lembaga Alkitab Belanda untuk sementara menghentikan pekerjaan penterjemahan Kitab Suci dalam bahasa Makasar dan bahasa Bugis. Dan, dengan persetujuan Matthes, ia mengusulkan kepada pemerintah, supaya pemerintah mendirikan sebuah lembaga pendidikan di Sulawesi-Selatan dengan Matthes sebagai pemimpin. Usul itu disetujui oleh pemerintah dan pada tahun 1873 ia memutuskan untuk mendirikan sebuah Sekolah Guru di Makasar dan untuk mengangkat Matthes sebagai direkturnya (1875-1880).

Pada tahun 1887 seluruh Perjanjian Baru selesai diterjemahkan (dalam bahasa Makasar dan bahasa Bugis) dan dicetak. Sesudah itu ia mulai dengan penterjemahan Perjanjian Lama dan sekalipun ia sudah sangat tua pada waktu itu, ia dapat menyelesaikannya pada akhir 1900. Dalam laporan Lembaga Alkitab Belanda tentang pekerjaannya selama tahun 1900 a.l. dikatakan: "Sesudah 50 tahun lamanya bekerja, Dr Matthes menyelesaikan penterjemahan seluruh Kitab Suci, baik dalam bahasa Makasar, maupun dalam bahasa Bugis".

Salah satu jasa penting Matthes adalah publikasi studi bahasa dan kebudayaan Bugis dan mengumpulkan naskah-naskah Lontara’, termasuk La Galigo.


Kemah Injil

Albert Benyamin Simpson (1843-1919), mendirikan The Christian and Missionary Alliance (C&MA) di New York, karena memberi perhatian pada para gelandangan – peminta-minta, pemabuk, pelacur, dan penganggur – sering tampak berkeliaran di sekitar gedung-gedung gereja yang mewah. Simpson merasa prihatin melihat mereka dan juga beberapa lingkungan di kota besar itu, yang penduduknya tidak pernah mengunjungi gereja mana pun. Simpson memberitakan Injil kepada mereka dan berhasil memenangkan beberapa orang di antaranya.

Ketika ia mengusulkan kepada Badan Pengurus Jemaat, agar sekitar 100 orang kristen baru ini diterima sebagai anggota resmi, usulnya itu ditolak. Alasan yang diberikan adalah bahwa orang-orang kristen baru ini berasal dari golongan masyarakat rendah.
Simpson mulai menyadari betapa sulitnya mencapai orang banyak kalau ia tetap berada di gerejanya. Setelah bergumul dalam doa selama satu minggu, Simpson akhirnya memutuskan untuk meminta izin keluar dari keanggotaan gerejanya dan menjadi penginjil lepas.

Yang paling penting bagi Simpson ialah PENGINJILAN, bukan pembangunan. Ia berpendapat, lebih baik dana yang ada dipakai untuk mengirim utusan-utusan Injil ke pelosok-pelosok bumi, ke tempat-tempat yang belum mendengar tentang Yesus Kristus daripada membangun rumah ibadat yang megah.
Inilah dasar pemikiran Simpson mendirikan dua buah rumah ibadat yang disebut kemah (tabernacle), Broadway Tabernacle (1876) di Louisville, dan the Gospel Tabernacle (1888) di New York. Dari sinilah asal-usul nama Kemah Injil atau the Gospel Tabernacle. Di New York, Simpson mengajarkan Injil Empat Berganda – yang sekarang menjadi Logo GKII yang mengandung makna: Yesus Juruselamat, Yesus Pengudus, Yesus Tabib, dan Yesus Raja yang akan datang (the Four Fold Gospel: "Jesus our Savior, Sanctifier, Healer, and Coming King".)


Robert Alexander Jaffray (1873-1945) seperti A.B. Simpson. Keduanya sama-sama keturunan Skotlandia, berkebangsaan Kanada, lahir dan dibesarkan dalam keluarga kristen, anggota Gereja Presbiterian. Keduanya juga sama-sama telah mendapat penglihatan khusus mengenai dunia – orang-orang yang belum percaya Yesus dan bertindak berdasarkan penglihatan mereka itu sehingga melalui pelayanan mereka, di kemudian hari beribu-ribu orang bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya.

Sejak dilantik menjadi utusan Injil pada tahun 1896, Jaffray melayani di Tiongkok Selatan selama kurang lebih 32 tahun; Jaffray mendirikan Chinese Foreign Mission Union (CFMU); berhasil menanam Gereja; membangun sekolah Alkitab yang berpusat di Wuchouw dan membangun lembaga penerbitan khususnya untuk komunitas yang berbahasa Kanton (Cantonese). Jaffray mulai perjalanannya ke Indonesia (kepulauan Hindia Belanda) dan menjejakkan kakinya di Borneo (Kalimantan) pada tanggal 10 Februari 1928 untuk mengadakan survey sekaligus memberitakan Injil.

Setelah kembali ke Tiongkok Selatan, maka untuk mewujudkan kerinduan Jaffray akan pelayanan dan tuaian yang sangat besar di Indonesia, terutama pelayanan yang diawalinya di Kalimantan – kota Samarinda dan Balikpapan. Pada bulan Februari 1929, Jaffray membawa dua hamba Tuhan yang diutus oleh CFMU, suatu organisasi penginjilan yang didirikan oleh Jaffray di Tiongkok Selatan yaitu: Yason S. Linn dan Paul R. Lenn – mereka adalah tamatan dari Wuchow Bible School - untuk membantu pelayanan yang dimulainya di kalangan orang Tionghoa di Kalimantan Timur dan kota Makassar, Sulawesi Selatan.

R.A. Jaffray menyadari bahwa pelayanan C&MA di Indonesia tidak dapat berkembang hanya dengan diawasi dari jauh. Karena itu, Jaffray memutuskan untuk menetap di Indonesia. Visi Jaffray untuk Indonesia sudah bulat yaitu menjangkau Indonesia melalui Penginjilan, Pendidikan dan Penerbitan.

Untuk menetapkan pusat pelayanan yang tepat, Jaffray segera mempelajari peta. Ia melihat bahwa kota pelabuhan Makassar sangat strategis secara geografis. Jaffray membayangkan kota itu seperti sebuah poros roda yang jari-jarinya kelak memancarkan terang Injil ke seluruh pelosok nusantara atau tanah air Indonesia. Akhirnya, pada bulan September 1930, Jaffray pindah ke Makassar dan menetapkan Makassar sebagai Pusat C&MA atau Kemah Injil yang pertama. Kantornya di rumah kediaman Jaffray sendiri, di Jalan Daeng Tompo No. 8. Di tempat inilah Jaffray meletakan fondasi dan mengembangkan ”sayap Injil” – ke seluruh Indonesia – dari Sabang di Sumatera sebelah barat sampai ke Merauke di Irian Jaya (Papua) sebelah timur.

(bersambung ….)