Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Wednesday, March 27, 2013

Tidak Ada Gagang Pada Salib (Kosuke Koyama)



Tidak ada Gagang pada Salib
Gagang berarti alat yang efisien untuk menguasai sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Sarana teknologi yang terus berkembang memberi kepada kita kuasa dan pengendalian, dan dalam beberapa hal teknologi tidak berbahaya. Teologia tidak punya gagang. Teologia yang punya gagang untuk menangani Allah bukan lagi teologia, melainkan suatu ideologi-teologia yang demonik. Teologia mungkin mencoba berbicara tentang masalah itu, yakni kuasa Allah yang menyelamatkan, tetapi tidak menanganinya, terlebih-lebih menerapkannya. Dengan adanya daya khayal yang begitu hidup ini, yang menunjuk pada "Teologia Kerbau"-nya (Waterbuffalo Theology) sejauh itu nampak dalam garis pemikirannya yang khas, Dr. Koyama, salah seorang teolog Asia paling menarik, mengusahakan suatu meditasi tentang kekristenan di Asia Tenggara yang lebih cenderung pada formulasi-formulasi dari gereja-gereja di Barat. [Kosuke Koyama: Tidak Ada Ganggang Pada Salib: Meditasi Mengenai Pikiran yang Disalibkan di Asia, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1986. http://www.belbuk.com/tidak-ada-gagang-pada-salib-p-12757.html]

Salib dan Rantang Makanan
Yesus tidak memikul salib-Nya seperti seorang pengusaha menenteng tasnya. Koyama mendasari pemikiran teologisnya tersebut dari teks Mat. 16:24,
Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
Di sini Koyama membuat suatu perbandingan yang sangat bertolak belakang antara salib dan rantang makanan. Salib sebagai simbol penyangkalan diri. Sementara rantang makanan merupakan sikap yang penuh inisiatip, kekuatan spiritual dan mental kita, teologia yang berbobot dan dinamis, pikiran yang baik dan jujur, rencana yang masak dan teliti, serta tanggung jawab yang suci terhadap iman.
Koyama mengontraskan antara Salib dan rantang makanan. Salib merupakan suatu yang sangat tidak menyenangkan untuk dipikul (tanpa gagang) sementara rantang makanan adalah seuatu yang sangat menyenangkan untuk dijinjing (punya gagang); suatu benda yang tidak menarik untuk dipikul dan suatu benda yang menarik untuk ditenteng; bergerak lambat dan bergerak cepat; tidak efisien dan efisien; tidak terjamin dan terjamin; berjalan tersaruk-saruk dan berjalan melenggang kangkung; menyangkal diri dan menonjolkan diri. “Gagang” dalam hal ini oleh Koyama diartikan sebagai alat yang efisien untuk menguasai sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Penggunaan “gagang” disejajarkan dengan teknologi. Hasil dari sebuah teknologi adalah mesin (tenaga, kuat-kuasa) dan “gagang” (kendali). Sehingga, teknologi adalah tenaga yang dikendalikan. Disinilah kemudian dimunculkan perbedaan pokok antara teknologi dan teologia. Teknologi memberi kita “mesin” dan “gagang”, sementara teologia hanya punya “mesin” tanpa “gagang”. Teologi yang memasang gagang pada kuasa Allah bukan lagi teologi melainkan sudah menjadi idiologi teologis ysng bersifat demonis.
Dengan kata lain, pikiran teknologis adalah “gagang minded”, sedangkan pikiran teologis “tanpa-gagang-minded”. Teknologi bertujuan mengendalikan (menguasai) tenaga alamiah. Teologi tidak bertujuan untuk mengendalikan (menguasai) tenaga (kuasa) Allah. Sehingga teologi tidak boleh didekati dari titik tolak “gagang minded” teknologi. Pikiran yang terlatih memikul beban salib “tanpa gagang” dinamakan pikiran yang disalibkan. Pikiran yang terlatih menentang sikap “banyak inisiatip” “dengan gagang” dinamakan pikiran yang berjuang dengan semangat perang salib. Koyama terinspirasi dengan doa orang Farisi dan doa seorang pemungut cukai (Luk.18:13b). Pikiran dengan semangat perang salib ini tidak boleh bekerja sendirian, melainkan harus dibimbing dan diterangi oleh pikiran yang disalibkan Mat.5:20)
Lihat ringkasan Dinuk Valupi Widayati dalam "Teologi Konteks Asia" http://bronzing2012simplebisnis.files.wordpress.com/2012/04/teologi-konteks-asia1.doc

Saturday, February 25, 2012

Ash Wednesday Prayers

Doa Rabu Abu

Jesus, you place on my forehead
the sign of my sister Death:
“Remember you are dust,
and to dust you shall return.”

Tuhan Yesus, Engkau menaruh di dahiku
Tanda dari Sang Maut, saudariku:
"Ingatlah engkau abu,
dan akan kembali ke debu."

How not hear her wise advice?
One day my life on earth will end;
the limits on my years are set,
though I know not the day or hour.
Shall I be ready to go to meet you?
Let this holy season be a time of grace
for me and all this world.

Bagaimana tak kusimak petuah bijaknya?
Suatu hari hidupku di dunia akan berakhir;
batas umurku telah ditentukan,
meski tak kutahu hari dan saatnya.
Harukah aku bersiap menemui-Mu?
Biarlah masa kudus ini jadi suatu masa rahmat
bagiku dan semua orang. 

“Teach us to number our days aright,
that we may gain wisdom of heart.”

"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami dengan benar,
sehingga kami beroleh hikmat nurani"

O Jesus, you place on my forehead
the sign of your saving Cross:
“Turn from sin and be faithful
to the gospel.”

Ya Yesus,  Engkau menaruh abu di dahiku
tanda dari salib-Mu yang menyelamatkan:
"Bertobatlah dari dosa dan setialah
kepada Injil."

How can I turn from sin
unless I turn to you?

Bagaimanakah aku bertobat dari dosa
jika tidak berbalik kepada-Mu?

You speak, you raise your hand,
you touch my mind and call my name,
“Turn to the Lord your God again.”

Engkau bersabda, Engkau mengangkat tangan-Mu,
Engkau menyentuh pikiranku, dan memanggil namaku,
"Baliklah lagi kepada Tuhan Allahmu"

These days of your favor
leave a blessing as you pass
on me and all your people.
Turn to us, Lord God,
and we shall turn to you.

Di hari-hari perkenanmu ini
Engkau beri berkat ketika lewat
atasku dan atas semua umat-Mu.
Baliklah kepada kami, Tuhan Allah,
dan kami akan berbalik kepadamu.

Teks dari: http://www.cptryon.org/prayer/season/ash.html
terjemahan: Zakaria Ngelow.
Minggu Sengsara Pertama 2012

Catatan:
Rabu Abu
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
 http://id.wikipedia.org/wiki/Rabu_Abu
Dalam agama Kristen tradisi barat (termasuk Katolik Roma dan Protestanisme), Rabu Abu adalah hari pertama masa Pra-Paskah. Ini terjadi pada hari Rabu, 40 hari sebelum Paskah tanpa menghitung hari-hari Minggu atau 44 hari (termasuk Minggu) sebelum hari Jumat Agung. Pada hari ini umat yang datang ke Gereja dahinya diberi tanda salib dari abu sebagai simbol upacara ini. Simbol ini mengingatkan umat akan ritual Israel kuna di mana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan (misalnya seperti dalam Kitab Ester 4:1, 3). Dalam Mazmur 102:10 penyesalan juga digambarkan dengan "memakan abu": "Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan." Biasanya pemberian tanda tersebut disertai dengan ucapan, "Bertobatlah dan percayalah pada Injil."

Seringkali pada hari ini bacaan di Gereja diambil dari Alkitab, kitab II Samuel 11-12, perihal raja Daud yang berzinah dan bertobat.

Banyak orang Katolik menganggap hari Rabu Abu sebagai hari untuk mengingat kefanaan seseorang. Pada hari ini umat Katolik berusia 18–59 tahun diwajibkan berpuasa, dengan batasan makan kenyang paling banyak satu kali, dan berpantang.

Saturday, July 30, 2011

Perempuan Siro Fenisia

Markus 7:24-30
http://suplemengki.com/?p=567
Kisah tentang perempuan Siro-Fenisia ini juga ditulis dalam Injil Matius 15:21-28. Ada sedikit perbedaan bahasa, kronologis percakapan antara tulisan Markus dan Matius dalam kisah yang sama itu. Matius 15 ada beberapa urutan yang menjadi respons Yesus ketika perempuan Kanaan itu memohon kepadaNya. Pertama: Yesus sama sekali tidak menjawab (23) Kedua: Yesus menolak dengan berkata “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (24) Ketiga: Yesus seakan menyamakan perempuan itu dengan anjing (26) dan Ke empat: Yesus meresponi dengan sangat hormat karena memakai kata “Hai ibu besar imanmu…” (28) Dalam Markus juga intinya demikian, seakan Yesus tidak meresponi dengan baik akan perhononan perempuan Kanaan itu tetapi pada akhirnya Yesus menunjukkan respekNya dengan mengabulkan permohonan perempuan itu.
Pertanyaan-pertanyaan penuntun:
1. Siapakah sebenarnya perempuan Siro-Fenisia itu, dari mana dia mengetahui tentang Yesus sehingga dia begitu yakin Yesus bisa menolong anaknya yang kerasukan roh jahat! (24-25)
2. Mengapa Tuhan Yesus terkesan mengabaikan permohonan perempuan Siro-Fenisia itu dengan beberapa alasan seperti dicatat baik Matius maupun Markus? (Mat 15:23-26, Mark 7:27-28)
3. Mengapa pada akhirnya Yesus mengabulkan juga permohonan perempuan itu, apa yang bisa kita pelajari dari kisah itu? (Mat 15:26, Mark 7:29)
Renungan:
Perempaun Siro-Fenisia berasal dari Kanaan berkebangsaan Yunani. Dalam pandangan bangsa Israel (umat pilihan Allah) posisi perempuan itu boleh dibilang tidak masuk hitungan. Selain dari bangsa non Yahudi juga dia hanyalah seorang perempuan, yang harus berhadapan dengan sistem masyarakat Yahudi waktu itu yang masih begitu tinggi tingkat diskriminasinya baik karena status kebangsaan maupun gender.
Hal yang menarik dari perempuan itu, dia sangat mengerti siapa Yesus. Terlihat dari bagaimana ia menyapa Yesus “kasihanilah aku ya Tuhan, Anak Daud..” (Mat 15:22) itu menunjukkan bahwa selama Yesus berkeliling melayani boleh jadi dia juga mengikutinya ke mana-mana atau dia banyak mendengar dan menyaksikan karya-karya Yesus, kemudian ketika Yesus berada di Tirus tempat asalnya dianggap kesempatan baginya untuk memohon pertolongan kepada Yesus dan yakin bahwa dia akan mendapatkannya
Ketika dia menyampaikan permohonan kepada Yesus seakan tidak dihiraukan bahkan terkesan menghina perempuan itu, bahkan murid-murid Yesus meminta Yesus mengusir dia karena dianggap mengganggu (Mat 15:23) Apa yang Yesus lakukan terhadap perempuan itu pasti bukan karena faktor golongan atau gender melainkan Yesus ingin melihat seberapa jauh dia kenal Yesus, seberapa dalam dia yakin bahwa Yesus adalah penolong baginya dan mempercayai Yesus dalam hidupnya. Itu tampak ketika Yesus memuji dia dengan panggilan “Hai ibu, besar imanmu…”
Saudara, kita bisa menangkap apa yang ada pada diri perempuan yang dianggap golongan yang abaikan itu, Pertama: Perempuan itu mengenal Yesus bukan sekedar sebagai tabib yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit tetapi dia mengenal Yesus sebagai Tuhan yang menyelamatkan (Tuhan, anak Daud)
Kedua: Perempuan itu mempercayai Tuhan Yesus dengan iman yang fokus bahwa Yesus adalah Tuhan, dia tidak terpengaruh dengan sikap, kata atau perlakuan Yesus maupun murid-muridNya yang ada dalam hatinya bahwa Yesus itu adalah Tuhan yang patut dipercayai. Ke tiga: Perempuan itu telah menunjukkan model iman yang hidup dengan tidak putus asa dan tidak mengenal menyerah tetapi apa yang dia percayai tentang Yesus itu yang dia wujudkan melalui keyakinannya memohon terus-menerus kepada Yesus. Jika kita ingin mengalami kuasa Tuhan milikilah iman yang hidup seperti perempuan Siro-Fenisia.

Saturday, July 9, 2011

Rebba Sipatokkong

Rebba sipatokkong, mali siparappe’, sirui menre' tessirui no', malilu sipakainge', mainge' pi mupaja.


Rebah saling menegakkan, hanyut saling mendamparkan, saling menarik ke atas bukan saling menjatuhkan, lalai saling mengingatkan, sadar barulah berhenti.


Dalam ungkapan kearifan tradisional Bugis ini suatu prinsip yang sejajar dengan bagian kedua hukum kasih dalam Injil: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Hidup saling bantu merupakan ciri kehidupan Kristen: Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu (Ef 4:2. Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik (Ibr 10:24).

Dan selanjutnya saling mengasihi juga mengandung peringtatan untuk tidak saling menjatuhkan: "Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan" (Gal 4:14, 15).

Monday, June 6, 2011

Surga masih bermakna

Pdt. E. G. Singgih
Perikop: Lukas 24:44-53.
Nas : Lukas 24:51, “Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dengan mereka dan terangkat ke surga”.

Pendahuluan
Di dalam bahasa Yunani, kata untuk langit atau surga adalah ouranos, sedangkan dalam bahasa Ibrani, hasyamayim. Jadi kalau kepada orang-orang di jaman Alkitab ditanyakan apa itu langit, maka mereka akan menunjuk ke atas. Kalau ditanyakan apa itu surga, mereka juga akan menunjuk ke atas. Langit sama dengan surga, yang di atas itu. Dan bukan hanya orang beriman yang mengaku seperti itu, tetapi juga mereka yang lain, yang bukan Yahudi dan bukan Kristiani. Sederhana, tetapi juga sekaligus, mendalam. Dengan memaknai yang di atas itu sebagai surga, manusia mendapat idea mengenai keluasan, sehingga bisa memahami batas-batasnya. Dari situ muncul pemahaman mengenai cakrawala sebagai batas pemandangan manusia. Cakrawala itu dipahami sebagai benda, tetapi sekaligus sebagai simbol keterbatasan manusia. Dengan simbol itu manusia tahu siapa dirinya, dan tahu tempatnya di mana. Yang di atas itu langit tempat Yang Ilahi, yang di tengah itu bumi tempat manusia, dan yang di bawah itu, mboh, apa namanya terserah kek, itu tempat dari mereka yang tidak bisa digolongkan ke Yang Ilahi maupun manusia. Dengan demikian manusia bisa mengorientasikan dirinya, tidak hilang lenyap dalam keluasan…

Bagaimana kalau tidak ada surga?
Mungkin pertanyaan ini akan terasa aneh, tetapi baiklah saya membagikan pengalaman Alexander Solzhenytsin, pejuang hati nurani di Uni Sovyet pada jaman perang dingin dan pemenang hadiah Nobel untuk kesusasteraan. Di dalam salah satu novelnya dia menceritakan bagaimana dinyatakan sebagai musuh rakyat dan dipenjarakan oleh KGB di penjara Lubyanka di Moskwa. Berbagai penderitaan telah dialaminya, tetapi yang paling tidak tertahankan, yang membuat dirinya hampir gila adalah bahwa dia tidak bisa melihat langit. Sistem penjara di Lubyanka itu memang dibuat sedemikian rupa, sehingga seorang “zek” (istilah untuk tahanan politik) tidak bisa melihat langit. Di selnya tidak ada jendela atau lobang, di tempat appel tidak ada pemandangan ke luar, semua berlangsung di dalam ruangan, “di sini”, “di bawah”! Di jaman kuno, penjara disebut “dungeon”, letaknya di bawah tanah. Maka dunia bawah adalah termasuk dunia penjara yang gelap, dunia dari mereka yang bukan manusia. Kalau orang lain disapa sebagai “kamerad” (tovaritsy), maka penghuni dunia bawah, “zek”, tidak berhak disapa demikian. Ia hanya seorang “citizen” (warga biasa). Karena tidak ada idea mengenai keluasan, apa yang ada, “kini” dan “di sini” menjadi hal-hal yang dirasakan menghimpit, menjepit, mematikan. Orang kehilangan orientasinya.
Mengapa saya membagikan pengalaman Solzhenytsin ini? Oleh karena baru-baru ini di dunia maya beredar pendapat dari Stephen Hawking, fisikawan Inggris yang termasyhur, yang katanya adalah fisikawan yan paling brilyan sesudah Einstein. Hawking menyatakan bahwa surga tidak ada. Kata surga merupakan bagian dari perbendaharaan kata-kata nenek-nenek tua, pokoknya sebuah ungkapan yang sudah ketinggalan zaman. Cobalah lihat alam semesta yang amat luas ini, dengan tata surya yang lebih dari satu (berapa ya? 8, 12, 20? Ada berapa matahari di jagad raya ini?). Kalau begitu mana yang disebut “atas”? Mana yang disebut “bawah”? Ruang dan waktu berdimensi empat menurut Einstein. Nah dalam alam semesta berdimensi empat yang terus menerus meluas ini, mana langit? Mana surga?
Kalau kata surga tidak bermakna, bagaimana kita mau berbicara atau merayakan kenaikan Tuhan Yesus ke surge? Bagaimanakah kita mau menghayati ayat 51 dari bacaan Injil, yang menyebutkan bahwa “Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga”?

Dua gambaran dunia atau kosmologi
Nah, sdr-sdr, saya kira kebanyakan dari kita tidak amat asing dan tahu juga mengenai gambaran alam semesta yang disebut oleh Hawking. Dari informasi yang begitu banyak mengenai susunan alam semesta, kita mempunyai sebuah gambaran kasar mengenai alam semesta seperti yang diberikan oleh IPTek modern kepada kita. Tetapi adanya gambaran kasar dari IPTek ini tidak menyebabkan kita menyingkirkan gambaran alam semesta yang tradisional, yang kita warisi dari nenek moyang (local beliefs) dan dari agama (universal religions). Gambaran tradisional itu telah menjadi bagian dari darah daging, menjadi sesuatu yang eksistensial, dan melewati batas-batas yang rasional. Ia telah mewujud menjadi pandangan dunia (worldview) dan menentukan orientasi kita, bahkan membantu untuk menentukan siapakah kita ini dan ada di mana kita sekarang. Gambaran eksisitensial ini tidak ilmiah atau ketinggalan zaman, tetapi tetap mengharukan, tetap membuat kita bersyukur bahwa kita masih hidup.
Cobalah jika sempat, anda pergi ke sebuah pulau yang tidak berpenghuni pada malam hari bulan purnama, ketika langit bersih dan ribuan bintang muncul di cakrawala. Anda membaringkan diri, terlentang di atas pasir sambil diam memandang bintang-bintang itu. Mereka menjadi amat dekat, dan rasanya bisa disentuh dengan jari telunjuk kita. Kita tahu sih bahwa bintang itu bukan bintang, mungkin asteroid, mungkin planet, dan kalau kita bisa lihat sekarang berarti sebenarnya planet itu sudah lama musnah menurut teori cahaya dari relativitas Einstein. Tetapi di pulau itu, bintang adalah “bintang kecil di langit yang tinggi” yang dinyanyikan oleh ibu-ibu kita sewaktu meninabobokan kita. Itu bukan sekadar kenang-kenangan dari masa kecil, tetapi kenang-kenangan yang membentuk realitas!
Andaikata Hawking mengalami penderitaan mental seperti Solzhenytsin, mungkin dia tidak mengeluarkan pernyataan yang negatif mengenai surga. Tetapi masalahnya adalah bahwa para ilmuwan kadang-kadang begitu kagum dengan gambaran alam semesta dari IPTek, sehingga melecehkan dan menyingkirkan gambaran dunia tradisional, yang sudah menjadi eksistensial tadi. Seperti dikatakan oleh Dr. Karlina Supelli, fisikawati Indonesia yang baru-baru ini tulisannya saya tanggapi, para ilmuwan tersebut lupa bahwa gambaran alam semesta atau kosmologi mereka tetaplah hanya sebuah gambaran kosmologi, dan bukan kosmologi! Di pihak lain, kaum beragama yang menjadi sasaran tembak dari Hawking dkk, yang ingin membela makna eksistensial dan religius yang terdapat pada gambaran kosmologi tradisional, lupa juga bahwa gambaran kosmologi tradisional itu hanya salah satu gambaran saja dan bukan kosmologi itu sendiri! Ada dari antara kaum beragama yang lalu “terpaksa” (atau sengaja?) menyangkal gambaran dunia IPTek dan mati-matian mempertahankan kosmologi tradisional sebagai yang benar. Kalau ditanya mengapa, jawabnya ya karena iman, karena Kitab Suci saya bilang begitu. Kalau dia membaca Karlina Supelli, dia akan menjawab bahwa karena itu “cuma” gambaran, dan bukan kenyataan, tanpa mempedulikan bahwa Karlina Supelli juga mengatakan hal yang sama mengenai kosmologi tradisional.

Memaknai surga dengan menggunakan gambaran IPTek
Seperti sudah dikatakan tadi, kita mempunyai gambaran kasar dari alam semesta menurut IPTek dalam benak kita. Tetapi di samping itu kita juga mewarisi gambaran alam semesta atau kosmologi dari nenek moyang dan dari agama, seperti yang sekarang menjadi bacaan yang harus kita renungkan mengenai kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Gambaran tradisional ini tidak perlu disingkirkan, meskipun dianjurkan oleh orang sekaliber Hawking. Kalau kedua gambaran ini tidak kita pertentangkan, melainkan kita integrasikan di dalam penghayatan kita, maka kita akan mendapatkan dua pokok penting dari makna kenaikan Tuhan Yesus ke surga, yaitu A. Keluasan iman, dan B. Kedewasaan iman.
1. Keluasan Iman. Tuhan Yesus yang bangkit, berkuasa atas bumi dan langit, bahkan menurut surat Efesus yang kita dalam Epistel tadi, memenuhi seluruh alam semesta ini. Yesus bangkit dan naik ke surga. Sebelumnya turun ke dalam kerajaan maut. Yesus melintasi ketiga batas kediaman: dunia bawah, dunia tengah dan sekarang, dunia atas. Tetapi sekaligus Yesus adalah dia yang memenuhi keluasan alam semesta yang terus menerus meluas ini! Suasana yang kita dapatkan dalam bacaan kita adalah suasana perpisahan. Yesus berpisah dari murid-muridNya, tetapi perpisahan ini tidak mendukacitakan melainkan sebaliknya, mensukacitakan (ayat 52). Yesus adalah Tuhan yang berkuasa atas semua, bahkan melewati batas kediaman segala sesuatu. Kalau makna inti dari surga adalah keluasan, maka tidak soal apakah sekarang ada gambaran alam semesta yang sedemikian luasnya dengan sekian banyak matahari. Kalau orang di jaman Alkitab begitu terpesona dengan alam semesta sejauh yang mereka pelajari dari IPTek di zaman mereka dan bisa mengatakan, “Tuhan Yesus ada di situ!”, maka seyogyanya kita yang mendapat anugerah berupa gambaran alam semesta yang lebih luas dan lebih kompleks dari apa yang kita dapati di Alkitab itu, terlebih-lebih lagi, bisa bersukacita, dan juga bilang, “Tuhan Yesus ada di situ!”
Kenyataannya, cukup banyak fisikawan yang tidak mengambil kesimpulan seperti Hawking, melainkan meneruskan dan mentransfer gambaran tradisional yang telah menjadi eksistensial tadi ke dalam gambaran IPTek modern. Kalau Hawking menyimpulkan bahwa di alam raya yang maha luas ini cuma ada kita saja, orang lain bisa menyimpulkan bahwa ada kita, dan karena itu ada Tuhan. Atau kalau kita mau menggunakan logika agama, maka kita akan mengatakan ada Tuhan, karena itu ada alam raya dan kita yang termasuk dalam alam raya itu (dan juga yang lain, siapa tahu ada alien di tata surya yang jauh…).
1. Kedewasaan Iman. Kesukacitaan murid-murid mengandung sebuah aspek lain, yaitu kedewasaan iman. Perpisahan dengan Tuhan Yesus bukanlah sesuatu yang menyedihkan, melainkan menggembirakan, memantapkan para murid untuk memulai perjalanan mereka di dunia sebagai orang yang dewasa dalam iman. Kalau kita bersekolah menjadi murid, kita tidak bisa menjadi murid untuk selamanya. Pada suatu saat guru kita akan berkata kamu lulus, sudah punya cukup bekal untuk hidup. Guru akan minggir, dan dengan bangga membiarkan kita berjalan sendiri sebagai lulusannya. Bukan berarti hubungan sama sekali putus. Secara rohani kita sebagai murid akan selalu mengingatnya, dan pada saat-saat genting, kita teringat pada ajaran-ajarannya. Begitulah juga halnya dengan menjadi murid Kristus.
Masalahnya adalah bahwa makna kedewasaan iman murid Kristus itu sekarang tidak menjadi pokok yang penting dalam penghayatan iman. Coba saja perhatikan nyanyian-nyanyian gereja, misalnya “Ku tak dapat jalan sendiri” atau “Tiap langkahku diatur oleh Tuhan” dan banyak nyanyian lain. Maksudnya jelas dan betul, sebagai orang beriman kita harus bersumberkan Kristus sebagai Tuhan. Tetapi kalau tidak waspada, makna yang bagus ini bisa melenceng menjadi ketidakdewasaan dalam iman yang berjalan terus menerus. Kalau ku tak dapat jalan sendiri, ngapain Kristus memerintahkan murid-murid untuk bersaksi ke seluruh dunia dan menjadi garam dan terang? Kalau tiap langkahku harus diatur oleh Tuhan, kapan aku bisa belajar berjalan sendiri? Kita memang diangkat menjadi anak-anak Allah, tetapi menjadi anak-anak Allah tidak berarti menjadi kekanak-kanakan. Kalau secara metaforis, kita diajak untuk hidup murni seperti bayi yang ingin minum susu, maka itu tidak berarti bahwa beriman adalah menjadi seperti bayi yang maunya hanya minum susu…Mengapa terjadi begitu banyak masalah dengan orang-orang muda Kristiani di negeri kita, yang sebenarnya sangat sehat secara biologis dan secara mental dan intelektual sangat mantap, tetapi baru krisis sedikit aja, sudah panik dan bingung gak karuan? Ialah karena pendidikan agamanya mengajar dia untuk melecehkan semuanya itu. Anda harus menyingkirkan semuanya itu, supaya dengan demikian bisa memperoleh kekuatan luar biasa dari Roh Kudus…
Padahal kalau kita membaca akhir Injil Lukas, murid-murid telah diberkati oleh Tuhan mereka, dan pulang dengan sukacita. Dalam sukacita mereka terkandung pengharapan akan janji Tuhan, bahwa Roh Kudus akan datang. Dalam Kisah Rasul yang merupakan lanjutan Injil Lukas, Roh Kudus memang datang. Kalau kita lupa bahwa Kisah Rasul adalah lanjutan Injil Lukas, memang kita bisa jatuh dalam salah tafsir seperti tadi. Tetapi kalau kita sadar bahwa ada benang merah dari Lukas ke Kisah Rasul, maka karunia Roh Kudus merupakan pelengkap bagi tugas pelayanan para murid, yang sudah siap untuk melayani dalam iman yang dewasa. Karunia Roh Kudus itu tidak menihilkan persiapan-persiapan mereka yang sudah mereka peroleh dari pergaulan langsung mereka dengan Tuhan Yesus sebagai Guru Agung mereka.

Penutup
Kalau kita menyadari bahwa kenaikan Tuhan Yesus ke surga berhubungan dengan keluasan iman dan kedewasaan iman, maka perayaan kenaikan sebenarnya berkaitan dengan keberadaan kita manusia di dalam alam semesta ini. Seorang ilmuwan sekaligus rohaniwan Katolik abad 20, Teilhard de Chardin, yang semasa hidupnya disalahpahami oleh Gereja Katolik dan karya-karyanya dilarang untuk dibaca, memahami Kristus sebagai Alfa dan Omega. Sebenarnya ungkapan ini Alkitabiah bukan, sebab ada di kitab Wahyu pasal 21:6. Di tengah kesempitan penganiayaan, rasul Yohanes mendapatkan penglihatan di pulau Patmos mengenai Yesus yang adalah Alfa dan Omega. De Chardin meneruskan penglihatan itu kepada generasi masa kini. Karena Yesus adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan yang Akhir, hidup kita sebagai manusia tidak pernah tidak akan bermakna. Selamat merayakan hari kenaikan Tuhan Yesus ke surga!

------
Catatan: Pdt. Prof. Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D. mahaguru teologi di UKDW Yogyakarta; pendeta GPIB. Almarhum ayahnya adalah salah seorang tenaga zending di Sulawesi Selatan, yang melahirkan GKSS.

Monday, May 23, 2011

Damai Sejahtera Kristus

Memaknai Damai Sejahtera Kristus dalam Konteks Dunia yang Bergumul
(Bacaan Alkitab: Injil Yohanes 20:19-23)

Pdt. Armin Sukri, M.Th

Pendeta GKSS, Durektur Yayasan Pelayanan Reformed Makassar (YPRM)


Saudara-saudara seiman di dalam Tuhan Yesus Kristus, saat ini kita masih berada dalam masa post Paskah (minggu-minggu setelah Peristiwa Kebangkitan Yesus), dimana dalam masa tersebut Alkitab memberi kesaksian mengenai beberapa peristiwa perjumpaan Yesus dengan murid-murid-Nya sebelum naik ke surga. Peristiwa tersebut ditulis juga oleh Penulis Injil Yohanes sebagaimana yang kita baca dalam perikop tadi.

Saudara-saudara yang kekasih di dalam Tuhan!

1. Situasi Para Murid

Apa yang terjadi kepada murid-murid Tuhan Yesus setelah peristiwa penangkapan sampai kepada kematian-Nya? Beberapa ahli tafsir Alkitab mengatakan bahwa murid-murid Yesus ketika itu bercerai berai dan ada yang kembali ke tempat kediamannya masing-masing. Namun demikian dari keterangan Alkitab kita dapatkan bahwa pada hari pertama dalam seminggu, murid-murid mengadakan pertemuan,

Pertemuan para murid ini tidak dijelaskan apakah berlangsung setiap hari pertama dalam Minggu itu dan juga tidak di sebutkan hari apa yang dimaksud. Tetapi menurut kalender atau penanggalan Romawi maka hari pertama dalam seminggu adalah jatuh pada hari Minggu.


ayat 19: Ketika hari sudah malam pada hari pertama Minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus.Pada pasal 20:1 juga didapati keterangan akan adanya suatu pertemuan diantara mereka ketika peristiwa kebangkitan Yesus terjadi (cf. Lukas 24:1, Matius 28:1). Selanjutnya diberikan keterangan bahwa pada waktu itu murid-murid Yesus dilanda rasa takut terhadap orang-orang Yahudi. Ada beberapa alasan yang dapat kita kemukakan mengenai ketakutan para Murid.

· Ada kemungkinan orang-orang Yahudi pada waktu itu tidak hanya berhenti ketika mereka berhasil menyalibkan Yesus, tetapi mereka juga berusaha menangkap para murid dan mereka yang terkait dengan pekerjaan Yesus. Bagi mereka gerakan yang dibawa oleh Yesus merupakan ancaman besar dalam tata keagamaan mereka. Hal ini kita dapat lihat dalam ajaran-ajaran Yesus dan kritikan-kritikannya terhadap pemimpin-pemimpin Yahudi khususnya dari golongan Farisi dan Saduki (Matius 12:1-8, Murid-murid Yesus dinilai tidak menghormati Sabat dengan memetik gandum. (Matius 12:915a, Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Matius 16:5-12 (c.f. Markus 8:14-21), waspada terhadap orang Farisi dan Saduki.

· Kebangkitan Yesus yang ditandai dengan kubur yang kosong (tubuh Yesus hilang dari kubur) menghasilkan kecurigaan dikalangan para pemimpin orang Yahudi bahwa para muridlah yang telah mencuri dan memindahkan tubuh tersebut dari dalam kubur.

· Para pemimpin agama khawatir kalau-kalau peristiwa penyaliban Yesus dan berita tentang kebangkitan-Nya membawa pengaruh dalam masyarakat dan keagaamaan. Mereka takut kalau para murid dapat memimpin gerakan keagamaan yang dapat mengancam kedudukan mereka.

Dalam suasana yang demikian para murid (dan kemungkinan pengikut-pengikut Tuhan yang lain) merasa mereka tidak tentram, tidak aman atau kelangsungan hidup mereka terancam. Itulah sebabnya mereka berkumpul dengan pintu-pintu dalam keadaan terkunci.

Dalam situasi yang sama yaitu dicekam oleh ketakutan terhadap kekuasaan, baik itu yang datang dari golongan-golongan agama, masyarakat dan pemerintah, banyak para pengikut Tuhan Yesus (orang-orang Kristen) sekarang ini tidak memiliki kebebasan untuk bersekutu. Mereka berkumpul dalam tempat-tempat yang dirahasiakan (bawah tanah), jauh dari jangkauan banyak orang dan dalam keadaan yang serba terbatas (mis. Kekristenan di Tiongkok, sebagian Africa dll).

2. Penampakan Yesus di depan para Murid

Selanjutnya dalam ayat 19b dikatakan, Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Dalam suasana yang dilanda ketakutan ini, Yesus datang dan menampakkan diri kepada murid-murid-Nya yang hadir pada saat itu. Dalam Injil lain dikatakan bahwa ketika Yesus datang secara tiba-tiba dan berdiri ditengah-tengah mereka, para murid terkejut dan takut sebab mereka menyangka bahwa mereka melihat hantu (Lukas 24:37). Ini adalah suatu gejala psikologis (Psychological Phenomena), dimana seseorang yang berada dalam keadaan tertekan dan ketakutan biasanya tidak dapat berfikir dengan baik dan tenang. Pada saat itu para murid tidak dapat mengenal dengan baik dan jelas Guru mereka yang selama lebih kurang tiga setengah tahun bersama-sama dengan mereka dalam pelayanan. Bahkan tidak sampai di situ saja, mereka menyangka bahwa Yesus yang berdiri di hadapan mereka itu adalah hantu (Saya kira ini sudah biasa dalam situasi kita, kalau ada orang yang sudah mati secara tiba-tiba muncul ditengah-tengah orang banyak pasti akan menimbulkan efek seperti yang dialami oleh para murid). Tetapi lebih jauh Lukas mengisahkan bahwa penampakan Yesus ini adalah penampakan secara Jasmaniah bukan dalam wujud roh seperti halnya hantu. Lukas 24:39 disana Yesus berkata, …Aku sendirilah ini, .rabahlah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya. Bahkan dalam ayat 41, Yesus meminta kepada mereka makanan untuk dimakan-Nya. Ini benar-benar membuktikan bahwa Yesus yang hadir di depan mereka adalah Yesus yang dulu mereka kenal dan bersama-sama dalam pelayanan. Yesus yang berdiri dihadapan mereka adalah Tuhan yang telah bangkit secara jasmaniah dan menang atas kuasa maut (Ada banyak ajaran sekarang yang berkembang bahwa Yesus tidak bangkit secara jasmaniah. Kebangkitan Yesus adalah kebangkitan secara rohaniah yang dikaitkan dengan pernyataan iman para murid. Atau dengan kata lain bahwa kebangkitan Yesus adalah hasil imaginasi para murid yang pada saat itu berada dalam keadaan yang penuh dengan tekanan).

· Apa arti penampakan Yesus dalam konteks para murid masa itu?

Penampakan Yesus merupakan suatu jaminan dan sekaligus jawaban terhadap ketakutan dan tekanan yang dihadapi para murid. Kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka merupakan bukti bahwa Yesus ada bersama dengan mereka. Para murid tidak perlu khawatir dan takut terhadap situasi yang sedang mereka hadapi, sebab Yesus telah benar-benar bangkit dan kebangkitan-Nya itu merupakan bukti kemenangan-Nya atas segala kuasa yang ada bahkan maut sekalipun (Roma 6:9, Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. c.f. Matius 28:18, Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.).

Penampakan Yesus merupakan suatu momentum (saat yang penuh arti) agar para murid dapat berdiri teguh dan mempersiapkan diri untuk suatu tugas yang akan mereka terima kelak, yaitu pergi untuk memberitakan kabar keselamatan di dalam Kristus (Matius 28:19:20, Markus 16:15, Lukas 24:47, dan Kisah Rasul 1:8). Dalam melaksanakan tugas ini para murid tidak perlu takut dan gentar sebab Yesus yang telah bangkit dan menampakkan diri secara Jasmaniah kepada mereka adalah juga Yesus yang berjanji bahwa Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20 akhir).

3. Menghayati Damai Sejahtera Kristus

Ketika Yesus menampakkan diri kepada mereka, Ia berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Ingglish : Peace be with you! Hebrew: Syalom dan Greek: eirene=Syalom ) dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan Lambung-Nya kepada para murid (ayat 19 akhir dan 20). Damai sejahtera atau Syalom dihubungkan dengan keselamatan (Kel.4:13, Markus 5:34 dan Lukas 7:50), Ketentraman (Mazmur 4:8), Kemujuran (Mazmur 73:3) dll. Dalam kata ini terkandung pengertian bahwa keselamatan, ketentraman, kemujuran, kedamaian, sukacita dan kebahagiaan telah hadir ditengah-tengah kehidupan para murid. Dengan pengertian ini, berarti bahwa ketakutan dan perasaan tertekan yang dialami oleh para murid pada waktu itu berganti dengan sukacita, kedamaian, ketentraman, kebahagiaan dan keselamatan melalui kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka. Damai sejahtera kini menjadi bagian dari kehidupan mereka dan diberikan kepada mereka sebagai suatu kenyataan dalam kehidupan mereka.

Namun yang menarik di sini adalah setelah mengucapkan “Damai sejahtera bagi kamu!”, Yesus menunjukkan bekas luka ditangan-Nya dan lambung-Nya yang merupakan simbol atau tanda penderitaan-Nya. Disini ada semacam hal yang sangat contrast antara pengertian damai sejahtera dan simbol penderitaan Yesus. Dua hal yang sama sekali bertentangan dalam batasan pengertian bahasa kita (pemahaman kita). Damai sejahtera menempatkan manusia dalam situasi bahagia sedangkan stigmata atau bekas luka Tuhan Yesus menempatkan manusia dalam situasi penderitaan.

· Apa makna dari realitas (kenyataan) ini?

Damai sejahtera dan simbol penderitaan Yesus merupakan dua hal yang tidak dipisahkan dalam panggilan para murid. Kedua hal ini ibaratkan dua sisi mata uang yang selalu hadir secara bersama-sama. Tanpa sisi yang lain maka uang logam itu tidak berarti apa-apa, sebaliknya akan berarti besar bila keduanya saling melengkapi.

Damai sejahtera dalam pemanggilan para murid tidak terlepas dari penderitaan sebagai pengikut-pengikut Kristus. Yesus sendiri sudah memperingatkan hal ini kepada murid-murid-Nya sebelum Dia disalibkan. Lukas 14:27, Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. C.f. Matius 1624, Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya dan mengikut Aku.

Damai sejahtera selalu berjalan beriringan dengan konsekwensi sebagai murid-murid Yesus yaitu penderitaan. Hal ini dapat dilihat kemudian dalam sejarah pekabaran Injil/Gereja bahwa hampir semua murid Tuhan Yesus mati sebagai martyr (Yakobus mati dengan pedang, Petrus di salibkan dll). Juga dalam perkembangan orang Kristen selanjutnya bahwa mereka tidak pernah lepas dari penderitaan sampai pada hari ini oleh karena iman mereka kepada Yesus Kristus. Jemaat mula-mula hidup menderita dalam pemerintahan kekaisaran Romawi, bahkan ada sebuah catatan dalam sejarah gereja bahwa tubuh orang-orang Kristen dijadikan obor untuk menerangi kota Roma pada malam hari dan mereka dijadikan mangsa binatang buas dalam gelanggang olahraga. Namun demikian semangat para murid dalam pemberitaan Injil tidak pernah mundur demikian juga semangat orang-orang Kristen pada masa itu tidak pernah patah. Orang Kristen adalah ibarat sebuah tanaman yang semakin dibabat semakin merambat. Inilah yang dimaksudkan Paulus ketika dia berkata,”Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit, kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan namun tidak binasa (2 Korintus 4:8-9).

Pertanyaan bagi kita adalah apa yang menjadi pegangan setiap murid Tuhan dalam situasi penderitaan? Jawabannya adalah sebab Damai sejahtera Kristus ada ditengah-tengah mereka. Damai sejahtera Kristus berbeda dengan damai sejahtera yang ditawarkan oleh dunia ini yang semata-mata hanya menjanjikan kesenangan, kenikmatan, materialisme, dan lain sebagainya tetapi yang sifatnya sementara saja. Nabi Yesaya berkata, Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering dan bunga menjadi layu… (Yesaya 40:6-7). Damai sejahtera Kristus yang memberikan jaminan kebahagiaan dan keselamatan hidup yang kekal merupakan pendorong semangat mereka dalam melaksanakan tugas pemberitaan Injil. Orientasi mereka jauh kemasa depan dan bukan hanya terfokus kepada apa yang ditawarkan oleh dunia ini. Sama seperti Bapa mengutus Dia demikianlah juga Yesus mengutus murid-murid-Nya dengan kuasa ke dalam dunia ini (ayat 21-23). Rasul Paulus menegaskan bahwa Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya… (Filipi 3:7-8). Paulus telah memperoleh Damai Sejahtera yang sejati yaitu Damai Sejahtera Kristus, dengan demikian meskipun dia menderita sebagai pengikut Kristus, namun Ia tahu bahwa di dalam Kristus dia akan memperoleh kebahagiaan dan kedamaian yang sejati.

Aplikasi dan Kesimpulan

Saudara-saudara yang kekasih di dalam Kristus!

Bagaimana kita menghayati Damai sejahtera Kristus dalam terang Paskah di tengah-tengah kehidupan kita saat ini?

· Kita hidup dalam dunia yang penuh tawaran dan tantangan

Saat ini kita hidup dalam dunia yang sedang mengalami perubahan. Modernisasi yang ditandai dengan kemajuan tekhnologi dan pembangunan menghasilkan banyak tawaran dan tantangan. Kita ditawarkan dengan berbagai hal yang menjanjikan kemudahan dan keseronokan (mulai dari hal yang terkecil sampai kepada hal yang paling utama dalam kebutuhan hidup kita). Sekaligus kita ditantantang untuk lebih kritis dan kreatif dalam berbagai aspek kehidupan kita (pendidikan, pekerjaan dan bahkan pelayanan kita), sebab kalau tidak kita hanya akan tinggal sebagai penonton saja. Ketika orang sudah maju selangkah kita masih diam di tempat dan ketika orang sudah berhasil baru kita sadar akan kegagalan kita. Namun, sebagai murid-murid Tuhan kita harus waspada dengan apa yang dijanjikan oleh dunia ini. Semua kebahagiaan, kenikmatan, dan kesejahteraan yang ditawarkan oleh dunia ini memang tidak salah untuk kita rasakan dan terima karena selama kita hidup didunia maka kitapun membutuhkannya. Tetapi semua itu harus dinilai secara kritis berdasarkan ukuran dan norma Kristus. Atau dengan kata lain sangat penting bagi kita untuk “berjaga-jaga dan berdoa”, artinya adalah sebagaimana dikatakan oleh rasul Paulus, Karena itu perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari itu jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan… (Efesus 5:15-17). Kita memikirkan hal-hal yang ada di atas dan bukan diperhamba oleh hal-hal yang ada di bumi (c.f. Kolose 3:2). Mintalah Damai Sejahtera Kristus untuk berdiam ditengah-tengah kamu…

· Damai sejahtera Kristus menjadi kekuatan dalam menghadapi penderitaan sebagai murid-murid-Nya.

Kekristenan tidak pernah menjanjikan suatu kehidupan yang serba enak, mudah, aman, dsb. Tetapi orang Kristen tidak pernah terlepas dari salib yang harus kita pikul kapan dan dimanapun masa itu terjadi dalam kehidupan kita. Kita harus selalu siap sedia untuk menghadapi situasi yang tersulit sekalipun dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Kekuatan kita adalah Kristus yang telah bangkit dan memperlihatkan diri kepada murid-murid-Nya dan memberi mereka damai sejahtera. Yesus yang ada dulu adalah sama dengan Yesus yang ada di dalam kita. Dia tidak berubah dari saat ini sekarang dan selama-Nya (amin!).

Seperti janji-Nya kepada para murid bahwa Aku akan menyertai engkau sampai kepada akhir zaman adalah juga janjinya kepada kita saat ini dan tidak ada satu kuasa apapun yang akan memisahkan kita dari Kristus (Roma 8:35-39). Barangkali kita tidak akan mengalami peristiwa yang dialami para murid pada waktu itu, yaitu Yesus menampakkan diri secara jasmani ditengah-tengah mereka. Tetapi ini bukan alasan kita untuk meragukan ataupun tidak mempercayai sama sekali kuasa Kristus. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (Yohanes 20:29 akhir).

Kristus yang telah bangkit dan kepada-Nya telah diberikan kuasa baik di bumi dan di surga juga berkuasa atas kehidupan kita. Justru di dalam penderitaan, kita dapat mengenal betapa besar kuasa dan kasih Tuhan dalam hidup kita dan betapa indah damai sejahtera yang disediakan bagi kita. Damai sejahtera kristus bersama dengan kita, terpujilah Tuhan…….. (Amin).





Monday, May 9, 2011

Yesus Naik ke Sorga

http://www.gkisuryautama.org/artikel.php?id=106&kategori=renungan&halaman=5&title=Yesus%20Naik%20ke%20Sorga

Salah satu hari istimewa dalam Masa Raya Paska adalah Hari Raya Yesus Naik ke Sorga. Kalender di Indonesia menulisnya: Kenaikan Isa Almasih. Gereja-gereja di Indonesia cenderung menyebutnya: Kenaikan Yesus ke Sorga. Padahal penyebutan Yesus Naik ke Sorga cukup pas dari segi pemahaman karena kesederhanaan penyebutannya.

Dengan penyebutan yang bermacam-macam itu, mengapa hari raya yang satu ini begitu tidak menarik perhatian?

Pada awal sejarah hingga menjelang abad ke-4, Gereja merayakan Minggu Pentakosta bukan hanya sebagai hari turunnya Roh Kudus, tetapi juga sebagai hari Yesus naik ke sorga (Kis 1:1-11). Tertullianus menuliskan bahwa Kristus naik ke sorga pada hari Pentakosta. Bahkan pada awal abad ke-4, sejarawan Eusebius menuliskan bahwa pada hari Pentakosta itu, Kitab Suci disahkan oleh Tuhan yang naik ke sorga pada hari itu, dan gereja merayakan turunnya Roh Kudus. Baru pada akhir abad ke-4, Konstitusi Apostolik menjabarkan bahwa pada hari ke-40 setelah Paska, Gereja merayakan Yesus naik ke Sorga.

Tema ini menjadi satu kesatuan, bahkan dilakukan pula oleh Gereja di Yerusalem. Gereja masih memandang bahwa kenaikan-Nya dan turunnya Roh Kudus terjadi dalam sekali peristiwa. Baru pada masa kemudian, yakni setelah abad ke-4, ada perayaan hari ke-40 setelah Paska. Atau lebih tepat disebut perayaan sepuluh hari sebelum Pentakosta, sebab secara kronologis, hari raya Pentakosta muncul lebih dahulu daripada hari raya Tuhan Naik ke Sorga. Jelaslah bahwa hari raya Yesus Naik ke Sorga merupakan perpanjangan hari raya Pentakosta.

Menjelang akhir abad ke-4, Poemonia, seorang perempuan Roma dari kalangan terpandang, mendirikan Gereja di situs tradisional tersebut (Kis 1:2-11, tidak terlalu jauh jaraknya dari Yerusalem, di bukit Zaitun), yang dikenal bernama Imbomon. Hingga masa itu, orang tidak setuju akan hari keempat puluh sebagai hari Yesus Naik ke Sorga. Tetapi Konsili Toledo (400) menerima dan menetapkannya sebagai hari raya Yesus Naik ke Sorga. Gereja awal mempersaksikan bahwa selama empat puluh hari “Ia berulang-ulang menampakan diri dan berbicara” (Kis 1:3). Selanjutnya tidak ada indikasi tentang 40 hari masa kebangkitan-Nya hingga Ia terangkat ke sorga.

Angka 40 ini menjadi angka yang istimewa bagi tradisi Yahudi, tetapi terlebih pada penyusuaian pada Kisah 1:3 tentang kenaikan-Nya ke sorga. Maka dengan dasar itulah gereja kemudian hari merayakan Yesus naik ke sorga.

Berita pada hari kenaikan-Nya itu adalah: Ia dimuliakan sebagai Raja dunia sebagaimana di sorga. Bacaan dan nyanyian dalam ibadah mempersaksikan hal tersebut. Sekalipun hari raya Yesus Naik ke Sorga tidak semeriah hari-hari raya lain, ia menjadi salah satu mata rantai penting dalam kalender gerejawi. (RR)

Setelah Kebangkitan Itu

(Lukas 24 : 13-35)
Saumiman Saud *)

https://sites.google.com/a/saumimansaud.org/www/emaus


Tatkala membaca Injil Sinoptik setelah peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus yakni yang kita peringati beberapa minggu lalu, kita sering lupa bahwa betapa sukarnya murid-murid Yesus untuk mengaminkan atau mempercayai apa yang sebenarnya mereka lihat dengan mata kepala sendiri. Peristiwa ajaib sekitar 2000 tahun lalu, tanda kubur yang kosong, belum cukup[ untuk meyakinkan mereka bahwa Yesus sudah bangkit. Fakta atau kenyataan ini bagi mereka hanya menunjukkan bahwa Yesus sekarang memang tidak berada di dalam kubur; hanya itu saja. Bagi mereka konsep kebangkitan Yesus jauh masih dari pemikiran: yang ada kemungkinan besar Yesus telah hilang dari kubur. Untuk meyakinkan para murid, rupanya perlu pertemuan yang lebih banyak antara pribadi Yesus sendiri dengan mereka.


Selama tiga tahun menjadi murid, bergaul dan pergi selalu bersama-sama, demikian juga makan bersama-sama, suka-duka bersama-sama, dan masih banyak lagi yang mereka kerjakan bersama-sama, ternyata belum cukup untuk mengenal pribadi Yesus lebih mendalam. Seorang penulis yang bernama Frederick Buehner sangat terpesona melihat kualitas dalam peristiwa penampakan Tuhan Yesus setelah minggu Kebangkitan. Tidak ada malaikat di langit yang bertepuk-sorak menyanyikan pujian. Tidak ada raja yang sengaja datang dari negeri yang jauh untuk membawa persembahan. Yesus menampakkan diri dalam keadaan yang paling biasa; makan malam bersama antara dua orang yang berjalan di perjalanan menuju Emaus.



Bagian Alkitab yang kita baca ini menceritakan tentang penampakan diri Yesus di Emaus. Suatu desa yang kurang lebih 12 km (tujuh mil jauhnya dari kota Yerusalem) Memang Lukas sendiri tidak mengatakan bahwa kedua orang tersebut berjalan dari arah Yerusalem. Kedua orang ini dikatakan sedang mempercakapkan tentang apa yang terjadi. Alkitab kita mencatat bahwa mereka sedang 'bertukar-pikiran" yang boleh diterjemahkan dengan "berbantah-bantah" atau "bersoal-jawab" (lihat dan bandingkan dengan Lukas 22:23). Mungkin ada ketidak-sepakatan mereka tentang isue-isue di luar sana? Desas-desus yang mereka bicarakan rupanya bukan rahasia lagi, tetapi sudah diketahui oleh umum.

Yesus sekarang tidak lagi berada di dalam kubur; mereka semua sudah tahu, khususnya informasi ini mereka peroleh dari para wanita yang sudah terlebih dahulu pergi ke kubur; ditambah lagi Petrus sendiri sudah membenarkannya. Tetapi ternyata para murid tidak begitu gampang menerima berita itu, bukankah baru kemarin Yesus mati tergantung di kayu salib? Bagi para murid, pengharapan itu seakan-akan kosong dan hampa. Yesus yang mereka harapkan menjadi pahlawan ternyata kalah dan babak belur di atas salib. Lukas sendiri mencatat , ayat 21 "Padahal kami! dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel." Ada nada kecewa terutama dari Kleopas dan temannya. Senja di Emaus merupakan momen penting bagi Yesus untuk memperbaharui konsep murid-murid yang luntur. Ada 3 hal yang akan kita pelajari berkenaan dengan senja di Emaus;



I. Senja di Emaus mengubah yang ragu menjadi percaya.


Secara manusia bagi murid-murid, peristiwa penyaliban Tuhan Yesus merupakan suatu kekalahan yang besar. Yesus yang merupakan sang Guru Agung sekarang harus mati dengan cara yang konyol dan mengenaskan, ini sesuatu yang tidak masuk akal. Itulah sebabnya tatkala dikatakan bahwa Tuhan Yesus sudah bangkit, tidak semua murid bisa menerima begitu saja; dan Yesus mengetahuinya. Murid-murid-Nya menjadi begitu ragu akan kemampuan Yesus. Benar Ia dahulu pernah membuat air menjadi anggur. Benar dahulu Ia pernah menyembuhkan orang sakit dan lumpuh. Benar Ia dahulu pernah membangkitkan Lazarus yang mati. Benar Ia dahulu pernah memelekkan mata orang buta. ! Tetapi sekarang, Ia kalah dan tergantung di salib. Bagaimana mungkin Ia bisa bangkit? Padahal Yesus sendiri sudah mengatakan peristiwa kebangkitan-Nya yaitu pada hari ke tiga, tetapi para murid tidak menganggap hal ini serius; sehingga semua murid Yesus lupa akan hal ini.

Satu peringatan yang cukup keras yang dilontarkan sang Tamu yang tidak dikenal yakni "Yesus" ternyata tidak menyadarkan mereka. "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu yang dikatakan oleh para nabi!! Bukankah Mesias harus menderita untuk masuk ke dalam kemulian-Nya."Orang bodoh" yang dimaksud di sini adalah orang yang tidak mempunyai hikmat dan kebijaksanaan dan dalam hal ini boleh diterjemahkan dengan iman. Hai kamu yang kurang beriman, betapa lambannya engkau semua?


Berbicara tentang "orang bodoh" saya jadi teringat cerita anak Sekolah Minggu tentang "Siapa yang merobohkan Tembok Yerikho?". Suatu hari Pendeta mempunyai kesempatan untuk mengunjungi kelas-kelas Sekolah Minggu. Lalu sang pendeta bertanya pada murid-murid Sekolah Minggu, pertanyaannya demikian, Siapakah yang meruntuhkan Tembok Yerikho?. Semua murid menjadi terdiam tidak ada yang menjawab. Kemudian pendeta mengulangi lagi pertanyaannya "Anak-anak, siapa yang meruntuhkan tembok Yerikho?" Murid-murid Sekolah Minggu tetap diam, dan semuanya tertunduk. untuk ketiga kalinya pendeta kembali bertanya, "Veronica, siapa yang meruntuhkan tembok Yerikho?. Kemudian sambil sedikit memandang ke arah pendeta, ia mengatakan "Bukan saya pak? Sang guru Sekolah Minggu merasa kasihan, lalu ia mengatakan kepada pendeta demikian "Benar pak pendeta, Veronica anak yang baik, ia tidak mungkin meruntuhkan tembok Yerikho itu". Sang pendeta merasa kaget dan hampir pinsan mendengar jawaban sang guru Sekolah Minggu itu.


Kita semua orang bodoh, kadang kala kita sama seperti murid Tuhan Yesus, terlalu sukar untuk percaya. Apa lagi tatkala kita menghadapi kesulitan yang tidak kunjung berlalu. Di sana-sini penuh krisis, banyak orang yang bangkrut. Keadaan ekonomi tidak menentu. Kita sudah berdoa bahkan berpuasa, namun kesulitan itu terus melanda; bagaimana kita bisa percaya pada Yesus? Kita seakan-akan tidak gesit, kita lamban dan ketinggalan. Kita merasa gagal melayanai Tuhan, padahal yang kita kerjakan sudah benar. Kita lupa siapa yang kita layani. Jikalau kita memang benar-benar ingat siapa Yesus, siapa Tuhan kita. Maka untuk hal-hal yang baik kita tidak perlu ragu melakukannya.

II. Senja di Emaus mengobah kesia-siaan menjadi Kesempatan


Murid-murid Yesus begitu terbuai dengan pengharapan mereka, sehingga tatkala apa yang mereka harapkan itu tidak terwujud; mereka menjadi sangat kecewa. Seakan-akan apa yang mereka lakukan itu sia-sia belaka. Contoh konkret misalnya Petrus, ia merasa lebih baik kembali ke profesi masa lalu, yakni menangkap ikan. Tetapi cita-citanya tidak kesampaian; Yesus menangkap dia kembali untuk menjadi penjala manusia. Sekarang Yesus sudah berada dihadapan mereka, tetapi Yesus tidak dikenal. Ada yang mengatakan bahwa Yesus tidak dikenal karena murid-murid itu berjalan ke arah barat dan mata mereka begitu silau karena sinar matahari segera masuk, tetapi ini tentu tidak sesuai dengan jalan pemikiran penulis. Lukas juga tidak mengatakan bahwa Tuhan Yesus datang dalam wajah yang lain, sehingga tidak dikenal.

Menurut terjemahan baru, ada sesuatu yang menghalangi para murid; ayat 16 dalam bahasa aslinya diterjemahkan "mata mereka tertahan dari mengenal Dia" Artinya mereka terhalang untuk mengenali Dia. Pada saat makan, orang asing ini melakukan tindakan yang membuat mereka tersentak. Ia memecahkan roti, dan mata rantai yang hilang tiba-tiba masuk di tempatnya. Jadi yang berjalan bersama mereka sejak tadi dan sekarang sedang duduk di meja mereka adalah Yesus sendiri! Anehnya, begitu mereka mengenali Yesus , Ia langsung menghilang. Untuk mengenal Kristus yang sudah bangkit maka mata rohani setiap orang harus dicelikkan. Jikalau mata rohani kita buta, jangankan mengenal Yesus yang bangkit; mengenal Yesus saja sulit.


Dalam Perjanjian Lama, tatkala ke dua belas orang pengintai itu diutus untuk menyelidiki keadaan kota Kanaan, apa yang terjadi?? Ke sepuluh orang pulang dengan bersungut-sungut, mereka katakan kita sulit untuk merebut Kanaan, disitu banyak raksasa dan sebagainya. Tetapi lain halnya dengan Yosua dan Kaleb, mereka pulang dengan muka berseri-seri. Mereka katakan kita pasti menang. Apakah ke dua belas orang itu matanya buta? Tidak! Mereka semua sehat matanya, tetapi ada sepuluh orang yang mata rohaninya buta. Mata rohani yang buta akan membuat "Kesempatan menjadi Kesia-siaan", teta! pi sebaliknya; mata rohani yang terbuka akan membuat "Kesia-sian menjadi Kesempatan."

III. Senja di Emaus mengubah kegagalan menjadi kemenangan


Tuhan Yesus terus-menerus memperlihatkan diri-Nya kepada murid-murid, kurang lebih dua belas kali. Tatkala kedua orang itu bergegas kembali ke Yerusalem, mereka menemukan sebelas murid berkumpul di dalam rumah dalam keadaan pintu yang terkunci. Mereka menceritakan kisah menakjubkan itu, yang mendukung apa yang sudah diketahui oleh Petrus, Yesus ada di luar sana dan ternyata masih hidup. Tanpa peringatan, bahkan ketika para ! peragu itu memperdebatkannya, Yesus sendiri muncul ditengah-tengah mereka. "Aku bukan hantu", kata-Nya, "Sentuhlah luka Ku." Bahkan pada waktu itu, keraguan masih belum hilang, sampai Yesus beresedia makan sepotong ikan bakar. Hantu makan ikan, fatamorgana tidak bisa membuat makanan itu lenyap.

Selama enam minggu, Yesus senantiasa datang dan lenyap secara tiba-tiba. Penampakan diri-Nya tidak dalam bentuk Roh sehingga bisa mebuat para murid-Nya merasa ketakutan. Yesus menampakkan diri-Nya dalam bentuk tubuh dan daging. Di situ masih ada luka-luka-Nya. Di situ masih ada lubang paku di tangan dan kaki-Nya. Di situ masih ada lubang bekas tombak di lambung-Nya. Di situ masih ada bekas luka di kepala karena dipaksa masuk mahkota duri. Yesus menyesuaikan diri terhadap tingkat keragu-raguan murid-murid-Nya. Terhadap Tomas yang ragu Yesus menampakkan diri-Nya secara khusus, bahkanmempersilahkan Tomas untuk memegang dan meraba. Untuk Petrus, perlu kasih dari seorang! sahabat; yang akhirnya membuat Petrus menjadi seorang pengkhotbah besar. Ayat 33 mencatat "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon." Mulai ada pengakuan ditengah-tengah keragu-raguan.

Seorang penulis novel terkenal yang bernama John Updike menulis sebuah puisi pendek dengan kata-kata demikian; "Jangan salah, kalau benar Ia bangkit maka itu dalam bentuk tubuh-Nya. Kalau sel-sel larut dan tidak bertaut kembali, molekul-molekul tidak terjalin kembali asam amino tidak menyala kembali, Gereja akan runtuh". Senja di Emaus telah mengobah kegagalan menjadi kemenangan, suatu kemenangan yang berlaku bagi semua orang asal dia mau percaya kepada-Nya. Jikalau cerita dongeng Star Wars, Aladdin, The Lion King dan Hercules kita bisa begitu saja percaya, mengapa kebangkitan Yesus masih kita ragukan? Perlukah Yesus datang seperti Dia datang ke Tomas? Perlukah Yesus memperlihatkan diri-Nya baru anda percaya? Saya rasa tidak perlu. Biarlah Senja di Emaus! bukan merupakan senja kelabu, tetapi suatu senja yang akan memperbaharui kita supaya hari ini, esok dan lusa kita lebih mengenal Dia, lebih percaya pada Dia, bahkan lebih semangat melayani Dia.



*) Penulis saat ini berdomisili di Washington, dapat dihubungi via email saumiman@gmail.com