Showing posts with label PGI. Show all posts
Showing posts with label PGI. Show all posts

Thursday, March 14, 2013

Pesan Paskah PGI 2013



Christ of St. John of the Cross (Salvador Dali, 1951)
PESAN PASKAH
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA
TAHUN  2013
“Kristus, Yang sulung dari segala yang diciptakan”
(bdk. Kolose 1:18)


Umat Kristiani Indonesia yang dikasihi oleh Yesus Kristus,
Salam Sejahtera,

1.   Ketika bangsa kita masih tetap bergumul dengan berbagai persoalan, baik bencana alam maupun bencana-bencana sosial, berita Paskah kembali datang menyapa kita. Paskah adalah, ketika Allah memberikan pengharapan di tengah keputusasaan, optimisme di tengah pesimisme, pembebasan di tengah perbudakan dosa, kehidupan di tengah kematian. “Allah telah mendamaikan diri-Nya dengan manusia, dan dengan seluruh ciptaan-Nya”, adalah berita Paskah paling kuat, ketika budaya konflik dan peperangan di antara sesama, dan pencemaran terhadap alam masih tetap dianut dan dipraktekkan secara luas oleh masyarakat kita. Bahwa Allah membangkitkan Yesus dari kematian adalah pengesyahan Allah terhadap kehidupan, yaitu betapa berharganya kehidupan, dan  karena itu tidak boleh disia-siakan.

2.  Kebangkitan Kristus menciptakan hubungan baru antara Allah dengan manusia dan dengan seluruh ciptaan-Nya. Kristus adalah Pusat hubungan baru itu. Ia bahkan disebut sebagai Yang sulung dari seluruh ciptaan, sebagaimana dikatakan dalam Kolose 1:18: “Ialah kepala Tubuh, yaitu Jemaat. Ialah Yang sulung, Yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.” Itu tidak berarti, Kristus Yang bangkit itu identik dengan seluruh makhluk ciptaan, kendati di dalam kebebasan dan kedaulatan-Nya Ia bisa saja menyamakan diri dengan makhluk ciptaan tersebut. Justru itulah makna mendalam dari inkarnasi, ketika Allah memilih menjadi manusia. “Sulung” (Yn.: prototokos) adalah penegasan bahwa Kristus adalah “Yang Sulung Itu Sendiri”. Sebagai demikian, “di dalam Dia-lah telah diciptakan segala sesuatu”(ay.16), yang juga berarti, Ia berkuasa atas segenap ciptaan. Bahwa Ia “Yang pertama bangkit dari antara orang mati”, semakin menegaskan keutamaan Kristus, sekaligus menjadi dasar pemahaman dan keyakinan akan kebangkitan orang mati. Kalau Kristus adalah Yang sulung dari segala ciptaan, maka “jemaat” adalah tipe awal (prototype) dari kemanusiaan baru yang sudah diperbaharui oleh Kebangkitan. Sebagai demikian, jemaat berkewajiban meneruskan amanat kehidupan ini kepada segala makhluk. Ini melahirkan pengharapan akan makna hidup baik di masa kini, maupun nanti.

3.      Dalam Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI), 25-28 Januari 2013 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, gereja-gereja kembali menyatakan keprihatinan mendalam terhadap makin terganggunya keutuhan ciptaan di bumi Indonesia. Hal itu terlihat misalnya dalam hal makin masifnya perusakan dan kerusakan lingkungan yang di dalamnya kita tinggal. Pertikaian seputar kepemilikan tanah dan akses terhadap sumber daya alam yang makin kritis memperlihatkan bahwa kita memang sedang terancam oleh berbagai kekuatan global (global force): persoalan demografi, sumber daya alam,   globalisasi dan perubahan iklim.

4. Dalam keadaan seperti ini, gereja sebagai tipe awal kemanusiaan baru dipanggil untuk memahami secara baru makna pemberian mandat, “Berkuasalah, penuhilah… taklukkanlah” (Kej.1:28), bukan sebagai akta eksploitasi terhadap alam ciptaan-Nya, tetapi justru sebagai jurukunci yang setia memelihara dan mengelolanya secara bertanggungjawab. Peristiwa Paskah itulah justru yang memberikan harapan dan semangat baru melalui pendamaian dan rekonsiliasi sejati yang diprakarsai Allah ke atas manusia dan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Alhasil, penebusan, tidak saja mendamaikan manusia dengan pencipta-Nya, tetapi juga mendamaikan manusia dengan seluruh ciptaan Allah.

Atas dasar keyakinan ini, dalam rangka menyambut dan menghayati Paskah 2013, dengan rasa sukacita dan ucapan syukur, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia mengajak semua umat Kristiani untuk semakin mengejawantahkan harapan dan semangat baru itu, bahwa  “penebusan Kristus mendamaikan manusia dengan Allah dan seluruh Ciptaan-Nya”,  melalui hal-hal berikut ini:

a.    Perayaan Paskah hendaknya mendorong gereja mengkaji dan mendalami ulang segi-segi teologi dari mandat pemeliharaan dan pengelolaan ciptaan Allah serta mengimplementasikannya dalam berbagai aspek pelayanan gerejawi: liturgi, pengajaran dan pemberitaan firman Tuhan. 
b.   Perayaan Paskah hendaknya menjadi momentum bagi gereja-gereja untuk semakin mempererat persekutuan dalam arak-arakan gerakan oikoumenis lintas-denominasi agar fungsi gereja sebagai garam dan terang dapat diimpelentasikan secara optimal di tengah-tengah situasi yang ada. Khususnya, kiranya Semangat Paskah mendorong gereja berkontribusi aktif dan semakin giat dalam upaya-upaya pelestarian lingkungan,  menjadikan gereja sebagai gereja yang ramah dan sahabat bagi alam, serta membina warganya untuk peka dan peduli terhadap lingkungan hidup.
c. Perayaan Paskah hendaknya mampu mendorong gereja untuk lebih mewujudkan keberpihakan kepada perjuangan penegakkan hak-hak masyarakat khususnya di tengah-tengah konflik Agrararia dan Sumber Daya Alam. Perjuangan ini merupakan pondasi spirit gerakan oikoumenis, yang di dalamnya kita secara bersama terus berjuang untuk mengusahakan bumi sebagai rumah (oikos) yang semakin layak untuk dihuni (menein).

Pesan Paskah ini, kami akhiri dengan menggarisbawahi firman Allah melalui Kidung Pemazmur yang menyatakan kemuliaan Allah dalam segenap pekerjaan tangan-Nya. Ini mengingatkan kepada kita, bahwa kitalah tangan-tangan Allah untuk mewujudkan kemuliaan-Nya di tengah seluruh ciptaan:

“Langit menceritakan kemuliaan Allah,
dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” 
(Mazmur 19:2)


Jakarta, Akhir Februari 2013
Atas nama,
MAJELIS PEKERJA HARIAN
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA



                                                                      
Pdt. Dr. A.A. Yewangoe                                                               Pdt. Gomar Gultom
Ketua Umum                                                                                  Sekretaris Umum
         


Friday, June 22, 2012

Pembacaan Alkitab Juli-September

Mengikuti BAKI PGI


Juli
Minggu, 1 Juli : 1 Samuel 10:1-16 Pagi: Mazmur 118 Petang: Mazmur 145 Roma 4:13-25 Matius 21:23-32
Minggu, 8 Juli : 1 Samuel 14:36-45 Pagi: Mazmur 146, 147 Petang: Mazmur 111, 112, 113 Roma 5:1-11 Matius 22:1-14
Minggu, 15 Juli : 1 Samuel 17:50-18:4 Pagi: Mazmur 148, 149, 150 Petang: Mazmur 114, 115 Roma 10:4-17 Matius 23:29-39
Minggu, 22 Juli : 1 Samuel 23:7-18 Pagi: Mazmur 63, 98 Petang: Mazmur 103 Roma 11:33-12:2 Matius 24:14-30
Minggu, 29 Juli : 2 Samuel 1:17-27 Pagi: Mazmur 24, 29 Petang: Mazmur 8, 84 Roma 12:9-21 Matius 25:31-46
Agustus
Minggu, 5 Agustus : 2 Samuel 6:12-23 Pagi: Mazmur 93, 96 Petang: Mazmur 34 Roma 14:7-12 Yohanes 1:43-51
Minggu, 12 Agustus : 2 Samuel 13:1-22 Pagi: Mazmur 66, 67 Petang: Mazmur 19, 46 Roma 15:1-13 Yohanes 3:22-36
Minggu, 19 Agustus : 2 Samuel 17:1-23 Pagi: Mazmur 118 Petang: Mazmur 145 Galatia 3:6-14 Yohanes 5:30-47 [Idul Fitri 1 Syawal 1433 H]
Minggu, 26 Agustus : 2 Samuel 24:1-2, 10-25 Pagi: Mazmur 146, 147 Petang: Mazmur 111, 112, 113 Galatia 3:23-4:7 Yohanes 8:12-20
September
Minggu, 2 September : 1 Raja-raja 8:22-40 Pagi: Mazmur 148, 149, 150 Petang: Mazmur 114, 115 1 Timotius 4:7b-16 Yohanes 8:47-59
Minggu, 9 September : 1 Raja-raja 12:21-33 Pagi: Mazmur 63, 98 Petang: Mazmur: 103 Kisah Para Rasul 4:18-31 Yohanes 10:31-42
Minggu, 16 September : 1 Raja-raja 19:8-21 Pagi: Mazmur 24, 29 Petang: Mazmur 8, 84 Kisah Para Rasul 5:34-42 Yohanes 11:45-57
Minggu, 23 September : 2 Raja-raja 4:8-37 Pagi: Mazmur 93, 96 Petang: Mazmur 34 Kisah Para Rasul 9:10-31 Lukas 3:7-18
Minggu, 30 September : 2 Raja-raja 17:1-18 Pagi: Mazmur 66, 67 Petang: Mazmur 19, 46 Kisah Para Rasul 9:36-43 Lukas 5:1-11

Wednesday, May 23, 2012

Pesan Bulan Oikoumene 2012







Bulan Mei setiap tahun ditetapkan sebagai Bulan Oikoumene oleh PGI. Pada Bulan Mei inilah PGI merayakan Hari Ulang Tahunnya. Sejak berdirinya pada 25 Mei 1950, PGI pada tahun ini genap berusia 62 tahun. Dalam rangka Bulan Oikoumene 2012 ini, MPH PGI telah menyampaikan Pesan Bulan Oikoumene 2012 untuk diketahui oleh seluruh anggota gereja dalam lingkup PGI.






PESAN BULAN OIKOUMENE 2012
“DIPANGGIL UNTUK TERUS MENYATAKAN KEADILAN DAN PERDAMAIAN” (bdk. Filipi 4:8)

Saudara-saudari warga gereja yang dikasihi Kristus!
Salam Sejahtera,
  1. Puji dan syukur kita haturkan kepada Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja, yang karena kasih dan kemurahan-Nya telah menghantar kita memasuki Bulan Oikoumene 2012. Bulan ini mengandung arti penting dan mendasar bagi kita, karena lagi-lagi kita diingatkan terhadap komitmen dan tekad gereja-gereja mewujudkan Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia sebagaimana dinyatakan pada pembentukan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI), 25 Mei 1950. Pembentukan DGI tersebut telah ikut mendorong ke arah persatuan dan kesatuan bangsa, yang pada tahun-tahun itu masih gamang dengan keindonesiaannya. Kendati gereja-gereja berbeda-beda dari segi teologi, eklesiologi, suku dan etnis, namun telah berusaha untuk membuka diri satu terhadap yang lainnya dan terus berjalan bersama dalam arak-arakan oikoumene. Gereja-gereja berusaha menampilkan kesatuan yang utuh, sehingga kesaksian dan pelayanannya dapat diwujudkan lebih nyata di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Ketika PGI (semula bernama DGI) sekarang berusia 62 tahun, 88 sinode gereja telah bergabung di dalamnya. Fakta ini  sungguh memperkaya kehidupan beroikoumene, kendati doa Yesus, “…supaya mereka menjadi satu…” (Yoh.17:21) belum sepenuhnya terpenuhi. Namun kita bertekad untuk tidak mempertentangkan perbedaan-perbedaan di antara kita. Sebaliknya, kita memahaminya sebagai kekayaan bersama. Oikoumene in action terus kita laksanakan, seraya menerima berbagai konsensus dan komitmen bersama sebagaimana antara lain termaktub dalam Dokumen Keesaan Gereja. Kita juga belajar terbuka kepada saudara-saudari umat beriman lain yang tidak tergabung di dalam PGI. Pada tanggal 7 Oktober 2011, bertepatan dengan diselenggarakannya Pertemuan II Global Christian Forum di Manado, Indonesia, secara bersama-sama kita telah mendeklarasikan “Forum Umat Kristen Indonesia” (FUKI) sebagai wujud saling membagi kekayaan spiritual bersama.
  2. Pilihan tema Bulan Oikoumene tahun ini didorong oleh kondisi dan situasi masyarakat, bangsa dan negara kita, yang di dalamnya kita bersaksi dan melayani. Secara khusus, Konsultasi Teologi yang baru saja diselenggarakan ikut mengilhami pemilihan tema ini. Berbagai peristiwa penting yang terjadi akhir-akhir ini, mau tidak mau menuntut peranan gereja untuk bersaksi di dalamnya. “Dipanggil untuk terus menyatakan keadilan dan perdamaian”, diilhami oleh nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi, khususnya Filipi 4:8, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”  Rasul Paulus mendorong pemikiran dan perilaku berdasarkan etika kristiani. Apa yang benar, apa yang adil, apa yang patut, semuanya itu mestinya bukan sekadar dipikirkan, tetapi sekaligus dilakukan oleh orang-orang percaya di manapun berada. Panggilan mewujudkan keadilan dan perdamaian melampaui batas-batas denominasi dan gereja. Bahkan inilah panggilan kenabian gereja di tengah-tengah dunia yang terus bergumul dengan perjuangan mewujudkan keadilan dan perdamaian. Kita percaya, dengan curahan Roh Kudus, gereja-gereja di Indonesia dimampukan berlaku dan bertindak atas dasar etika kristiani tersebut, di mana keadilan dan perdamaian dinyatakan.
  3. Masyarakat, bangsa dan negara kita sedang berada dalam pergumulan besar. Khususnya di bidang perekonomian dicatat adanya kemajuan besar. Tetapi pada saat yang sama jumlah orang-orang miskin makin bertambah. Ini mengindikasikan bahwa pembangunan ekonomi tidak berpihak kepada orang-orang miskin dan yang lemah secara ekonomis. Peristiwa yang baru saja kita alami berupa unjuk rasa di mana-mana sebagai protes terhadap rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak memperlihatkan kebenaran sinyalemen ini. Kita mendorong pemerintah dan semua pengambil keputusan di negeri ini untuk lebih berpihak kepada kepentingan rakyat. Alkitab menyaksikan bahwa Allah selalu berpihak kepada yang lemah dan tidak berdaya. Secara eksplisit Allah memerintahkan para pemimpin untuk “melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas…orang lemah, dan orang miskin” (Mz. 72:12-14). Bahkan lebih tegas lagi dilarang untuk “memeras pekerja harian yang miskin dan menderita” (Ul.4:37-40; Yer.29:7).
  4. Apabila gereja-gereja menyatakan keadilan dan perdamaian, maka itulah refleksi dari wujud keberpihakan Allah kepada kehidupan semua makhluk ciptaan-Nya, lebih-lebih terhadap yang menderita, tersisih, dan tertindas. Dalam konteks bangsa kita, wujud keberpihakan ini mesti diarahkan kepada orang-orang miskin, penganut agama-agama yang tidak leluasa menyatakan imannya di muka umum karena tekanan-tekanan, penduduk daerah-daerah tertinggal dan yang mendiami wilayah-wilayah perbatasan, para pekerja migran, mereka yang berkebutuhan khusus, korban bencana alam, orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS, LGBT (lesbian, gay, biseksual, transjender/transseksual), kaum perempuan yang mengalami diskriminasi dan penindasan, para korban perdagangan manusia, dan semua yang mengalami penderitaan dalam jenis apapun. Kepeduliaan terhadap lingkungan yang adalah penunjang kehidupan harus diarahkan kepada pencegahan perusakan hutan tropis, pemusnahan margasatwa, eksploitasi sumber daya alam, polusi dan pemanasan global.
  5. Gerakan oikoumene kita memang telah menempatkan kita dalam arak-arakan bersama. Namun harus diakui, kebanyakan praktek beroikoumene kita cenderung masih sebatas seremonial. Maka adalah tantangan dan panggilan kita bagaimana gerakan oikoumene mewujud juga dalam karya-karya sosial yang menjawab kebutuhan gereja dan masyarakat. Gejala-gejala perpecahan di dalam gereja tentulah ‘menyumbang secara negatif’ terhadap upaya kebersamaan di dalam aksi ini. Karena itu dalam semangat kebersamaan gereja-gereja Tuhan, kiranya perayaan Bulan Oikoumene ini kembali menjadi momentum yang mengingatkan kesejatian panggilan kita selaku Tubuh Kristus, yaitu “menjadi satu”.
Pada akhirnya, dalam momentum perayaan ini dan dengan semangat peringatan hari pencurahan Roh Kudus (Pentakosta) ini kami mengajak gereja-gereja untuk:
Pertama, semakin memantapkan langkah bersama tanpa mengenal lelah memperkuat persekutuan di dalam wadah PGI guna mewujudkan Gereja Kristen Yang Esa. Piagam Saling Mengakui dan Saling Menerima (PSMSM) yang telah disepekati bersama tetap menjadi kerangka acuan kita bersama. Seraya kita juga percaya bahwa semua warga gereja, khsususnya generasi muda, perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan semangat oikoumenis melalui berbagai cara.
Kedua, menyatakan sikap pemihakan yang jelas terhadap orang miskin, sikap kritis terhadap proses perumusan dan pemberlakuan kebijakan ekonomi, serta sikap hidup jujur, hemat, dan kerja keras. Seluruh perilaku itu harus mewujud di dalam kehidupan pribadi, keluarga, komunitas, masyarakat dan negara, seraya tetap waspada atas dampak-dampak negatif dari sistem ekonomi pasar bebas dan (neo)-kapitalisme, dan mendorong  upaya-upaya ekonomi yang berkeadilan.
Ketiga, menanggapi panggilan Allah bagi gereja untuk memihak kepada kehidupan, baik dalam relasi oikoumenis mau pun dalam relasi dengan sesama ciptaan. Ini berarti gereja-gereja dan gerakan oikoumenis diminta untuk memberi perhatian yang lebih serius kepada realitas-realitas ketimpangan yang ada, misalnya daerah-daerah tertinggal dan perbatasan, pekerja migran, perdagangan manusia, orang berkebutuhan khusus, korban bencana alam, dan semua mereka yang menderita. Kepedulian terhadap lingkungan perlu semakin ditingkatkan dan diarahkan kepada pencegahan pengrusakan alam, eksploitasi sumber daya alam, polusi dan pemanasan global, sehingga bumi ini benar-benar menjadi “rumah” (oikos) bersama.
Demikianlah pesan dan harapan di Bulan Oikoumene 2012 ini. Tuhan kiranya memberkati segala upaya kita dalam mewujudkan keesaan gereja-gereja Tuhan di Indonesia. Selamat merayakan Bulan Oikoumene 2012.

Jakarta, Mei 2012
Atas nama,
MAJELIS PEKERJA HARIAN PGI



Pdt.Dr.Andreas A.Yewangoe                Pdt.Gomar Gultom, M.Th
Ketua Umum                                     Sekretaris Umum

Tuesday, March 20, 2012

Sikap Gereja dalam melawan Korupsi






Keputusan Sidang MPL PGI, No. 12/MPL-PGI/XV/2012
tgl 26-30 Januari 2012 
di Melonguane, Kab. Kepulauan Talaud
Sulawesi Utara


A.     PENDAHULUAN
Indonesia adalah negeri yang kaya dan subur. Namun justru di negeri yang berlimpah sumber daya alam ini, sebagian besar rakyat Indonesia terpuruk dalam kemiskinan. Akar penyebabnya adalah korupsi berlangsung sistemik. Korupsi telah merampas hak anak-anak untuk menikmati akses pendidikan yang berkualitas dan mengambil dengan paksa hak jutaan masyarakat yang tidak dapat merasakan pelayanan kesehatan yang memadai. Di samping memotong hak masyarakat untuk merasakan hasil-hasil pembangunan, korupsi juga telah menyebabkan berkurangnya lingkup jangkauan dan mutu pembangunan sarana dan prasarana kesejahteraan rakyat banyak. Sungguh, korupsi adalah kejahatan yang luar biasa (extraordinary crime).
Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang menjadi salah satu issu utama Reformasi belum sepenuhnya dijalankan dengan baik. Dalam berbagai kasus malah terkesan, pemberantasan korupsi melukai rasa keadilan masyarakat. Sungguh sebuah paradoks, ketika para pejabat yang sudah menjadi tersangka kasus korupsi dengan mudah menerima vonis bebas pengadilan, sementara segelintir rakyat miskin yang mengambil tiga biji kakao atau setandan pisang karena terdesak kebutuhan untuk bertahan hidup, harus menerima hukuman yang lebih berat. Tingkat korupsi yang begitu tinggi juga sangat paradoks dengan ideologi Pancasila dan  Indonesia sebagai negara yang agamis.
Sementara itu, pemerintahan yang dikelola oleh warga gereja di basis-basis kristen pun tidak luput dari masalah korupsi. Beberapa pejabat yang berasal dari warga gereja juga ada yang terlibat tindak pidana korupsi.
Dalam perspektif kristen, perbuatan korupsi adalah penyangkalan terhadap hakekat manusia sebagai gambar Allah, Imago Dei (Kej 1:27). Alkitab mengajarkan kita untuk mengecam segala usaha yang mencari keuntungan bagi diri sendiri dan kelompok, melalui penyalahgunaan jabatan dan kekuasaan (Mat 23:25).  Gereja seharusnya menyaksikan pola hidup sederhana sebagaimana diajarkan Yesus, yang harus mengutamakan harta sorgawi daripada harta duniawi (Mat 6:19, bnd Mat 19:21).

B.   SIKAP GEREJA-GEREJA
Oleh karena itu Sidang MPL PGI di Melonguane yang berlangsung 26-30 Januari 2012, setelah membahas dan menganalisis kenyataan korupsi di Indonesia, mengambil kesimpulan bahwa korupsi telah menjadi suatu kejahatan sosial yang tidak dapat diterima. Korupsi merusak akhlak secara individu dan sosial. Korupsi juga telah memotong/menghilangkan  hak-hak masyarakat dalam memperoleh kesejahteraan. Korupsi adalah perbudakan manusia kepada Mammon, yang merupakan penyangkalan terhadap Allah yang setia memelihara kehidupan manusia.  Mega-korupsi di kalangan penyelenggara negara kita dewasa ini menista martabat manusia dan sekaligus melecehkan kekudusan Allah.  Atas dasar itu Sidang MPL PGI 2012 di Melonguane menyatakan sikap untuk melawan korupsi sampai ke akar-akarnya.

B.     PANDUAN BAGI GEREJA UNTUK MELAWAN KORUPSI
1.       Gereja konsisten menunjukkan pola hidup sederhana, kerja keras, saling berbagi, dan menjadi contoh yang baik dalam pengelolaan anggaran dan aset-aset gereja yang transparan dan akuntabel. Gereja harus bersih dari perilaku koruptif.
2.       Memastikan bahwa gereja berada di garda terdepan melawan segala bentuk korupsi.
3.       Mendorong gereja-gereja untuk melakukan pendidikan anti korupsi melalui kurikulum pengajaran sekolah minggu dan katekisasi, sehingga pemahaman korupsi sebagai kejahatan luar biasa ditanamkan sejak usia dini. Pendidikan anti korupsi juga dilakukan melalui bahan khotbah dan pembinaan warga jemaat.
4.       Gereja menempatkan diri sebagai partner kritis pemerintah yang saling memberdayakan. Gereja juga  harus berani menyatakan penolakan terhadap sumbangan/bantuan yang terindikasi korupsi agar terhindar dari praktek pencucian uang (money laundry) yang berkedok bantuan sosial.
5.       Gereja-gereja menjauhkan diri dari godaan untuk mendukung pasangan tertentu dalam perhelatan Pemilu dan Pemilukada dan memberi apresiasi kepada pemimpin yang takut akan Allah dan benci kepada pengejaran suap (Kel 18:21).

Wednesday, February 29, 2012

Pesan Paska PGI 2012


Pada 8 April 2012, umat Kristen (Protestan) akan merayakan Paska. Hari Raya Paska adalah hari raya yang selalu dinantikan karena orang-orang Kristen merayakan Hari Kemenangan Tuhan melalui Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian-Nya di kayu salib. Seperti biasa, setiap tahun PGI mempublikasikan Pesan Paska bagi Gereja-gereja di Indonesia untuk menjadi tema utama dalam menyambut dan merayakan Paska. Pesan Paska ini dapat juga dipakai oleh lembaga-lembaga Kristen lainnya.


PESAN PASKA
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA
TAHUN 2012

Tema:
“Kebangkitan-Nya Menyingkapkan Integritas Allah Dalam Wajah Kemanusiaan: Gereja Melawan Korupsi” (bdk. Efesus 5:8-11)

Saudara/i Seiman di manapun berada,
Salam Sejahtera Dalam Kasih Yesus Kristus,
Dalam suasana kehidupan bermasyarakat yang penuh tantangan saat ini, dengan penuh sukacita umat Kristen di seluruh dunia, termasuk Indonesia, memasuki Hari Raya Paska, peringatan Kebangkitan Kristus dari kematian. Paska selalu membangkitkan pengharapan dan kekuatan guna menjalani kehidupan masa kini menuju masa depan, kendati kenyataan hidup di sekitar kita tidak selalu mudah. Khususnya di negeri kita, Indonesia dalam kaitan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pesan Paska ini ditempatkan di bawah tema: “Kebangkitan-Nya Menyingkapkan Integritas Allah Dalam Wajah Kemanusiaan: Gereja Melawan Korupsi” (bdk. Efesus 5:8-11). Tema ini memberi inspirasi dan sekaligus memotivasi kita untuk memusatkan perhatian dan pemikiran kita kepada makna Kebangkitan Kristus di masa kini, khususnya dalam kenyataan kehidupan kita di negeri ini.
Peristiwa Paska memiliki makna teramat dalam bagi kita. Kebangkitan Kristus tidak pernah mempunyai analoginya di dalam sejarah. Ia adalah ciptaan baru, yang memperlihatkan secara amat nyata betapa Allah mempedulikan kehidupan sejati manusia. Dalam peristiwa Kebangkitan itu, manusia sebagai gambar dan citra Allah (Imago Dei, Kej.1:26-27) diperlihatkan secara utuh. Manusia Kebangkitan adalah manusia baru yang memiliki kebebasan sejati dari berbagai penderitaan berupa penindasan, diperlakukan tidak adil, didiskriminasikan, hidup dalam kebodohan dan keterbelakangan, hidup dalam kemiskinan. Sebaliknya keutuhan manusia baru memberikan perspektif hidup penuh pengharapan dan optimisme.
Peristiwa Paska juga menyingkapkan secara sangat jelas betapa Allah setia dengan janji-Nya. Ia adalah Allah yang berintegritas, yang menggenapi apa yang telah dijanjikan-Nya. Ia konsisten dengan rancangan damai-sejahtera bagi kita, kendati realitas dosa selalu membayang-bayangi kehidupan kita. Pengorbanan Diri Putra-Nya sebagai perbuatan penebusan dan penyelamatan yang membawa pemulihan, adalah wujud integritas dan kesetiaan Allah itu.
Maka sebagai orang-orang beriman kita dipanggil untuk merefleksikan integritas dan kesetiaan Allah itu melalui kehidupan kita sehari-hari. Kita yang telah dianugerahi hidup baru melalui Kebangkitan Kristus didorong untuk membuktikan kesungguhan kita sebagai “anak-anak terang” (Ef. 5:8b). Harus ada perubahan nyata di dalam kehidupan kita, sebagaimana ditegaskan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus: “sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan:Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia” (Ef. 4:17). Paskah mendorong kita menjadi manusia-manusia baru yang dipanggil untuk menyatakannya dalam kehidupan kita yang berintegritas dan konsisten melawan berbagai kejahatan.
Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) di Melanguane, Talaud, Januari 2012 menyoroti berbagai kejahatan manusia yang secara khusus mewujud melalui praktik-praktik korupsi. Itu tidak berarti bahwa kejahatan-kejahatan manusia hendak direduksikan hanya pada perbuatan ini. Tetapi korupsi di negeri kita memang telah memasuki fase yang sangat menguatirkan, karena hampir tidak ada lagi bidang kehidupan yang bebas dari virus ini. Korupsi adalah kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang mencederai harkat dan martabat manusia sebagai gambar dan citra Allah. Maka tidak ada lain yang harus dilakukan oleh umat beriman, apabila sungguh-sungguh mau merefleksikan integritas dan kesetiaan Allah ini, selain dari menyatakan perang terhadap korupsi dalam berbagai bentuknya. Umat Allah tidak boleh lagi menaklukkan diri ke bawah perhambaan Mammon, yang dalam konteks masyarakat kita mewujud dalam praktek-praktek korupsi.
Karena itu, di dalam menyambut dan merayakan Paska 2012 ini, kami mengajak saudara/i seiman, baik para pemimpin gereja maupun anggota-anggota jemaat untuk makin memperlihatkan integritas dan kesetiaan sebagai manusia kebangkitan, manusia baru di dalam Kristus yang telah bangkit dengan tindakan-tindakan nyata, khususnya melawan praktek-praktek korupsi melalui hal-hal berikut:
  1. Perayaan Paska hendaknya menjadi momentum bagi gereja-gereja dan umat beriman guna memastikan diri sebagai yang berada di garda terdepan melawan segala bentuk korupsi;
  2. Semangat Paska hendaknya mendorong gereja-gereja dan umat beriman memperlihatkan secara konsisten pola hidup sederhana, kerja keras, saling berbagi, dan menjadi contoh dalam mengelola aset-aset gereja secara transparan dan akuntabel;
  3. Semangat Paska hendaknya menginspirasi gereja-gereja dan umat beriman guna melakukan pendidikan anti-korupsi antara lain, di samping khotbah-khotbah, juga melalui kurikulum pengajaran Sekolah Minggu dan Katekisasi, sehingga pemahaman korupsi sebagai kejahatan luar biasa telah ditanamkan sejak dini;
  4. Melalui semangat Paska diharapkan gereja-gereja menempatkan diri sebagai mitra kritis pemerintah. Gereja harus berani menyatakan penolakan terhadap sumbangan/bantuan yang tidak jelas sumber dan asal-usulnya, dan/atau yang ditengarai sebagai hasil korupsi dan praktek pencucian uang (money laundry) berkedok bantuan sosial;
  5. Semangat Paska, pada akhirnya hendaknya mendorong gereja-gereja menjauhkan diri dari berbagai godaan, seperti misalnya mendukung pasangan tertentu dalam perhelatan Pemilu dan Pemilukada yang ditengarai melakukan money politics, dan sebaliknya memberi penghargaan kepada pemimpin yang takut akan Allah dan benci kepada pengejaran suap (Kel. 18:21).

Pesan ini kami akhiri dengan menggarisbawahi Firman ini:

“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Ef.5:11).

Jakarta, 21 Februari 2012

Atas nama,
MAJELIS PEKERJA HARIAN
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA



Pdt. Dr. A. A. Yewangoe                               Pdt.Gomar Gultom M.Th.
Ketua Umum                                             Sekretaris Umum